Share

Bab 3

Penulis: Moore
Saat itu, dokter yang membantuku mengangkat jantung datang tergesa-gesa ke depan ruang operasi. "Bos, ponsel keluarga donor tidak aktif. Kami sama sekali tidak bisa menghubungi mereka."

Kakak berpikir sejenak, lalu berkata kepada dokter, "Terus hubungi pihak keluarga. Jenazah donor sementara simpan di kamar jenazah. Dia telah menyelamatkan nyawa adikku. Setelah Elvara melewati masa kritis, aku akan mengurus pemakamannya secara layak."

Dokter mengangguk, lalu menyuruh para perawat mendorong jenazahku menuju kamar jenazah. Dua perawat mendorong tubuhku menyusuri lorong. Di tengah jalan, mereka melewati depan ruang operasi Elvara.

Aku hanya bisa menatap tanpa daya saat jenazahku sendiri lewat tepat di hadapan Kakak. Namun, seluruh perhatiannya tertuju ke ruang operasi. Dia bahkan tidak melirik ke arah lain.

"Kakak, itu aku. Lihat aku sebentar saja. Aku ada di sana." Aku menangis sambil berteriak ke arahnya, tetapi satu kata pun tidak sampai ke telinganya.

"Masih belum bisa hubungi keluarga donor? Nama belakang donor itu Arista, sama seperti Pak Vincent. Jangan-jangan mereka ada hubungan?"

"Mana mungkin. Jangan asal bicara. Lihat lampu ruang operasi yang menyala itu. Di dalam sana adik Pak Vincent. Dia hanya punya satu adik, dan yang paling dia sayangi juga hanya dia. Nggak mungkin ada kerabat lain."

Aku terpaku menatap jenazahku yang semakin menjauh, sementara percakapan para perawat masuk ke telingaku tanpa terlewat satu kata pun.

Benar. Sejak awal aku memang tidak pernah menjadi sosok yang diharapkan Kakak. Bahkan jika dia tahu aku sudah mati, dia juga tetap tidak akan peduli. Kekecewaan yang menumpuk terlalu lama membuat hatiku hanya tersisa rasa getir.

Seolah teringat sesuatu, Kakak berkata dingin kepada asistennya, "Pergi dan usir Kirana dari rumah sakit. Dia tinggal di sini hanya membuang-buang sumber daya medis. Sekalian masukkan dia ke daftar hitam rumah sakit. Mulai sekarang, seluruh rumah sakit swasta di bawah Grup Arista dilarang menerimanya."

Wajah asisten tampak serba salah.

"Bos, apa ini nggak terlalu berlebihan? Bagaimanapun juga Kirana tetap adik Anda."

Kakak mendengus dingin.

"Apa yang salah? Aku memang harus memberinya pelajaran. Dia selalu merasa kebal karena statusnya sebagai adikku dan bertindak semaunya. Kalau nggak diberi pelajaran sekali, ke depannya dia akan semakin nggak terkendali."

Aku sempat mengira hatiku sudah benar-benar mati rasa. Namun mendengar kata-kata Kakak, jantungku yang sudah mati tetap terasa perih berulang kali.

Selama ini, pengobatan gagal napasku selalu dilakukan di rumah sakit swasta milik Grup Arista. Kalau saja Kakak mau sedikit saja menyelidikinya, dia pasti akan tahu hal itu. Setiap kali menjalani perawatan, biayanya selalu sangat mahal. Kehilangan kesempatan berobat sama artinya dengan menunggu kematian.

Kalau aku tidak mati, lalu suatu hari penyakitku kambuh lagi dan aku diusir dari rumah sakit, mungkin aku akan mati dalam keputusasaan yang lebih menyakitkan. Untuk pertama kalinya, aku malah bersyukur karena mati lebih awal.

Aku tidak tahu, jika suatu hari Kakak mengetahui seluruh kebenaran ini, apakah dia akan menyesali keputusannya atau tidak.

Setelah menyuruh asistennya pergi, Kakak kembali menunggu hasil operasi dengan gelisah.

Tak lama kemudian, pengasuh yang merawatku datang terengah-engah ke depan ruang operasi. Dia menarik ujung baju kakak sambil memohon, "Tuan Muda, apakah Tuan melihat Nona Kirana? Dokter bilang dia masuk ruang operasi, tapi saya sama sekali tidak bisa menemukannya!"

Wajah Kakak langsung menjadi kaku. Dia menepis tangan pengasuh itu dengan kasar.

