Home / Fantasi / Sang Dewa Bumi: Yuan Ze / Bab. 4 - Dewa Bumi Turun Ke Bumi

Share

Bab. 4 - Dewa Bumi Turun Ke Bumi

Author: Norayolayora
last update Last Updated: 2025-12-29 22:54:31

“Jadi,... Dewa bumi, ah... Yang Mulia... Duh bagaimana memanggilnya ya?“ Han Feng bingung saat ia melihat Yuan Ze duduk di atas kasurnya. Wajahnya masih terlihat terkejut sembari melihat ke arah empat orang aneh yang belum pernah ditemuinya.

“Siapa yang mengatakan itu padamu?“ tanya Yuan Ze dengan wajahnya yang seolah menolak untuk disebut sebagai Dewa bumi. “... Aku tidak mengenalmu. Bagaimana mungkin kau memanggil seorang anak kecil seperti ku sebagai dewa bumi yang agung dan pantas dijadikan sebagai Kaisar langit itu?“

“Aku yang memberitahukannya.“ Zhao Yu menyela, menunjukkan wajahnya di depan Yuan Ze dengan tatapan tak bersalah.

“Hah?!“ Yuan Ze menunjukan wajahnya yang tak percaya dengan ucapan yang dikatakan oleh kakek tua di depannya. “... Kalian percaya dengan kata-kata kakek tua ini? Jelas-jelas dia hanya mengigau! Mana ada anak kecil yang sudah menjadi dewa?!“

“Ah... Tapi, dia adalah tetua sekte ini jadi, dia tidak mungkin salah.“ celetuk Jian Yu yang membuat Yuan Ze sekali lagi menatap ke arah Zhao Yu.

“Memangnya ada manusia yang seumur hidupnya melakukan kebenaran? Tetua ini salah besar.“ balas Yuan Ze.

“Kalau aku salah, kenapa dengan luka separah itu kau masih sanggup bicara bahkan duduk di atas kasurku?“ Zhao Yu menunjuk ke arah luka di perut dan punggung Yuan Ze yang sekarang malah tampak seperti kulit yang berbalut perban tanpa luka.

“Ahh!! Sakit sekali!“ Menyadari kesalahannya, Yuan Ze segera berpura-pura kesakitan. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan meringkuk di atas kasurnya. “... Ahh, sakit sekali. Ibu... Tolong panggilkan ibuku kemari...“

“Bukannya seharusnya dia tidak bisa bergerak sama sekali. Lihat tuh! Luka di punggungnya sama sekali tidak berdarah.“ bisik Yue Fei pada Han Feng.

“Hmm, entahlah. Kita tunggu saja Penatua Zhao berbicara dengannya.“ balas Han Feng.

Zhao Yu terus memperhatikan kepura-puraan Yuan Ze saat sedang merintih kesakitan, sembari memeluk perutnya sendiri. Padahal, dia juga harus memeluk punggungnya sendiri yang pernah ditembus oleh puluhan anak panas. Tanpa memikirkan apa-apa, Zhao Yu langsung memukul punggung anak itu sampai membuatnya terkejut dan kemudian berdiri dari posisi tidurnya.

“Kau mau apa kakek tua bau tanah? Beraninya kau memukulku kau tidak tahu siapa aku ini?“ bentak Yuan Ze yang tak sengaja mengeluarkan kata-kata yang biasanya ia keluarkan saat ia masih menjadi penduduk langit.

“Ya! Tentu saja aku tahu! Kau adalah Dewa bumi, Yuan Ze! Kau tidak bisa membohongi ku lagi! Mau seperti apapun alasanmu, kau tidak bisa menipuku! Aku ini adalah mantan penduduk langit jadi aku tahu seperti apa rupa wadah dan wujud dari para dewa di langit!“ bentak Zhao Yu.

“Hah?! Asal kau tau penduduk langit tak ada satupun yang tua sepertimu! Mereka semua muda dan tidak ada yang berjanggut serta jelek seperti mu!“ balas Yuan Ze.

“Oh ya?! Bagaimana kau tahu kalau tak ada satupun penduduk langit yang tua sepertiku?!“ balas Zhao Yu.

