Share

Bab 3

Author: Wuri Jiang
Jam setengah enam, Naura keluar dari Kantor Catatan Sipil bersama pria itu seraya memegang akta nikah.

Dia tidak melihat akta nikah tersebut dan langsung memasukkannya ke dalam tas.

Selesai mengurus akta nikah, dia masih merasa agak tidak nyata.

Apa ini beneran sudah nikah?

Apa tidak terlalu cepat...

Senyum tipis tersimpul di bibir pria itu. "Gimana? Kamu menyesal?"

Naura menggelengkan kepala. "Nggak ada yang perlu disesali. Aku masih ada urusan, aku pergi dulu ya."

"Tunggu dulu." Pria itu mengulurkan tangan untuk menghentikannya. "Berapa nomor telepon kamu?"

Benar juga.

Sudah jadi suami istri, masa bertukar nomor telepon saja tidak, itu terlampau aneh.

Naura menyebutkan nomor teleponnya, lalu pria itu meneleponnya.

Dia tadi belum sempat melihat namanya. "Han..."

"Davin."

"Dav apa?" Naura memilih untuk langsung menyerahkan ponselnya.

Ujung jari pria yang terasa agak dingin menyapu kulitnya, membuat Naura merasa sedikit canggung.

Begitu melihat nama itu dengan jelas, Naura menganggukkan kepala. "Oke. Kalau gitu kita pulang ke rumah masing-masing aja?"

Dia masih harus terburu-buru pergi ke rumah Kenzo untuk membereskan barang-barangnya.

Davin mengangguk pelan dengan nada bicara datar. "Mau aku antar?"

"Nggak usah. Aku naik taksi aja."

Mereka berdua berpisah, tidak lama kemudian, LINE Naura menerima pesan permintaan pertemanan dari suami formalitasnya.

Catatan permintaan pertemanan itu ditulis dengan sangat lugas: [Suami kamu.]

Pipi Naura terasa agak merona, lalu dia menekan tombol terima begitu saja.

Hanya saja saat akan memberinya nama kontak, Naura mempertimbangkannya sejenak sebelum akhirnya mengetik kata suami.

Berjanji untuk berpura-pura menjadi pasangan suami istri yang mesra selama satu tahun, pria ini sudah membantunya keluar dari situasi sulit, jadi dia akan menemaninya bersandiwara dengan baik.

Cuma sebuah nama kontak saja, tidak masalah.

Sementara itu, pria yang berada di daftar obrolan teratasnya selama tiga tahun sama sekali tidak memberikan balasan.

Dia tertawa mengejek dirinya sendiri, menghapus pria itu dari daftar teratas, lalu memasukkannya ke dalam daftar blokir agar tidak perlu melihatnya lagi.

....

Naura memutar-mutar akta nikah di tangannya, lalu menelepon ibunya, Alia.

"Bu, kencan butanya udah selesai, aku bisa ikutan perjodohan sesuai kemauan Ibu. Tapi seperti yang pernah Ibu janjikan sebelumnya, soal masuk ke perusahaan ayah, aku mau ubah syaratnya."

Ayahnya adalah anak tunggal di keluarga dan tidak memiliki saudara sepupu, sehingga saat beliau meninggal dunia, hotel yang didirikannya dikelola oleh ibunya.

Kemudian setelah Alia menikah lagi, dia tidak lagi berminat mengelola hotel tersebut dan menyerahkannya kepada keluarga adik kandungnya, meski pemegang saham utamanya tetap Alia.

Alia mengerutkan dahi. "Kamu mau apa?"

Sudut bibir Naura menyunggingkan senyuman sinis. "Aku mau seluruh saham hotel atas nama ibu, terus Freya harus pindah keluar dari Vila Awan!"

Vila Awan adalah vila kecil yang ditinggali ayahnya bersama ibunya saat baru menikah dulu, tempat itu menyimpan seluruh kenangan masa kecilnya.

Kemudian dia ikut kakek dan neneknya pindah ke apartemen kecil di pusat kota, jadi Vila Awan terbengkalai selama bertahun-tahun.

Baru dua tahun lalu, ibunya malah memberikan Vila Awan kepada Freya untuk dijadikan ruang latihannya, jadi tempat itu penuh dengan barang-barang adik tirinya.

Dan sekarang, peninggalan yang disisakan ayahnya harus dia ambil kembali semuanya!

Alia sebenarnya tidak peduli dengan sebuah vila kecil, lagi pula Keluarga Jasma tidak kekurangan uang, dia cuma merasa tempat itu memiliki pemandangan yang bagus karena dikelilingi gunung dan air.

