LOGINKelvin tidak menganggap ini sebagai sebuah kebetulan. Jelas sekali, mobil itu memang sengaja mengarah ke mereka.Bagian depan mobil penabrak sudah hancur total. Mobil itu berhenti setelah menabrak pembatas jalan.Saat Kelvin mendekat, dia langsung melihat pengemudinya terkulai di setir. Tubuhnya sudah penuh darah.Pada saat yang sama, bau alkohol yang sangat kuat tercium dari tubuhnya.Jendela mobil terlihat terbuka. Kelvin menyipitkan mata, lalu langsung memegang pergelangan tangan orang itu dan memejamkan mata.Luka orang itu sangat parah. Masih ada denyut nadi dan sedikit kesadaran tersisa. Matanya mulai kabur, sementara mulutnya bergerak seperti ingin bicara.Kelvin pun memejamkan mata. Dalam sekejap, dia bisa merasakan bahwa orang ini mengidap kanker stadium akhir.Orang ini memang sudah sekarat. Kemudian, dia disuruh orang lain untuk mabuk dan menabrak Kelvin serta yang lainnya. Jika diselidiki, ini akan dianggap sebagai kecelakaan akibat mengemudi dalam keadaan mabuk sehingga or
Di jalan tol bandara, sebuah mobil sedan Mercedes-Benz hitam melaju perlahan.Mobil itu terlihat masih baru. Pengemudinya adalah seorang pria paruh baya dan di matanya terlihat tekad yang nekat."Sudah ikuti mereka belum?" Di dalam mobil, terdengar suara dari ponselnya."Sudah aku ikuti, Tuan Muda Arvin!" jawabnya lewat telepon. "Apa yang kamu janjikan, harus ditepati ya!""Tenang saja." Arvin menegaskan, "Selama kamu berhasil menabrak mereka sampai mati, sisa uangnya akan langsung kutransfer.""Oke!" Usai berkata demikian, pria paruh baya itu menutup telepon, lalu mengambil sebotol minuman keras di sampingnya dan langsung menghabiskannya dalam sekali teguk.Saat berikutnya, tatapannya menjadi makin nekat. Melihat mobil Maybach yang berhenti di lampu merah di depan, dia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobilnya memelesat cepat!Pada saat yang sama, pria paruh baya itu melempar ponselnya keluar jendela. Dengan kecepatan tinggi, ponsel itu jatuh dan hancur berkeping-keping di ja
"Um!" Zavier bertanya, "Memangnya ada sesuatu yang nggak aku tahu?""Sepertinya kamu memang belum tahu. Di Kota Lamur, aku sempat mengakuisisi beberapa perusahaan," kata Niveria. "Paman Aaron bekerja sama dengan Arvin untuk menekan perusahaan-perusahaan yang kubeli. Untungnya aku bekerja sama dengan Keluarga Sirait di Kota Lamur, jadi masih bisa bertahan. Justru karena Paman Aaron membeli barang dengan harga tinggi untuk menyaingi kami, akhirnya bisnis di Kota Lamur mereka sendiri yang bermasalah."Niveria tidak menyebutkan apa pun tentang Perusahaan Investasi Witara."Kamu mengakuisisi beberapa perusahaan?" tanya Zavier yang tertegun. "Kami sama sekali nggak tahu soal ini.""Sepertinya Paman Aaron memang nggak pernah memberi tahu kalian," kata Niveria sambil menggeleng. "Itu nggak penting lagi. Aku juga nggak berniat kembali ke Keluarga Sunardi. Sekarang, aku hidup dengan baik."Setelah itu, Niveria berkata dengan tenang, "Kali ini aku pulang untuk bertunangan dengan Kelvin, lalu meni
Di mata Kelvin, terlihat sedikit kegembiraan. Dia tanpa sadar menoleh ke samping.Gadis berkuncir dua dan pria tua itu juga memperhatikan tatapannya, lalu tersenyum dan mengangguk sebagai isyarat.Kelvin juga mengangguk untuk membalas.Memang benar bahwa Kelvin merasa sedikit bersemangat. Jika benar seperti yang dikatakan Niveria bahwa Balai Munres mengetahui segala hal di dunia, urusan kakeknya kemungkinan besar juga bisa dia cari tahu dari sana.Memikirkan hal itu, Kelvin tidak bisa menahan rasa penasarannya dan bertanya, "Orang-orang dari enam keluarga besar di Kota Yanir juga nggak tahu?""Ya!" Niveria membalas sambil mengangguk, "Pokoknya tempat itu sangat misterius."Setelah berkata begitu, Niveria kembali menyandarkan kepalanya di bahu Kelvin dan memberi tahu, "Aku tidur lagi sebentar. Nanti setelah sampai, kita makan siang di rumah orang tuaku. Kalau sempat, malamnya kita pergi ke rumah kakekku. Kamu coba lihat ... apakah penyakit kakekku bisa disembuhkan."Kakek Niveria mengal
