Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 87 Teror Mayat

Share

Bab 87 Teror Mayat

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-09-10 19:08:20

Hari telah memasuki malam, tiga kuda beriringan melewati beberapa kediaman penduduk yang terlihat sangat sepi seperti tidak ada orang di dalamnya.

Mereka terus berjalan dengan mata tajam memperhatikan segala arah.

“Apa mungkin pemukiman ini sudah ditinggalkan?” tanya Ariani.

“Sepertinya memang benar ini karena wabah itu,” ungkap Jantaka.

“Kita tidak bisa menyimpulkan jika belum memeriksa seluruh dusun, bukankah ini baru luarnya saja,” ujar Arga.

“Tuan muda benar, kita harus memeriksanya lebih d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 90 Perburuan Mayat Bagian 2

    Jambang langsung keluar dari formasi, dia melesat menebaskan pedang memotong salah satu lengan mayat hidup untuk melepaskan Dirman.Sring! Cruat!Satu lengan mayat hidup terlepas terkena tebasan pedang Jambang membuat dekapan mahluk itu kepada Dirman terlepas.Dirman yang memiliki kesempatan langsung melompat melepaskan diri, dia memegangi pundaknya yang terasa amat sakit serta mengucurkan banyak darah hitam.Selesai menyelamatkan Dirman, Jambang kembali melakukan tebasan mencabik tubuh mayat hidup menggunakan pedang, memotongnya menjadi beberapa bagian. Kemudian dia melesat ke arah Dirman untuk memastikan keadaan.Tika yang sudah melepaskan mantera rantai energi segera melesat menyelamatkan anak perempuan yang tergeletak tidak jauh dari mayat hidup.Sementara Kamala melesat menghampiri tubuh Nuri untuk menenangkannya.Buki, Apud, dan Bopeng menghampiri Jambang memeriksa keadaan Dirman.“Bagaimana?” tanya Buki.“Ini panas sekali, aku tidak bisa meredakan rasa sakitnya meski menggunaka

  • Sang Kusir   Bab 89 Perburuan Mayat

    Arga bersama Ariani dan Jantaka berjalan mengendap-ngendap mengikuti kelompok cenayang yang sedang berburu hantu.Dari arah jalannya, mereka seperti akan menuju pusat dusun karena di sanalah tempat paling banyak rumah penduduk.“Perasaanku sungguh tidak enak, sebaiknya kita kembali dan biarkan urusan mayat hidup ini kepada mereka sebagai ahlinya,” ungkap Jantaka dengan berbisik.“Sebagai pria dirimu memang penakut Taka,” sahut Ariani menanggapi.“Bu—bukan penakut Ariani, tetapi perbuatan mencampuri urusan orang lain itu sungguh tidak baik,” kilah Jantaka tidak terima.“Sudah ikuti saja mereka, tapi jika dirimu takut, kau boleh kembali sendiri kepenginapan,” ujar Arga sembari tersenyum licik.“A—apa kau bercanda? A—aku tidak takut, baik kita ikuti saja mereka,” Jantaka sedikit terbata.Pulang sendiri ke penginapan dari jarak sejauh itu sama saja dengan menyerahkan diri kepada mayat hidup, makanya Jantaka menolak dan memilih mengikuti Arga.“Hahaha, sudah kuduga. Sekarang diamlah dan pe

  • Sang Kusir   Bab 88 Cenayang

    Malam semakin larut di dusun Pandira, sementara Arga dan kedua temannya masih asik menikmati hidangan ayam bakar dan wedang jahe yang di sediakan oleh pihak penginapan.“Teror ini terjadi sekitar 2 minggu yang lalu tepat ketika di atas langit terjadi purnama merah,” jelas pria kurus yang belakangan dikenal dengan nama Sapto.Dia adalah pemilik penginapan sekaligus pelayan di sana karena sejak terjadi teror, semua pekerja penginapan mengundurkan diri karena takut.Sapto kerap bekerja bersama adiknya yang bernama Kuswan, sang adik berperan sebagai juru masak di penginapan ini.“2 minggu? Mengapa paman tidak melaporkannya ke pihak kerajaan?” tanya Jantaka.“Sudah pernah kami lakukan, tetapi tidak membuahkan hasil. Kepala dusun yang berangkat ke sana bahkan pulang tinggal nama entah kenapa,” jawab Sapto.“Berapa banyak penduduk yang tewas karena wabah ini paman?” tanya Arga.“Pertama hanya satu orang yang terkena penyakit aneh tuan, kemudian tanpa di duga saat malam hari dia berubah menja

