LOGINSahabat terbaikku, Maya, terbang dari Miama untuk menemaniku di minggu pesta lajangku. Hari-hari terakhir kebebasanku. Dia bersikeras merayakannya dengan acara malam khusus wanita di rumah, memesan semua makanan pesan antar favoritku. Dia memintaku memegang ponselnya dan menunggu. Tiba-tiba, layar ponselnya menyala. Sebuah pesan dari seorang pria. Foto tanpa baju. Aku pun membaca pesan itu. [ Aku butuh kamu malam ini. ] Kemudian, pesan itu disusul foto lain lagi. Foto mainan seks dan perlengkapan bondage seperti yang di film. Wajahku terasa panas. Jantungku berdegup kencang. Tanpa disengaja, aku baru saja masuk ke kehidupan rahasianya. Namun, gambar berikutnya membuatku diam terpaku. Foto close-up dada pria itu. Sebuah bekas luka bergerigi yang kukenal lebih baik daripada diriku sendiri. Itu milik tunanganku, Lucian Caraka.
View MoreJust this time last week I was living a life that seemed so unreal yet brought me so much happiness. I got engaged to the type of man I loved after dating for two years and nothing could’ve made me happier at that point. A week later here I am running far away from the life I once thought was too perfect to be true.
How much longer, Mom?” Leo’s questions brought me back from my trip down memory lane. “Another ten, fifteen minutes,” I said as the West Virginia wilderness breezed by on either side of the highway.
“Great,” he said, his voice laced with as much sarcasm only a thirteen-year-old boy could come up with.
“You might really like it,” I said. “You never know.”
Instead of answering, he sighed, and put on his headphones listening to whatever it is a boy of his age enjoys.
A minute later I heard “Oh my god, Mom, don’t they have internet in West Virginia?” he asked, freeing his ears from the headphones. "This place at least has cell service and Wi-Fi, right?” He looked eagerly at me. “I don’t know that I can survive otherwise.”
Reaching over with my free hand, I ruffled his hair and made a pouty face. "Aww, is my baby going to die without his social media?” Laughing, he swatted my hand away. “Maybe. I want to be able to text my guys.” It had been a while since he’d laughed, and hearing it now warmed my heart.
There hadn’t been much laughter after what happened a few days ago. The bruise on my cheek and Leo’s black eye were fading, but they were still stark reminders of what went down. As his eyes slipped down to my cheek, his smile faded, and he turned to gaze out the window. I never thought it would come to this. Never, in a million years, would I have believed I’d be going back to Moonridge but Briar had made damn sure I had no other option.
I could still see it, like it was happening that very moment. Leo was supposed to play a hockey game, and I’d told my fiancé Briar we’d be back in three hours since the team was going for pizza after the game. He’d kissed me goodbye, and all had been well. Little did I know thirty minutes later, my whole life would go down the drain. Halfway to the field, Leo’s coach called to let us know that both referees assigned to the game had come down with a flu, so the game was rescheduled. The news had disappointed us both—Jaxon really wanted to play, and I loved seeing him happy but we made the best of it and picked up Thai food, then went home to surprise my fiancé, little did I know I would be the surprised one.
I’d heard the moaning and panting the second I stepped into the house. Before it had even registered what I was hearing, my stomach sank, and the food tumbled from my hand as I rounded the foyer to find my soon-to-be husband and Leo's soon-to-be stepfather balls-deep in our next-doorn neighbor, Marina. She saw me first, shrieking in surprise as she threw an arm across her breasts.
“What the hell are you doing home?” Briar demanded, hastily pulling his pants back up.
“Excuse me? What do you think you’re doing, Briar? Jesus fucking Christ.”
Marina, having managed to get fully dressed in record time, sprinted out of the house, rushing past the widely opened eyes of Leo.
“Don’t you raise your goddamn voice to me!”. Briar bellowed, pointing a finger at me, looking as though he’d caught me cheating on him with someone else instead of the other way around.
“We are done, Briar,” I said, tears filling my eyes. All the things I’d hoped for were suddenly slipping away.“Who are you talking to right now, I'm sure it's not me?” he hissed, grabbing my arm and digging his fingers into the soft flesh until I squealed in pain. “You don’t talk to me like that.” His free hand swung forward, crashing into my cheek. Hot, searing pain burst across my face. My lower lip split, and a high-pitched whine began in my ear as I fell to the ground, clutching my cheek and gasping in pain. He had always had a temper, that I knew but I never thought he was capable of violence. Not like this.
