Beranda / Romansa / Sang Mempelai Pengganti / Kepulangan yang Sesungguhnya

Share

Kepulangan yang Sesungguhnya

Penulis: Ummu_Fikri
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-26 10:55:11

​Jakarta, satu tahun setelah musim dingin di Zurich.

​Udara pagi di Bandara Soekarno-Hatta masih terasa lembap dan hangat, namun bagi Andin, aroma ini sekarang terasa seperti pelukan rumah, bukan lagi seperti udara yang menyesakkan. Ia melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional dengan langkah yang tenang. Di tangan kirinya, ia membawa sebuah koper kecil, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah surat resmi pengunduran dirinya dari Rumah Sakit Universitas Zurich.

​Ia telah memenuh
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Mempelai Pengganti    Kepulangan yang Sesungguhnya

    ​Jakarta, satu tahun setelah musim dingin di Zurich. ​Udara pagi di Bandara Soekarno-Hatta masih terasa lembap dan hangat, namun bagi Andin, aroma ini sekarang terasa seperti pelukan rumah, bukan lagi seperti udara yang menyesakkan. Ia melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional dengan langkah yang tenang. Di tangan kirinya, ia membawa sebuah koper kecil, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah surat resmi pengunduran dirinya dari Rumah Sakit Universitas Zurich. ​Ia telah memenuhi janjinya. Satu tahun telah berlalu, dan selama itu pula, Bayu tidak pernah absen hadir dalam setiap celah hidupnya, lewat panggilan video setiap malam, kunjungan singkat setiap bulan, dan dukungan tanpa henti terhadap karirnya. ​ ​Andin tidak melihat kerumunan ajudan atau barisan mobil mewah hitam yang biasanya menandai kehadiran seorang Bayu Andarsono. Kali ini, di antara kerumunan penjemput, ia melihat seorang pria berdiri sendirian. ​Bayu tampak jauh lebih sehat. Bahunya kokoh, wajahnya

  • Sang Mempelai Pengganti    Garis Waktu Baru

    ​Udara pagi di Bandara Kloten Zurich terasa begitu bersih dan tajam. Bayu berdiri di depan loket check-in, mengenakan mantel panjang yang kini tampak pas di tubuhnya yang mulai terlihat lebih segar. Di sampingnya, Andin berdiri dengan tangan yang diselipkan ke dalam saku jaket, menatap lantai bandara yang mengkilap dengan perasaan yang sulit digambarkan.​Seminggu di Zurich telah mengubah segalanya. Tidak ada lagi ketakutan yang mencekam, yang ada hanyalah pemahaman baru yang masih terasa rapuh namun nyata.​​"Semua sudah siap, Mas?" tanya Andin, memecah keheningan di antara mereka.​Bayu mengangguk. Ia memeriksa paspor dan tiketnya. "Sudah. Rama sudah menungguku di Jakarta. Ada banyak hal yang harus aku bereskan, terutama program baru di yayasan yang sempat tertunda."​Andin tersenyum tipis. "Baguslah. Fokuslah pada kesehatanmu juga. Jangan sampai aku mendengar kabar kamu pingsan lagi karena lupa makan."​Bayu tertawa kecil, suara yang kini m

  • Sang Mempelai Pengganti    Kejujuran yang Telanjang

    ​Restoran kecil di pinggiran Danau Zurich itu dipenuhi aroma keju yang gurih dan uap hangat yang menempel di kaca-kaca jendela. Andin memilih tempat ini karena suasananya yang riuh rendah, jenis tempat yang tidak memungkinkan mereka untuk bertengkar hebat atau terjebak dalam keheningan yang terlalu dramatis. ​Bayu sudah duduk di sana, mengenakan sweter wol tebal, tanpa jas formalnya. Ia tampak seperti pria biasa, bukan lagi CEO yang ditakuti. Saat Andin duduk, Bayu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa lebih tulus di mata Andin. ​ ​Satu panci keramik berisi keju yang meleleh diletakkan di tengah meja. Pelayan membawakan potongan roti dan kentang kecil. Di Swiss, makan fondue adalah ritual kebersamaan. ​"Aku ingat dulu kamu pernah bilang sangat ingin mencoba ini," kata Bayu pelan, sambil menusukkan sepotong roti ke garpu panjangnya. "Dulu aku malah membawamu ke restoran berbintang yang kaku karena aku pikir itu yang terbaik untukmu." ​Andin mengaduk keju di depa

