Share

Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan
Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan
Penulis: Moore

Bab 1

Penulis: Moore
Pada detik ketika napasku terhenti, jiwaku melayang di udara. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat dokter membedah dadaku dengan pisau bedah, mengeluarkan jantungku, lalu membawanya pergi dengan tergesa-gesa keluar dari ruang operasi.

Tanpa sadar aku mengikuti mereka, lalu melihat kakakku yang mondar-mandir gelisah di koridor.

"Jantungnya sudah diambil? Kalau begitu segera atur operasi untuk Elvara. Operasi transplantasi jantung ini harus berhasil!"

Kakak memancarkan wibawa dingin seorang pemimpin mafia, membuat para dokter gemetar dan mengangguk patuh.

Setelah para dokter pergi, asistennya berkata dengan sangat hati-hati kepada kakak, "Bos, kata dokter, donor jantungnya adalah seorang gadis muda. Sampai sekarang keluarganya belum ditemukan."

Kakak mengerutkan kening, lalu menjawab dengan nada tak peduli, "Kalau begitu biarkan rumah sakit terus menghubungi mereka. Setelah keluarganya ditemukan, aku bisa kasih kompensasi dalam jumlah besar."

Asisten itu tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi langsung dipotong dengan tidak sabar, "Hal sepele seperti ini jangan ganggu aku lagi. Urus sendiri saja. Elvara sebentar lagi masuk ruang operasi, aku nggak boleh meninggalkan tempat ini selangkah pun. Kalau terjadi apa-apa sama dia, aku harus bisa segera mengambil langkah."

Mendengar kata-katanya, diriku yang berwujud roh ini tetap merasakan kegagalan dan keputusasaan.

Benar juga. Di mata kakak, kematianku hanyalah perkara sepele yang sama sekali tidak berarti. Sejak Ayah dan Ibu meninggal, kakak yang dulu paling menyayangiku malah menganggapku sebagai musuh.

"Kirana, semua ini salahmu. Kalau bukan karena kamu ngotot ingin pergi ke taman hiburan, Ayah dan Ibu nggak akan mengalami kecelakaan di perjalanan. Lihat Elvara, dia penurut sekali. Di hari kejadian itu, dia diam di rumah. Kalau kamu sebijak dia setengah saja, Ayah dan Ibu nggak akan mati!"

Setelah orang tua kami meninggal, Kakak jarang pulang ke rumah. Bahkan ketika pulang, yang ada di matanya hanyalah adikku. Dia rela berkeliling kota hanya untuk membeli kue manis kesukaan Elvara. Dia menyiapkan setiap pesta ulang tahun Elvara dengan sangat teliti.

Bahkan hanya dengan satu telepon dari Elvara, dia sanggup membatalkan rapat penting. Semua perlakuan itu dulunya adalah milikku seorang. Namun sekarang ... jangankan perhatian, bahkan satu tatapan pun Kakak sudah enggan memberikannya padaku.

Oleh karena itu, dia sama sekali tidak tahu bahwa dalam kecelakaan mobil yang merenggut nyawa Ayah dan Ibu, aku juga tidak keluar tanpa luka.

Benturan hebat itu merobek paru-paruku. Karena tidak mendapat penanganan yang layak, hanya dalam enam tahun kondisiku memburuk hingga mengalami gagal napas dan hidupku tidak akan lama lagi.

Setengah tahun lalu, Elvara tiba-tiba pingsan. Setelah dibawa ke rumah sakit, dia didiagnosis mengalami gagal jantung.

Kakak lalu mendatangkan ahli jantung paling berwenang di dunia ke rumah sakit swasta milik Grup Arista untuk mengobati adikku, sekaligus mengeluarkan biaya besar demi mencari orang yang bersedia mendonorkan jantung.

Aku tahu, ini adalah satu-satunya kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan kakak. Maka, saat hidupku hampir berakhir, aku menandatangani perjanjian donor organ dengan suka rela. Aku berharap, setelah jantungku menyelamatkan adik yang paling dia cintai, Kakak bisa memaafkanku.

Saat aku tenggelam dalam kesedihan, nada dering ponsel Kakak tiba-tiba berbunyi. Begitu melihat nama penelepon di layar, Kakak langsung mengerutkan kening dalam-dalam.

Itu adalah panggilan dari pengasuh yang merawatku.

