LOGINKehangatan canggung di apartemen Andin tidak bertahan lama. Baru saja Bayu menyesap tehnya untuk kedua kali, bel pintu kembali berbunyi dengan nada yang lebih mendesak. Andin sudah tahu siapa itu. Axel biasanya mampir setiap sore setelah mendengar kabar tentang perampokan semalam. Begitu pintu terbuka, Axel melangkah masuk dengan membawa sekantung makanan dan wajah penuh kecemasan. "Andin, aku sudah bicara dengan polisi setempat dan" Langkah Axel terhenti total. Matanya terpaku pada sosok pria yang duduk di sofa ruang tamu Andin. Pria yang seharusnya berada belasan ribu kilometer jauhnya di Jakarta. "Bayu?" suara Axel meninggi, penuh dengan nada tidak percaya dan permusuhan yang instan. Bayu berdiri perlahan. Meski tampak lelah dan pucat, aura kepemimpinannya tidak hilang. Ia menatap Axel dengan tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat Axel semakin meradang. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Axel mendekat, meletakkan kantong makanannya di meja dengan kasar. "Andin b
Pagi di Jakarta belum benar-benar pecah ketika Bayu sudah berada di dalam mobilnya menuju bandara. Pesan singkat dari Andin semalam dan suara isak tangisnya yang hancur telah meruntuhkan seluruh pertahanan yang ia bangun selama empat tahun. Persetan dengan janji untuk tidak mengganggu, bagi Bayu, keselamatan Andin berada di atas segalanya. Ia tidak membawa banyak barang. Hanya sebuah koper kecil berisi beberapa potong pakaian dan dokumen penting. Di tangannya, ia memegang tiket first class tujuan Zurich yang ia pesan secara darurat dengan harga selangit. "Mas Bayu yakin mau nyusul Nyonya?" Bima Asisten Bayu bertanya saat mereka sudah sampai di terminal keberangkatan. "Mas ada jadwal rapat penting dengan dewan komisaris siang ini." Bayu menatap aspal bandara yang masih basah oleh embun. "Batalkan semua, Bim. Bilang pada mereka, aku sedang menyelamatkan satu-satunya aset paling berharga dalam hidupku. Jika mereka tidak setuju, mereka tahu di mana letak pintu keluar.".....
Zurich biasanya terasa seperti tempat paling aman di dunia bagi Andin. Namun, musim dingin kali ini terasa lebih menggigit, dan kegelapan datang lebih cepat dari biasanya. Setelah shift malam yang melelahkan di rumah sakit, Andin memutuskan untuk berjalan kaki menuju stasiun tram, melewati jalanan kecil yang biasanya tenang di dekat area universitas.Langkah kakinya yang beradu dengan salju tipis tiba-tiba terasa aneh. Ada firasat yang tidak enak, semacam insting yang sudah lama tertidur sejak ia meninggalkan Jakarta.Saat Andin melewati sebuah lorong yang lampunya sedang berkedip redup, tiga orang pria dengan pakaian musim dingin yang lusuh tiba-tiba muncul dari kegelapan. Mereka bukan warga lokal. Dari tatapannya yang liar dan botol minuman keras di tangan mereka, Andin tahu dia sedang dalam masalah."Schöne Frau... punya uang untuk kami?" tanya salah satu pria dengan bahasa Jerman yang kasar dan tidak jelas.Andin mencoba tetap tenang. "Maaf, aku tidak punya uang tunai," jaw
Lampu ruang kerja di lantai teratas Menara Andarsono biasanya tetap menyala hingga pukul tiga pagi, namun malam ini berbeda. Pukul sepuluh malam, Bayu sudah mematikan komputernya. Di atas mejanya, layar ponsel masih menampilkan pesan singkat dari Andin yang ia baca berulang-ulang hingga hapal setiap hurufnya. "...Jangan lupa jaga kesehatanmu, Mas. Kamu terlihat terlalu kurus..." Kalimat itu bukan sekadar perhatian bagi Bayu, tetapi seperti sebuah perintah. Dan bagi seorang Bayu Andarsono, jika Andin yang memintanya, maka itu adalah hukum tertinggi dan tidak dapat diganggu gugat. .... Pagi harinya, Rama tertegun saat memasuki ruang makan apartemen Bayu. Biasanya, ia hanya menemukan secangkir kopi hitam pekat yang sudah dingin dan tumpukan dokumen bisnis. Namun pagi ini, Bayu duduk di hadapan piring berisi omelet, roti gandum, dan segelas susu segar. "Rama, panggilkan koki pribadi keluarga kembali bekerja hari ini," ujar Bayu tanpa mengalihkan pandangan dari rotinya.
Suasana Bandara Zurich di pagi hari terasa begitu sunyi dan teratur, sangat kontras dengan hiruk-pikuk Jakarta yang baru saja ia tinggalkan. Andin melangkah keluar dari area kedatangan dengan jaket wol panjangnya, menghirup udara musim dingin yang tajam. Namun, ada yang berbeda. Udara yang biasanya terasa menyegarkan ini, tiba-tiba terasa sedikit hampa.Begitu ia mengaktifkan ponselnya, pesan dari Bayu langsung masuk."Sama-sama, Andin. Sukses untuk risetmu di sana. Kabari aku kalau sudah sampai. Aku akan selalu menunggumu."Andin menatap layar itu cukup lama. Ia tidak membalas, tapi juga tidak menghapusnya. Hanya memasukkan kembali ponsel itu ke saku jaketnya dan berjalan menuju pangkalan taksi....Sesampainya di apartemen lotengnya di Zürichberg, Andin meletakkan kopernya di dekat pintu, tidak langsung membongkar isinya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah danau.Zurich tetap indah. Pegunungan Alpen di kejauhan tetap megah tertutup salju. Tapi untuk pert
Malam di Jakarta selalu terasa lebih panjang bagi Bayu. Sejak makan malam di meja nomor sembilan itu, tidurnya semakin tidak nyenyak. Ia terus-menerus menatap ponselnya, berharap ada keajaiban, namun juga takut jika keajaiban itu benar-benar datang dalam bentuk kabar perpisahan yang permanen.Ia sedang duduk di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi lampu meja yang redup, saat ponsel di atas meja mahagoninya bergetar.Bzzz... Bzzz...Bayu meraih ponsel itu dengan gerakan lambat, menyangka itu hanyalah laporan rutin dari Rama atau email bisnis yang membosankan. Namun, saat matanya membaca nama pengirim di layar terkunci, napasnya seolah terhenti.Andin.Hanya satu kata, namun cukup untuk membuat tangan pria yang paling ditakuti di dunia bisnis Jakarta itu gemetar hebat. Dengan jempol yang kaku, ia membuka pesan itu."Aku sudah bertemu Ayah dan Ibu. Terima kasih untuk semuanya, Mas. Aku berangkat malam ini."Bayu membaca pesan itu sekali. Dua kali. Sepuluh kali."Terima k







