LOGINSesampainya di gedung apartemen, Fery dan Kayla melangkah keluar dari dalam lift khusus menuju unit penthouse mereka di lantai puluhan. Begitu pintu apartemen terbuka dan terkunci otomatis, keheningan yang menenangkan langsung menyambut mereka, menggantikan riuh hiruk-pikuk intrik kantor dan sorotan kamera media yang melelahkan seharian ini.Fery melepaskan jas mewahnya dan meletakkannya di sandaran sofa, lalu melonggarkan ikatan dasinya seraya menghela napas panjang—napas lega seorang pria yang baru saja berhasil melindungi kerajaan bisnis sekaligus orang-orang yang dicintainya.Kayla berjalan mendekat dari arah belakang, menjangkau bahu tegap suaminya dan memijatnya pelan dengan jemari lentiknya yang lembut."Pasti capek banget ya, Mas?" bisik Kayla penuh kehangatan tepat di samping telinga Fery.Fery memejamkan mata sejenak, membiarkan sentuhan lembut istrinya meluruhkan sisa ketegangan otot-ototnya. Ia membalikkan badan, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kayla, menarik
Suara jepretan kamera dan kilatan flash wartawan mendadak makin gila-gilaan memenuhi ruangan. Seluruh pandangan mata mitra bisnis, jajaran komisaris, dan puluhan jurnalis tertuju lurus pada layar raksasa di belakang panggung.Frans mencengkeram tepi mimbar hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai menetes deras menelusuri pelipisnya. "Apa-apaan ini, Fery?! Ini fitnah! Jangan gunakan acara peresmian resmi ini untuk menjatuhkan nama baik saya!" teriak Frans panik, berusaha merebut kendali suasana.Namun Fery berdiri sangat tenang. Dengan intonasi yang lugas, terstruktur, dan dingin, Fery mulai membedah setiap dokumen di layar besar tersebut."Bisa Anda jelaskan di depan para awak media dan dewan komisaris, Pak Frans..." Fery menekan tombol pengontrol di tangannya, menampilkan grafik transaksi Keuangan, "...mengapa ada aliran dana operasional sebesar miliaran rupiah dari kantor cabang yang Anda klaim 'bersih', dialirkan secara bertahap ke tiga rekening cangkang di Singapura
Setelah menganalisis dokumen yang diberikan Wina, Alan bergegas menemui Fery di ruang kerja CEO. Ia menutup pintu rapat-rapat dengan raut wajah kaku."Fer, sepertinya ada file penting yang ditinggalkan Bu Dina di komputernya dan berhasil diselamatkan Wina," ujar Alan serius.Fery mendongak dari tumpukan berkasnya. "File apa?"Alan melangkah mendekat lalu menyodorkan tablet di tangannya. "Aku sudah menganalisisnya, dan data ini adalah rekapan alokasi dana dari kantor cabang tempat Bu Dina bertugas dulu sebelum ditarik ke pusat."Fery menerima tablet itu, menggeser layarnya, dan membaca deretan angka serta transaksi terselubung di sana. Matanya menyipit tajam."Dan kantor cabang yang selama ini kita anggap bersih..." Fery mendongak menatap Alan dengan pandangan menusuk, "...justru menjadi penyumbang dana gelap terbesar?""Benar, Fer. Kita benar-benar luput dari ini," jawab Alan dengan nada menyesal. "Selama ini fokus kita hanya tertuju pada transaksi Mariana di cabang utama. Frans dan D
Keesokan harinya, Alan sudah menunggu di lobi utama saat Fery baru saja melangkahkan kaki memasuki gedung Seven Group."Fer, tim IT sudah menjalankan rencana jebakan kita. Aku yang akan memantaunya langsung," bisik Alan pelan seraya berjalan sejajar di samping Fery."Bagus," jawab Fery tegas. "Hari ini adakan rapat internal. Kita harus segera mengisi kekosongan posisi Kepala Divisi Keuangan.""Baiklah, setengah jam lagi di ruang rapat utama," sahut Alan.Fery menuju ke ruang kerjanya terlebih dahulu untuk mengecek beberapa dokumen penting. Tepat pukul sembilan pagi, Alan kembali masuk ke ruangan CEO tersebut. "Fer, mereka semua sudah menunggu di ruang rapat utama."Fery menutup dokumen terakhirnya, lalu bangkit dan berjalan bersama Alan menuju ruang rapat.Suara riuh riak bisik-bisik di dalam ruangan langsung hening seketika saat CEO Seven Group itu melangkah masuk dan duduk di kursi pimpinan rapat."Selamat pagi. Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa pagi ini saya meminta rapat inter
Keesokan harinya, Alan melangkah tergesa-gesa memasuki ruang kerja Fery. Wajahnya terlihat jauh lebih serius dari biasanya saat menutup pintu rapat-rapat dan mendekati meja kerja Fery.Fery yang sedang meneliti berkas langsung mengangkat pandangannya. "Bagaimana hasil penyelidikanmu soal Mbak Dina?"Alan meletakkan sebuah map tipis berisi hasil penelusuran timnya. "Fer, dugaanmu sangat tepat. Alasan pulang kampung karena ibunya sakit itu cuma kebohongan untuk menutupi kepanikannya."Fery menyandarkan tubuh di kursi kebesarannya, menyilangkan kedua tangan di dada. "Lalu?""Mbak Dina ternyata terlibat dalam kasus penggelapan aset oleh Mariana saat Mariana masih menjabat di kantor cabang dulu," terang Alan tegas. "Ada jejak tanda tangan dan persetujuan transaksi janggal dari Dina yang sengaja ditutupi selama bertahun-tahun.""Kemungkinan besar Mbak Dina panik begitu melihat Mariana mulai terdesak di persidangan kemarin," lanjut Alan dengan nada tertahan. "Dia buru-buru mengundurkan diri
"Keamanan, tunggu apa lagi? Bawa mereka keluar!" perintah Fery dingin.Petugas keamanan yang tanggap langsung memegang lengan ibu Evelyn dan pengacaranya, menggiring mereka secara paksa keluar dari pintu kaca lobi utama diiringi bisik-bisik dan tatapan cemooh dari seluruh staf kantor.Setelah keributan mereda, Fery menoleh ke arah Kayla. Tatapannya yang tadinya sekeras baja seketika mencair dan berubah penuh kehangatan saat memandang wajah istrinya."Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Fery lembut seraya merapikan sedikit helai rambut Kayla yang terurai.Kayla tersenyum manis, mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja, Mas. Kan sudah bilang, aku bisa atasi sendiri."Fery terkekeh rendah, lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Kayla. "Iya, aku tahu... Istriku ternyata jauh lebih galak dan badas dari yang terlihat."Om Dani menyunggingkan senyum lega saat melihat situasi lobi kembali tenang. Pria paruh baya itu menepuk bahu Fery perlahan. "Ya sudah, Fery, Kay... Om kembali k







