Home / Romansa / Sang Mempelai Pengganti / Atmosfer Kelam di Menara Andarsono

Share

Atmosfer Kelam di Menara Andarsono

Author: Ummu_Fikri
last update Last Updated: 2025-12-24 13:45:29

​Menara Andarsono Group biasanya menjadi simbol kemajuan dan profesionalisme, namun hari ini, gedung kaca itu terasa seperti bunker yang menunggu ledakan. Sejak pukul delapan pagi, kabar sudah berhembus di antara para staf melalui pesan singkat rahasia. Pesan itu berbunyi Lari jika melihat bayangan Tuan Bayu.

​Bayu tiba dengan Lamborghini hitamnya yang menderu, membelah lobi gedung dengan langkah yang begitu berat sehingga setiap hentakan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian. Wajahnya tidak seperti biasanya, wajah itu kini terbakar oleh amarah yang siap meledak kapan saja. Matanya yang tajam tampak seperti pedang yang siap menebas siapa pun yang berani bernapas terlalu keras di hadapannya.

​Sang CEO baru saja dipaksa melihat istrinya, satu-satunya wanita yang ia klaim sebagai miliknya di hadapan dunia dibawa pergi oleh Axel Steel, pria entah berantah yang datang tanpa diundang dan mengaku lebih tahu banyak hal tentang istrinya.

​Begitu tiba di lantai pali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Mempelai Pengganti    Tuan Bayu Andarsono

    Bayu Andarsono, jika di kantor ia adalah sosok pemimpin sempurna, dengan wajah tampan paripurna, walaupun minus di sifatnya yang dingin, penuh intimidasi dan gila kerja. Maka, ketika pulang ke rumah, ia hanyalah seorang suami yang ditinggal pergi sang istri. Setiap malam, lelaki itu selalu konsisten untuk meninggalkan kantor pada pukul 11.30. Sebab ketika pulang ke apartemennya yang mewah, ia akan disuguhi kesunyian dan sepi tak bertepi. Apartemen mewahnya, tidak bisa sedikitpun memberikan obat bagi hatinya yang dipaksa patah. Bunga indah di hatinya yang sudah tumbuh, kini layu dan perlahan mati kekeringan. Bayu dan kesepian adalah dua hal kontras, yang dipaksa menerima satu sama lain Apartemen itu masih sama. Sama seperti yang pernah ditinggalkan Andin. Tata letak dari benda sekecil apapun, tidak diubah olehnya. ​Di kamar mandi, ia masih membiarkan sikat gigi Andin berada di tempatnya, meski bulu-bulunya sudah mulai kaku. ​Di lemari, ia secara rutin mencuci dan menyetrik

  • Sang Mempelai Pengganti    Awan Hitam Di Langit Jakarta

    Kembali ke Jakarta. Tempat dimana CEO Bayu Andarsono meratapi kesepiannya. Bagi sang CEO, waktu berhenti sejak empat tahun lalu. Malam itu, sama seperti malam-malam sunyi sebelumnya. Bayu masih berada di kantornya. Duduk termenung, sendirian di ruangannya yang sepi dan ttemaram Di bawahnya pemandangan kota yang berkilauan, seolah memgejek kesendiriannya. Matanya yang dulu setajam elang, kini tampak redup dan kosong, seperti lubang hitam yang menghisap cahaya di sekelilingnya. ​Dalam empat tahun terakhir, Bayu telah bertransformasi menjadi sosok yang oleh para karyawannya dijuluki sebagai "The Robotic CEO". Hal ini bukan tanpa alasan. Bayu yang sekarang memiliki intensitas kekuatan yang tidak manusiawi. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan untuk tidak tidur beberapa hari, jarang makan dan ekspresi wajahnya lebih dingin dan kaku. Persis seperti robot dalam wujud manusia. Lelaki itu juga tetaplah menjadi CEO hebat,