“Sudah, sudah. Kami sudah menarik kesimpulan dari perdebatan sia-sia kalian.“ ucap Jian Yu memisahkan mereka berdua.

“Oh ya? Kau pasti tidak akan percaya dengan kata-kata orang tua ini kan?“ Yuan Ze mencoba membela. Meski ucapan Zhao Yu benar, ia juga tidak ingin identitasnya diketahui begitu saja.

“Ya, sekarang aku sudah tau.“ ucap Jian Yu dengan wajah serius sementara Han Feng dan Yue Fei hanya terdiam, memperhatikan mereka.

Jian Yu mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk ke arah Yuan Ze yang berdiri di atas kasurnya sembari menjawab dengan tegas, “... Kau adalah Dewa bumi yang sebenarnya! Yuan Ze, seperti nama kuil yang kami bangun di dekat bangunan utama sekte. Kalau bukan begitu, tidak mungkin kau bisa melakukan jurus teleportasi menuju kuil terdekat mu begitu kau mendapatkan luka yang sangat parah!“

“....“

“...“

Seketika semuanya terdiam selama beberapa saat termasuk Yuan Ze sampai akhirnya Han Feng berkata, “... Hmm, masuk akal juga.“

***

“Yang Mulia, kami tidak berhasil mengeluarkan jantung gerhana itu dari tubuh dewa bumi.“ seorang pemimpin dari kelompok hitam itu mendatangi Kaisar langit yang duduk di atas singgasananya.

Kaisar langit tampak mengetuk-ngetuk kursinya dengan satu jari dan wajahnya yang ditadahkan pada satu tangannya. “... Jelaskan apa alasanmu tidak bisa melakukannya.“

Pemimpin kelompok hitam itu mulai menjelaskan, “... Kami awalnya hampir bisa mendapatkan tetapi, ada sesuatu yang menghalangi kami untuk mengambilnya. Seperti ada seseorang yang sengaja mengalirkan kekuatan spiritualnya ke dalam wadah dewa bumi yang masih terhubung dengan tubuh aslinya. Yang kita tahu, saat ini dewa bumi dalam kondisi lemah setelah melakukan pertarungan dengan Anda. Jadi, ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil jantungnya selagi wadahnya tidak sadarkan diri. Tetapi, orang yang melakukannya memaksanya untuk bangun dan memperbaiki seluruh aliran Chi dalam dirinya yang sudah dirusak. Kami tidak bisa mengambilnya jika tubuhnya kosong seperti itu. Tetapi, kami bisa mengambil jantungnya melalui wadahnya yang terisi oleh jiwa.“

“Dengan kata lain, kalian harus mengambil Jantungnya ketika jiwanya kebetulan berada di tubuhnya?“ Kaisar langit mencoba menyimpulkannya.

“Ya, tetapi kami juga bisa melakukannya jika kami mendapatkan wadahnya yang diisi oleh kesadaran dewa bumi. Jantung gerhana itu, sudah melekat pada jiwanya sehingga, jika dia mati maka jantungnya juga akan hancur.“ lanjut pemimpin kelompok hitam.

Kaisar langit berdeham, tersenyum kecil yang menyimpan berbagai rencana yang telah dibuat dalam pikirannya. Ia berdiri dari atas singgasananya. Melangkah, menuju altar dan berjalan kembali keluar pintu yang terbuka lebar. Yang memperlihatkan nya pada dunia luar, dunia para makhluk mahkluk langit yang dikuasai olehnya.

Pemandangan matahari yang tertutup awan, menjadi satu-satunya pusat perhatiannya. Burung-burung merpati berterbangan, menyampaikan secarik surat dan istana-istana besar, yang dimiliki oleh para dewa yang paling berkuasa.

“Gerhana itu akan datang menjemputku. Kita tidak membutuhkan Dewi gerhana yang lemah itu! Bahkan dewa bumi sekalipun! Mereka tidak dibutuhkan. Bumi sudah cukup kuat untuk mempertahankan dirinya sendiri begitu juga manusia yang tinggal di dalamnya. Biar aku saja, yang menjadi pemimpin satu-satunya di dunia ini! Hanya aku yang pantas berkuasa di sini!“ Kaisar langit itu mengangkat tangannya dan mengumumkan dengan tegas.

