INICIAR SESIÓNSuara dari tim pengintai segera terdengar. “Rumah besar terlihat normal, patroli masih berjalan. Lampu utama sebagian mati, tetapi ada aktivitas penjagaan rutin.”Darmajaya menyipitkan mata tipis, kondisi ini baginya terlalu tenang. Keluarga Mahesa seharusnya sudah menerima tekanan besar sejak insiden Bar Mahkota. Namun rumah itu justru tampak seperti malam biasa. Instingnya berkata ada sesuatu yang terasa aneh. Tetapi keraguan itu hanya muncul sesaat sebelum akhirnya menghilang.Apa pun yang disembunyikan Keluarga Mahesa, semuanya akan hancur di bawah hujan artileri.Darmajaya mengangkat tangan perlahan. “Siapkan tembakan pertama. Atur parameter, peluru ledak tinggi, muatan nomor satu, dan tembakan cepat.”Suara Darmajaya terdengar dingin dan stabil di tengah gelapnya lembah.Para penembak mortir langsung bergerak cepat.“Siap!”Sudut laras segera disesuaikan. Jemari mereka bergerak terlatih di atas alat bidik dan pengatur elevasi tanpa kesalahan sedikit pun.Beberapa detik kemudian—
“Mereka memang berniat begitu,” Arka berhenti di depan meja besar ruang medis. “Karena itu kita tidak bisa bertahan di sini.”Adhyaksa langsung mengangkat kepala. “Maksudmu… mundur?”“Evakuasi sementara,” nada suara Arka tetap stabil. “Kalau kalian tetap bertahan di rumah ini, hasilnya hanya satu.”Ia menatap langsung ke mata Adhyaksa. “Musnah.”Keheningan langsung memenuhi ruangan.Adhyaksa mengepalkan tinju begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih. Pandangannya bergeser ke luar jendela, menuju halaman rumah besar yang sudah dijaga keluarganya selama puluhan tahun. Ada kemarahan, juga penolakan. Namun lebih dari itu, ada kesadaran pahit bahwa Arka benar.“Rumah ini bisa dibangun kembali,” lanjut Arka tenang. “Tapi kalau semua orang mati di sini, Keluarga Mahesa benar-benar selesai.”Tatapan Adhyaksa perlahan mengeras. Beberapa detik kemudian, ia akhirnya membuka mulut. “Brama!”Pintu ruang medis langsung terbuka.“Kakak?”“Panggil semua anggota inti!” Suara Adhyaksa kini berubah
Sementara itu, jauh di dalam kediaman Keluarga Mahesa, suasana malam terasa jauh lebih sunyi namun menyesakkan. Lampu sorot kini menyapu area hutan di luar tembok utama tanpa henti. Langkah patroli terdengar lebih sering. Beberapa pria bersenjata berjaga di titik tinggi dengan wajah tegang dan senjata siap tembak.Di dalam ruang medis, Arka berdiri di dekat jendela sambil memandangi gelapnya malam. Pantulan cahaya lampu luar membias samar di wajahnya yang tetap tenang.Akari masih belum sadar di ranjang sebelah setelah efek Inti Racun Hasrat Merah kembali menyerang tubuhnya. Serena juga masih tertidur di bawah pengawasan ketat Wiraputra dan Vanessa.Namun perhatian Arka sudah tidak lagi sepenuhnya tertuju pada racun itu. Pikirannya terus menyusun potongan-potongan informasi dari kejadian di Bar Mahkota. Levino yang tewas, Keluarga Montara bergerak, dan Sindikat Taring Ular mulai muncul lebih agresif. Lalu, pihak di belakang Rama akhirnya turun tangan.“Tuan Arka,” Adhyaksa masuk ke ru
Rama berdiri di depan gerbang kamp sambil mengamati tiga truk besar tanpa pelat nomor yang baru saja berhenti di tengah lapangan. Sorot matanya terus bergerak mengikuti para pria bersenjata yang turun satu per satu dari kendaraan. Mereka berbeda, langkah mereka rapi dan minim suara. Gerak tubuhnya efisien tanpa banyak bicara, senjata di tangan mereka juga jauh lebih modern dibanding perlengkapan anak buah Sindikat Taring Ular.Aura mereka bukan aura preman bersenjata. Melainkan pasukan pembunuh profesional.Senyum lebar langsung muncul di wajah Rama, meski di balik ekspresi itu dadanya terus berdegup keras karena terkejut sekaligus bersemangat. Keluarga Nirvana benar-benar bergerak, dan mereka bergerak sangat cepat.Seorang pria paruh baya berkacamata hitam melangkah turun dari kendaraan paling depan. Jas gelap yang dikenakannya tetap rapi meski baru menempuh perjalanan jauh. Wajahnya biasa saja, tetapi tekanan dingin dari sorot matanya membuat beberapa anak buah Rama refleks menunduk