  • Sang Mempelai Pengganti    Cahaya di Langit Zurich

    ​Empat tahun adalah waktu yang cukup bagi salju Alpen untuk menyapu bersih sisa-sisa trauma di wajah Andin. Di koridor Universitätsspital Zürich (Rumah Sakit Universitas Zurich) yang serba putih dan modern, langkah kaki Andin terdengar ringan dan penuh kepastian. Tidak ada lagi langkah ragu atau bahu yang merosot karena beban pikiran.​"Guten Morgen, Dr. Andin!" sapa seorang perawat senior dengan senyum lebar.​"Guten Morgen, Heidi! Apakah pasien di kamar 402 sudah menghabiskan sarapannya?" balas Andin dengan bahasa Jerman yang kini terdengar natural dan mengalir.​Andin telah bertransformasi sepenuhnya. Jas putih dokter yang ia kenakan bukan sekadar seragam, melainkan simbol kemenangan atas masa lalunya. Sosoknya sekarang bukan lagi gadis yang hanya bisa menangis dan meraung konyol di dalam kamarnya. Kini, ia adalah salah satu spesialis imunologi muda yang paling dihormati di departemennya. Kecantikannya yang khas Asia, dipadu dengan keramahan yang t

  • Sang Mempelai Pengganti    Good bye, Jakarta

    ​Pagi itu, suasana di kamar rawat rumah sakit terasa jauh lebih ringan namun dipenuhi kabut emosional yang tak kasat mata. Di atas meja nakas, surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh Bayu masih tergeletak rapi di dalam kotak kayu. Andin menatap kertas itu cukup lama, jemarinya mengusap tanda tangan Bayu yang tegas namun tampak sedikit goyah di ujungnya.​Axel berdiri di dekat jendela, menatap arlojinya. "Pesawat kita berangkat dua jam lagi, Din. Mobil juga sudah siap di bawah. Kamu benar-benar yakin akan melakukan ini?"​Andin menarik napas panjang, lalu perlahan menutup kotak kayu itu tanpa menyentuh pena sedikitpun. Ia tidak menandatangani surat cerai itu.​"Aku yakin, X. Aku harus keluar dari tempat ini, dari semua tekanan dan dari semua hal-hal yang membuatku sesak napas," ujar Andin dengan suara yang kini lebih mantap. "Tapi, aku tidak akan menandatangani surat cerai ini. Setidaknya, belum sekarang."​Axel mengernyit, sedikit terkejut namun mencoba mengerti. "Kenapa? Sete

  • Sang Mempelai Pengganti    Burung kecil dan kebebasan

    ​Setelah diusir secara halus oleh Andin dari ruang rawat, Bayu tidak pulang ke apartemen. Ia menghabiskan malam di dalam mobilnya di parkiran rumah sakit, menatap jendela lantai lima tempat Andin berbaring. Kegelapan malam itu seolah menjadi cermin bagi jiwanya. Kata-kata Axel Steel terus terngiang seperti belati yang menguliti harga dirinya. ​Bayu menyadari bahwa permintaan maaf saja tidak akan cukup. Selama enam tahun ini, ia telah memenjarakan Andin dalam nama besar Andarsono. Juga merenggut kebebasan, identitas, dan hampir merenggut nyawa istrinya sendiri. .... ​Pagi harinya, saat Andin baru saja selesai sarapan (kali ini diperiksa tiga kali oleh tim gizi rumah sakit dan Axel). Pintu kamarnya diketuk pelan. Setelah dipersilahkan, orang itu masuk. Ternyata ia adalah suami Andin sendiri. ​ Laki-laki itu kembali lagi ke rumah sakit. Kali ini, ia masuk dengan langkah pelan seolah baru saja kehilangan salah satu dari dua ginjalnya. Wajah tampannya masih lebam sana sini, belum

  • Sang Mempelai Pengganti    Istirahat yang Dibutuhkan

    Aroma antiseptik yang tajam adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Andin saat ia kembali membuka matanya. Langit-langit putih rumah sakit tampak berputar sejenak sebelum pandangannya fokus pada botol infus yang menetes pelan. Dadanya masih terasa sesak, sisa dari reaksi alergi yang hampir merenggut nyawanya. Pelan namun pasti, Andin mencoba menggerakkan tangannya, dan saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam ruangan itu. Di sisi kiri ranjangnya, Ada Axel yang menutup mata dengan posisi duduk. Wajah sahabatnya itu babak belur, sudut bibirnya pecah dan tulang pipinya membiru. Di sisi kanan, agak menjauh di sudut ruangan yang gelap, Bayu berdiri mematung. Wajahnya tidak kalah hancur. Lebam hampir seluruh bagian wajahnya dan kemejanya berantakan. ​"Din? Kamu sudah sadar?" suara Axel terdengar parau, penuh kekhawatiran yang tulus. Ia segera berdiri, menggenggam tangan Andin yang bebas dari infus. ​Andin menatap Axel, lalu beralih menatap Bayu. Keheningan di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status