Masuk
Beberapa hari terakhir banyak rumor beredar jika dibalik Gunung Kumulus terdapat monster super kuat yang dapat mengalahkan semua monster level 9 seorang diri. Dia mengalahkan mereka hanya dengan tangan kosong.
Sampai sekarang masih belum diketahui pasti, siapa yang membantai monster-monster itu sampai hanya tersisa tulang tanpa daging. Sesosok harimau bertarung tajam setinggi bukit menggeliat diantara kawanan hewan iblis super besar dan seram. "Kalian dengar! Wilayah selatan sudah dibantai habis?" "Sess.... Aku tau, itulah kenapa kita semua mengadakan rapat sembunyi-sembunyi di sini, kita datang untuk membalas dendam rekan kita yang mati, kan. Cepat... Apa kalian semua punya info terkini, siapa yang membantai saudara saudara-saudara kita?!" Desis ular bertaring tajam, matanya bersinar emas di kegelapan malam. Kawanan monster itu saling memandang kemudian menggeleng, tak ada satupun dari mereka yang pernah melihat siapa pembantai ini, karena siapapun yang bertemu si pembantai sudah lenyap. Harimau dan ular itu tidak bisa untuk tidak merinding melihat bukti pemusnahan ras monster yang selevel mereka. Di dunia Blok ini semua monster diberi peringkat dari satu sampai sepuluh, sepuluh adalah level tertinggi para monster. Para monster ini datang ke dunia Blok dari portal iblis yang terkikis, portal segel yang membatasi antara dunia monster dan manusia. "Siapa yang mau memancingnya keluar?" Seru monster badak berdanduk kuat. Serempak para monster itu mundur menyisakan monster badak di tengah. "Sesss... Kamu yang mengusulkan menjadi umpan, maka kamu juga yang harus jadi umpan. Setuju tidak?!" Seru ular licik itu sambil menyeringai licik. Tanpa keraguan sedikitpun para monster mengangguk. Mereka tidak punya apa itu yang disebut hati nurani bersalah. Mereka hanya mentingkan diri mereka sendiri. "Kamu benar ular, biarkan badak yang menjadi umpan. Tentang saja badak, jika penyergapan kita berhasil kali ini kamu akan mendapatkan seper dua hasil buruan daging kita semua. Kamu tidak rugi." Di antara mereka ada sesosok monster kelinci yang tidak mencolok, dia menyemangati badak dengan sangat antusias. "Kalian!" Tubuh badak gemetaran, jelas sangat marah oleh kawanan monster yang tidak setia kawan dan bisa mengorbankan orang lain untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. "Halo. Apa aku bisa ikut?" Seru seorang wanita berpakaian kumal. Wajahnya penuh debu dan berantakan. Para monster itu tidak menyadari jika diantara mereka ada sesosok manusia. "Yah, kamu badak. Cepat telusuri hutan selatan tempat si pembantai itu muncul." "Haha kalian lihat, siapa takut, aku pasti akan membuat kalian menyesal dan menyerahkan semua daging buruan kalian saat aku menang." "Sess... Jangan banyak bocot, cepat, kita pergi ke wilayah selatan." Saat semuanya akan bergerak ke selatan, sebuah suara kecil mengganggu mereka. "Apa membunuh orang yang kalian incar bisa makan enak?" Seru sang gadis sambil mengangkat tangan. "Tentu saja. Siapapun yang memenggal kepalanya dapat jatah daging." Harimau mengeram kasar. "Ah..maaf, sebenarnya yang membunuh rekan seperjuangan dan ras kalian adalah aku!" Semua monster itu lantas menengok ke tempat wanita berdebu itu berdiri. "Kamu..." "Kau yang membunuh." "Sialan!!" Badak yang paling depan langsung bergegas dan menyeruduk si wanita. Udara panas