MasukWajah Elvara berubah pucat pasi. Setelah Virly mengungkit kejadian itu, dia tahu dirinya benar-benar tamat."Kakak, dengarkan aku. Semua itu bohong. Waktu itu aku baru 10 tahun, mana mungkin aku bisa ...." Elvara masih berusaha membela diri.Namun, kematian Ayah dan Ibu selalu menjadi duri paling menyakitkan di hati Kakak. Bagaimana mungkin dia membiarkannya lolos begitu saja?"Bos, apakah sistem rem mobil itu pernah dirusak atau nggak, hal seperti ini pasti sangat mudah diselidiki dengan kemampuan Anda. Jangan terus dibutakan sama perempuan sekejam ini!"Virly kini benar-benar membenci Elvara. Dia ingin menginjaknya sampai hancur, lalu melanjutkan dengan suara penuh kebencian, "Elvara pernah menjadikan semua ini sebagai prestasi dan memamerkannya padaku, jadi aku tahu persis, dia melakukannya dengan sengaja!""Hari itu dia nggak ikut ke taman hiburan juga disengaja, karena sebelumnya dia sudah duluan merusak sistem rem! Dia iri karena Kirana lebih disayang. Paman, Bibi, dan kamu semua
Elvara membawa kantong sarapan sambil berlari tergesa-gesa. Virly langsung terbelalak."Elvara, kenapa kamu ada di sini?"Bukankah mereka sudah sepakat untuk berakting di depan Vincent? Mereka bahkan sudah menyewa sekelompok preman, pura-pura mengatakan bahwa Kirana yang menyuruh mereka untuk mengganggu Elvara. Dengan begitu, Vincent akan benar-benar putus asa pada Kirana dan tidak akan pernah berniat mencarinya lagi.Namun, situasi di depan mata jelas tidak sesuai dengan rencana."Virly, apa kamu salah ingat? Itu kejadian dua hari lalu!"Elvara terus memberi isyarat dengan mata kepada Virly, berusaha menutup-nutupi kebohongan itu. Namun, Kakak tampaknya sudah tidak semudah dulu untuk dibohongi. Entah sejak kapan dia sudah berdiri di antara mereka, dengan raut wajah penuh ejekan."Jadi di mata kalian, aku ini sebodoh itu dan mudah dipermainkan? Berarti semua yang dituduhkan pada Kirana selama ini adalah fitnah kalian? Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku?"Amarah Kakak semakin memun
Wajah Elvara sempat membeku, nyaris saja dia gagal mengendalikan ekspresinya.Apa maksudnya satu-satunya yang tersisa? Apa Kakak menganggap dirinya hanya sebagai wadah penyimpan jantungku? Bukankah biasanya Kakak selalu mengutamakan dirinya? Kenapa kali ini yang dia pedulikan malah jantung sialan itu?Dalam hati Elvara dipenuhi rasa tidak puas, tetapi di wajahnya sama sekali tidak terlihat. Sebaliknya, dia malah berkata dengan wajah menyedihkan, "Semua ini karena aku. Aku benar-benar pantas mati."Sorot mata Kakak kembali melunak."Ini bukan salahmu. Ini salahku. Aku nggak menjaga Kirana dengan baik. Akulah yang seharusnya memikul tanggung jawab terbesar atas kematiannya."Dia menahan duka lalu berkata kepada asistennya, "Di mana sebenarnya jenazah Kirana? Aku ingin membawanya pulang dan memakamkannya dengan layak."Asisten juga tidak tahu jawabannya. Dia hanya bisa menggeleng."Dokter memastikan jenazah sudah dibawa ke kamar jenazah. Tapi, saat itu Bos menyita hampir seluruh tenaga me
Elvara merasa sangat senang, karena dia kembali menemukan kesempatan untuk menjelek-jelekkanku. Biasanya setiap kali mendengar hasutan Elvara, Kakak akan langsung murka dan menimpakan semua kesalahan kepadaku, tanpa pernah meluangkan waktu sedikit pun untuk mencari kebenaran.Aku sudah bersiap dimaki habis-habisan. Bahkan di dalam hati aku sempat bersyukur karena aku sudah mati. Seburuk apa pun makian Kakak, semuanya tidak akan lagi menyakitiku.Namun yang tidak kuduga, kali ini Kakak sama sekali tidak percaya pada ucapan Elvara. Dia malah menelepon asistennya, "Selidiki bagaimana Kirana meninggal dan di mana jenazahnya sekarang."Elvara tampak terkejut."Kakak, kenapa Kakak mengutuk Kak Kirana? Dia pasti belum meninggal ....""Diam!"Mata Kakak memerah, raut wajahnya tampak serius dan dingin.Sejak melihat rekam medis itu, sebenarnya dia sudah merasakan firasat buruk. Muntah darah yang terjadi berulang kali, juga hasil diagnosis dokter yang tertulis jelas di berkas medis, semuanya men
Setelah menenangkan Elvara, Kakak kembali ke ruang tamu. Dia mengambil berkas medis di atas meja dan menundukkan kepala. Entah apa yang sedang dipikirkannya.Aku melayang dengan tenang di udara. Hatiku kini tidak ada lagi gelombang emosi apa pun. Apa pun yang Kakak lakukan setelah ini, aku tidak akan terkejut lagi.Keberpihakannya pada Elvara telah sepenuhnya mengikis cintaku padanya. Sekarang aku hanya ingin menemukan cara untuk meninggalkannya, pergi mencari pengasuh yang benar-benar menyayangiku dan mencintaiku.Namun, setelah kembali gagal meninggalkannya dan terpaksa kembali ke sisinya, aku baru menyadari bahwa Kakak sudah membuka berkas medis itu dan berdiri di depan meja makan entah sudah berapa lama.Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya terhuyung, seakan detik berikutnya dia akan roboh."Nggak mungkin. Mana mungkin Kirana menderita penyakit separah ini. Kenapa nggak ada yang kasih tahu aku?""Nggak, ini pasti salah. Jelas sebelumnya semua laporan yang kulihat menunjukkan hasil normal.
Ponsel itu mati karena kehabisan daya. Dengan wajah tidak sabar, Kakak langsung menyambungkannya ke charger. Sementara itu, dia mengabaikan laporan medis di atas meja.Begitu ponsel menyala, deretan pesan langsung masuk bertubi-tubi. Saat membaca isinya dengan jelas, wajah Kakak seketika berubah sangat muram.Aku mendekat dan ikut melihat. Ternyata itu adalah pesan-pesan provokatif yang dikirim Elvara.[ Kamu sampai masuk rumah sakit, tapi Kakak bahkan nggak datang menjengukmu. Pasti sakit hati, ya? Sayang sekali, apa pun yang kukatakan, Kakak pasti percaya. Kamu nggak akan pernah bisa menandingiku. ][ Perempuan menjijikkan. Di dunia ini nggak ada seorang pun yang mencintaimu. Cepat mati saja dan jangan mengganggu hidupku. ][ Kalau sudah mati, jangan pernah kembali. Kakak hanya milikku seorang. ]Elvara membenciku. Hal itu sebenarnya sudah lama aku tahu.Setiap kali dia memfitnahku hingga aku dimarahi Kakak, dia selalu mengirim pesan untuk memamerkan kemenangannya. Aku pernah membawa






