Share

Bab 8

Author: Wuri Jiang
"Nikah?" Tatapan mata Kenzo mendadak tajam. "Beberapa hari lalu kamu masih bersandar manja di pelukanku dan nggak mau bangun, hari ini kamu bilang kamu mau nikah?"

"Naura, kalau mau mancing emosiku dengan membuat alasan seperti ini, kamu pikir aku bakal percaya?"

Kenzo tentu tahu betul seberapa besar rasa suka Naura terhadap dirinya.

Kalau tidak, mana mungkin wanita itu mau menjalani hubungan rahasia tanpa status dengannya selama tiga tahun.

Naura mengaku mau menikah, selain karena cemburu dan ingin memancing emosinya, apalagi alasan lainnya?

Namun, dia mendengar suara dingin Naura menyahut, "Nggak percaya?"

"Kalau begitu, perlu aku perlihatkan akta nikahnya?"

Binar hitam berkilat mendalam di mata Kenzo, tapi pembicaraan itu mendadak terpotong oleh suara jernih dari luar pintu.

"Kak Kenzo, aku buatkan kue manis buat Kakak cicipi!"

Freya tertegun beberapa detik saat melihat Naura, lalu seketika tersenyum manis. "Kakak ada di sini juga ya."

"Kakak, kamu lagi bahas sesuatu sama Kak Kenzo ya?"

Naura tertawa mengejek. "Nggak kok, kalian ngobrol aja. Kami udah selesai bicara."

"Pak Kenzo, aku permisi keluar dulu."

Kenzo mengatupkan bibir tipisnya dengan raut wajah yang sulit ditebak. Dia masih ingin mengatakan sesuatu, tapi karena ada Freya, kata-kata itu tidak bisa diucapkannya.

Dia sama sekali tidak ingin siapa pun tahu mengenai hubungannya dengan Naura.

Freya memanggil Naura, "Kak, Ibu bilang kamu udah lama nggak pulang ke rumah. Nanti malam mau pulang buat makan malam bareng nggak? Ibu sama Ferdi kangen sama kamu."

Dia memalingkan kepala dan menatap pria itu dengan malu-malu. "Kak Kenzo, ayah ajak Kakak nanti malam datang ke rumah buat bahas urusan pernikahan kita bersama."

"Kakak pasti ada waktu, 'kan?"

Suara pria di belakangnya yang berat dan memikat terdengar bercampur dengan senyuman tipis. "Freya, kalau kamu yang ajak, aku selalu ada waktu kapan pun itu."

Selesai berbicara, Kenzo melirik secara samar ke arah wajah pucat wanita di depannya.

Naura menekan rasa perih di hidungnya. "Acara kumpul Keluarga Jasma, aku nggak ikutan deh."

Setelah berkata demikian, dia membuka pintu dan melangkah keluar.

Freya menyunggingkan senyum puas, tapi saat mengangkat pandangannya menatap Kenzo, dia justru menyadari pria itu sedang menatap lurus ke arah pintu yang sudah tertutup rapat tersebut.

"Kak Kenzo?"

Mendengar panggilan itu, Kenzo baru tersadar. "Iya."

"Kak Kenzo, cepat cicipi kue manis buatanku ini."

Kenzo sebenarnya tidak suka makan makanan manis, tapi menghadapi tatapan penuh harapan dari Freya, dia tidak sanggup mengucapkan kata penolakan.

Dia mencicipi sepotong stroberi di atasnya secara formalitas. "Enak banget, Freya."

"Beneran? Kalau begitu lain kali aku buatkan yang lain lagi buat Kakak. Tapi Kak Kenzo …." Freya terdiam sejenak. "Tadi Kakak sama Kak Naura lagi bahas apa sih?"

"Nggak ada apa-apa, cuma menanyakan beberapa hal soal pekerjaan. Nggak usah bahas dia lagi."

Freya tidak tuli, sebelum masuk tadi dia sepertinya sempat mendengar ada pembicaraan soal urusan pernikahan dari dalam?

Siapa yang mau menikah?

Kak Naura?

....

Freya tidak berlama-lama dan langsung pulang ke rumah.

Alia menatap putrinya seraya tersenyum. "Freya udah pulang. Bi Santi, tolong ambilkan sarang burung walet buat Nona!"

Berbeda dengan sikapnya kepada Naura, Alia selalu bersikap sangat perhatian dan memanjakan anak tirinya ini.

Menikah ke dalam Keluarga Jasma selama hampir 20 tahun, dia benar-benar berhasil memperlakukan anak dari mantan istri suaminya ini seperti anak kandungnya sendiri.

Freya bersikap biasa saja, tidak bisa dikatakan sangat menyukai Alia, tapi demi membuat Naura kesal, dia dengan senang hati menunjukkan sikap seolah mereka adalah ibu dan anak yang sangat akrab.

"Bu, Kak Kenzo nanti malam mau datang buat bahas urusan pernikahan kami, Ibu ingat suruh bibi masak makanan yang enak ya."

"Iya, Ibu tahu kok. Ibu udah suruh mereka mempersiapkannya."

Alia menyunggingkan senyum seraya menarik putrinya untuk duduk. "Freya, kamu kali ini pulang ke tanah air, Vila Awan di sana 'kan udah terlalu tua. Maksud Ibu sama ayah kamu, mau ganti tempat lain yang lebih luas buat dijadikan ruang bermusik kamu."

Freya menatap Alia dengan bingung. "Kenapa begitu? Ibu, vila itu memang agak tua, tapi pemandangannya bagus banget, aku suka banget kok."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status