Mag-log inSetelah menganalisis dokumen yang diberikan Wina, Alan bergegas menemui Fery di ruang kerja CEO. Ia menutup pintu rapat-rapat dengan raut wajah kaku."Fer, sepertinya ada file penting yang ditinggalkan Bu Dina di komputernya dan berhasil diselamatkan Wina," ujar Alan serius.Fery mendongak dari tumpukan berkasnya. "File apa?"Alan melangkah mendekat lalu menyodorkan tablet di tangannya. "Aku sudah menganalisisnya, dan data ini adalah rekapan alokasi dana dari kantor cabang tempat Bu Dina bertugas dulu sebelum ditarik ke pusat."Fery menerima tablet itu, menggeser layarnya, dan membaca deretan angka serta transaksi terselubung di sana. Matanya menyipit tajam."Dan kantor cabang yang selama ini kita anggap bersih..." Fery mendongak menatap Alan dengan pandangan menusuk, "...justru menjadi penyumbang dana gelap terbesar?""Benar, Fer. Kita benar-benar luput dari ini," jawab Alan dengan nada menyesal. "Selama ini fokus kita hanya tertuju pada transaksi Mariana di cabang utama. Frans dan D
Keesokan harinya, Alan sudah menunggu di lobi utama saat Fery baru saja melangkahkan kaki memasuki gedung Seven Group."Fer, tim IT sudah menjalankan rencana jebakan kita. Aku yang akan memantaunya langsung," bisik Alan pelan seraya berjalan sejajar di samping Fery."Bagus," jawab Fery tegas. "Hari ini adakan rapat internal. Kita harus segera mengisi kekosongan posisi Kepala Divisi Keuangan.""Baiklah, setengah jam lagi di ruang rapat utama," sahut Alan.Fery menuju ke ruang kerjanya terlebih dahulu untuk mengecek beberapa dokumen penting. Tepat pukul sembilan pagi, Alan kembali masuk ke ruangan CEO tersebut. "Fer, mereka semua sudah menunggu di ruang rapat utama."Fery menutup dokumen terakhirnya, lalu bangkit dan berjalan bersama Alan menuju ruang rapat.Suara riuh riak bisik-bisik di dalam ruangan langsung hening seketika saat CEO Seven Group itu melangkah masuk dan duduk di kursi pimpinan rapat."Selamat pagi. Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa pagi ini saya meminta rapat inter
Keesokan harinya, Alan melangkah tergesa-gesa memasuki ruang kerja Fery. Wajahnya terlihat jauh lebih serius dari biasanya saat menutup pintu rapat-rapat dan mendekati meja kerja Fery.Fery yang sedang meneliti berkas langsung mengangkat pandangannya. "Bagaimana hasil penyelidikanmu soal Mbak Dina?"Alan meletakkan sebuah map tipis berisi hasil penelusuran timnya. "Fer, dugaanmu sangat tepat. Alasan pulang kampung karena ibunya sakit itu cuma kebohongan untuk menutupi kepanikannya."Fery menyandarkan tubuh di kursi kebesarannya, menyilangkan kedua tangan di dada. "Lalu?""Mbak Dina ternyata terlibat dalam kasus penggelapan aset oleh Mariana saat Mariana masih menjabat di kantor cabang dulu," terang Alan tegas. "Ada jejak tanda tangan dan persetujuan transaksi janggal dari Dina yang sengaja ditutupi selama bertahun-tahun.""Kemungkinan besar Mbak Dina panik begitu melihat Mariana mulai terdesak di persidangan kemarin," lanjut Alan dengan nada tertahan. "Dia buru-buru mengundurkan diri
"Keamanan, tunggu apa lagi? Bawa mereka keluar!" perintah Fery dingin.Petugas keamanan yang tanggap langsung memegang lengan ibu Evelyn dan pengacaranya, menggiring mereka secara paksa keluar dari pintu kaca lobi utama diiringi bisik-bisik dan tatapan cemooh dari seluruh staf kantor.Setelah keributan mereda, Fery menoleh ke arah Kayla. Tatapannya yang tadinya sekeras baja seketika mencair dan berubah penuh kehangatan saat memandang wajah istrinya."Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Fery lembut seraya merapikan sedikit helai rambut Kayla yang terurai.Kayla tersenyum manis, mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja, Mas. Kan sudah bilang, aku bisa atasi sendiri."Fery terkekeh rendah, lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Kayla. "Iya, aku tahu... Istriku ternyata jauh lebih galak dan badas dari yang terlihat."Om Dani menyunggingkan senyum lega saat melihat situasi lobi kembali tenang. Pria paruh baya itu menepuk bahu Fery perlahan. "Ya sudah, Fery, Kay... Om kembali k
Di lobi utama gedung Seven Group, suasana mendadak kacau. Orang tua Evelyn bersama tim pengacaranya berusaha menerobos masuk melalui pintu pembatas access card, namun tim keamanan kantor bergerak sigap membentuk barikade ketat untuk mencegah mereka melangkah lebih jauh."Suruh wanita bernama Kayla itu keluar! Dasar wanita gatal! Kalau dia tidak menggoda Fery, pasti Evelyn yang sudah jadi istri Fery sekarang!" teriak ibu Evelyn dengan suara melengking, tak peduli pada tatapan sinis ratusan karyawan yang lalu-lalang di lobi."Kalian jangan menyembunyikannya di dalam!" teriaknya lagi seraya menunjuk-nunjuk para petugas keamanan.Di lantai atas, Om Dani yang kebetulan sedang berada di gedung Seven Group langsung bergegas menuju divisi keuangan. Raut wajahnya dipenuhi rasa cemas, khawatir menantunya menjadi sasaran keandalan emosi keluarga Evelyn."Kamu di sini saja, Kay. Biar Om yang turun menemui mereka," ucap Om Dani tegas, berdiri menutupi pintu ruangan Kayla.Kayla menggeleng pelan, l
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba—hari pertama persidangan kasus penggelapan aset dan transaksi ilegal Seven Group.Suasana ruang sidang terasa dingin dan sarat ketegangan. Mariana dihadirkan dengan pakaian tahanan, duduk di kursi terdakwa di bawah pengawalan ketat. Di barisan kursi pengunjung, Tuan Hendro hanya bisa duduk terpaku dengan wajah pucat dan pandangan layu, menyaksikan istrinya diadili tanpa mampu berbuat apa-apa.Tim kuasa hukum Seven Group tampil begitu dominan. Satu per satu bukti fisik, dokumen transfer ilegal, hingga surat kepemilikan sah peninggalan ibu Fery dipaparkan secara lugas di hadapan majelis hakim. Hadirnya saksi-saksi kunci makin mengunci posisi Mariana. Semua bukti yang disajikan begitu solid dan tak terbantahkan, membuat Mariana dan pengacaranya tak memiliki celah sedikit pun untuk berkulit.Mendapati dirinya kian terdesak dan terancam hukuman berat, pertahanan mental Mariana akhirnya runtuh total. Dengan napas memburu dan mata memerah, ia menda