Sejak Kakak memutuskan hubungan denganku, semua pelayan di vila hanya sibuk menyanjung adikku dan sama sekali mengabaikanku. Hanya pengasuh yang membesarkanku sejak kecil yang tetap bertahan di sisiku untuk merawatku karena tidak tega meninggalkanku.

Tanpa ragu, Kakak langsung menutup panggilan itu. Namun, belum sempat dia menurunkan ponselnya, panggilan dari pengasuh kembali masuk.

Asistennya mengingatkan dengan niat baik, "Angkat saja, Bos. Dia sudah menelepon berkali-kali. Mungkin Kirana benar-benar sedang dalam keadaan darurat."

Kilatan jijik melintas di mata Kakak.

"Apa lagi yang bisa terjadi padanya? Dulu dia muntah darah di rumah sampai membuat semua orang panik. Tapi waktu aku pulang untuk melihatnya, dia sama sekali nggak apa-apa. Gimana aku bisa percaya sama dia?"

Air mata mengalir deras dari mataku karena rasa sakit.

'Kakak, aku hanya tidak ingin kamu khawatir. Setiap kali sebelum kamu pulang, aku selalu minum obat lebih dulu.'

Pada detik terakhir sebelum panggilan itu terputus, Kakak akhirnya mengangkat telepon.

Suara pengasuh yang panik terdengar dari seberang sana, "Tuan Muda, Nona Kirana dibawa ambulans ke rumah sakit swasta kalian untuk tindakan darurat. Apakah Tuan juga ada di rumah sakit? Apakah Tuan melihat Nona Kirana?"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 10

    Wajah Elvara berubah pucat pasi. Setelah Virly mengungkit kejadian itu, dia tahu dirinya benar-benar tamat."Kakak, dengarkan aku. Semua itu bohong. Waktu itu aku baru 10 tahun, mana mungkin aku bisa ...." Elvara masih berusaha membela diri.Namun, kematian Ayah dan Ibu selalu menjadi duri paling menyakitkan di hati Kakak. Bagaimana mungkin dia membiarkannya lolos begitu saja?"Bos, apakah sistem rem mobil itu pernah dirusak atau nggak, hal seperti ini pasti sangat mudah diselidiki dengan kemampuan Anda. Jangan terus dibutakan sama perempuan sekejam ini!"Virly kini benar-benar membenci Elvara. Dia ingin menginjaknya sampai hancur, lalu melanjutkan dengan suara penuh kebencian, "Elvara pernah menjadikan semua ini sebagai prestasi dan memamerkannya padaku, jadi aku tahu persis, dia melakukannya dengan sengaja!""Hari itu dia nggak ikut ke taman hiburan juga disengaja, karena sebelumnya dia sudah duluan merusak sistem rem! Dia iri karena Kirana lebih disayang. Paman, Bibi, dan kamu semua

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 9

    Elvara membawa kantong sarapan sambil berlari tergesa-gesa. Virly langsung terbelalak."Elvara, kenapa kamu ada di sini?"Bukankah mereka sudah sepakat untuk berakting di depan Vincent? Mereka bahkan sudah menyewa sekelompok preman, pura-pura mengatakan bahwa Kirana yang menyuruh mereka untuk mengganggu Elvara. Dengan begitu, Vincent akan benar-benar putus asa pada Kirana dan tidak akan pernah berniat mencarinya lagi.Namun, situasi di depan mata jelas tidak sesuai dengan rencana."Virly, apa kamu salah ingat? Itu kejadian dua hari lalu!"Elvara terus memberi isyarat dengan mata kepada Virly, berusaha menutup-nutupi kebohongan itu. Namun, Kakak tampaknya sudah tidak semudah dulu untuk dibohongi. Entah sejak kapan dia sudah berdiri di antara mereka, dengan raut wajah penuh ejekan."Jadi di mata kalian, aku ini sebodoh itu dan mudah dipermainkan? Berarti semua yang dituduhkan pada Kirana selama ini adalah fitnah kalian? Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku?"Amarah Kakak semakin memun