Kini, gadis berkuncir dua itu terlihat sedikit canggung. Dia berkata, "Ganteng, maaf ya. Tadi ... aku terlalu panik, makanya bersikap seperti itu. Tolong jangan dimasukkan ke hati."Kelvin merespons sembari menggeleng, "Nggak apa-apa. Aku mengerti keadaanmu waktu itu. Lagian, itu cuma bantuan kecil."Gadis berkuncir itu itu menggeleng lagi dan berkata, "Kakekku menyuruhku datang untuk minta maaf. Sebenarnya dia ingin datang sendiri, tapi aku mengkhawatirkan kondisinya."Segera setelah itu, gadis berkuncir dua melanjutkan, "Kami juga ingin memberi ucapan terima kasih. Kakekku nggak suka berutang budi. Kamu bisa menyebutkan apa pun yang kamu inginkan sebagai balasan.""Nggak perlu," kata Kelvin sambil tersenyum. "Aku seorang ahli pengobatan. Aku nggak pernah minta bayaran untuk mengobati orang. Kalian nggak perlu terlalu memikirkan ini. Anggap saja sebagai bantuan kecil."Gadis berkuncir dua itu terdiam sejenak, lalu menatap Kelvin dengan sedikit bingung. Dia bertanya, "Benarkah?""Tentu
Seluruh penumpang di kabin pesawat langsung menatap ke arah Kelvin.Gadis itu sangat panik. Dia langsung menarik baju Kelvin. Wajahnya penuh kemarahan dan kecemasan.Di samping, pasangan dokter itu mundur sedikit. Salah satu dari mereka berkata, "Masalah ini nggak ada hubungannya dengan kami."Jelas, jika sesuatu terjadi pada si pria tua, mereka tidak ingin ikut terseret. Bagi seorang dokter, kesalahan medis bisa berdampak besar pada reputasi mereka."Apa yang kamu lakukan pada kakekku?""Apa yang kamu lakukan pada kakekku?"Gadis itu mencengkeram baju Kelvin dengan erat. Air matanya hampir jatuh.Di belakang, Bernard melihat kejadian itu. Dia tersenyum tipis sambil berkata pelan, "Padahal nggak ada hubungannya denganmu. Sekarang malah kena masalah, 'kan?"Niveria hanya melirik sekilas, lalu kembali duduk dan melanjutkan tidur.Dia sangat percaya pada kemampuan Kelvin.Pada saat itu, pria tua yang terbaring di lantai tiba-tiba mengeluarkan suara aneh dari mulutnya, lalu mulai bernapas
Kelvin pun panik. Dia mendesaknya, "Kalau Kakek Charles tahu sesuatu, tolong beri tahu aku. Ini sangat penting bagiku!"Enam tahun lalu, kakek memberitahukan bahwa dirinya akan pergi karena ada pertarungan yang harus dihadiri. Akan tetapi, sejak saat itu, kakek tidak pernah kembali. Hidup matinya ju
Di tangga juga berdiri banyak orang.Orang di samping Kelvin berbisik, "Keluarga Lorenz memang sombong. Biksu pengemis itu tadi naik mau minta dua gelas teh, dan nggak sengaja tabrak cewek itu. Nggak pakai pikir lama, cewek itu langsung tampar dia!""Biksu kecil itu kurus kerempeng, pasti kurang giz
Kelvin melihat ke luar. Tempat ini sangat bagus posisinya, dapat menikmati seluruh pemandangan Menara Gading Putih!"Pemandangan Menara Gading Putih memang bagus," puji Kelvin sambil tersenyum.Niveria mengangguk dan menyambung, "Ya. Dulu kalau lagi galau, pasti datang ke Menara Gading Putih duduk t
Niveria menarik Kelvin berlari kecil meninggalkan tempat pendaratan kereta gantung menuju toilet yang jauh.Sambil berlari, Niveria bertanya, "Kamu marah karena tadi aku bilang kamu temanku, ya?""Ehm ... nggak," jawab Kelvin seraya berdeham.Niveria seolah-olah tidak mendengarnya. Dia melanjutkan,