“Hey, asshole!” my baby cried, lunging forward. “Don’t you dare touch my mum!” Before I could do anything, my son’s fist swung forward, hitting Briar dead-on in the nose. The strength and anger of a fourteen-year-old was usually nothing against the rage and belligerence of a burly thirty seven-year-old man. But Leo wasn’t a human boy. He was a shifter and had just hit puberty. His full strength hadn’t come in yet, but he was much stronger than any human kid his age.
His fist struck Briar right in the face, and the older and larger man rocked back on his heels with blood gushing out from his nostrils. He lost his footing slightly and staggered back. Briar rounded on Leo, fire in his eyes. “Little shit! how dare you touch me?” “Think you’re a big man now, don't ya? Huh? Come on, then. Hit me again, you prick.” Then, without warning, he backhanded my son. Leo’s head snapped around, and an angry red welt formed almost immediately below his eye. He stumbled backward, putting a hand to his face, and the anger in his eyes filled me with terror and I knew right there and then that if we didn’t get out of there, things would get much worse.
“Enough!” I scrambled to my feet and pulled Leo back. “No, Mom,” my sweet son said, tears beginning to form in his eyes. “This guy hit you and that’s not cool.” “It’s fine, baby,” I said, tugging him toward the door, though it was anything but fine. “Let’s go.” “Go on, then,” Briar said, waving at the door. “Get out. I don’t need you. Get the fuck out of my house, you stupid slut. We’re done! You hear me?” “Your house?” I asked, gaping at him in shock. “Last time I checked, it’s my name on the mortgage, not yours. But you know what?” “You stay. I don’t want to spend another second here.” Briar waved a hand at me, “Whatever, you dumb bitch.” I struggled to drag my son out of the house, and we spent that night at a hotel. I was unable to sleep, and had lain in bed for hours, thinking of where to go from that point.
Sudut Pandang Catherine:Dua Bulan Kemudian.Matahari Floren menyembuhkan luka-lukaku. Di ladang-ladang Tuskan, aku menemukan diriku kembali. Aku melukis, membaca, mempelajari karya-karya klasik. Tidak ada telepon dari Lucian. Tidak ada kabar tentang Maya. Tidak ada bayang-bayang mafia Niva. Hanya aku dan seni yang murni.Aku merancang belasan gaun baru, terinspirasi oleh para maestro Renaisans. Anggun, murni, dengan keanggunan yang tak tersentuh. Inilah hidup baruku.Hari aku kembali ke Niva, udara musim gugur terasa sejuk. Bandara ramai, tetapi hatiku tenang. Ayahku menjemputku."Kamu kelihatan baik." Senyumnya merekah. "Putriku hidup kembali.""Aku memang begitu," balasku sambil tersenyum. "Aku siap memulai hidup baruku."Mobil melaju menuju rumah. Niva tetaplah Niva, tetapi aku bukan Catherine yang dulu.Kisahku menyebar lebih cepat dariku, menjadi bisik-bisik di kalangan elite. Tunangan bos mafia yang meninggalkan takhta dan memilih dirinya sendiri.Seseorang menungguku di gerbang
Sudut Pandang Maya:Lorong rumah sakit terasa dingin. Lampu putih menyilaukan, menusuk mataku."Bu Maya. Kamu sudah boleh pergi."Marco berdiri di depanku, wajahnya datar."Gimana keadaan Lucian?" tanyaku."Itu bukan urusanmu lagi." Suaranya sedingin es. "Bos bilang dia nggak ingin melihatmu lagi."Tidak ingin melihatku lagi.Beberapa jam lalu, di gereja itu, dia menyebutku selokan. Mainan. Sesuatu yang dipakai lalu dibuang. Sekarang, dia bahkan tidak sudi menatapku."Aku bisa menunggu sampai dia sadar ....""Bu Maya." Marco memotong ucapanku. Dua pengawal melangkah ke sisinya. "Silakan pergi sekarang juga. Atau kami terpaksa menggunakan kekerasan."Aku menatap mata mereka. Dingin dan asing. Mereka adalah orang-orang yang dulu menunduk padaku, karena aku adalah wanita bos mereka. Sekarang, mereka menatapku seperti sampah.Aku berbalik dan meninggalkan rumah sakit.Hujan mulai turun. Hujan Oktober yang dingin dan menggigit. Aku tidak membawa payung. Rambutku segera basah, air mengalir d