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 8

    Wajah Elvara sempat membeku, nyaris saja dia gagal mengendalikan ekspresinya.Apa maksudnya satu-satunya yang tersisa? Apa Kakak menganggap dirinya hanya sebagai wadah penyimpan jantungku? Bukankah biasanya Kakak selalu mengutamakan dirinya? Kenapa kali ini yang dia pedulikan malah jantung sialan itu?Dalam hati Elvara dipenuhi rasa tidak puas, tetapi di wajahnya sama sekali tidak terlihat. Sebaliknya, dia malah berkata dengan wajah menyedihkan, "Semua ini karena aku. Aku benar-benar pantas mati."Sorot mata Kakak kembali melunak."Ini bukan salahmu. Ini salahku. Aku nggak menjaga Kirana dengan baik. Akulah yang seharusnya memikul tanggung jawab terbesar atas kematiannya."Dia menahan duka lalu berkata kepada asistennya, "Di mana sebenarnya jenazah Kirana? Aku ingin membawanya pulang dan memakamkannya dengan layak."Asisten juga tidak tahu jawabannya. Dia hanya bisa menggeleng."Dokter memastikan jenazah sudah dibawa ke kamar jenazah. Tapi, saat itu Bos menyita hampir seluruh tenaga me

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 7

    Elvara merasa sangat senang, karena dia kembali menemukan kesempatan untuk menjelek-jelekkanku. Biasanya setiap kali mendengar hasutan Elvara, Kakak akan langsung murka dan menimpakan semua kesalahan kepadaku, tanpa pernah meluangkan waktu sedikit pun untuk mencari kebenaran.Aku sudah bersiap dimaki habis-habisan. Bahkan di dalam hati aku sempat bersyukur karena aku sudah mati. Seburuk apa pun makian Kakak, semuanya tidak akan lagi menyakitiku.Namun yang tidak kuduga, kali ini Kakak sama sekali tidak percaya pada ucapan Elvara. Dia malah menelepon asistennya, "Selidiki bagaimana Kirana meninggal dan di mana jenazahnya sekarang."Elvara tampak terkejut."Kakak, kenapa Kakak mengutuk Kak Kirana? Dia pasti belum meninggal ....""Diam!"Mata Kakak memerah, raut wajahnya tampak serius dan dingin.Sejak melihat rekam medis itu, sebenarnya dia sudah merasakan firasat buruk. Muntah darah yang terjadi berulang kali, juga hasil diagnosis dokter yang tertulis jelas di berkas medis, semuanya men

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 6

    Setelah menenangkan Elvara, Kakak kembali ke ruang tamu. Dia mengambil berkas medis di atas meja dan menundukkan kepala. Entah apa yang sedang dipikirkannya.Aku melayang dengan tenang di udara. Hatiku kini tidak ada lagi gelombang emosi apa pun. Apa pun yang Kakak lakukan setelah ini, aku tidak akan terkejut lagi.Keberpihakannya pada Elvara telah sepenuhnya mengikis cintaku padanya. Sekarang aku hanya ingin menemukan cara untuk meninggalkannya, pergi mencari pengasuh yang benar-benar menyayangiku dan mencintaiku.Namun, setelah kembali gagal meninggalkannya dan terpaksa kembali ke sisinya, aku baru menyadari bahwa Kakak sudah membuka berkas medis itu dan berdiri di depan meja makan entah sudah berapa lama.Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya terhuyung, seakan detik berikutnya dia akan roboh."Nggak mungkin. Mana mungkin Kirana menderita penyakit separah ini. Kenapa nggak ada yang kasih tahu aku?""Nggak, ini pasti salah. Jelas sebelumnya semua laporan yang kulihat menunjukkan hasil normal.

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 5

    Ponsel itu mati karena kehabisan daya. Dengan wajah tidak sabar, Kakak langsung menyambungkannya ke charger. Sementara itu, dia mengabaikan laporan medis di atas meja.Begitu ponsel menyala, deretan pesan langsung masuk bertubi-tubi. Saat membaca isinya dengan jelas, wajah Kakak seketika berubah sangat muram.Aku mendekat dan ikut melihat. Ternyata itu adalah pesan-pesan provokatif yang dikirim Elvara.[ Kamu sampai masuk rumah sakit, tapi Kakak bahkan nggak datang menjengukmu. Pasti sakit hati, ya? Sayang sekali, apa pun yang kukatakan, Kakak pasti percaya. Kamu nggak akan pernah bisa menandingiku. ][ Perempuan menjijikkan. Di dunia ini nggak ada seorang pun yang mencintaimu. Cepat mati saja dan jangan mengganggu hidupku. ][ Kalau sudah mati, jangan pernah kembali. Kakak hanya milikku seorang. ]Elvara membenciku. Hal itu sebenarnya sudah lama aku tahu.Setiap kali dia memfitnahku hingga aku dimarahi Kakak, dia selalu mengirim pesan untuk memamerkan kemenangannya. Aku pernah membawa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status