Share

Bab 4

Author: Wuri Jiang
Naura menyeret dua koper keluar dari vila Kenzo, pembantu yang baru saja selesai membeli sayur tampak terkejut saat melihatnya.

"Nona Naura, Nona mau pergi dinas luar kota ya?"

Naura tersenyum tipis. "Iya, dinas luar kota."

"Duh, padahal saya udah beli sayur. Nanti kalau Nona udah pulang kasih tahu saya ya, biar saya masakkan makanan kesukaan Anda."

Pulang?

Dia tersenyum tipis, sebentar lagi tempat ini akan memiliki nyonya rumah yang baru, setelah ini dia tidak akan pernah kembali lagi.

Naura berkata, "Makasih ya Bi, aku jalan dulu."

Pembantu itu menatap punggung Naura yang berlalu pergi, merasa ada hal yang aneh dari dirinya, tapi kalau ditanya apa yang aneh, dia juga tidak bisa menjelaskannya.

Setelah masuk ke dalam vila, dia baru menyadari bahwa ada cukup banyak barang yang hilang.

Semua hiasan lucu berwarna merah muda sudah tidak ada lagi di tempatnya.

Dia naik ke ruang pakaian di lantai dua dan membuka pintu lemari, syukurlah, pakaian Nona Naura masih ada di sana.

Hanya saja yang tidak dia ketahui adalah, semua barang yang tersisa ini merupakan pemberian Kenzo, tidak ada satu pun yang dibawa oleh Naura.

Barang-barang yang dia bawa pergi hanyalah barang yang dia beli dengan uangnya sendiri.

Pembantu itu masih merasa tidak tenang, lalu menelepon bosnya yang berada jauh di Swissa. "Tuan, hari ini Nona Naura pulang, dia bawa pergi cukup banyak barang."

Kenzo terdiam sejenak, alisnya sedikit mengerut. "Dia pergi ke mana?"

"Katanya mau pergi dinas luar kota selama beberapa hari."

Dinas luar kota? Dia sedang tidak berada di dalam negeri, sebagai sekretaris pribadinya, dinas luar kota apa yang dimaksud.

Riwayat obrolannya dengan Naura masih berhenti di beberapa hari yang lalu.

Dia menyadari ada beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya, lalu mendadak tertegun sejenak.

Saat dia baru mau menelepon balik, terdengar suara jeritan kaget dari Freya.

"Aduh, sakit banget ...."

Naura baik-baik saja di dalam negeri, mana mungkin ada masalah.

Paling-paling cuma gara-gara dia tidak merespons telepon beberapa hari ini, makanya wanita itu merajuk.

Kenzo meletakkan ponselnya, lalu bergegas berlari ke arah suara.

"Kamu kenapa, Freya?"

Freya yang sedang memotong buah di dapur tidak sengaja mengiris jari tangannya hingga terluka. "Kak Kenzo, aku bodoh banget ya, padahal tadinya cuma mau potong buah buat Kakak."

Kenzo segera mengambil kotak P3K untuk mengobati lukanya, lalu mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Aku justru suka sama sikap kamu yang polos begini."

Freya menundukkan kepala dengan malu-malu seraya merajuk, "Ih, menyebalkan ...."

"Tapi Kak Kenzo, besok waktu kita pulang ke tanah air, boleh nggak aku ajak Kakak aku?"

Binar mata Kenzo berkilat pelan, dia tentu tahu Naura adalah kakak Freya.

"Bukannya hubungan kamu sama Kakak kamu nggak begitu baik?"

Freya mengedipkan matanya yang berbinar terang. "Memang nggak baik, makanya aku mau coba perbaiki hubungan sama dia. Hubungan ibu sama kakak jadi renggang juga gara-gara aku, jadi aku harus melakukan sesuatu buat ibu."

"Freya, kamu benar-benar baik hati." Kenzo tersenyum manis. "Tapi, soal memperbaiki hubungan, lebih baik dibicarakan nanti aja."

"Besok kita balik ke tanah air, aku nggak mau acara penyambutan kamu jadi rusak suasananya."

Binar mata Freya seketika meredup. "Ya udah deh kalau gitu."

Dia selalu tahu kalau Naura hanyalah sosok pengganti untuk dirinya.

Pernah sekali layar ponsel Kenzo tidak terkunci, lalu dia melihat pesan yang dikirimkan Naura, dari situlah dia tahu kalau mereka berdua diam-diam menjalani hubungan rahasia.

Sejak saat itu, setiap kali Freya menggunakan sedikit trik, Kak Kenzo akan langsung terbang untuk menjenguknya.

Dan unggahan Instagram dua hari lalu itu juga sengaja dibuat oleh Freya.

Besok, saat dia sebagai pemilik posisi sebenarnya kembali ke tanah air, sosok pengganti seperti Naura sudah seharusnya menghilang.

....

Naura pergi ke kantor keesokan harinya untuk mengurus serah terima pekerjaan.

Mandy menatapnya dengan penuh penyesalan. "Naura, beneran nggak mau dipertimbangkan lagi buat bertahan di sini?"

"Kalau masalah fasilitas dan gaji, aku bisa bantu perjuangkan ke atasan."

Atasan siapa yang dimaksud? Memperjuangkannya ke Kenzo?

Naura tertawa getir. "Kak Mandy, nggak usah repot-repot. Aku ada alasan pribadi."

Naura adalah satu-satunya wanita di antara seluruh sekretaris Kenzo.

Dulu, sekretaris wanita yang melamar kerja semuanya punya niat terselubung untuk mendekati atasan demi memperbaiki nasib, lalu pada akhirnya Kenzo hanya mempertahankan Naura seorang.

Dia teliti, cepat tanggap, dan bisa menangani urusan besar maupun kecil dengan sangat rapi, sehingga sangat membantu tugas Mandy.

Mandy sebagai asisten khusus Kenzo sangat mengagumi kinerja Naura.

Wanita cantik ini tahu batasan dan paham aturan, tapi dia juga tidak bisa memaksa kehendak orang lain.

"Ya udah kalau gitu, pengunduran diri kamu udah aku setujui, tapi kalau soal disetujui Pak Kenzo atau nggak, kita harus tunggu sampai Pak Kenzo pulang dari dinas luar kota baru bisa tahu."

Naura menarik sudut bibirnya tipis. "Makasih ya, aku balik kerja dulu."

Dia berjalan ke ruang pantry, lalu tidak sengaja mendengar staf bagian divisi administrasi sedang bergosip.

"Eh, kalian udah dengar belum, Pak Kenzo kali ini bukan lagi dinas luar kota, tapi lagi pergi ngejar pacar mudanya!"

"Masa sih? Bukannya Pak Kenzo nggak suka dekat-dekat sama wanita ya? Aku kerja di sini beberapa tahun aja nggak pernah dengar Pak Kenzo punya gosip miring."

"Halah, ya jelas bukan. Keluarga Jared sama Keluarga Jasma itu udah lama dijodohkan, Pak Kenzo selama ini cuma lagi nunggu dia lulus dan cukup umur aja. Ada paparazzi yang sempat ambil fotonya, tapi demi melindungi pacar mudanya, Pak Kenzo langsung menekan berita itu supaya nggak terbit. Terharu banget aku lihatnya!"

Naura tidak menyadari kalau gelas di tangannya tidak pas mengarah ke kran air, hingga air panas yang mendidih langsung mengguyur punggung tangannya.

"Aduh ...."

Naura menarik tangannya kembali, punggung tangannya tampak memerah luas dan terasa sangat perih menusuk.

"Ya ampun, Naura, kamu kok bisa nggak hati-hati banget sih, cepat ke kamar mandi bilas pakai air dingin! Nanti malah bisa melepuh."

Seseorang menyadari tangan Naura yang tersiram air panas lalu memberi saran.

Naura mengangguk pelan. "Iya, aku ke sana sekarang."

Dia membilas tangannya dengan air dingin di kamar mandi, seraya memikirkan obrolan mereka tadi, hingga dadanya terasa begitu sesak dan perih.

Ternyata mereka berdua sudah sampai di tahap membicarakan pernikahan, sedangkan dirinya ….

Masih saja bodoh menunggu pria itu mengumumkan hubungan mereka ke publik.

Layar ponsel yang tergeletak di wastafel mendadak menyala, memperlihatkan pesan dari sahabatnya, Vina.

[Naura, malam ini om aku bawa pacarnya buat bikin acara penyambutan, aku nggak mau datang, kamu temani aku yuk.]

Naura menekan rasa panas yang berkaca-kaca di matanya, ternyata pria itu sudah kembali ke tanah air.

[Nggak bisa deh, Vina, besok malam aku harus kerja lembur.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status