“Aku memerintahkan pada kalian makhluk makhluk langit! Buru Dewa bumi Yuan Ze sekarang juga dan bawa dia ke hadapanku! Aku membutuhkan Jantung gerhana itu secepat mungkin sebelum Sang Dewi bangkit kembali!“

Begitu perintah dari Kaisar langit turun, semua makhluk langit mulai turun ke bumi untuk memburu Dewa bumi dan mengabulkan keinginannya. Meskipun sebenarnya, para makhluk langit tidak tahu apa tujuan dari Kaisar Langit untuk mendapatkannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 11 - Wadah Tumbal

    “Akh! Badanku sakit semua karena dipukuli makhluk aneh itu.“ “Aku merasa ini sudah keterlaluan.“Seluruh murid sekte kembali ke asrama mereka dengan wajah babak belur meski beberapa dari mereka ada yang selamat. Semua orang di sana sibuk merapikan diri mereka dari debu dan bersiap tidur. Namun, sampai saat ini, setelah latihan selesai, mereka tidak lagi bertemu dengan Yuan Ze. “Kira-kira kemana anak itu? Bagaimana dia bisa memiliki kekuatan sebesar itu? Hei! Kakak pertama! Apa kau tidak curiga kalau dia itu penipu?“ ucap salah satu murid ketika Mo Ran sedang merapikan pakaiannya. Mo Ran terdiam sejenak. Dia mulai merasa kalau kekuatannya memang tidak sebanding dengan Yuan Ze yang bahkan berhasil mementalkan para murid padahal dia sama sekalian tidak menggerakkan seujung jari pun. Di sisi lain, dia juga menggunakan jurus yang membuat tubuhnya mengecil untuk menghemat kekuatan spiritualnya sementara, jurus seperti itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang tingkatannya sudah setara

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 10 - Bukti

    “Apa? Dia yang akan menjadi guru untuk kita?!“Murid-murid dari sekte Pedang Awan tampak tak percaya dengan yang dikatakan dan ditunjukkan oleh Lu Tao pada mereka. Bagi mereka, tentu saja Yuan Ze hanyalah anak yang masih berusia 14 tahun. Dia bahkan lebih muda dari mereka. Dan lantas, apa yang membuat ketua sekte menyetujui anak ini menjadi Guru untuk mereka? “Kakak pertama! Apa benar dia yang akan menjadi Guru kita?“ salah seorang murid bertanya pada Mo Ran yang wajahnya sudah tidak bersemangat, pucat bahkan kehilangan kata-kata. Dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka masih tidak percaya bahkan dengan jawaban yang diberikan dari kakak pertama mereka. Karena tidak memiliki darah seorang cenayang, mereka tidak bisa memperkirakan seperti apa kekuatan Yuan Ze yang sebenarnya. Berbeda dengan Lu Tao yang bisa merasakannya bahkan sejak awal mereka bertemu. “Hei! Lu Tao! Apakah kau bisa meyakinkan kami kalau dia itu orang yang sangat kuat?!“ salah seorang murid menunjuk

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 9 - Anak Misterius

    Beberapa saat lalu. “Hei kak! Aku sangat yakin ada seseorang yang mengawasi kita dari balik pohon itu.“ ucap Lu Tao pada Mo Ran sembari menunjuk ke arah pohon ginkgo yang menjadi tempat persembunyian Yuan Ze di sana. Mo Ran juga ikut memperhatikannya. Ia tak merasakan keberadaan seseorang yang bersembunyi di sana. Namun, karena Lu Tao berasal dari keluarga cenayang yang bisa melihat tingkat kemampuan seseorang, dia pasti benar ada seseorang yang bersembunyi di sana. “Apakah dia cukup berbahaya kalau benar dia bersembunyi di sana?“ tanya Mo Ran. “Aku tidak tahu kalau belum melihatnya. Bisa saja dia penyusup dari Klan Iblis yang ingin menghancurkan sekte kita.“ Mo Ran seketika menjadi teringat. Di dunia ini, memang ada yang namanya Klan Iblis yang gemar sekali menghancurkan. Ditambah lagi, wujud mereka sama seperti manusia biasa. Itulah kenapa mereka sering mengatakan bahwa siapa tahu, diantara mereka ada iblis yang menyamar. Hanya seorang cenayang yang bisa menebak kekuatan spirit

