MasukBianca menghela nafas panjang, sudah setengah jam tidak ada pesan balasan di ponselnya.
‘Ck, tumben banget sih lama.. Sepi vanget gak denger suaranya,’ batin Bianca. ‘Eh.. Kenapa hm gua jadi kayak kangen dia sih?! Hhh.. Pak Damian, Kakak Velove, lo meresahkan pikiran gue..’ Sementaa itu di mansion, Damian tidak sempat memperhatikan ponselnya karena berdebat dengan Papanya. “Apa maksud Papa?! Kenapa membuat keputusan tanpa persetujuan ku?!” Damian“Damian, kok suara Papa gak kedengaran lagi? Apa papa udah gak marah? Apa Alex berhasil bujuk Papa gak ya? Atau "Damian tidak seburuk yang Om pikirkan, saya yakin kejadian itu juga bukan karena sengaja," bela Alex jujur, meski hatinya sendiri terasa perih saat mengucapkan kalimat tersebut. "Semalam, Damian datang kesini dengan banyak pengawal. Tapi dia rela menurunkan harga diri dan egonya yang setinggi langit di hadapan saya dan semua pengawalnya hanya demi diizinkan melihat kondisi Bianca. Pria itu menahan emosinya dan berjanji tidak akan membawa Bianca kabur sebelum mendapatkan izin dari Om Charles." Alex menatap pamannya tanpa keraguan. "Sepanjang malam hingga pagi ini, Damian tidak melangkah satu tapak pun dari samping ranjang Bianca. Dia menggenggam tangan Bianca dan menjaganya sampai infus selesai dipasang. Damian tidak berniat menyakiti Bianca, Om. Dia sangat.. Sangat mencintai Bianca.." lirih Al
Bianca panik di dalam kamar saat mendengar teriakan Papanya, ia meraih tangan Damian dengan gemetar. “Damian, papa ngamuk! Kamu dengarkan?!” cicitnya. “Dengar..” jawab Damian datar. “Terus kenapa kamu masih diam saja?! Papa nanti pasti ngusir kamu lagi..” ucapnya khawatir. “Tidak akan, kamu tenang saja, Bianca. Aku tidak akan pergi tanpa kamu..” Damian berbalik, duduk di tepi ranjang mengusap lembut pipi Bianca. “Selama ini kamu terlihat sangat berani, kenapa sekarang jadi penakut, hmm..?!” Ia tersenyum menggoda mencoba mengalihkan rasa takut Bianca. “Ck, kali ini beda. Aku bukan takut sama Papa, tapi.. Tapi aku takut jauh-jauh dari kamu kalau papa nanti ngusir kamu lagi, kita kan belum sempat malam pertama.. Ehh..” oceh Bianca sampai dia keceplosan lagi. CETAZZZ..! “Dasar nakal! Kenapa mikir kesana, sudah gak
Bianca terbangun saat samar-samar mendengar deru suara mesin mobil mewah dan suara gerbang besi otomatis yang berderit nyaring di pelataran luar mansion perbukitan. Kelopak mata Bianca bergetar, lalu perlahan terbuka, matanya mengerjap panik, mengenali ritme klakson khas mobil Rolls-Royce milik Papanya yang baru saja tiba. "Damian..." cicit Bianca tergesa-gesa dengan nada suara panik, jemari tangannya menepuk-nepuk pelan dada bidang Damian yang masih tertidur di sampingnya. "Damian, bangun! Suamiku, cintaku, cepat bangun!" seru Bianca panik. Damian langsung membuka kedua matanya seketika, manik matanya menajam dalam sekejap tanpa rasa kantuk, menandakan tingkat kewaspadaannya yang selalu siaga. "Ada apa?" pangkas Damian kaku dan tenang, suaranya agak serak khas bangun tidur. "Papa dateng! Itu pasti suara mobil Papa!" rengek Bianca cemas, raut wajah can
