Share

Bab 7

Author: Wuri Jiang
Saat Kenzo membuka matanya dan melihat dengan jelas orang di hadapannya, raut wajahnya mendadak dingin. "Kenapa kamu?"

Pembantu itu tampak agak kaku. "Hehe, Tuan, ya tentu aja saya. Nona Naura dinas luar kota, belum pulang. Saya dengar ada suara, jadi tahu kalau Tuan sudah pulang."

"Tuan minum alkohol ya, saya buatkan teh pereda mabuk dulu."

"Nggak usah, Bi." Kenzo memotong dengan nada jengkel. "Bibi kembali ke kamar aja buat tidur. Saya mau naik ke atas."

Bibi pun menyunggingkan bibir. Dia tahu, Tuan hanya mau minum teh pereda mabuk yang dibuatkan oleh Nona Naura.

Tapi, bukannya rasa teh pereda mabuk itu sama saja, dia juga tidak tahu kelakuan aneh apa yang dimiliki tuannya ini.

Kenzo memijat pelipisnya, lalu mengeluarkan ponsel dan membuka kolom obrolan dengan Naura.

Di kolom obrolan mereka berdua, sebagian besar dikirim oleh Naura, dia hanya membaca tanpa membalasnya.

Dia mengatupkan bibir tipisnya, lalu mengetik, [Kamu di mana?]

Seketika hatinya merasa tidak tenang, lalu dia menghapus huruf demi huruf tersebut satu per satu. Kemudian, dia langsung mematikan ponsel dan melemparkannya ke tempat jauh agar tidak perlu melihatnya lagi.

Kelihatannya selama ini dia terlalu memanjakan Naura, sampai membuat wanita itu tidak tahu batasan begini.

Cuma bertengkar sedikit saja, sampai bertingkah tidak mau pulang ke rumah?

....

Keesokan harinya, lingkaran hitam tampak menghiasi bagian bawah mata Naura.

Dengan lingkaran hitam di matanya, dia bersiap menjadikan hari ini sebagai hari terakhirnya bekerja.

"Kak Mandy, ibuku mendesak aku buat pulang ke kampung halaman ikutan kencan buta. Hari ini mungkin bakal jadi hari terakhir aku di sini, berkas serah terima pekerjaan udah aku kirim semua ke email Kakak."

Mandy merasa sangat terkejut, Naura bisa terburu-buru begitu untuk pergi.

"Kamu nggak mau ambil gaji kamu?"

Naura menarik sudut bibirnya tipis. "Nggak usah."

Mandy berpikir sejenak. "Kamu kasih aku waktu setengah hari, aku bantu kamu bicara sama pihak HRD buat urus surat keterangan mengundurkan diri. Supaya waktu kamu melamar ke perusahaan lain nanti, lebih gampang menjelaskannya."

Naura mempertimbangkannya sejenak, waktu setengah hari ini memang tidak ada bedanya.

"Oke, makasi ya, Kak."

Dia duduk di kursi kerjanya sambil membereskan barang-barang pribadinya, hanya saja dia tidak menyangka Kenzo akan datang ke kantor pagi ini.

Dia tetap fokus pada pekerjaannya, bahkan saat merasakan tatapan tajam yang mengarah dari belakang kepalanya, dia tetap tidak menoleh sama sekali.

Sampai sepasang sepatu kulit berwarna hitam melangkah masuk ke dalam jarak pandangnya.

Kenzo berdiri dengan sikap mengintimidasi di samping Naura, jarinya mengetuk permukaan meja. "Bu Naura, ikut ke ruanganku sebentar."

Selesai berbicara, Kenzo berbalik dan melangkah pergi dengan dingin.

Naura rasanya ingin melemparkan pot tanaman kaktus di mejanya ini ke wajah pria itu, tapi setelah dipikir-pikir kembali, mereka berdua sudah dewasa, tidak perlu bersikap tidak sopan seperti itu.

Dia mendorong pintu ruangan Kenzo hingga terbuka. "Pak Kenzo, Bapak panggil aku ada urusan apa?"

Kenzo mengangkat dagunya, menunjuk ke arah pintu di belakang Naura. "Tutup pintunya, lalu kemari."

Naura tidak menutup pintu rapat-rapat, membiarkan ada celah sedikit, lalu berdiri berjarak sepuluh meter dari Kenzo.

"Pak Kenzo, Bapak panggil aku ada urusan apa?" ulangnya kembali.

Kenzo menyunggingkan senyum sinis. "Dulu bukannya waktu malam, kamu selalu mohon supaya aku meluk kamu waktu tidur, sekarang malah berdiri jauh begitu?"

Wajah Naura tampak sangat tenang. "Pak Kenzo, aku udah mengundurkan diri. Sebentar lagi aku bukan karyawan Bapak lagi, berdiri agak jauh memangnya ada masalah?"

"Mengundurkan diri?" Binar mata Kenzo berkilat dingin. "Siapa yang mengizinkan kamu mengundurkan diri?"

"Hah, Naura, trik jual mahal yang kamu pakai ini nggak bakal mempan buat aku."

Naura tersenyum perlahan. "Aku nggak ada waktu buat main trik jual mahal."

Kenzo bertanya dengan nada mendesak, "Lalu kenapa kamu mengundurkan diri? Apa yang aku kasih ke kamu masih belum cukup? Perusahaan mana lagi yang bisa kasih gaji lebih tinggi dari Grup Jared?"

Terlihat sudut bibir Naura membentuk sebuah lengkungan tipis. "Nggak peduli diberi berapa pun, tapi keluargaku udah mengatur kencan buta buat aku."

"Kenzo, aku mau pulang buat nikah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status