Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 118 Berlayar

Share

Bab 118 Berlayar

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-09-25 20:10:25

Gerhana total berakhir saat hampir menjelang pagi, waktu itu Arga sudah kembali kedaratan. Sementara raja Udawa dan pasukannya kembali ke dunia lelembut.

Arga menerima hadiah berupa gelang pusaka berbentuk kelat bahu dari raja Udawa.

Awalnya dia menolak karena mengenakan gelang kelat bahu sama saja dengan membuka jati dirinya sebagai seorang putra mahkota.

Tetapi ketika raja Udawa menjelaskan bahwa gelangnya dapat berubah bentuk menjadi apa pun yang diinginkan Arga, pemuda itu dengan terpaksa m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 121 Pertarungan Ngarai

    Walet Darah merupakan perguruan golongan hitam yang terkenal kejam dan sulit dihadapi.Mereka memiliki kemampuan terbang sangat cepat dengan menunggani seekor burung walet besar.Keahlian terbang dan bertarungnya di atas langit membuat Walet Darah menjadi satu-satunya perguruan golongan hitam yang mampu menguasai udara.Mereka dapat membunuh tanpa terdeteksi dan pergi ke manapun tanpa hambatan.Atas kelebihannya itulah Walet Darah kerap diminta bantuan oleh orang-orang tertentu untuk melakukan pekerjaan kotor.Menculik, membunuh, membumihanguskan desa, dan menghancurkan perguruan golongan putih merupakan sebagian misi yang mereka terima.Tidak ada yang tahu entah di mana letak perguruan mereka, namun nama Walet Darah begitu ditakuti dan paling dihindari oleh semua perguruan.Tidak ada satupun perguruan yang ingin berurusan dengannya, termasuk perguruan golongan hitam sekalipun.Dan hari ini, mereka berada di wilayah perguruan Sayap Dewa membuat Jantaka khawatir akan terjadi perang bes

  • Sang Kusir   Bab 120 Walet Darah

    2 hari menyusuri daratan gersang kelompok Arga kini tiba di pintu ngarai menuju lembah batu Situng tempat di mana perguruan Sayap Dewa berada.Kanan kiri mereka merupakan tebing curam yang dibawahnya terdapat sungai berarus deras.Sementara jalanan yang mereka tapaki merupakan jalan setapak yang hanya dilewati satu kuda membuat ke-tiganya berjalan secara beriringan.Jantaka berada di posisi paling depan sebagai penunjuk jalan, sementara Ariani berada di tengah antara Arga dan Jantaka.“Apa ini satu-satunya jalan menuju ke perguruanmu Jantaka?” tanya Arga mengerutkan kening, matanya tidak lepas memperhatikan situasi ke kanan dan ke kiri khawatir ada bahaya yang mengancam.“Benar, perguruanku memang berada di wilayah tertutup. Itulah yang membuat Sayap Dewa terkenal keberbagai negeri,” tutur Jantaka.“Sayap Dewa juga merupakan perguruan teraman karena musuh sulit mencapainya,” tambah Jantaka.Arga masih terus memperhatikan situasi sembari mendengarkan penjelasan Jantaka.“Akses satu ara

  • Sang Kusir   Bab 119 Daratan Edelweis

    Arga terus mengayuh rakit bergantian bersama Jantaka hingga tidak terasa sudah 4 hari mereka berada di atas danau Panenjoan.Hari pertama sampai hari ke 3 cuaca di atas danau masih nyaman. Meski sedikit mendung dan hujan gerimis, rombongan Arga masih tetap bisa menikmati perjalanan.Tetapi ketika memasuki hari ke 4, angin badai mulai bergemuruh di atas langit menciptakan gelombang air cukup besar membuat rakit yang mereka tumpangi terombang-ambing kesana-kemari.Selain badai, hujan lebat disertai guntur juga turun mengguyur permukaan danau dengan sangat deras sehingga Arga dan Jantaka tidak lagi bisa mendayung rakit dari luar.“Hahaha, beruntung rakit ini memiliki gubuk, jika tidak kemungkinan kita akan kebasahan,” Jantaka tertawa senang di depan api unggun yang menyala.Ariani di sana sedang membakar daging rusa untuk mereka santap, sementara Arga tengah menyisir rambut Liwa menggunakan jari-jemarinya.Dua kuda lain juga ikut dimasukan ke dalam gubuk karena di luar terlalu berbahaya.