"Mana ada! Siapa juga yang imajinasinya liar?! Aku kan masih demam, pasti wajahku merah!" pekik Bianca gelagapan, suaranya meninggi secara refleks untuk menutupi rasa malunya yang sudah di ujung tanduk. “Udah ah! Aku mau tidur lagi..” Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bianca langsung menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh permukaan wajahnya yang mendadak panas dan merah padam. 'Aduh Bianca! Imajinasi lo tuh ya, kenapa sih gak bisa diajak kompromi sedikit aja?! Kenapa juga ceplas-ceplos ngomongin malam pertama di depan Damian?! Malu banget gue, mau taruh di mana muka gue?! Bianca mending lo ngumpet aja dalam selimut ini sekarang juga!' jerit Bianca dalam batinnya, menyilangkan kedua tangannya di dada di balik kegelapan selimut. Namun suara kekehan rendah yang sangat renyah dan penuh kemenangan justru semakin terdengar dari bibir Damian. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan,
'Aduh... Kepala gue kok rasanya pusing banget ya...' batin Bianca saat kesadarannya mulai berkumpul sepenuhnya. 'Tunggu... Gue tadi kan lagi pelukan sama Damian... Terus mendadak semuanya gelap...' Rasa pusing di kepalanya sedikit berkurang, digantikan rasa hangat yang mengalir nyaman di seluruh tubuhnya. Mata Bianca terbuka sempurna. Pemandangan pertama yang dilihatnya kali ini, wajah sosok pria tampan bertubuh tegap yang sedang membungkukkan tubuh di sampingnya, menatapnya dengan raut wajah kaku namun tampak penuh kecemasan yang mendalam. "Damian...?" panggil Bianca lirih, suaranya terdengar sangat halus dan sedikit serak. Damian menegakkan posisi duduknya. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Bianca yang kini sudah mulai kembali memerah hangat. "Kamu sudah sadar?" pangkas Damian rendah, nadanya terdengar sangat lembut meski raut wajahnya tetap datar. "Ada yan
‘Aduh, kenapa berisik sekali.. Tapi, kenapa tubuh gue lemes.. Mata gue juga gak bisa terbuka.. Gue pingsan atau pindah alam sih?!’ batin Bianca diambang kesadarannya. “Dokter, kenapa diam saja?! Apa yang terjadi?! Hanya apa dokter, katakan!” ucap Damian panik. “Damian, tenang dulu..” Alex berusaha menenangkan Damian. “Bagaimana aku bisa tenang melihat istri ku tidak sadar seperti ini?!” seru Damian yang mulai kehilangan kesabarannya. “Tenang Tuan Damian,Tuan Alex.. Nona Bianca hanya membutuhkan istirahat total, jangan membuatnya tertekan dan emosi. Dia membutuhkan tambahan cairan nutrisi melalui infus, dan makanan lunak begitu sudah terbangun nanti. Sekarang, saya akan memasangkan cairan glukosa agar kesadarannya perlahan pulih." Dokter Hendra dengan cekatan menyiapkan botol infus dan menancapkan jarum kecil di punggung tangan kiri Bianca. Damian memperhatik
Bianca terpaku sesaat, ia memberanikan diri menatap wajah Damian didepannya, pria yang kemarin menjadi sumber imajinasi liarnya. “Di bawah kungkungannya.. Bukan! Di bawah pengawasannya..’Bianca membeku. Berarti mulai hari ke depan… ia akan berurusan dengan pria di depannya?Dengan kejadian kema
Bianca berdiri di depan pintu ruangan Damian dengan gemetar. Jantungnya rasanya sudah merosot sampai ke dengkul, berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri. Tangannya yang dingin dan basah oleh keringat gemetar hebat saat terangkat, ragu untuk sekadar mengetuk pintu kayu mahoni di depanny
Sambungan video diputus sepihak. Layar laptop Bianca langsung berubah hitam, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi mirip mayat. Jadi… pria itu mendengarnya selama ini?!Malam itu benar-benar menjadi malam paling sial dalam hidup Bianca. Efek obat flu sialan itu mendadak hilan
"Kalau mau ajak tidur, minimal kayak gini!" Bianca mengomel sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya yang menampilkan visual sang bos. Kalimat sang mantan tadi masih terngiang di telinga Bianca, ingatannya memutar kembali saat pacarnya minta putus karena dirinya menolak untuk diajak tidur bersama.