"Naura, Vila Awan bisa balik atas nama kamu, tapi kalau soal saham ... kamu nggak merasa terlalu serakah?"

Naura terkekeh pelan. "Bu, harta warisan yang ditinggalkan ayah dulu, nenek sama aku juga punya hak. Kenapa bisa dibilang serakah?"

Raut wajah Alia berubah, lalu dia malas melanjutkan pembicaraan. "Nanti setelah urusan pernikahan kamu sama Keluarga Pratama udah pasti, baru Ibu alihkan ke kamu!"

Naura mematikan telepon, sama sekali tidak takut ibunya akan mengingkari janji.

Kalau sampai ibunya mengingkari janji, Naura tidak akan ragu untuk langsung bercerai dari suami formalitasnya ini!

....

Davin mengendarai Bugatti miliknya yang mencolok menuju rumah utama keluarga.

Baru saja melangkah masuk ke pintu, dia melihat kakeknya sedang menunggunya dengan wajah kesal.

Dia melemparkan majalah gosip ke dekat kaki pria itu. "Kemarin model muda, sekarang artis muda lagi, kamu sengaja ya mau bikin aku mati karena marah!"

Davin tertawa kecil, membungkuk mengambil majalah di lantai, lalu mengibas debu yang menempel. "Mana mungkin. Kalau Kakek mati karena marah, siapa lagi yang bakal desak aku buat nikah, benar 'kan?"

Darel merasa gemas dan jengkel. "Dasar kamu bocah nakal! Benar-benar kesialan keluarga!"

Darel sebenarnya tidak marah karena berita miring tentang Davin, melainkan karena sosok yang ada di berita miring itu adalah seorang pria.

Dia boleh main-main dengan apa saja, tapi tidak boleh jadi gay!

Leluhur Keluarga Pratam memiliki jasa militer yang sangat besar, lalu beralih ke dunia bisnis hingga berhasil membangun kerajaan bisnis Keluarga Pratam yang sekarang. Bisnis Grup Pratam tersebar luas di berbagai bidang seperti properti, teknologi, keuangan, hingga kesehatan.

Darel merasa jantungan setiap kali mengingat anak bungsunya adalah seorang gay.

"Aku nggak peduli, tahun ini kamu harus udah nikah! Katanya bocahnya si Arif Jared mau dijodohkan sama Keluarga Jasma, kalau kamu gimana? Kamu mau bikin aku kalah dari pak tua itu, hah?"

Keluarga Pratam dan Keluarga Jared memang sudah lama tidak pernah akur.

Mendiang istri Darel adalah cinta pertama Arif, sejak saat itu kedua keluarga menjadi musuh bebuyutan yang terus bersaing selama puluhan tahun.

Kedua keluarga saling bersaing siapa yang bisnisnya paling luas, siapa yang punya anak paling banyak, dan sekarang mulai bersaing siapa anak nakal di keluarga yang akan nikah duluan.

Darel selalu berhasil unggul dari Arif di berbagai hal, dia tidak mau nama besarnya hancur gara-gara anak bungsunya ini.

Davin tersenyum penuh arti, lalu berujar dengan nada santai, "Nikah ya ...."

"Udah nikah kok! Baru aja nikah, akta nikahnya bahkan masih hangat. Ayah mau lihat?"

Raut wajah Darel mendadak berubah. "Udah nikah?"

Matanya terbelalak lebar. "Mana akta nikahnya? Coba kasih lihat ke Ayah."

Davin menyerahkan akta nikah yang baru saja terbit itu ke tangan ayahnya. "Kelihatan jelas nggak? Perlu aku ambilkan kacamata baca Ayah?"

Darel menyahut dengan kesal, "Pergi, pergi, pergi sana, kamu diam aja."

Ini beneran akta nikah, foto di dalamnya juga terlihat seperti baru saja diambil, pakaian yang dikenakan sama persis dengan yang dipakai anak bungsunya sekarang.

"Kamu nggak bikin akta nikah palsu cuma buat bohongin Ayah, 'kan?" Darel merasa curiga.

Davin menimpali, "Aku nggak senganggur itu. Kalau nggak percaya, lain kali aku bawa menantu Ayah buat ketemu."

"Hm, anak gadis ini wajahnya lumayan cantik, sayang banget kalau dapat kamu."

Davin tersenyum dengan makna tersirat. "Yah, nanti Ayah harus tunjukkan sikap yang baik ya. Jangan sampai bikin istri aku kabur."

Cuma dia tidak tahu, kapan istrinya itu baru akan sadar kalau dia sebenarnya salah orang saat kencan buta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status