LOGINDevan tidak menjawab pertanyaan Amanda. Dia hanya mengendikkan bahunya saja. Devan sudah malas membahas wanita yang sudah membuat harinya menjadi ruwet. "Ya sudah sebaiknya kita tinggal saja. Wanita itu terlalu sulit diatur." Amanda yang tidak suka dengan Chellia merasa senang tidak melihat wanita manja yang suka bikin masalah saja. Semua anggota pun makan dengan lahapnya. Mereka sama sekali tidak ada yang ingat pada Chellia kecuali Sehan. Sehan merasa kasihan pada Chellia. Ia pun berinisiatif meinta pelayan restoran untuk mengirim makanan ke kamar Chellia. "Hei, kamu kemarilah!" panggil Sehan pada salah satu pelayan restoran. "Ya saya, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?" tanya pemuda itu pada Sehan. "Katakan apa ada pelayanan antar makanan ke kamar?" tanya Sehan langsung pada inti pertanyaan. Pemuda itu tampak diam sejenak. Mengingat apakah ada peraturan yang mengizinkan mengantar makanan ke kamar tamu hotel. "Biasanya para tamu akan memesan langsung ke restoran
Sehan tertawa mengejek Chellia. Chellia menoleh dan menetap tajam ke arah Sehan. Kebenciannya pada lelaki itu semakin bertambah. "Sialan! Berani sekali dia menertawai ku!" geram Chellia kesal dengan sikap Sehan yang sudah mengejeknya. Melihat wajah Chellia kesal dan malu membuat Sehan merasa senang dan puas. Ada kepuasan tersendiri saat bisa membuat Chellia marah. Chellia tidak menanggapi Sehan. Ia memilih masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Takut jika tidak terkunci maka akan ada orang iseng seperti Sehan yang akan amsuk ke dalam kamar. "Huft! Memang benar keputusanku sebelumnya untuk tidak ikut acara menyebalkan ini!"Chellia meletakkan tas kopernya begitu saja dan menghempaskan bobot tubuhnya ke atas kasur. Ia menatap ke arah langit-langit kamar itu. Tidak berapa lama kemudian, wanita itu pun tertidur. Sementara itu Sehan duduk di pantri sembari menikmati wyne yang disediakan secara percuma sebagai bagian dari fasilitas kamar. Sehan menyandarkan tubu
Chellia menelan kasar ludahnya mendengar kamarnya berada di dekat kamar tante Felicia. "Apa? Kalau gitu gak jadi saja deh kak.Aku gak mau kalau kamarku berada di samping mereka. Aku cari kamar yang lain!" sahut Chellia tidak mau jika dapat kamar yang berdampingan dengan kamar tante Felicia. "Maaf, Nona. Semua kamar sudah penuh. kamar anda sebelumnya sudah disewa. Tinggal satu ini, ingat ini week end. Pastinya banyak yang ingin menyewa kamar!" jawab Devan. "Masa sih, aku gak percaya!" tolak Chellia tidak percaya kalau kamar di hotel itu sudah penuh semua. Ia pun menepis tubuh Devan dari depannya dan bertanya langsunng pada resepsionis. "Nona katakan apa benar semua kamar sudah habis disewa?" tanya Chellia dengan wajah serius. Ia masih belum percaya apa yang dikatakan oleh Devan. Dalam alam pikiran Chellia, bisa saja si Devan berbohong karena tidak ingin mengurusnya. Devan menghela napas kasar, membiarkan Chellia mengurusnya sendiri. "Silakan yang lain jika suda
Sehan tersenyum kecut mendengar alasan tante Felicia. Ia tidak bisa memaksa tante Felicia untuk menrima dirinya. Sehan sangat paham akan karakter tante Felicia yang keras kepala dan tidak suka dipaksa. tante Felicia sering kabur-kaburan dari suaminya hanya karena ia ingin merasakan kebebasan. "Baiklah, Tante. Meskipun sebenarnya Kenz sangat khawatir pada keselamatan tante Felicia, Kenz tetap harus menghormati keputusan tante Felicia yang tidak ingin Kenz temani. Nanti jika tante membutuhkan teman, atau penjaga tante hubungi Kenz saja. Kenz akan stand bye 24 jam untuk tante. Kapanpun tante panggil, Kenz akan datang menemui tante," jawab Sehan lemah lembut. Mendengar perkataan Sehan yang penuh perhatian dan juga lemah lembut, membuat tante Felicia berpikir ulang untuk menolak tawaran Sehan. "Mmm, apa kau benar-benar khawatir akan keselamatanku, Kenz?" tanya tante Felicia sedikit melunak pada Sehan. Sehan tersenyum. Mangsa sudah terjebak dengan kata-kata manisnya y
Sehan menggeram kesal. Sungguh sangat sulit untuk mendekati wanita satu itu. Apa yang ia lakukan selalu salah di depan wanita itu. Dengan menghela napas dalam-dalam, Sehan menjatuhkan bobot tubuhnya di bangku yang sesua dengan nomor duduk di tiketnya. "Dasar wanita angkuh, ntar tidak ada yang mau dekat denganmu baru tahu rasa!" umpat Sehan kesal. ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesal. Tanpa sengaja tangannya menyenggol wanita yang duduk di sebelahnya. "Maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja," ucap Sehan meminta maaf pada wanita yang menutup mukanya dengan topi bundar khas pantai. "Kenzi?" pekik wanita itu terliha sedikit terkejut tapi berakhir bahagia. Sehan yang merasa namanya juga Kenzi pun terkejut. "Tante Felicia? Tante di sini? Kenapa bisa tante naik pesawat komersil begini?Bukannya tante biasa naik pesawat pribadi atau helikopter?" tanya Sehan menghadapkan badannya ke arah wanita cantik itu. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Sehan menggosok kedua matanya. Ia mun
Tiga hari kemudian. Sehan berdiri di lobby bandara dengan out fit khas ke sebuah pantai. Sambil menarik koper, Sehan dan rombonganl berkumpul di lobby bandara. "Semua peserta sudahkah berkumpul?" tanya si ketua panitia pameran. Dia dan timnya juga mengikuti liburan ke Maldives. "Sepertinya belum, masih ada satu peserta ayang belum datang," jawab Sehan. Semua orang tahu yang dimaksud oleh Sehan. Peserta yang belum datang hanyalah Chellia. Satu-satunya orang yang berani menukar tiket dengan uang. "Kita tunggu sepuluh menit lagi. Jika dia tidak datang ya sudah, anggap saja emang dia tidak mau liburan," tegas si ketua panitia. "Kak Devan, mungkin kak Chellia banyak kerja, jadi dia tidak ikut. Saat penerimaan hadiah dia kemarin dia bilang begitu bukan?" sahut pemilik dari Y&L Boutiq yang merupakan pemenang ketiga. "Benar, Nona Gea. Tapi tetap kita tunggu 10 menit lagi. Jika nona Chellia tidak datang maka kita berangkat," tandas Devan si ketua panitia. Lelaki