ログインSuara Arjuna di ujung telepon terdengar dipenuhi nada terkejut sekaligus cemas saat Rara menyebutkan tempat keberadaannya.Tidak butuh waktu lama hingga sosok Arjuna menerobos pintu kaca bar, matanya dengan cepat memindai ruangan temaram sebelum akhirnya menemukan Rara duduk menyendiri di meja bar.Arjuna bergegas menghampiri. “Ra? Kamu kenapa ada di tempat seperti ini?” Ia memegang kedua bahu Rara dengan raut wajah panik. “Ada apa? Satya mana?”Menyebut nama Satya rasanya seperti menyayat luka yang masih basah. Rara mencengkeram lengan baju Arjuna, matanya yang mulai sembap menatap pria itu penuh keputusasaan.“Arjuna ... tolong aku,” bisik Rara dengan suara bergetar hebat. “Aku mohon, bantu aku.”“Bantu apa, Ra? Cerita sama aku, ada apa sebenarny
Tanpa sepengetahuan Satya, Rara menyetujui ajakan Nadine untuk mengobrol empat mata di kafe yang berada di lantai bawah gedung kantor. Suasana kafe yang terbilang sepi siang itu terasa makin mencekam di meja mereka.Nadine meletakkan sebundel dokumen tebal di atas meja, lalu menggesernya ke hadapan Rara. Tanpa basa-basi, wanita itu membeberkan fakta lapangan mengenai kondisi keuangan Mahendra Group, mulai dari angka kerugian, grafik penurunan saham, hingga kalkulasi skala kehancuran yang akan memusnahkan seluruh anak perusahaan dalam hitungan hari.Rara menatap angka-angka itu dengan tangan yang kian gemetar. Realitas pahit di atas kertas itu jauh lebih mengerikan dari apa yang dibayangkannya.“Sebenarnya, aku sangat ingin membantu Satya, tapi sayangnya ia menolakku mentah-mentah.” Nadine menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya ke kursi. “Andai dia mau menerima syaratku,” ucapnya sambil menatap lurus ke arah Rara, memaku pandangan wanita di hadapannya.Rara meneguk ludah pahit
Malam yang dingin merayap perlahan. Usai kepenatan dan sesak yang membakar sepanjang hari, Rara memutuskan untuk mengajak Satya keluar dari ruangan CEO yang mencekam.Ia menuntun pria itu menuju sebuah kedai makan terbuka di sudut kota, menikmati hawa segar agar lelakinya bisa menghela napas lebih rileks. Siapa tahu, kepala yang sedikit lebih dingin bisa membantu menyegarkan pikiran mereka.Sesuai perjanjian yang sebelumnya telah disepakati oleh mereka, malam ini tidak boleh ada obrolan serius mengenai krisis keuangan atau ancaman kebangkrutan. Rara sengaja hanya mengalirkan topik-topik manis tentang perjalanan hubungan mereka, menciptakan ruang aman tempat Satya bisa sejenak melupakan beban di pundaknya.Di tengah kehangatan uap makanan dan temaram lampu kedai, obrolan mereka pun akhirnya berbelok dan sampai ke arah yang lebih intim.“Sebenarnya ....” Satya meletakkan sendo
Satya terdiam menatap Rara dengan tatapan kelam. Haruskah ia jujur bahwa harga dari bantuan itu adalah Rara sendiri? Bahwa untuk menyelamatkan Mahendra Group, ia harus mengorbankan wanita yang kini jemarinya tengah menggenggam tangannya erat?Tidak. Tidak akan pernah.“Aku punya prinsip dalam berbisnis," dalih Satya akhirnya. Ia mengelus punggung tangan Rara dengan ibu jarinya, sedikit menyalurkan ketenangan. “Bantuan dari keluarga Nadine datang dengan terikat terlalu banyak syarat yang akan membahayakan independensi Mahendra Group di masa depan. Aku tidak bisa mempertaruhkan kontrol perusahaan begitu saja.”Rara menatap mata pria itu, mencari celah keraguan. Pernyataan Satya terdengar begitu logis dan rasional, tipikal Satya sang profesional. Namun, ada getar halus di suaranya yang membuat nurani Rara berbisik bahwa ada sesuatu yang terlewat.“Tapi tidakkah ini situasi darurat, Satya?” bisik Rara pelan, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya yang tampak begitu lelah. “Kalau
Rara menyusuri koridor menuju mejanya dengan langkah kaki yang terasa begitu berat. Suara bising mesin cetak dan gumaman rekan kerja di divisinya mendadak terdengar seperti gema yang jauh. Di kepalanya, kata-kata Nadine terus berulang bagai kaset rusak.Mantan kekasih Satya.Rara duduk di kursinya, jemarinya terkepal di atas pangkuan. Ia memandang berkas anggaran proyek yang tadinya terasa begitu penting, namun kini mendadak kehilangan arti.Ternyata, di saat Rara mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti profesionalitas kerja, Satya justru sedang berdiri di tepi jurang kehancuran bersama perusahaan keluarganya. Dan yang lebih menyakitkan, Rara baru mengetahuinya dari orang lain.Rara menghela napas panjang yang terasa berat dan menyiksa. Ia sandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Bayangan akan ketegangan yang terjadi di dalam ruangan sang CEO saat ini seolah menembus dan menghimp
Hawa dingin dari pendingin ruangan sang CEO menerpa Rara yang masih mematung di ambang pintu. Tiba-tiba ada rasa menyesakkan yang menyerang.Tatapan Satya melebar, sarat akan kejutan yang gagal ia sembunyikan saat menyadari keberadaan Rara di ambang pintu. “Ra.”Rara dengan cepat menguasai ekspresinya, meski gemuruh di dadanya belum juga reda. Otaknya yang rasional mencoba mengambil alih, berusaha keras menempatkan dirinya kembali sebagai bawahan yang profesional.“Maaf, Pak Satya,” ucap Rara kaku. “Saya tidak sengaja menerobos masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.”Satya gelisah. Tanpa membuang waktu, pria itu melangkah mundur, sengaja menciptakan jarak yang cukup lebar dari wanita di sampingnya. “Tidak apa-apa, Ra. Masuklah,” potongnya cepat, mengabaikan formalitas yang biasanya mereka jaga di kantor.Namun, sebelum Rara sempat melangkah, wanita berpenampilan anggun itu mengulas senyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dipenuhi nada skeptis daripada keramahan. Pandangannya menilai