menyemprot dari lubang hidungnya. Gerakannya sangat cepat, dia melesat ke wanita berbaju merah tua yang terlihat dingin walupun kotor, auranya seperti pejuang besar tidak boleh diremehkan. "Kalian cari mati sendiri, aku tidak punya waktu sebanyak yang kalian kira. Kalian bisa maju bersama." Ucapannya penuh provokasi dingin. Tangan yang memegang seruling bambu kuning sudah membuat kepalan tangan, pertanda siap memukuli siapapun yang datang. Dia mengambil benda panjang paling dekat dengannya, tanpa ragu-ragu dia mengantarkan benda itu untuk memukul monster yang datang membabi-buta tanpa setartegi meyerang. "Sesss... Lepaskan aku wanita!!!" Seru ular yang digunakan sebagai benda sekali pakai. Wajah ular itu hampir tidak bisa dikenali lagi karena membentur para monster lainnya. Lima menit berlalu, harimau, badak, dan ras monster lainya sudah terkapar mati menjadi tumpukan gunung mengelilingi wanita itu. Wanita berpakaian merah itu mengarauk tengkuknya yang tidak gatal. "Eh... Apa kalian selemah itu?!" Serunya kebingungan. "Sudahlah, aku ke sini juga bukan untuk menganiaya kalian. Cek, sayangnya kalian sudah mati duluan, kemana aku harus mencari penunjuk arah jika kalian sudah mati!" Ucapnya terdengar penuh penyesalan. Wanita yang selesai menghabisi para monster dan menguliti dagingnya itu mengangkat alis, "Hei kau, jangan berpura-pura mati. Aku tidak bodoh, kau belum mati!" Seekor kelinci yang berotot kekar terkapar memperlihatkan perutnya yang putih gemuk pada wanita iblis didepan, otot-otot nya menegang. Dia panik sampai keringat dingin menetes di pelipisnya. Dalam hati kelinci itu menangis tanpa air mata. "Ampun suhu... Jangan makan hamba. Hamba tidak makan daging manusia. Hampa benar-benar monster yang patuh dan tidak membahayakan manusia. Jika Nona ingin bukti, tanya saja pada ras kelinci ataupun monster di sekitarku." Seru kelinci sambil berlutut secepat yang dia bisa dan mengatupkan tangannya sambil menangis. Air matanya sampai tidak terbendung membasahi pakaian wanita berpakaian merah yang memegang seruling bambu kuning. Wanita yang pakaiannya dijadikan saputangan dan ingus itu memerah karena marah, dia menendang kelinci itu sampai menabrak pohon, pohon yang ditabraknya mengeluarkan suara berderit patah dan Boom... Pohon yang tidak sanggup menahan beban itu jatuh. "Aku tidak... Aku hanya ingin bertanya, apa ada sungai terdekat di sini?" Wanita itu sebenarnya tidak ada niatan untuk merusak alam, dia percaya kelinci di depannya itu kelinci yang baik. Mana ada kelinci penakut dan cengeng ini bisa membuat konspirasi licik penuh intrik padanya. Awalnya dia ingin menanyakan arah ke sungai pada kelinci, satu-satunya monster yang masih hidup sejauh dia memandang. Dia tidak mengerti jika sifat yang ditunjukan pada kelinci itu membuatnya di beri label wanita iblis oleh kelinci. Saudah satu mingguan ini dia tersesat setelah turun dari puncak gunung Kumulus. Dia ingin mencari sungai dan mandi. Tapi kenapa... Kenapa.... Semua hewan yang dia ajak bicara baik-baik langsung meburunya setengah mati. Dia hanya ingin bertanya arah, oke! Kelinci itu menyemburkan darah dari mulutnya, tubuh kekarnya terdapat cap sepatu bekas tendangan dari wanita iblis. Dia merangkak keluar dari lubanga pohon. "Ampun Nona... Aku tau dimana sungai itu." Untuk menyelamatkan nyawa kecilnya