  • Sang Mempelai Pengganti    Ruang di Antara Kita

    ​Pagi di Zurich menyambut dengan langit yang lebih cerah, meski sisa salju semalam masih menumpuk di tepian jalan. Sesuai janjinya, Bayu tidak muncul di depan pintu apartemen Andin tanpa izin. Ia menunggu di sebuah kafe kecil di seberang jalan, tempat di mana ia bisa memantau pintu keluar gedung tanpa terlihat seperti penguntit. ​Baru setelah Andin mengirim pesan, "Aku mau berangkat ke rumah sakit," Bayu muncul dengan dua cup kopi panas di tangannya. ​ ​"Boleh aku mengantarmu sampai stasiun tram?" tanya Bayu dengan nada yang sangat sopan, hampir seperti seorang pelamar yang sedang mencoba mengambil hati pada kencan pertama. ​Andin menatap kopi di tangan Bayu, lalu mengangguk kecil. "Boleh. Terima kasih kopinya." ​Mereka berjalan bersisian di atas trotoar yang licin. Tidak ada ajudan yang mengikuti, tidak ada mobil mewah yang mengawal dengan sirine. Hanya dua orang yang berjalan kaki di tengah dinginnya Zurich. Bayu sengaja

  • Sang Mempelai Pengganti    Dua Sisi Pelindung

    ​Kehangatan canggung di apartemen Andin tidak bertahan lama. Baru saja Bayu menyesap tehnya untuk kedua kali, bel pintu kembali berbunyi dengan nada yang lebih mendesak. Andin sudah tahu siapa itu. Axel biasanya mampir setiap sore setelah mendengar kabar tentang perampokan semalam. ​Begitu pintu terbuka, Axel melangkah masuk dengan membawa sekantung makanan dan wajah penuh kecemasan. "Andin, aku sudah bicara dengan polisi setempat dan" ​Langkah Axel terhenti total. Matanya terpaku pada sosok pria yang duduk di sofa ruang tamu Andin. Pria yang seharusnya berada belasan ribu kilometer jauhnya di Jakarta. ​"Bayu?" suara Axel meninggi, penuh dengan nada tidak percaya dan permusuhan yang instan. ​ ​Bayu berdiri perlahan. Meski tampak lelah dan pucat, aura kepemimpinannya tidak hilang. Ia menatap Axel dengan tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat Axel semakin meradang. ​"Apa yang kamu lakukan di sini?" Axel mendekat, meletakkan kantong makanannya di meja dengan kasar. "Andin b

  • Sang Mempelai Pengganti    Penerbangan Tak Berencana

    ​Pagi di Jakarta belum benar-benar pecah ketika Bayu sudah berada di dalam mobilnya menuju bandara. Pesan singkat dari Andin semalam dan suara isak tangisnya yang hancur telah meruntuhkan seluruh pertahanan yang ia bangun selama empat tahun. Persetan dengan janji untuk tidak mengganggu, bagi Bayu, keselamatan Andin berada di atas segalanya. ​Ia tidak membawa banyak barang. Hanya sebuah koper kecil berisi beberapa potong pakaian dan dokumen penting. Di tangannya, ia memegang tiket first class tujuan Zurich yang ia pesan secara darurat dengan harga selangit. ​"Mas Bayu yakin mau nyusul Nyonya?" Bima Asisten Bayu bertanya saat mereka sudah sampai di terminal keberangkatan. "Mas ada jadwal rapat penting dengan dewan komisaris siang ini." ​Bayu menatap aspal bandara yang masih basah oleh embun. "Batalkan semua, Bim. Bilang pada mereka, aku sedang menyelamatkan satu-satunya aset paling berharga dalam hidupku. Jika mereka tidak setuju, mereka tahu di mana letak pintu keluar.".....

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status