Share

Two Alpha

Penulis: Nooraya
last update Tanggal publikasi: 2026-07-15 21:26:14

Pukul sepuluh tepat.

Ruang rapat utama WM Corporation telah dipenuhi jajaran direksi WM. Di kursi paling ujung meja oval, Satya duduk dengan tenang sambil meneliti beberapa lembar dokumen proyek. Sementara itu, Rara berdiri di dekat layar utama, memastikan seluruh materi presentasi telah siap ditampilkan.

Cash flow, timeline konstruksi, target groundbreaking, hingga analisis risiko telah ia periksa berulang kali. Tidak ada satu pun data yang boleh luput dari perhatiannya.

Hari ini adalah rapat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sahabatku, CEO Dingin yang Menjadi Tunanganku   Melunak Dalam Satu Malam

    Pagi ini, lantai divisi Project Management dipenuhi riuh suara ketukan keyboard, dering telepon, serta langkah kaki para staf yang berlalu-lalang membawa dokumen. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda. Namun bagi Rara, pagi itu terasa sedikit lebih sunyi.Ia baru saja duduk di kursinya ketika refleks membuka aplikasi pesan di ponsel. Kosong, tidak ada pemberitahuan baru sama sekali.Rara mengernyit pelan. Sejak semalam, ponselnya sepi dari notifikasi pesan Arjuna maupun Satya.Akan tetapi, pada akhirnya Rara hanya mengangkat bahu pelan. Mungkin sama-sama sedang sibuk, pikirnya masuk akal, terlebih setelah kekacauan proyek kemarin. Tanpa berpikir lebih jauh, ia pun meletakkan ponselnya dan menyalakan laptop.Belum ada lima menit ia menatap layar, Bu Stella keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa map tebal. "Kinara.""Iya, Bu." Rara langsung berdiri tegak."Kita mulai hari ini," tegas Bu Stella. "Divisi Engineering sudah mengirim simulasi awal, dan Finance sedang menghitung da

  • Sahabatku, CEO Dingin yang Menjadi Tunanganku   Meja Negosiasi

    Malam mulai merayap turun ketika Satya melangkah memasuki sebuah restoran fine dining yang berdiri megah di pusat kawasan bisnis ibu kota.Seorang pelayan berpenampilan rapi langsung menyambutnya dengan sopan.“Satya Mahendra,” sebut Satya singkat.Pelayan itu mengangguk paham. “Silakan lewat sini, Tuan.” Ia membimbing Satya menuju lantai dua, menyusuri koridor yang tenang dan temaram.Langkah mereka terhenti di depan pintu kayu jati berukir minimalis. Pintu ruang VIP itu dibukakan secara perlahan, menyajikan atmosfer privat yang tenang.Di dalam ruangan, Arjuna sudah menunggu di sofa semi-melingkar yang mengitari meja utama. Jas mewahnya masih membalut tubuhnya dengan rapi, meski sisa lelah akibat rapat seharian tercetak di wajah tampannya.Saat Satya melangkah masuk, Arjuna bangkit dari duduknya. “Perlu bersalaman?” tawarnya dengan tangan terulur ke depan.Satya memilih mengabaikannya begitu saja, melintas dingin lalu duduk di sisi lain sofa.Mengamati respons dingin itu, satu sudut

  • Sahabatku, CEO Dingin yang Menjadi Tunanganku   Badai dan Nahkodanya

    Pagi ini, kesibukan WM Corporation bergulir seperti biasa. Rara baru saja meletakkan tas kerjanya ketika Dina sudah menginvasi mejanya, lengkap dengan secangkir kopi panas dan binar serba ingin tahu di matanya.“Semalam jadi pergi sama Pak Arjuna, Ra?”Jemari Rara yang hendak menyalakan laptop terhenti seketika. “Pagi-pagi udah kepo aja,” gumamnya lirih.“Ih, kan aku mau tahu perkembangan hubungan kamu!” Dina langsung mengambil posisi duduk di tepi meja, mengikis jarak. “Soalnya baru kali ini aku lihat kamu mau diajak kencan. Eh, sekalinya jalan, dapetnya langsung spek Pak Arjuna.” Dina terkekeh menggoda, membuat rona tipis samar-samar terbit di pipi sahabatnya. “Ayo dong, Ra, cerita!”Rara menghela napas panjang, menetralkan desupan halus di dadanya sebelum menyerah. “Iya, semalam jadi pergi.”“Terus? Gimana?” Dina makin mencondongkan tubuhnya, menatap Rara antusias. “Orangnya romantis, nggak?”Rara menyunggingkan senyum tipis, sekadar topeng singkat untuk menyembunyikan kebingungan