  • Sang Kusir   Bab 87 Teror Mayat

    Hari telah memasuki malam, tiga kuda beriringan melewati beberapa kediaman penduduk yang terlihat sangat sepi seperti tidak ada orang di dalamnya.Mereka terus berjalan dengan mata tajam memperhatikan segala arah.“Apa mungkin pemukiman ini sudah ditinggalkan?” tanya Ariani.“Sepertinya memang benar ini karena wabah itu,” ungkap Jantaka.“Kita tidak bisa menyimpulkan jika belum memeriksa seluruh dusun, bukankah ini baru luarnya saja,” ujar Arga.“Tuan muda benar, kita harus memeriksanya lebih dalam,” kata Ariani.“Perasaanku sudah mulai buruk,” ungkap Jantaka.Entah mengapa dari sejak memasuki dusun Pandira, bulu kuduk Jantaka terus berdiri seperti sedang diperhatikan oleh sesuatu.“Hahaha, itu karena dirimu penakut Jantaka,” Arga tertawa kecil.Para kuda berjalan pelan karena pandangan mereka terbatas oleh pekatnya malam.“Jangan asal bicara kau Arga, mana mungkin ada pendekar yang penakut,” sergah Jantaka tidak terima.“Tentu saja ada, dia sedang berkuda di depanku,” ujar Arga mengg

  • Sang Kusir   Bab 86 Mengembara

    Selain kabur karena tidak ingin dijodohkan, kepergian Arga dari kerajaan Lingga Hiang juga dikarenakan mengemban sebuah misi.Arga mendapatkan tugas dari eyang gurunya untuk mencari keberadaan kitab terakhir dari jurus pedang elang.Menurut kabar, kitab itu berada pada seorang pendekar yang bernama Ki Elang Sakti.Dahulu Arga berkelana mencari pendekar tersebut, namun langkahnya terhenti karena harus melenyapkan tokoh golongan hitam yang meresahkan dari perguruan gunung Tengkorak.Dan sekarang Arga kembali berkelana untuk mencari keberadaan Ki Elang Sakti, dia melakukan pengembaraan bersama Jantaka dan Ariani karena kedua temannya itu memaksa ingin mengikutinya.“Kemana tujuanmu kali ini teman?” tanya Jantaka.Ke-tiganya saat ini tengah berkuda menyusuri jalanan kecil yang menuju dusun Pandira. Sebuah perkampungan yang jauh dari wilayah kota raja.“Entahlah, aku sedang mencari keberadaan seseorang yang katanya berada di wilayah Bunisora,” jawab Arga.“Apa kau tahu siapa nama orang itu

  • Sang Kusir   Bab 85 Pembuktian bagian 2

    Bagaimana tidak, karena dibalik tumpukan rumput muncul gundukan emas yang sangat banyak, bahkan 95 % isi gerobak besar itu semuanya adalah emas di mana tumpukan rumput di atas gerobak hanya digunakan untuk menutupinya saja.Saat gerobak Liwa gulingkan, gundukan koin emas langsung berserakan memenuhi lantai istana membuat semua orang membelalakan mata selebar mungkin menyaksikannya.“Apa itu sudah membuktikan ucapanku?” tanya Arga.Tetapi tidak ada satupun orang yang menjawab karena mereka masih mematung terkejut dengan apa yang ada di hadapannya.“Jumlah emas yang kalian saksikan di sana kurang lebih sekitar 5 juta koin, setengah dari apa yang baginda ratu minta. Koin tersebut setara dengan kekayaan 10 kerajaan Bunisora. Sisanya bisa aku berikan setelah kalian menyetujui lamaranku, hanya saja sekarang aku memiliki syarat, apa kalian bisa menerima syaratku?” ungkap Arga lantang.Kini tubuh permaisuri dan putri Ardani benar-benar lemas, mereka langsung terduduk tidak berdaya di kursinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status