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 8 - Dewa Ular Xuan She

    Pada zaman dahulu kala, Dewa bumi pernah turun ke bumi sejenak, setelah Dewi gerhana menitipkan jantungnya padanya. Sang dewa bumi memastikan Dewi gerhana melakukan tugasnya dengan baik dengan mengembalikan monster-monster kembali ke dunia bawah. Namun, ketika ia sudah memastikan tak ada lagi monster yang berkeliaran di tempatnya dan ketika dewa bumi hendak kembali ke langit, ia menemukan seekor ular yang terhimpit oleh bangunan yang hancur. Bangunan itu hancur karena serangan monster yang mengamuk dan beruntungnya ia tidak menemukan satupun mayat manusia yang berada di sana. Namun, ketika ia menggali untuk memastikan, ia malah menemukan seekor ular besar, yang sedang melingkar, melindungi sesuatu dengan tubuhnya. Ular itu sudah mati, tetapi sesuatu yang dilindunginya menunjukkan sedikit kehidupan. Benda itu adalah sebuah telur yang ukurannya nyaris seperti ukuran bayi manusia yang baru lahir. Dewa Bumi itu tersentuh melihatnya. Tubuh ular itu dipenuhi oleh luka monster dan anak p

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 7 - Pohon Ginkgo Kering

    “Apa ini? Sebuah cincin? Kau tidak berniat menikahi sesama lelaki kan?“ Yuan Ze memperhatikan sebuah cicin giok, dengan mata berwarna merah terang pada bagian tengahnya. Di belakang cincin itu, terdapat sebuah tulisan yang tak terbaca yang lebih mirip sebuah simbol perlindungan. “Bahkan wanita pun tak akan ada yang mau menikahimu! Kurang kerjaan sekali aku memberikanmu cincin buatan ku hanya untuk seperti itu. Itu adalah jimat penangkal. Untuk sementara waktu, posisimu tidak akan diketahui oleh penduduk langit bahkan Yang Mulia. Untuk berjaga-jaga, Aku akan memperbarui mantranya sebulan sekali.“ Zhao Yu menutup sebuah kotak yang dipenuhi dengan batu permata yang asalnya belum diketahui oleh siapapun. Yuan Ze menatapnya dengan penuh curiga. “... Darimana kau mendapatkan batu-batu permata itu?“ “Oh, ini? Aku menemukannya setelah membunuh monster dunia bawah. Benda ini terjatuh saat tubuh mereka hancur.“ Zhao Yu menunjukkan salah satunya. Benda itu mirip seperti sebuah kristal yang ta

  • Sang Dewa Bumi: Yuan Ze    Bab. 6 - Kesepakatan

    “Baiklah! Aku sudah memberikan informasi yang kalian inginkan sekarang biarkan aku pergi.“ ucap Yuan Ze, hendak menurunkan kedua kakinya ke lantai namun, kembali dihalangi oleh Han Feng yang langsung mengembalikan kakinya ke atas kasur. “Apa? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya termasuk alasanku datang ke sini?“ celetuk Yuan Ze, sembari menurunkan alisnya saat ia melihat Han Feng menatapnya dengan alis dan bibir berkerut.“Aku hanya merasa kasihan, tak ada satupun makhluk langit yang mau membelamu. Ahh, bagaimana kau bisa bertahan hidup sampai 350 tahun kemudian?“ Han Feng mengusap usap bagian bawah matanya yang tampak berair. Baginya, Yuan Ze mungkin saja seperti anak berusia 14 tahun yang hidup sebatang kara dan terpaksa tinggal di kandang serigala. “Kenapa orang-orang yang ada di sini begitu menyebalkan?“ batin Yuan Ze tak terima bila ia disamakan dengan anak manusia berusia 14 tahun. Zhao Yu tiba-tiba mendekatinya dengan wajahnya yang dipenuhi dengan niat busuk yang ingin m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status