  • Sahabatku, CEO Dingin yang Menjadi Tunanganku   Kencan yang Berbeda

    Begitu melangkah memasuki Convention Hall, pandangan Rara langsung disambut deretan maket bangunan yang memenuhi aula utama.Berbagai konsep gedung perkantoran, kawasan terpadu, hingga hunian ramah lingkungan dipamerkan dengan tata cahaya yang memanjakan mata. Di beberapa sudut, layar LED raksasa menampilkan simulasi kota pintar yang dipadukan dengan teknologi berkelanjutan.Tanpa sadar, langkah Rara melambat. Matanya berkeliling penuh pendar, menikmati setiap detail arsitektur yang terpajang indah. “Bagus banget ...,” gumamnya, hampir tidak terdengar.Arjuna yang berjalan sejajar di sampingnya hanya tersenyum memperhatikan binar antusias yang merekah di wajah Rara. “Aku tahu kamu pasti suka.”Rara menoleh, menatap pria itu lekat-lekat. “Kamu kenapa tiba-tiba kepikiran ajak aku ke sini?”Arjuna mengangguk pelan. “Ya karena aku tahu kalau kamu bakal suka. Lagipula, daripada kita cuma makan malam aja, kan?”Rara ikut mengangguk pelan. Kemudian mulai bertanya lagi, “Kenapa? Kamu udah mul

  • Sahabatku, CEO Dingin yang Menjadi Tunanganku   Perjuangan Nyata

    Sore ini, jam kerja baru saja usai. Satu per satu karyawan mulai beranjak meninggalkan meja kerja masing-masing. Suara gemerisik kertas, gemeretak kursi, dan bisik-bisik obrolan santai perlahan menggantikan atmosfer tegang yang seharian mengungkung ruangan akibat pekerjaan.Di ruangannya, Rara menghela napas panjang sembari memijat pelan tengkuknya yang terasa kaku. Hari ini energinya seolah terkuras oleh tumpukan revisi.Ia baru saja mematikan laptop ketika layar ponsel di meja bergetar pendek. Satu pesan masuk dari Arjuna.Masih di kantor?Rara menatap pesan singkat itu selama beberapa detik. Ada ragu yang mendadak menyusup. Namun kali ini, ia memilih untuk tidak membiarkan pesan itu menggantung seperti biasanya.Masih.Balasan datang tanpa jeda panjang. Aku di bawah.Kening Rara berkerut halus. Belum sempat jari-jarinya menekan huruf di atas layar untuk membalas, sebuah pesan gambar masuk. Sebuah selfie dari Arjuna.Pria itu berdiri santai di pelataran depan plang nama WM, bersanda

  • Sahabatku, CEO Dingin yang Menjadi Tunanganku   Profesionalisme

    Ruang rapat lantai dua siang itu dipenuhi suasana serius. Di atas meja oval yang panjang, berjejer laptop, map presentasi, dan beberapa gelas kopi yang mulai kehilangan uapnya.Seluruh anggota tim Project Management sudah berkumpul. Hari itu mereka mengadakan simulasi presentasi terakhir sebelum bertemu pihak JJ Investama.Bu Stella berdiri di depan layar proyektor. “Anggap saja hari ini klien sudah ada di depan kita,” ujarnya tegas. “Saya ingin semua berjalan semaksimal mungkin. Kalau ada kesalahan, lebih baik terjadi sekarang daripada saat presentasi nanti.”Semua orang mengangguk setuju.“Kinara.”“Iya, Bu.”“Kamu bisa mulai.”“Baik.”Rara bangkit dari kursinya, membawa remote presentasi ke depan ruangan. Ia menarik napas pelan sebelum slide pertama muncul di layar proyektor.“Selamat pagi. Hari ini saya akan mempresentasikan revisi konsep pengembangan proyek ....” Suaranya terdengar mantap. Slide demi slide berganti mulus.Beberapa anggota tim mengangguk-angguk mengikuti penjelasa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status