LOGINSesaat kemudian., seluruh retakan di permukaan Celah Mahesa memancarkan cahaya merah secara bersamaan. Lalu bencana itu pun datang, yang terjadi bukan sekadar ledakan, melainkan gunung itu runtuh.BANG! BANG! BANG!Seluruh batuan bagian atas Celah Mahesa pecah dan ambruk bersamaan, diiringi rentetan dentuman yang mengguncang bumi.Bongkahan-bongkahan batu raksasa beterbangan ke segala arah, dinding gunung terbelah, dan bangunan-bangunan di desa utama tercabik seperti mainan rapuh sebelum lenyap ditelan lautan debu. Gelombang kejut menyapu seluruh kawasan, merobohkan pepohonan, menghancurkan bebatuan, dan melumat apa pun yang berada di jalurnya.Tak ada yang mampu bertahan, semuanya lenyap dalam sekejap.Sebuah bongkahan batu sebesar truk meluncur lurus ke arah Morgan. Bahkan tekanan angin yang dibawanya sudah cukup untuk membuat tubuhnya nyaris tercabik sebelum hantaman itu benar-benar tiba.Di ambang kehilangan kesadaran, hanya satu pemandangan yang tertanam kuat di dalam ingatannya.
Perintah itu langsung dijalankan tanpa ragu. Para tentara bayaran mendobrak setiap pintu, memeriksa seluruh ruangan, bahkan menggeledah ruang penyimpanan dan gudang kecil, tetapi yang mereka temukan hanyalah bercak darah, perlengkapan yang tertinggal, serta jejak evakuasi yang tergesa-gesa.Tak ada satu pun anggota Keluarga Mahesa, tidak ada korban yang masih hidup, bahkan tidak ditemukan mayat baru selain mereka yang gugur di garis pertahanan terakhir. Seluruh desa utama terlihat seperti telah ditinggalkan beberapa saat sebelum mereka tiba."Lapor! Seluruh kompleks bangunan telah diamankan. Tidak ditemukan musuh.""Lapor! Dataran tinggi sudah berada dalam kendali. Tidak ada aktivitas penembak jitu.""Lapor! Perimeter aman."Laporan demi laporan terus memenuhi saluran komunikasi.Tak lama berselang, Morgan akhirnya memasuki desa utama dengan dikawal beberapa anggota inti Organisasi Blackwing. Langkahnya tenang saat melewati puing-puing pertahanan yang telah hancur, sementara embusan a
Dor!Tepat ketika ujung bayonet hendak menembus dadanya, sebuah peluru melesat lebih dahulu.Pria yang mengacungkan bayonet itu langsung terhuyung dengan lubang menganga di antara kedua alisnya sebelum ambruk tanpa suara.Garda membeku sesaat lalu menoleh ke arah asal tembakan. Di tikungan jalur pegunungan, Arga memimpin lima orang keluar dari balik hutan. Mereka tidak datang dari arah garis pertahanan, melainkan menyusup melalui sisi sayap layaknya belati tajam yang membelah formasi Keluarga Montara.Dor-dor-dor!Senapan otomatis di tangan Arga memuntahkan rentetan peluru yang seketika merobohkan lima hingga enam musuh. Lima anggota di belakangnya juga merupakan petarung pilihan dengan koordinasi yang sangat rapi. Setiap tembakan dilepaskan dengan presisi tinggi hingga barisan Keluarga Montara langsung kacau."Bala bantuan! Bala bantuan datang!"Semangat para pengawal Keluarga Mahesa yang sempat runtuh kembali menyala.Arga tidak menghentikan langkahnya. Begitu mencapai posisi Garda,
"Arka," ujar Adhyaksa dengan suara pelan, "Serangan dari sisi barat ternyata benar seperti perkiraanmu.""Hmm…" Arka tetap fokus memeriksa Titan-13 di tangannya tanpa mengangkat kepala."Organisasi Blackwing diisi oleh tentara bayaran profesional. Mereka tidak mungkin hanya menyerang dari satu arah. Tebing memang jalur yang paling sulit ditembus, tetapi justru karena itulah pertahanannya sering dianggap aman. Jadi, aku menyiapkan sedikit 'kejutan' di sana."Ujung jarinya menyusuri laras senapan dengan tenang sebelum kembali melanjutkan, "Aku hanya tidak menyangka kemampuan mereka setinggi itu. Dari dua puluh orang yang memanjat, masih ada satu yang berhasil naik ke bibir tebing meski dihujani tembakan penembak jitu.""Orang itu jelas bukan prajurit biasa." Adhyaksa mengernyit. "Aku harus mengirim bala bantuan ke sana.""Tidak perlu." Arka akhirnya mengangkat wajahnya. Sorot matanya sedingin es. "Niko sudah bergerak."Kalimat itu baru saja selesai diucapkan ketika suara ledakan menggem