yang tidak berharga, padahal dia monster kelinci level sembilan, tapi di mata wanita iblis ini dia hanya bayi, bayi yang bisa dicubit sampai mati, dia rela merendah dan menjadi pemandu hutan kecil menuju sungai. "Kelinci!" Panggil wanita itu pelan. Di mata kelinci, panggilan itu bak tipuan sangkakala malaikat maut, tubuhnya merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sontak dia langsung menegakkan tubuhnya menunggu perintah wanita iblis. "Apa Nona?" "Hei, apa kamu bisa memasak?" Tanya wanita itu penuh harap. ➡️➡️➡️➡️ Silakan komen jika ada typo, dan aku minta saran kata yang lebih cocok untuk andegan yang dirasa janggal. Terima kasih~ Selamat membaca...."Apa ini aman! Kau yakin itu tidak berbahaya untuk anak itu?" Ananti duduk santai sambil melihat makhluk hitam pekat yang bermata emas salib terbalik kini berwujud manusia jadi-jadian yang super tampan. Jika Sekar disini dia psti akan bilang ke mereka berdua: "Apa kalian berdua sehat, hah!" Ini bukan karena apapun, Sekar hanya berpikir... tidak akan bisa bereproduksi antara Monster dan manusia. Dia juga merinding menayangkan andegan tidak senonoh saat keduanya berbaring. Tapi lupakan Sekar sudah tidak ada disana, dia sudah terputus sangat jauh dari 12 dukun catur. Iris mata pria itu penuh kelembutan saat memandang perut Ananti yang kini sudah menonjol membentuk cetakan telur yang sedikit lebih besar dari telur unta. "Sayang, dia akan keluar sebenar lagi. Dia bilang, dia sangat senang punya ibu sepertimu." Makluk tentakel hitam yang kini berwajah manusia itu tidak bohong karena dia bisa berkomunikasi secara telepati dalam jarak dekat. Anak monster tidak seperti anak manusia yang
Bernapas berat sambil menghunus pedang, pedang itu melesat tepat sasaran ke tubuh makluk unggu, tapi makhluk ungu juga punya insting untuk mempertahankan hidup dan berhasil menghindar.Lekir kesulitan untuk menemukan sudut yang cocok untuk membunuhnya, dia menatap tajam makluk unggu sampai menemukan jawaban dimana harus memprediksi gerakan menghindarnya yang akan datang. Kesabarannya tidak sia-sia, dia mendapat bayangan fatamorgana dimana tentakel ungu akan menjulur selanjutnya. Tidak tanggung-tanggung, seluruh tentakel akan bergerak ke belakang tubuhnya bukan mengincar Lekir lagi.Tanpa keraguan Lekir melesat kedepan, kakinya menapak diatas air dan melompat.Syuttt.....Cress....Tangkai bunga paling atas itu terpotong menjadi dua, tentakel ungu itu bergerak tidak beraturan, tidak seperti sebelumnya terarah dan terkendali.Guru sungguh jenius, guru bisa memikirkan terik ini hanya dengan memadang. Kali ini beban Lekir berkurang, dia bisa santai untuk memotong tentakel tanpa harus wasp
Semua tubuh yang terendam dalam air itu mulai keluar menampakan wujud aslinya. Tubuh itu seperti ubur-ubur raksasa yang tentakelnya berwarna ungu tua, kemudian menjalar menjadi ungu muda. Dan bagian atasnya seperti pecahan kelopak bunga dengan tangkai bunga di atasnya. Makhluk itu menggeliat ganas sampai mencabik utuh tanaman bakau yang ada di depan mata. Air sungai bergolak hebat saat makhluk itu naik ke permukaan, seolah seluruh arus sungai tiba-tiba tunduk pada kehadirannya. Percikan airnya memantul hingga ke dinding kapal kayu, dingin dan menyengat, membawa bau anyir yang menusuk sampai ke rongga hidung. Setiap tentakel yang bergerak seperti cambuk raksasa itu memecahkan permukaan air dengan suara keras, membuat riak air besar bergulung dari tepi sungai menuju ke kapal tempat Sekar dan yang lain berada. Lekir bergerak waspada sampai ke tepi kapal. Langkahnya terukur tapi cepat, seperti pemburu yang tahu persis kapan harus mendekat dan kapan harus menyingkir. Angin kencang yang la
