تسجيل الدخولMalam turun perlahan di luar jendela rumah sakit. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, seperti bintang yang jatuh ke bumi. Di dalam ruangan itu, cahaya temaram membuat segalanya terasa lebih sunyi, lebih dekat… dan entah kenapa, lebih jujur. Raisa terlelap. Wajahnya tampak lebih tenang dibanding sebelumnya, meski garis lelah itu masih jelas. Tangannya terbaring di atas selimut, tidak lagi menggenggam apa pun. Armand duduk di kursi di samping ranjang. Tidak bergerak. Tidak mengalihkan pandangan. Sejak Raisa tertidur, ia tetap di sana, seolah takut jika ia pergi sebentar saja, sesuatu akan berubah lagi tanpa ia tahu. Matanya perlahan turun ke arah perut Raisa. Ada kehidupan di sana. Pikiran itu masih terasa tidak nyata. Seorang anak. Darah dagingnya. Dan… Raisa. Napas Armand tertahan sesaat. Untuk pertama kalinya sejak dokter mengatakan itu, perasaan yang sesungguhnya muncul tanpa terhalang apa pun. Bahagia. Bukan bahagia yang meledak-ledak. Bukan yang ingin i
Pintu ruang dokter tertutup pelan di belakang Armand. Langkahnya terhenti di koridor. Beberapa detik lalu, ia masih berdiri di dalam ruangan itu, mendengarkan penjelasan yang terasa seperti gema, masuk ke telinganya, tapi butuh waktu untuk benar-benar dipahami. “Selamat, Pak. Istri Anda hamil.” Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya mengubah segalanya. Armand menatap lurus ke depan. Orang-orang berlalu-lalang di koridor rumah sakit, suara langkah, percakapan, bunyi troli, semuanya terdengar jauh. Seolah dunia tetap berjalan seperti biasa. Sementara dirinya… tertinggal. Hamil. Raisa… hamil. Tangannya perlahan mengepal. Ada sesuatu yang naik ke dadanya, bukan hanya terkejut, tapi juga rasa takut yang tidak ia duga. Takut karena waktu ini terasa salah. Takut karena kondisi mereka, kesalahpamahaman Raisa. Dan lebih dari itu, takut karena ia sadar, kejadian yang dilihat Raisa di kantor di saat Mira dan dirinya di sofa, ia takut Raisa salah pah
“Aku minta maaf, Raisa,” ucap Armand dengan suara yang terdengar lebih rendah dari biasanya. Ada gugup, ada penyesalan yang menekan dadanya. Raisa menarik bahunya pelan, melepaskan sentuhan Armand. Senyum kaku itu masih bertahan, tetapi matanya kosong—seolah ia sudah terlalu lelah untuk marah. “Mas tidak perlu minta maaf,” katanya tenang, terlalu tenang. “Aku hanya salah paham.” Ucapan itu justru membuat Armand semakin panik. “Bukan begitu,” Armand menggeleng cepat. “Tidak ada apa-apa antara aku dan Mira. Dia masuk ke ruanganku tanpa izin. Aku—” “Aku melihatnya sendiri, Mas,” potong Raisa lirih. Ia berbalik kembali ke arah jendela. “Aku melihat bagaimana tubuhnya berada di atas tubuh Mas. Itu bukan sesuatu yang bisa disangkal dengan kata-kata.” Armand terdiam. Kata-kata Raisa menusuk lebih dalam karena disampaikan tanpa emosi. Tidak ada tangis, tidak ada bentakan—hanya penerimaan yang terasa seperti menyerah. “Itu tidak seperti yang kamu pikirkan,” ujar Armand akhirnya,
Seseorang wanita dengan rambut tergerai dan mempunyai kulit kecoklatan yang cantik dan memakai dress yang serasi dengan bentuk tubuhnya yang indah memasuki perkantoran Grup Dirga. Wanita tersebut sudah tidak sabar ingin menemui pimpinan Grup Dirga yang sangat terkenal dan tampan tersebut. Wanita tersebut sudah lama tidak berjumpa dengan Armand Dirga, pria yang dulu pernah mengisi hati dan hari-harinya. Ia pernah mencintai Armand sampai seorang pria muncul dan ia jatuh hati kepada pria tersebut dan kemudian berselingkuh di belakang Armand. Ia lebih memilih pria itu daripada Armand. Ia memilih meninggalkan Armand dan menikah dengan pria yang lebih memikat hatinya. Tak disangka-sangka keputusannya ternyata salah. Pria yang dicintainya ternyata lebih sibuk dengan pekerjaannya dan sering membuatnya kesepian. Wanita ini ingin berpisah dengan suaminya akan tetapi sebelum menggugat cerai suaminya, wanita ini ingin mendekati Armand, pria yang dulu mencintainya. Tak menjadi masalah baginya Arma
Kevin sedang duduk di sebuah cafe yang dulu menjadi cafe favorit tempat Kevin dan Raisa menghabiskan hari-hari bersama. Kevin duduk dengan rasa penyesalan yang menyesakkan dadanya. Suasana kafe saat ini sedang sepi dan Kevin terpaku memandang ke arah meja yang biasa didudukinya bersama Raisa. Tadi pagi ketika Kevin membaca koran, Kevin membaca sebuah pengumuman pernikahan dan ternyata pasangan yang diumumkan telah menikah dalam pengumuman tersebut adalah Armand Dirga dan Raisa Prawira. Raisa telah menjadi istri pria lain. Istri dari seorang pria yang sangat terkenal dan sangat mapan. Istri dari Armand Dirga. Sungguh hati Kevin terasa sangat sesak menyadari kenyataan Raisa bukan miliknya lagi. Ternyata Raisa sana sekali tidak berbohong ketika mengatakan kepadanya bahwa Raisa ingin mengakhiri hubungan dengan dirinya. Pantas saja saja Raisa tidak mau diajak kembali berbaikan dan menjalin hubungan kembali dengan Kevin. Ternyata ada pria lain yang mendekati Raisa dan pada akhirnya menjad
Raisa membaca koran pagi di halaman belakang dan menjumpai satu halaman berisikan pengumuman pernikahannya dengan Armand. Raisa membaca sepintas isi pengumuman pernikahan tersebut dan merasa situasi yang sulit pada saat perjumpaannya pertama kali dengan Armand telah membawa Raisa dan Armand ke dalam pernikahan ini. Pernikahan ini telah berlangsung selama satu bulan tetapi perasaan Raisa terhadap Armand masih berupa rasa hormat dan perhatian kepada seorang suami. Raisa mencoba mencintai Armand tetapi Raisa belum bisa menghilangkan perasaannya kepada Kevin. Sulit rasanya menghilangkan Kevin dari hati Raisa. "Apakah pernikahan ini bisa langgeng?" tanya Raisa di hatinya sambil meletakkan koran yang baru saja dibacanya di atas meja. "Sayang," ucap Armand yang baru saja turun dari lantai atas dan kemudian menjumpai Raisa di ruang yang terletak di halaman belakang. "Sedang apa?" tanya Armand sambil menatap Raisa. "Membaca koran," ucap Raisa sambil menunjukkan koran yang baru saja dil