Dor!Peluru menghantam titik yang baru saja ditinggalkannya hingga serpihan batu beterbangan. Ia segera mengangkat senapan dan membidik balik, tetapi penembak lawan sudah lebih dulu menghilang ke balik celah batu, hanya menyisakan posisi kosong yang mustahil ditembak.Orang keempat adalah tentara bayaran yang bahunya tertembus peluru.Alih-alih berusaha mencapai bibir tebing, ia memanfaatkan momentum saat tubuhnya melonjak ke atas untuk melempar granat yang pin pengamannya telah lebih dulu dicabut ke arah celah tempat rentetan tembakan berasal."MATILAH!"DUAAR!Granat itu meledak tepat di dalam celah batu.Gelombang kejutnya menghancurkan dinding batu di sekitarnya hingga serpihan dan debu beterbangan ke segala arah. Di tengah ledakan, terdengar jeritan singkat yang segera lenyap bersama runtuhnya bebatuan.Posisi penembak itu akhirnya membisu.Kruger terbaring di permukaan tebing sambil mengatur napas yang memburu. Tatapannya segera menyapu sekeliling dan membuat wajahnya mengeras.
Kruger meraih sebuah pipa pelontar dari sabuk perlengkapannya. Senjata sederhana itu menggunakan anak panah bius khusus yang ujungnya dilapisi neurotoksin berkekuatan tinggi, cukup untuk melumpuhkan seekor kerbau hanya dalam hitungan detik.Ia menarik napas perlahan.Whoooss!Anak panah melesat nyaris tanpa suara.Sekitar dua puluh meter di atas sana, seorang penjaga Keluarga Mahesa yang sedang mengawasi tepi tebing hanya sempat menggoyangkan bahunya sebelum tubuhnya kehilangan tenaga dan roboh tak bergerak. Bahkan ia tidak sempat menyadari apa yang telah mengenainya."Bersih," bisik Kruger. "Lanjut naik."Tim Talon kembali bergerak. Jarak mereka kini tinggal sekitar lima meter dari bibir tebing.Dor!Suara tembakan mendadak memecah kesunyian.Peluru itu bukan berasal dari atas tebing, melainkan dari sisi kanan sekitar tiga puluh meter jauhnya, ketika sebuah laras senapan muncul dari balik celah bebatuan yang sebelumnya sama sekali tidak mencurigakan.Peluru pertama menghantam dada sa
Mereka seperti masuk ke dunia lain. Di atas, suara ledakan masih menggila. Tanah bergetar, dinding lorong berderak. Debu dan pecahan batu terus berjatuhan.Seolah seluruh dunia akan runtuh menimpa mereka.“Cepat! Turun lagi!” suara Garuda Hitam menggema di lorong sempit, dengan tegang ia menopang A
Di dalam ruangan itu, kontras yang menjijikkan terjadi.Riko, sosok pria bertubuh besar dengan wajah merah karena alkohol, terbaring di ranjang besar. Dua wanita muda melingkar di sekitarnya dengan tawa rendah. Ditambah aroma alkohol dan napas yang berat.Kasur berderit pelan.Ia tenggelam dalam ke
Keesokan malam.Di sebuah rumah aman yang disiapkan Garuda Hitam di pinggiran Kota Mahatara.Arka dan Garuda Hitam menunggu dengan tenang.Beberapa saat kemudian—Duk! Duk! Duk!Langkah kaki berat terdengar dari luar.Pintu terbuka.Sesosok tubuh besar berdiri di ambang pintu. Pria itu hampir menut
Arka menstabilkan mobilnya kembali, suaranya tetap tenang saat berkata. “Sepertinya sayembara itu sudah membuat banyak orang gelisah.”Mireya menepuk dadanya perlahan, rasa takut sempat muncul di matanya. Namun segera digantikan kilatan dingin. “Pengaruh Keluarga Wijaya benar-benar besar.”Ia mende







