LOGINMalam di Jakarta selalu terasa lebih panjang bagi Bayu. Sejak makan malam di meja nomor sembilan itu, tidurnya semakin tidak nyenyak. Ia terus-menerus menatap ponselnya, berharap ada keajaiban, namun juga takut jika keajaiban itu benar-benar datang dalam bentuk kabar perpisahan yang permanen.Ia sedang duduk di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi lampu meja yang redup, saat ponsel di atas meja mahagoninya bergetar.Bzzz... Bzzz...Bayu meraih ponsel itu dengan gerakan lambat, menyangka itu hanyalah laporan rutin dari Rama atau email bisnis yang membosankan. Namun, saat matanya membaca nama pengirim di layar terkunci, napasnya seolah terhenti.Andin.Hanya satu kata, namun cukup untuk membuat tangan pria yang paling ditakuti di dunia bisnis Jakarta itu gemetar hebat. Dengan jempol yang kaku, ia membuka pesan itu."Aku sudah bertemu Ayah dan Ibu. Terima kasih untuk semuanya, Mas. Aku berangkat malam ini."Bayu membaca pesan itu sekali. Dua kali. Sepuluh kali."Terima k
Sebelum pesawat membawanya kembali ke langit Eropa, ada satu lubang di hati Andin yang harus ia tambal. Pagi-pagi sekali, tanpa memberi tahu siapa pun termasuk Axel, Andin menumpang kereta menuju kampung halamannya. Pemandangan hijau sawah yang mulai menguning di balik jendela kereta membuatnya termenung. Empat tahun ia memutus komunikasi. Bukan karena benci pada orang tuanya, tapi karena rasa malu dan trauma yang begitu besar. Ia tidak ingin orang tuanya melihatnya hancur, dan ia tidak ingin mereka ikut terseret dalam pusaran konflik dengan keluarga Andarsono. Langkah kakinya terasa berat saat ia memasuki gang menuju rumah masa kecilnya. Rumah itu masih sama, dengan pagar kayu yang catnya sedikit mengelupas dan pohon mangga yang semakin rimbun di halaman depan. "Ibu..." bisik Andin saat melihat sosok wanita paruh baya sedang menyiram tanaman. Wanita itu menoleh. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi dast
Restoran itu masih sama. Pencahayaannya temaram, musik klasiknya mengalun rendah, dan aroma kayu cendana yang mahal masih memenuhi ruangan. Namun bagi Andin, tempat ini sekarang terasa seperti museum masa lalu.Dia datang tepat waktu, tidak ingin memberi kesan bahwa dia sengaja membuat Bayu menunggu, tapi juga tidak ingin terlihat terlalu bersemangat. Dengan gaun simpel berwarna biru dongker dan rambut yang dibiarkan tergerai, Andin melangkah menuju meja di sudut ruangan, meja nomor sembilan.Bayu sudah di sana. Dia berdiri seketika saat melihat Andin mendekat. Tidak ada lagi perintah kasar agar dia duduk, hanya sebuah tarikan kursi yang sopan dan anggukan kecil yang penuh rasa hormat."Terima kasih sudah datang, Andin," kata Bayu pelan. Suaranya terdengar lebih stabil dibanding tadi siang di JCC, tapi tangannya yang memegang buku menu masih sedikit gemetar.Pelayan datang dan menyajikan air putih. Suasana di antara mereka begitu su
Hari yang selama empat tahun ini dihindari akhirnya tiba. Ruang utama Jakarta Convention Center sudah dipenuhi oleh ratusan tenaga medis, akademisi, dan awak media. Andin berdiri di balik tirai panggung, merapikan jas dokternya yang berwarna putih gading. Tangannya dingin, tapi dia berusaha mengatur napas dengan teknik yang sering dia ajarkan pada pasiennya yang mengalami serangan panik. "Dokter Andin, tiga menit lagi," bisik seorang panitia dengan headset di telinga. Andin mengangguk. Dia melirik ke arah kursi barisan terdepan melalui celah tirai. Di sana, di tengah-tengah jajaran pejabat kesehatan, duduk seorang pria yang wajahnya telah menghantui mimpinya. Bayu. Dari kejauhan, pria itu tampak persis seperti dalam mimpinya di Zurich. Dia terlihat lebih kurus dibandingkan empat tahun lalu. Jas hitamnya tampak sedikit lebih longgar di bagian bahu, dan guratan di wajahnya menceritakan sebuah kelelahan yang tidak bisa ditutupi oleh kekuasaan. Bayu tidak berbincang deng
Setelah belasan jam berada di dalam kabin pesawat yang kedap suara dan dingin, bunyi denting tanda sabuk pengaman dilepaskan terasa seperti sebuah gong pembuka. Andin menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang mulai tidak beraturan sejak pesawat mulai menurunkan ketinggian di atas langit Jawa yang berkabut.Begitu pintu pesawat terbuka dan dia melangkah keluar menuju garbarata, Jakarta langsung menyambutnya dengan cara yang sangat akrab, suhu udara yang lembap dan panas yang seolah langsung menempel di kulit."Selamat datang kembali, Dokter Andin," gumamnya pelan pada diri sendiri, sambil menyesuaikan letak tas kulit di bahunya....Andin sengaja memilih penerbangan komersial biasa, bukan jet pribadi milik Axel atau fasilitas jemputan dari panitia. Dia ingin merasakan menjadi orang biasa lagi di kota ini. Saat melewati bagian imigrasi, petugas hanya menatap paspornya, lalu menatap wajahnya sekilas sebelum memberikan stempel
Seminggu setelah mimpi yang mengganggu itu, Andin berusaha keras mengembalikan ritme hidupnya. Dia sengaja mengambil jam jaga tambahan di rumah sakit, berharap kelelahan fisik bisa membungkam suara-suara di kepalanya. Tapi, takdir sepertinya punya cara sendiri untuk menariknya kembali. Siang itu, Andin baru saja selesai melakukan visitasi pasien ketika Heidi, perawat senior, menghampirinya di ruang staf. "Dokter Andin, ada paket untukmu di meja depan. Sepertinya dari luar negeri, dokumen resmi," kata Heidi sambil memberikan senyum hangatnya yang biasa. Andin mengernyit. Paket dari luar negeri biasanya hanya jurnal medis atau korespondensi riset dari universitas mitra. Dia berjalan menuju meja resepsionis, mengambil amplop tebal berwarna putih tulang dengan segel emas yang tampak sangat formal. Begitu dia membuka amplop itu di dalam ruangannya, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di sana tertera tulisan"World Medical Summit – Jakarta: Inovasi dalam Imunologi Klinis.