Ia terkekeh pelan. “Dengan begitu, Arwah Levino bisa tenang. Dan kita juga menghilangkan ancaman masa depan sekaligus.”Dua keuntungan dalam satu langkah.Namun Wiranata masih belum selesai. Ia tahu Lorenzo bukan tipe pria yang bisa diyakinkan hanya dengan kata-kata. Karena itu, ia langsung melempar kartu terakhirnya.“Dan soal Rama…” Nada suaranya berubah santai. “Orang itu memang terlalu gegabah. Dia sudah membuat kekacauan besar dan menyinggung Keluarga Montara.”“Kalau nanti urusan Keluarga Mahesa selesai, dan amarahmu masih belum reda…” Ia berhenti sepersekian detik. “Aku sendiri yang akan mengirim kepalanya ke kediaman Keluarga Montara.”Beberapa petinggi keluarga di ruang dewan mulai saling melirik. Mereka memang tidak bisa mendengar isi percakapan dari ujung telepon. Tetapi dari perubahan ekspresi Lorenzo dan beberapa potongan kata yang terdengar samar, semua orang langsung mengerti. Keluarga Nirvana ikut campurm dan mereka sedang menawarkan kerja sama.Lorenzo tetap diam cuku
Sorot mata Lorenzo berubah lebih tajam. “Oh? Aku akan mendengarkan.”“Sejauh yang kutahu,” lanjut Wiranata tenang, “Rama dan anak buahnya memang bentrok dengan pasukan Levino di dekat Bar Mahkota. Namun konflik itu muncul karena kedua pihak sama-sama mencoba mengendalikan situasi.”“Dengan kata lain, bentrokan itu terjadi karena kekacauan di lapangan,” Ia berhenti sepersekian detik sebelum melanjutkan dengan nada lebih dalam. “Dan orang yang benar-benar membunuh Levino… Bukan Rama.”Ruang dewan langsung terasa semakin sunyi.Wiranata kembali berbicara perlahan. “Berdasarkan bukti di lokasi dan informasi yang berhasil kami kumpulkan, peluru itu berasal dari seorang sniper misterius di menara. Senjatanya adalah Ragnar AX.”Kilatan dingin muncul di mata Lorenzo, tetapi wajahnya tetap tidak berubah.“Sniper itu sangat mungkin berkaitan dengan Keluarga Mahesa. Atau setidaknya, seseorang yang mereka sewa dengan harga sangat mahal,” nada suara Wiranata tetap stabil. “Tujuannya sederhana, memb
“Jika seseorang menyentuhmu, itu sama saja menyentuhku. Lagipula, aku yang membayarmu!”“Nasibmu bukan sesuatu yang bisa diputuskan orang lain. Hanya aku yang berhak menentukan.”Kalimat itu menggantung di udara.Nada posesif yang jelas membuat keduanya terdiam sejenak.Sekilas rasa tidak nyaman me
Arka mengangguk, ia bahkan tidak lagi menoleh ke arah Mireya. Langkahnya langsung menuju ruang perawatan.Mireya memperhatikan punggung pria itu, ia menggigit bibirnya kesal. Separuh tujuannya tercapai, namun anehnya ia tidak merasakan kepuasan sedikit pun. Akhirnya ia berbalik dan pergi.***Di da
Bibir merahnya hampir menyentuh bibir Arka.Namun detik berikutnya, Arka sudah melepaskan tangannya.Ia mundur satu langkah. “Jangan bermain api.”Mireya tertawa pelan. “Aku memang suka bermain api.”Tatapannya kemudian berubah lebih tajam. “Yang membuatku penasaran,” katanya sambil menatap Arka lu
Pegangan Arka pada kemudi langsung mengencang, bahkan buku-buku jarinya memutih.Reza Dirgantara lagi.Bahkan dalam kondisi seperti ini, orang pertama yang ia panggil tetap pria itu. Rasa jengkel yang sulit dijelaskan muncul di dalam dirinya. Tatapannya semakin dingin. Ia adalah Arka Mahendra, buka







