Share

Bab 2

Penulis: Moore
Kening Kakak langsung berkerut. Seberkas kekhawatiran melintas di matanya, tetapi mulutnya tetap memaki dengan tidak sabar.

"Apa yang bisa terjadi sama dia? Setiap hari ngeluh sakit, tapi setiap kali dibawa ke rumah sakit, hasil pemeriksaannya selalu normal. Dia sering pura-pura sakit, apa kamu nggak tahu?"

Suara pengasuh sudah bergetar menahan tangis. "Tuan Muda, kali ini Nona Kirana benar-benar tidak berpura-pura. Dia memuntahkan banyak darah, dokter bilang kondisinya kritis dan harus segera ditangani. Tolonglah jenguk dia."

Asisten yang berdiri di samping juga ikut membujuk, "Bos, sebaiknya Bos pergi melihatnya sebentar. Kalau sampai dibawa ambulans ke rumah sakit, pasti bukan kebohongan."

Kakak terdiam beberapa saat, lalu berkata kepada asistennya dengan suara serak, "Bantu aku cek dia ada di ruang mana. Tidak, sekarang dia pasti masih di ruang gawat darurat."

Kakak melangkah hendak menuju ruang darurat, tetapi tiba-tiba terdengar panggilan lemah dari belakang. "Kakak, aku sebentar lagi masuk ruang operasi. Kakak mau ke mana?"

Dengan tubuh yang rapuh sambil disangga oleh pengikutnya, Elvara berjalan tertatih mendekati Kakak. Langkah Kakak terhenti. Dengan raut wajah serba salah, dia berkata, "Elvara, Kirana masuk rumah sakit. Kakak pergi lihat dia sebentar, nanti Kakak kembali menemanimu."

Belum sempat kalimat itu selesai dilontarkan, air mata Elvara sudah menetes. "Sebenarnya aku nggak ingin menjelekkan Kakak, tapi kali ini aku benar-benar sangat terluka."

Kakak segera memeluk Elvara dengan cemas. Begitu mendengar namaku, wajahnya refleks dipenuhi rasa jijik.

"Jangan menangis. Kamu sebentar lagi masuk ruang operasi, nggak boleh terlalu emosional. Apa lagi yang Kirana lakukan?"

Elvara bersandar di dadanya, terisak sambil berkata, "Kemarin waktu bertemu, dia masih terlihat baik-baik saja. Aku bilang hari ini aku akan menjalani operasi transplantasi jantung dan Kakak sudah berjanji akan menemaniku sepanjang proses. Tapi dia bilang ... dia akan cari cara untuk menjauhkan Kakak supaya Kakak nggak mendampingiku waktu aku dioperasi."

"Aku nggak menyangka, demi memisahkan kita, dia sampai berpura-pura sakit dan memanggil ambulans."

Mendengar ucapannya, jiwaku bergetar hebat. "Bohong! Aku sama sekali nggak bertemu dia kemarin dan mustahil aku ngomong begitu!"

Sejak kecil, adikku memang selalu memusuhiku. Setelah Ayah dan Ibu meninggal, dia sering memfitnahku di hadapan Kakak, bahkan sengaja melukai dirinya sendiri untuk menjebakku. Tidak peduli bagaimana aku menjelaskan, Kakak selalu teguh memercayai adikku dan tidak pernah memercayaiku.

Seperti kali ini. Padahal kebohongannya begitu mudah terbaca, tetapi Kakak malah percaya dengannya tanpa ragu. Dia mendengus dingin, lalu mengurungkan niat untuk mencariku.

"Tuh kan sudah kubilang ... padahal dia baik-baik saja sehari-hari, kenapa harus sakit tepat hari ini?"

Rasa jijik di matanya semakin jelas. Namun saat menatap Elvara, ekspresinya kembali melembut. "Kamu tenang saja masuk ruang operasi. Aku akan terus berjaga di luar ruang operasi, nggak ke mana-mana."

Sekilas, mata Elvara memancarkan kepuasan, tetapi di mulutnya dia masih berpura-pura cemas. "Kakak, sebaiknya kamu tetap pergi menjenguk Kak Kinara. Gimana kalau dia benar-benar sakit?"

Kakak malah mendengus dingin.

"Pasti pura-pura. Dia sudah lebih dari sekali berbuat drama demi menarik perhatian. Hari ini kamu menjalani operasi sebesar ini, dia nggak muncul saja sudah keterlaluan, malah masih berpura-pura sakit ingin menipuku supaya pergi. Kali ini aku nggak akan memaafkannya begitu saja."

Mendengar janji itu, Elvara akhirnya benar-benar tenang.

"Aku pergi melakukan persiapan praoperasi. Oh ya, aku sengaja menyuruh pelayan menyiapkan makanan untukmu. Kalau aku bisa sadar nanti, aku akan mengawasimu makan setiap hari."