"Kirana sama sekali nggak apa-apa. Kamu tertipu sama sandiwaranya. Dia nggak sakit sama sekali!"

Pengasuh itu masih ingin berbicara, tetapi pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka. Mata Kakak langsung berbinar. Dia segera melangkah maju dengan penuh harap.

"Operasinya sangat berhasil. Sekarang pasien dipindahkan ke ICU untuk observasi selama 24 jam."

Begitu memastikan operasi Elvara berhasil dan kondisinya stabil, Kakak sangat gembira. Dia bahkan melupakan sepenuhnya soal diriku yang dia anggap telah menipunya. Dia buru-buru menyalakan ponselnya, membuka aplikasi belanja, dan mulai memilih hadiah.

"Nanti waktu Elvara sadar, aku akan memberinya hadiah yang paling dia suka. Kalung yang dia incar terakhir kali, juga jam tangan Cartier, semuanya akan kubelikan!"

Saat Kakak tengah bersemangat memilih hadiah, sebuah nomor tak dikenal masuk ke ponselnya.

Tanpa sengaja dia menekan tombol terima. Baru saja hendak menutup telepon, terdengar suara seorang pria dari seberang sana, "Permisi, apakah Anda keluarga Kirana? Setelah donor organ dilakukan, jenazah Kirana masih berada di rumah sakit kami. Mohon Anda datang untuk mengurus proses pemakamannya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 10

    Wajah Elvara berubah pucat pasi. Setelah Virly mengungkit kejadian itu, dia tahu dirinya benar-benar tamat."Kakak, dengarkan aku. Semua itu bohong. Waktu itu aku baru 10 tahun, mana mungkin aku bisa ...." Elvara masih berusaha membela diri.Namun, kematian Ayah dan Ibu selalu menjadi duri paling menyakitkan di hati Kakak. Bagaimana mungkin dia membiarkannya lolos begitu saja?"Bos, apakah sistem rem mobil itu pernah dirusak atau nggak, hal seperti ini pasti sangat mudah diselidiki dengan kemampuan Anda. Jangan terus dibutakan sama perempuan sekejam ini!"Virly kini benar-benar membenci Elvara. Dia ingin menginjaknya sampai hancur, lalu melanjutkan dengan suara penuh kebencian, "Elvara pernah menjadikan semua ini sebagai prestasi dan memamerkannya padaku, jadi aku tahu persis, dia melakukannya dengan sengaja!""Hari itu dia nggak ikut ke taman hiburan juga disengaja, karena sebelumnya dia sudah duluan merusak sistem rem! Dia iri karena Kirana lebih disayang. Paman, Bibi, dan kamu semua

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 9

    Elvara membawa kantong sarapan sambil berlari tergesa-gesa. Virly langsung terbelalak."Elvara, kenapa kamu ada di sini?"Bukankah mereka sudah sepakat untuk berakting di depan Vincent? Mereka bahkan sudah menyewa sekelompok preman, pura-pura mengatakan bahwa Kirana yang menyuruh mereka untuk mengganggu Elvara. Dengan begitu, Vincent akan benar-benar putus asa pada Kirana dan tidak akan pernah berniat mencarinya lagi.Namun, situasi di depan mata jelas tidak sesuai dengan rencana."Virly, apa kamu salah ingat? Itu kejadian dua hari lalu!"Elvara terus memberi isyarat dengan mata kepada Virly, berusaha menutup-nutupi kebohongan itu. Namun, Kakak tampaknya sudah tidak semudah dulu untuk dibohongi. Entah sejak kapan dia sudah berdiri di antara mereka, dengan raut wajah penuh ejekan."Jadi di mata kalian, aku ini sebodoh itu dan mudah dipermainkan? Berarti semua yang dituduhkan pada Kirana selama ini adalah fitnah kalian? Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku?"Amarah Kakak semakin memun