Setelah kejadian yang tidak menyenangkan di penginapan, Sekar dan Lekir keluar tanpa uang sepeserpun. Kini mereka sampai di tengah-tengah lalu lalang untuk ke dermaga. "Minggir jika kalian berdua tidak mau bepergian. Jangan menghalangi orang-orang di belakang." Penjaga itu dengan tidak sabar menunjuk pada Sekar dan Lekir untuk pergi sambil terus memberi isyarat kepada orang-orang di belakangnya. Orang berikutnya dalam antrean mengambil segenggam emas berkilau dan perak, kemudian melewati mereka, lalu berjalan menuju dermaga. "Guru ..." Lekir dipenuhi dengan rasa bersalah. Setelah pertempuran dengan Mozan, sudah merupakan keajaiban baginya untuk tetap hidup; dia benar-benar lupa tentang kehilangan emas dan perak di penginapan. "Ini semua salahku. Jika aku tidak terburu-buru untuk mengamankan batu akik, aku tidak akan menyebabkan Guru bekerja keras. " "Uh ..." Tidak Lekir, aku benar-benar tidak punya uang. Menjadikanmu murid adalah keputusan yang tepat. "Kenapa tidak Guru berbela
Sekar ingin protes, tapi bos penginapan sudah menjulurkan baju maskot: sejenis pakaian kuning cerah, dengan hiasan bambu di kepala. "Ah," gumam Sekar lirih, "aku menyesal menginap di sini." Hari pertama pekerjaan itu langsung membuktikan bahwa orang normal memang suka melihat drama manusia yang teraniaya, baik itu mendapat simpati atau hanya sekedar cacian. Lekir berdiri di dapur, dia memegang wajan dengan tatapan seperti hendak menghabisi seseorang. "Guru," katanya ketika Sekar lewat dengan seruling khasnya yang selalu di bawa di pinggang. "Tolong ingat. Aku ini pendekar pedang. Bukan koki spatula." "Aku tau," jawab Sekar ringan. Padahal dalam hati dia bilang jika Lekir itu koki eksekutif, "Aku percaya." "Beruntung guru masih percaya padaku." Lekir mendesah dalam tragedi. Tapi anehnya, ketika mulai memasak, gerakannya efisien. Mungkin terlalu efisien. Pisau di tangannya bergerak secepat kilat, memotong sayuran seolah itu latihan memenggal musuh. Salah satu staf lama m
Awalnya Sekar masih tidur pulas, tapi perut kenyang membuatnya tidak bisa tidur lagi, kamu mengerti kan bagaimana rasanya perut kenyang dibawa tidur. Tidak nyaman dan membuat mual. Sekar bergerak gelisah dalam tidurnya, kemudian dia terbangun sendiri karena percakapan di kamar. "Koki, kenapa ada orang tambahan di kamarku?!" Sekar menggeliat malas, dia tidak panik jika ada orang tambahan secara tiba-tiba, sayangnya dia belum melihat kehancuran tembok di penginapan, mungkin jika dia tau sekarang dia akan kabur paling awal. "Guru. Aku tidak tau, saat aku datang ke kamar guru, mereka tiba-tiba menerobos masuk begitu saja." Tunjuk Lekir pada dua orang, keduanya penuh cacat dari pertempuran sebelumnya. Pakaian Sajada robek, Rajan terluka lebih parah daripada Sajada, kedua lenganya patah tulang. Sajada mendongak menatap wajah orang yang bertarung dengannya. "Rajan, sejak tadi aku masih kebingungan, kenapa kamu tidak memakai senjata saat kita bertarung?" Sajada menatap intens seluruh t