Begitu Kakak pergi, wajah Elvara yang semula tampak menyedihkan seketika berubah menjadi bengis. Pengikutnya tampak kebingungan.

"Kak Elvara, kenapa Bos sebenci itu sama Kirana?"

Elvara tersenyum meremehkan. "Aku satu-satunya adik yang paling dicintai Kakak. Kirana itu apaan, sih?" Saat menyebut namaku, wajah Elvara berubah semakin mengerikan.

"Perempuan sial itu selalu lebih disayang keluarga sejak kecil. Untung saja aku mengutak-atik rem mobil untuk merencanakan kematian Ayah dan Ibu, supaya Kakak benar-benar membencinya. Kalau nggak, aku masih harus berebut perhatian sama sampah itu."

"Aku juga nggak berniat membunuh Ayah dan Ibu. Aku hanya ingin Kirana mati. Siapa sangka mereka malah melindunginya ...."

Mendengar semua itu dari udara, amarahku begitu membeludak hingga jiwaku sendiri gemetar.

"Apa kamu bilang? Jadi Ayah dan Ibu mati karena ulahmu? Pantas saja mobil itu tiba-tiba remnya blong. Jadi semua ini perbuatanmu!"

Dengan emosi meluap, aku menerjang ke bawah dan mengayunkan tinju ke arah Elvara, tetapi sia-sia. Bahkan ujung bajunya pun tidak bisa kusentuh. Aku berlari ke hadapan Kakak dan berteriak sekuat tenaga. "Kakak! Elvara-lah pembunuh Ayah dan Ibu. Jangan terus tertipu sama dia!"

Namun, Kakak sama sekali tidak mendengar apa pun. Dia malah berkata kepada asistennya, "Sebelum operasi Elvara selesai, ponselku nggak boleh dinyalakan. Ada urusan sebesar apa pun, tolong kamu tolak saja."

Aku meringkuk di sudut, hatiku dipenuhi keputusasaan.

Jika suatu hari Kakak tahu bahwa adik yang paling dia cintai adalah musuh yang paling seharusnya dia benci, apakah dia akan menyesali semua yang telah dia lakukan kepadaku?
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 10

    Wajah Elvara berubah pucat pasi. Setelah Virly mengungkit kejadian itu, dia tahu dirinya benar-benar tamat."Kakak, dengarkan aku. Semua itu bohong. Waktu itu aku baru 10 tahun, mana mungkin aku bisa ...." Elvara masih berusaha membela diri.Namun, kematian Ayah dan Ibu selalu menjadi duri paling menyakitkan di hati Kakak. Bagaimana mungkin dia membiarkannya lolos begitu saja?"Bos, apakah sistem rem mobil itu pernah dirusak atau nggak, hal seperti ini pasti sangat mudah diselidiki dengan kemampuan Anda. Jangan terus dibutakan sama perempuan sekejam ini!"Virly kini benar-benar membenci Elvara. Dia ingin menginjaknya sampai hancur, lalu melanjutkan dengan suara penuh kebencian, "Elvara pernah menjadikan semua ini sebagai prestasi dan memamerkannya padaku, jadi aku tahu persis, dia melakukannya dengan sengaja!""Hari itu dia nggak ikut ke taman hiburan juga disengaja, karena sebelumnya dia sudah duluan merusak sistem rem! Dia iri karena Kirana lebih disayang. Paman, Bibi, dan kamu semua

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 9

    Elvara membawa kantong sarapan sambil berlari tergesa-gesa. Virly langsung terbelalak."Elvara, kenapa kamu ada di sini?"Bukankah mereka sudah sepakat untuk berakting di depan Vincent? Mereka bahkan sudah menyewa sekelompok preman, pura-pura mengatakan bahwa Kirana yang menyuruh mereka untuk mengganggu Elvara. Dengan begitu, Vincent akan benar-benar putus asa pada Kirana dan tidak akan pernah berniat mencarinya lagi.Namun, situasi di depan mata jelas tidak sesuai dengan rencana."Virly, apa kamu salah ingat? Itu kejadian dua hari lalu!"Elvara terus memberi isyarat dengan mata kepada Virly, berusaha menutup-nutupi kebohongan itu. Namun, Kakak tampaknya sudah tidak semudah dulu untuk dibohongi. Entah sejak kapan dia sudah berdiri di antara mereka, dengan raut wajah penuh ejekan."Jadi di mata kalian, aku ini sebodoh itu dan mudah dipermainkan? Berarti semua yang dituduhkan pada Kirana selama ini adalah fitnah kalian? Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku?"Amarah Kakak semakin memun

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 8

    Wajah Elvara sempat membeku, nyaris saja dia gagal mengendalikan ekspresinya.Apa maksudnya satu-satunya yang tersisa? Apa Kakak menganggap dirinya hanya sebagai wadah penyimpan jantungku? Bukankah biasanya Kakak selalu mengutamakan dirinya? Kenapa kali ini yang dia pedulikan malah jantung sialan itu?Dalam hati Elvara dipenuhi rasa tidak puas, tetapi di wajahnya sama sekali tidak terlihat. Sebaliknya, dia malah berkata dengan wajah menyedihkan, "Semua ini karena aku. Aku benar-benar pantas mati."Sorot mata Kakak kembali melunak."Ini bukan salahmu. Ini salahku. Aku nggak menjaga Kirana dengan baik. Akulah yang seharusnya memikul tanggung jawab terbesar atas kematiannya."Dia menahan duka lalu berkata kepada asistennya, "Di mana sebenarnya jenazah Kirana? Aku ingin membawanya pulang dan memakamkannya dengan layak."Asisten juga tidak tahu jawabannya. Dia hanya bisa menggeleng."Dokter memastikan jenazah sudah dibawa ke kamar jenazah. Tapi, saat itu Bos menyita hampir seluruh tenaga me

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 7

    Elvara merasa sangat senang, karena dia kembali menemukan kesempatan untuk menjelek-jelekkanku. Biasanya setiap kali mendengar hasutan Elvara, Kakak akan langsung murka dan menimpakan semua kesalahan kepadaku, tanpa pernah meluangkan waktu sedikit pun untuk mencari kebenaran.Aku sudah bersiap dimaki habis-habisan. Bahkan di dalam hati aku sempat bersyukur karena aku sudah mati. Seburuk apa pun makian Kakak, semuanya tidak akan lagi menyakitiku.Namun yang tidak kuduga, kali ini Kakak sama sekali tidak percaya pada ucapan Elvara. Dia malah menelepon asistennya, "Selidiki bagaimana Kirana meninggal dan di mana jenazahnya sekarang."Elvara tampak terkejut."Kakak, kenapa Kakak mengutuk Kak Kirana? Dia pasti belum meninggal ....""Diam!"Mata Kakak memerah, raut wajahnya tampak serius dan dingin.Sejak melihat rekam medis itu, sebenarnya dia sudah merasakan firasat buruk. Muntah darah yang terjadi berulang kali, juga hasil diagnosis dokter yang tertulis jelas di berkas medis, semuanya men

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 6

    Setelah menenangkan Elvara, Kakak kembali ke ruang tamu. Dia mengambil berkas medis di atas meja dan menundukkan kepala. Entah apa yang sedang dipikirkannya.Aku melayang dengan tenang di udara. Hatiku kini tidak ada lagi gelombang emosi apa pun. Apa pun yang Kakak lakukan setelah ini, aku tidak akan terkejut lagi.Keberpihakannya pada Elvara telah sepenuhnya mengikis cintaku padanya. Sekarang aku hanya ingin menemukan cara untuk meninggalkannya, pergi mencari pengasuh yang benar-benar menyayangiku dan mencintaiku.Namun, setelah kembali gagal meninggalkannya dan terpaksa kembali ke sisinya, aku baru menyadari bahwa Kakak sudah membuka berkas medis itu dan berdiri di depan meja makan entah sudah berapa lama.Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya terhuyung, seakan detik berikutnya dia akan roboh."Nggak mungkin. Mana mungkin Kirana menderita penyakit separah ini. Kenapa nggak ada yang kasih tahu aku?""Nggak, ini pasti salah. Jelas sebelumnya semua laporan yang kulihat menunjukkan hasil normal.

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 5

    Ponsel itu mati karena kehabisan daya. Dengan wajah tidak sabar, Kakak langsung menyambungkannya ke charger. Sementara itu, dia mengabaikan laporan medis di atas meja.Begitu ponsel menyala, deretan pesan langsung masuk bertubi-tubi. Saat membaca isinya dengan jelas, wajah Kakak seketika berubah sangat muram.Aku mendekat dan ikut melihat. Ternyata itu adalah pesan-pesan provokatif yang dikirim Elvara.[ Kamu sampai masuk rumah sakit, tapi Kakak bahkan nggak datang menjengukmu. Pasti sakit hati, ya? Sayang sekali, apa pun yang kukatakan, Kakak pasti percaya. Kamu nggak akan pernah bisa menandingiku. ][ Perempuan menjijikkan. Di dunia ini nggak ada seorang pun yang mencintaimu. Cepat mati saja dan jangan mengganggu hidupku. ][ Kalau sudah mati, jangan pernah kembali. Kakak hanya milikku seorang. ]Elvara membenciku. Hal itu sebenarnya sudah lama aku tahu.Setiap kali dia memfitnahku hingga aku dimarahi Kakak, dia selalu mengirim pesan untuk memamerkan kemenangannya. Aku pernah membawa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status