  • Sang Kusir   Bab 118 Berlayar

    Gerhana total berakhir saat hampir menjelang pagi, waktu itu Arga sudah kembali kedaratan. Sementara raja Udawa dan pasukannya kembali ke dunia lelembut.Arga menerima hadiah berupa gelang pusaka berbentuk kelat bahu dari raja Udawa.Awalnya dia menolak karena mengenakan gelang kelat bahu sama saja dengan membuka jati dirinya sebagai seorang putra mahkota.Tetapi ketika raja Udawa menjelaskan bahwa gelangnya dapat berubah bentuk menjadi apa pun yang diinginkan Arga, pemuda itu dengan terpaksa menerimanya.Arga mengenakan gelang tersebut di jari manisnya sebagai cincin kecil yang mirip seperti kayu agar tidak menarik perhatian orang lain.Mendapati gelang pusaka raja Udawa benar-benar bisa berubah bentuk, Arga mulai merasa senang dan menyukainya.Gelang pusaka itu adalah gerbang gaib penghubung antara Arga dengan raja Udawa, sehingga Arga dapat memanggil pasukan bangsa Kumbolo kapan pun dirinya menghendaki.“Mentari sudah muncul dicakrawala, apakah kau akan membiarkan Ariani tetap sepe

  • Sang Kusir   Bab 117 Keturunan Niskala

    “Ke-ke—kekuatan macam apa ini?” gumam salah satu panglima terbata.Tubuhnya terasa berat sekali seakan ditimpa sebuah gunung membuat dia sulit berdiri.Sementara semua prajurit sudah sedari tadi menjerit kesakitan tidak tahan dengan tekanan energi tersebut.Raja Udawa sampai harus menggunakan seluruh energinya untuk dapat tetap berdiri.Keningnya berkerut menatap lekat ke dalam danau tempat aura mengerikan itu berasal.“Ayo Liwa, kita menghindar!” teriak Jantaka mengajak sang kuda putih.Pemuda itu merasa heran dengan semua makhluk lelembut karena dia sendiri tidak merasakan apa-apa.Mendengar seruan dari Jantaka, Liwa dengan cepat melesat menuju tepian danau.“Oak, Oak!” teriak Liwa.“Kuda itu? Aku yang mengajaknya mengapa dia yang pergi lebih dulu,” umpat Jantaka sembari melesat mengejar Liwa.Air danau kini mulai bergejolak mengepulkan asap tipis ke udara membuat semua pasukan bangsa Kumbolo semakin menderita.Tidak lama dari itu seorang pemuda dengan tubuh memancarkan cahaya merah

  • Sang Kusir   Bab 116 Kolaborasi Jantaka dan Liwa

    Jantaka lagi-lagi melebarkan mata menyaksikan Liwa, dia semakin nyakin bahwa kuda itu bukanlah makhluk sembarangan karena tidak ada satupun kuda yang mampu bersinar terang seperti Liwa.Mendapati kuda putih yang dia kenal menjelma menjadi makhluk raksasa setinggi 10 meter membuat Jantaka merinding hingga beberepa kali menelan ludah.Tetapi di balik itu, semangat dirinya untuk lebih bekerja keras dalam belajar ilmu kanuragan semakin bergelora.Seperti tersulut bara api, kobaran tekad Jantaka sulit sekali dikendalikan sehingga tanpa sadar sayap dewa miliknya muncul secara tiba-tiba.Wush! Wush!Dua sayap kuning kemerahan yang terbentuk dari api mentari mengepak mengagetkan pemuda itu.“Ini …? Mengapa bisa tumbuh?” Jantaka bingung dengan tubuh-nya.“Tidak mungkin! padahal aku tidak menggunakan jurus,” kembali Jantaka bergumam.Mendapati tubuhnya yang ringan dan harsrat bertarung yang menggebu-gebu, Jantaka lantas melesat ke tengah danau menerjang beberapa makhluk berkulit merah.“Tebasan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status