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 8

    Wajah Elvara sempat membeku, nyaris saja dia gagal mengendalikan ekspresinya.Apa maksudnya satu-satunya yang tersisa? Apa Kakak menganggap dirinya hanya sebagai wadah penyimpan jantungku? Bukankah biasanya Kakak selalu mengutamakan dirinya? Kenapa kali ini yang dia pedulikan malah jantung sialan itu?Dalam hati Elvara dipenuhi rasa tidak puas, tetapi di wajahnya sama sekali tidak terlihat. Sebaliknya, dia malah berkata dengan wajah menyedihkan, "Semua ini karena aku. Aku benar-benar pantas mati."Sorot mata Kakak kembali melunak."Ini bukan salahmu. Ini salahku. Aku nggak menjaga Kirana dengan baik. Akulah yang seharusnya memikul tanggung jawab terbesar atas kematiannya."Dia menahan duka lalu berkata kepada asistennya, "Di mana sebenarnya jenazah Kirana? Aku ingin membawanya pulang dan memakamkannya dengan layak."Asisten juga tidak tahu jawabannya. Dia hanya bisa menggeleng."Dokter memastikan jenazah sudah dibawa ke kamar jenazah. Tapi, saat itu Bos menyita hampir seluruh tenaga me

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 7

    Elvara merasa sangat senang, karena dia kembali menemukan kesempatan untuk menjelek-jelekkanku. Biasanya setiap kali mendengar hasutan Elvara, Kakak akan langsung murka dan menimpakan semua kesalahan kepadaku, tanpa pernah meluangkan waktu sedikit pun untuk mencari kebenaran.Aku sudah bersiap dimaki habis-habisan. Bahkan di dalam hati aku sempat bersyukur karena aku sudah mati. Seburuk apa pun makian Kakak, semuanya tidak akan lagi menyakitiku.Namun yang tidak kuduga, kali ini Kakak sama sekali tidak percaya pada ucapan Elvara. Dia malah menelepon asistennya, "Selidiki bagaimana Kirana meninggal dan di mana jenazahnya sekarang."Elvara tampak terkejut."Kakak, kenapa Kakak mengutuk Kak Kirana? Dia pasti belum meninggal ....""Diam!"Mata Kakak memerah, raut wajahnya tampak serius dan dingin.Sejak melihat rekam medis itu, sebenarnya dia sudah merasakan firasat buruk. Muntah darah yang terjadi berulang kali, juga hasil diagnosis dokter yang tertulis jelas di berkas medis, semuanya men

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 6

    Setelah menenangkan Elvara, Kakak kembali ke ruang tamu. Dia mengambil berkas medis di atas meja dan menundukkan kepala. Entah apa yang sedang dipikirkannya.Aku melayang dengan tenang di udara. Hatiku kini tidak ada lagi gelombang emosi apa pun. Apa pun yang Kakak lakukan setelah ini, aku tidak akan terkejut lagi.Keberpihakannya pada Elvara telah sepenuhnya mengikis cintaku padanya. Sekarang aku hanya ingin menemukan cara untuk meninggalkannya, pergi mencari pengasuh yang benar-benar menyayangiku dan mencintaiku.Namun, setelah kembali gagal meninggalkannya dan terpaksa kembali ke sisinya, aku baru menyadari bahwa Kakak sudah membuka berkas medis itu dan berdiri di depan meja makan entah sudah berapa lama.Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya terhuyung, seakan detik berikutnya dia akan roboh."Nggak mungkin. Mana mungkin Kirana menderita penyakit separah ini. Kenapa nggak ada yang kasih tahu aku?""Nggak, ini pasti salah. Jelas sebelumnya semua laporan yang kulihat menunjukkan hasil normal.

  • Salah Paham yang Terlambat Untuk Diluruskan   Bab 5

    Ponsel itu mati karena kehabisan daya. Dengan wajah tidak sabar, Kakak langsung menyambungkannya ke charger. Sementara itu, dia mengabaikan laporan medis di atas meja.Begitu ponsel menyala, deretan pesan langsung masuk bertubi-tubi. Saat membaca isinya dengan jelas, wajah Kakak seketika berubah sangat muram.Aku mendekat dan ikut melihat. Ternyata itu adalah pesan-pesan provokatif yang dikirim Elvara.[ Kamu sampai masuk rumah sakit, tapi Kakak bahkan nggak datang menjengukmu. Pasti sakit hati, ya? Sayang sekali, apa pun yang kukatakan, Kakak pasti percaya. Kamu nggak akan pernah bisa menandingiku. ][ Perempuan menjijikkan. Di dunia ini nggak ada seorang pun yang mencintaimu. Cepat mati saja dan jangan mengganggu hidupku. ][ Kalau sudah mati, jangan pernah kembali. Kakak hanya milikku seorang. ]Elvara membenciku. Hal itu sebenarnya sudah lama aku tahu.Setiap kali dia memfitnahku hingga aku dimarahi Kakak, dia selalu mengirim pesan untuk memamerkan kemenangannya. Aku pernah membawa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status