Sudut Pandang Lucian:Kata-kata Maya membuat perutku mual. Aku melonjak berdiri, mencengkeram segenggam rambutnya, lalu menyeretnya. Dia menjerit kesakitan, tetapi aku sama sekali tidak peduli."Kamu pikir aku butuh kamu?" Aku menghantamkan kepalanya ke pilar batu. "Kamu pikir kamu siapa?"Darah mulai mengalir di dahinya, tetapi amarahku masih jauh dari reda."Baru dua hari yang lalu kita ...." Dia mencoba membela diri."Dua hari yang lalu?" Aku menyeringai, tanganku menggapai lehernya, mencekik hingga wajahnya mulai membiru. "Kamu cuma tubuh hangat. Lubang buat ditiduri. Kamu cuma itu selama ini.""Kamu benar-benar pikir aku bisa mencintaimu?" Suaraku penuh hinaan. "Maya, kamu bahkan nggak sebanding dengan satu helai bulu mata Catherine yang rontok.""Kamu ... kamu bilang kamu mencintaiku ...," katanya dengan suara tercekik."Mencintaimu?" Aku melepaskannya, memandang rendah ke arahnya yang ambruk ke lantai sambil terbatuk-batuk. "Aku nggak pernah mencintaimu. Kamu cuma binatang yang
Pelukan ayahku hangat, sama hangatnya seperti saat aku kecil dan terbangun karena mimpi buruk. Aku terisak sejadi-jadinya, menumpahkan semua rasa sakit dan pengkhianatan yang selama ini kupendam."Aku nggak jadi menikah." Tangisku pecah. "Aku nggak mau semua ini.""Baiklah," kata ayahku sambil mengusap rambutku. "Apa pun yang kamu mau."Dia tidak bertanya kenapa, juga tidak menyalahkanku karena bertindak impulsif. Dia hanya memelukku erat."Bawa dia pulang," perintahnya kepada para pengawal.Mereka membantuku masuk ke dalam Rolls-Royce dan ayahku duduk di sampingku. Mobil itu melaju menjauh dari tempat mengerikan itu.Di rumah, ibuku sudah menunggu. Begitu melihat keadaanku, dia tidak mengajukan satu pertanyaan pun. Dia hanya memelukku dan membiarkanku menangis di bahunya."Ibu di sini," katanya lembut. "Semuanya akan baik-baik saja."Tiga jam kemudian, pengacara datang membawa setumpuk dokumen."Semua hadiah dari Pak Lucian sudah didata," lapornya. "Perhiasan, properti, saham. Semuany
Rasa panas menyengat di wajahku. Namun, itu tak seberapa dibandingkan kebencian di mata Maya."Akhirnya!" jeritnya. "Akhirnya aku nggak perlu berpura-pura lagi!"Wajahnya berubah menjadi topeng yang "buruk rupa"."Kamu tahu seberapa besar aku membencimu? Catherine, si Tuan Putri sempurna!"Suaranya
"Catherine, aku mohon." Mata Lucian merah, penglihatannya kabur oleh air mata. "Jangan pergi."Dia mengadangku di depan pintu, menolak membiarkanku keluar."Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah menyakitimu." Suaranya bergetar. "Tapi kita bisa memperbaikinya. Kita bisa mulai dari awal.""Mulai dari
Aku membuka pintu mobil dan turun. Setiap gerakanku lambat, anggun, seperti yang selalu diajarkan ibuku. Bahkan di saat kamu paling marah, tetap jaga kendali diri.Marco dan yang lain langsung menegang, tangan mereka refleks bergerak ke arah senjata yang tersembunyi di balik jaket, seperti prajurit
Ujung telepon di seberang sana mendadak hening. Suara latar lenyap.Lewat kaca, aku melihat Lucian terdiam membeku. Gerakannya terhenti. Dia mendorong Maya menjauh dan menoleh ke sekeliling dengan panik."Catherine ...." Nada suaranya berubah. "Kenapa kamu menanyakan itu? Kamu di mana? Di mana kamu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews