Share

Bab 2

Author: Wuri Jiang
Hari Valentine, Hari Natal, Tahun Baru ....

Setiap kali pria itu beralasan kerja lembur, perjalanan dinas, atau menghadiri acara minum-minum, ternyata dia sedang menemani Freya!

Setiap kata di layar ponsel itu bagaikan tumpukan jarum tajam yang merajam dadanya.

Rasa dingin meresap hingga ke sumsum tulang, membuat Naura merasa sesak dan sulit bernapas.

Mulutnya terasa hampa dan pahit dengan sensasi amis darah, kenapa harus Freya!

Sejak kecil hingga dewasa, dia memang tidak pernah akur dengan Freya, adik tirinya itu.

Setiap kejadian yang terjadi di antara mereka, Kenzo tahu betul tentang hal itu!

Apakah Kenzo berpacaran dengannya hanya untuk menjadikan dirinya sebagai pengganti Freya?

Cukup sudah.

Naura mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan kepada ibunya, Alia Wandara.

[Bu, aku setuju ikut kencan buta]

Ibunya yang selama ini selalu bersikap dingin kepadanya, membalas pesan tersebut hampir seketika.

[Bagus kalau kamu udah sadar. Alamatnya udah Ibu kirim, ruang VIP 1012. Jaga sikap dan rendahkan dirimu sedikit, paham?]

Sudut bibir Naura menyunggingkan senyuman sinis, ibunya benar-benar tidak sabar ingin menjualnya dengan harga tinggi.

Setelah cairan infus selesai mengalir, dia melambaikan tangan memanggil taksi untuk pergi ke restoran.

....

Alia tentu saja tidak akan menjodohkan Naura dengan pria baik-baik.

Calon kencan butanya adalah seorang pria playboy yang terkenal buruk reputasinya, berganti wanita lebih sering daripada berganti pakaian.

Setelah ibunya menikah lagi, ibunya hanya bersikap baik kepada Freya. Dia sudah lama terbiasa dengan sikap pilih kasih ibunya.

Naura menarik napas dalam-dalam, mendorong pintu ruang VIP, dan matanya seketika mengecil.

Pria itu mengenakan setelan jas warna merah anggur yang mencolok, terlihat sangat menonjol di tengah kerumunan.

Satu tangannya memegang gelas anggur, sementara tangan lainnya dimasukkan ke dalam saku, bersikap santai dan acuh tak acuh.

Mendengar suara pintu terbuka, dia mengangkat pandangannya dan menoleh, matanya yang menawan terlihat sangat memikat.

"Tuan Pratama?"

Harus diakui, putra dari Keluarga Pratama ini memiliki wajah yang sangat sempurna tanpa cela.

Pria ini memang memiliki modal untuk bermain-main dengan wanita, gaya hidupnya memang sangat liar.

Di dalam ruang VIP terdapat pria dan wanita, pria ini benar-benar tidak memilih-milih teman.

Pria itu mengangkat alisnya. "Kamu ini ...."

"Bisa bicara sebentar?"

Pria itu meletakkan gelas anggurnya, memberi isyarat agar orang lain keluar terlebih dahulu. Ruang VIP pun dengan cepat menjadi hening.

Naura mengatupkan bibirnya, lalu berjalan ke hadapan pria itu.

"Namaku Naura Ardani, hari ini aku datang untuk kencan buta sama kamu. Kalau aku sesuai dengan kriteria kamu, kita bisa nikah."

Sikap kejam Kenzo sudah membuatnya melihat dengan jelas sifat asli seorang pria.

Dalam pernikahan ini, menikah dengan siapa saja sama saja baginya.

Hanya sekadar hidup bersama untuk memenuhi formalitas belaka.

Pria itu menarik sudut bibirnya, suara malas dan santai terdengar di samping telinganya. "Nikah?"

Naura menenangkan pikirannya. "Tentu aja, karena kedua keluarga berniat menjodohkan kita, tujuan utamanya adalah pernikahan. Aku nggak keberatan kalau kamu main-main di luar, tapi aku juga nggak akan bertanggung jawab atas anak luar nikah kamu, paling banyak aku cuma bisa bersikap nggak kejam sama mereka."

"Kalau boleh, aku pikir jangka waktu pernikahan kita sebaiknya satu tahun aja. Selama satu tahun, aku akan menjalankan peran sebagai istrimu dengan baik, setelah satu tahun kita akhiri hubungan suami istri ini."

"Tenang aja, karena pernikahan ini cuma sebatas status tanpa hubungan suami istri yang sebenarnya, aku nggak akan mengambil uang Keluarga Pratama sepersen pun. Kalau kamu ragu, kita bisa buat perjanjian pra-nikah."

"Kalau kamu merasa oke, kita bisa menandatangani perjanjian tertulis sebagai bukti. Bagaimana?"

Naura merasa sikap yang ditunjukkannya sudah cukup tulus.

Bagi seorang playboy, memiliki istri penurut seperti dirinya untuk dijadikan tameng tentu sangat menguntungkan, tidak ada ruginya sama sekali.

Namun, pandangan mata pria itu seperti lautan dalam di malam musim dingin, tatapan menyelidik itu membuat jantungnya berdegup kencang.

"Boleh aja." Suara santai pria itu terdengar agak serak, lalu dia mengubah arah pembicaraan. "Waktu masih siang. Gimana kalau sekarang kita langsung urus akta nikah aja?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status