MasukClarin dan Carles makan siang bersama di rumah. Suasananya terbilang cukup harmonis.Clarin berkata padanya, “Akhir-akhir ini aku membaca beberapa naskah. Aku pun berencana investasi untuk memproduksi dua judul sebagai percobaan.”“Baik.”Carles menjawab dengan tegas dan santai.Investasi mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta baginya seolah hanya seperti membeli dua tas seharga ratusan juta, ringan dan tanpa beban.Clarin terdiam sambil menghabiskan setengah mangkuk nasi.Beberapa saat kemudian, dia melanjutkan, “Sepertinya aku harus menjelaskan lebih jelas. Aku ingin mentransfer uang di rekening pribadiku ke Ibu, lalu menggunakan namanya untuk berinvestasi.”Gerakan makan Carles terhenti. Dia mengangkat pandangan dan menatap Clarin.“Kamu mau mengalihkan harta dalam pernikahan?”“Bukan begitu. Anggap saja uang itu aku pinjamkan pada Ibu. Kalau film atau drama yang diinvestasikan menghasilkan keuntungan, uangnya akan dikembalikan.”Clarin merasa karena sudah membuka pembicaraan,
Mendengar jawabannya, wajah tampan Carles langsung muram.Dengan gigi terkatup dia bertanya dingin, “Kalau kamu tidak sedang hamil, berarti kamu akan menerimanya?”Clarin yang masih setengah mengantuk menyipitkan mata, sama sekali tidak menyadari bahaya. Dia tersenyum polos.“Hmm … sulit menolak kebaikan orang.”Sungguh “sulit menolak”!Carles langsung menariknya bangun dari tempat tidur.“Clarin, jadi dari dulu kamu memang ingin mengkhianatiku, ya?”Aura dingin menyergap. Clarin tersentak dan benar-benar terbangun.Dia terdiam beberapa detik, berusaha mengingat apa yang barusan dia katakan, lalu dengan kesal berkata, “Carles, tengah malam begini tidak tidur, kamu kenapa sih .… Eh, celana tidurmu kenapa basah?”Jarinya menunjuk ke bagian depan celana tidur Carles, terlihat noda abu-abu gelap sebesar koin.Ekspresinya langsung berubah dari bingung menjadi terkejut.Ya ampun! Jangan-jangan karena cedera kakinya bertambah parah sampai tubuh bagian bawahnya tidak terkendali ….“Clarin, hen
“Nggak suka.”“Oh ….” Clarin memasukkan kembali cangkir-cangkir itu ke dalam kotaknya. “Kalau begitu, nanti aku jual di forum jual beli saja. Biar kamu nggak kesal melihatnya.”Carles diam saja.Padahal dia tidak bilang tidak mau.Clarin lanjut membuka kotak-kotak lainnya.“Aku membelikanmu beberapa parfum. Ada pelembap kulit badan juga. Lalu syal … asbak … kotak tisu kayu ini bisa kamu taruh di kantor. Tas tangan ini juga cocok untukmu. Saat tahun baru nanti, kita bisa main catur ini bersama ibu dan nenek.”Carles berkata datar, “Semua ini barang pelengkap supaya kamu bisa beli tas, ‘kan?”Wajah kecil Clarin sempat kaku sesaat, lalu dia membela diri, “Tapi semua ini tetap harus bayar, bukan gratis! Aku juga memilihnya dengan serius!”“Ngeles,” ucap Carles.Setelah mengatakan itu, dia menggerakkan kursi rodanya berbalik menuju kamar mandi.“Hei! Aku juga membelikanmu barang lain, bukan cuma barang pelengkap tas!” teriak Clarin ke arah punggungnya.Barang yang benar-benar bagus memang s
Setelah memilih barang pelengkap dan menyelesaikan pembayaran, Mira meminta manajer toko untuk mengirimkan semua barang belanjaannya ke Imperial Resort.Selanjutnya, dia mengajak Clarin ke butik perhiasan kelas atas.Bukan hanya Clarin yang dibelikan perhiasan, tapi anak di dalam kandungannya pun dibelikan satu set lengkap perhiasan khusus bayi.Kemudian, mereka lanjut membeli pakaian dan sepatu ….Saat melirik waktu yang sudah lewat pukul lima sore, Mira berkata, “Clarin, telepon Carles. Suruh dia jemput kita selepas pulang kerja nanti.”Dalam hati Clarin berpikir, ‘Dari Grup Lowui ke sini lalu kembali ke Imperial Resort jelas tidak searah.’Namun, dia tidak membantah.“Baik, Bu.”Clarin mengangguk ringan, mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menelepon Carles.“Pak Carles, Ibu bilang setelah kamu pulang kerja nanti sekalian jemput kami ….”“Hm.”Carles tidak menanyakan lokasi mereka sekarang.Deretan notifikasi pembayaran yang terus masuk ke ponselnya sudah memberitahunya.Karena harus
Clarin membelikan teh susu ini khusus untuknya, tentu saja dia bersedia cicip.Baru menyesap satu teguk, matanya langsung berbinar. “Wah! Aku nggak menyangka minuman seperti ini ternyata enak juga.”Clarin melirik label pada dua gelas lainnya, lalu buru-buru berkata, “Bu, Ibu salah minum yang pakai es. Untuk Ibu dan Nenek, aku belikan yang hangat.”“Nggak apa-apa, yang dingin enak juga,” ujar Mira sambil menyesap seteguk lagi.Biasanya dia memang lebih sering minum minuman yang hangat. Namun, aroma teh yang membalut susu dengan sensasi dingin yang menyegarkan justru terasa unik dan berbeda.Melihat ibu mertuanya berkata begitu, Clarin pun tidak mengatakan apa-apa lagi.“Menantu kesayanganku, nanti setelah makan siang, ibu bawa kamu belanja,” ujar Mira sambil menggenggam tangan Clarin. “Perutmu sudah besar, mungkin banyak baju lama yang tak muat lagi. Ibu belikan yang baru.”“Boleh.” Clarin menggandeng lengan ibu mertuanya. “Ibu harus siap mental ya, aku akan menguras dompet Ibu.”“Kala
Saat mendengar penjelasan kepala pelayan, hati Clarin bergetar sesaat.Namun begitu teringat kejadian siang tadi di restoran, Carles makan bersama Herni, ekspresinya kembali mendingin.Orang-orang selalu bilang bahwa ketika pria melakukan kesalahan di luar rumah, dia akan tiba-tiba bersikap sangat perhatian pada istrinya ….Sebenarnya Clarin tidak berselera makan. Tetapi demi bayi dalam kandungannya, dia berusaha menenangkan diri, lalu makan dengan tenang dan perlahan.Setelah selesai makan, dia melihat pesan dari Valen yang menanyakan apakah diskusi kerja samanya hari ini berjalan lancar.Clarin sebenarnya berniat mengajak Valen untuk menjadi rekan bisnisnya dalam perusahaan novel yang sedang dirintisnya ini, tapi dia belum memberi tahu Valen secara langsung.Beberapa hari ini, dia mulai memberi sedikit bocoran.Sambil menaiki tangga, Clarin membalas singkat, [OK!]Valen, [Bagus sekali, selamat!]Valen, [Setelah sukses nanti, jangan lupakan aku.]Clarin masuk ke ruang kerja, mengunci







