Share

Bab 257

Author: Skyy
last update publish date: 2026-05-19 23:06:22

Mereka hanya mengandalkan cahaya bulan tipis yang sesekali menembus sela pepohonan, dipandu oleh beberapa penjaga tua yang hafal jalur pegunungan. Langkah mereka cepat namun tetap senyap. Suasana tegang menyelimuti seluruh rombongan.

Di kejauhan, suara ledakan mortir masih samar terdengar dari arah rumah utama yang kini sudah berubah menjadi lautan api. Suasana di jalur pelarian itu terasa berat dan mencekam.

Dari kejauhan, kobaran api di kediaman Keluarga Mahesa masih membumbung tinggi, memant
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
ABY Bray
mana lanjutnya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 350

    Arka berjalan paling depan. Ia telah berganti ke seragam tempur hitam yang bersih, meskipun sebagian perban masih terlihat menyembul dari balik kerah di bahu kirinya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi semburat merah di matanya menunjukkan bahwa malam panjang itu belum benar-benar berlalu.Di belakangnya, Taring Baja mendorong sebuah kursi roda. Duduk di atasnya adalah Taring Serigala.Pria yang dulu selalu tampil garang dan penuh tenaga itu kini terlihat jauh lebih kurus. Wajahnya pucat, kedua matanya sedikit cekung, sementara lengan kiri bajunya menggantung kosong tertiup angin.Kaki kanannya dibalut gips tebal dan ditopang sandaran khusus. Namun anehnya, senyum khas yang sedikit nakal dan liar itu masih ada. Seolah ia sedang menikmati lelucon yang tidak dipahami orang lain.Keempat orang itu berjalan mendekat hingga berhenti di depan Adhyaksa.Arka sempat menatap ke arah jalan pegunungan yang telah menelan iring-iringan kendaraan tadi. Ia terdiam beberapa saat. Kemudian pa

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 349

    Kaivan berdiri di samping kendaraan paling depan dengan punggung menghadap aula utama. Sorot matanya tertuju ke kejauhan, tetapi pikirannya jelas tidak berada di sana.Di belakangnya, dua penjaga Keluarga Mahesa mendorong sebuah tandu dengan sangat hati-hati.Musang terbaring di atasnya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Hampir seluruh tubuh pria itu tertutup balutan perban, hanya sebagian wajahnya yang masih terlihat. Di samping tandu, cairan infus darurat terus menetes perlahan ke dalam pembuluh darahnya, sementara dadanya masih naik turun tipis sebagai tanda bahwa ia tetap bertahan hidup.Tidak jauh dari sana, sebuah tubuh lain terbaring diam di bawah kain putih bersih. Warna putih itu tampak begitu mencolok di tengah reruntuhan yang dipenuhi debu dan darah. Siluet tubuh di baliknya terlihat jelas, tetapi tidak menunjukkan sedikit pun tanda kehidupan.Siluman Hutan.Adhyaksa berdiri di dekat kedua tandu tersebut. Dalam semalam, pria yang telah kehilangan adik kandungnya itu tampak

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 348

    Algojo langsung mengangkat kepala. "Levino?""Bukan." Penjagal menggeleng pelan. "Gavin Montara.""Dia sedang menempuh pendidikan di Varanta dan baru menerima kabar kematian ayahnya kemarin. Saat ini dia sedang dalam perjalanan kembali."Mata Algojo langsung berbinar. "Maksudmu kita akan memanfaatkannya?"Sudut bibir Penjagal sedikit terangkat di balik topeng mengerikan itu. Ia tidak menjawab secara langsung. Sebagai gantinya, ia berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan. Tangan bersarung hitamnya menggenggam gagang pintu."Satu hal yang perlu kau ingat." Suaranya terdengar datar. "Jangan pernah meragukan keputusan yang datang dari atas. Mereka melihat lebih jauh daripada kita dan memahami permainan ini jauh lebih dalam."Krek...Pintu perlahan terbuka.Cahaya redup dari koridor menerobos masuk dan membentuk siluet tubuh Penjagal yang kurus memanjang di lantai.Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar. Suara langkahnya semakin menjauh hingga akhirnya lenyap sepenuhnya.Kini hanya A

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 347

    Mendengar itu, Algojo hanya bisa terdiam.Penjagal perlahan berdiri lalu berjalan menuju jendela. Walaupun tirainya tertutup rapat, ia tetap menghadap ke arah sana. Cahaya lampu yang redup memanjangkan bayangannya di lantai, membuat sosoknya terlihat semakin menyeramkan."Algojo, kau melupakan satu hal penting." Suaranya lembut, tetapi tajam seperti jarum."Semua anggota Unit Alpha tahu bahwa Arka adalah sang Taring Alpha. Menurutmu, apa yang akan terjadi ketika mereka mengetahui pemimpin mereka berada di Zona Bayangan, identitasnya terbongkar, lalu dikepung oleh empat keluarga besar sekaligus?""Mereka tetap tentara aktif." Algojo segera membalas. "Mereka terikat disiplin dan rantai komando. Tidak mungkin mereka—""Kalau begitu jawab satu pertanyaanku."Penjagal berbalik, tatapannya menembus lubang mata topeng dan langsung mengunci Algojo. "Menurutmu kondisi Komando Militer Zona Selatan saat ini stabil? Damai? Terkendali?"Tawa dingin keluar dari balik topengnya."Heh...""Justru seb

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 346

    Sebuah kota kecil di wilayah perbatasan, siang hari.Jalanan di kawasan itu tampak seperti tempat yang terlupakan oleh waktu. Rumput liar tumbuh di sela-sela batu trotoar yang retak. Sementara deretan bangunan kayu tua di kedua sisi jalan berdiri miring dengan kondisi memprihatinkan.Sebagian besar lapisan dinding sudah mengelupas, memperlihatkan papan-papan kayu tua yang menghitam akibat usia dan cuaca. Di udara bercampur aroma dupa murah, acar sayuran, serta bau kandang hewan yang samar tetapi terus menempel.Di sudut jalan berdiri sebuah rumah makan bernama Kedai Perbatasan. Papan namanya bergoyang pelan tertiup angin, membuat rantai besi penyangganya mengeluarkan bunyi kretek yang terdengar aneh di tengah suasana siang yang lengang. Pintu kayunya terbuka setengah, sementara lapisan cat yang telah lama mengelupas membuat permukaannya tampak penuh bekas luka.Di lantai dua, tepat di ruangan pribadi paling ujung, seluruh tirai ditutup rapat.Satu-satunya sumber cahaya berasal dari la

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 345

    "Ini Zona Bayangan."Adhyaksa perlahan berdiri lalu menatap Arka, tidak ada air mata di wajahnya. Yang tersisa hanyalah ketenangan yang nyaris mati rasa, tetapi jauh di dalam matanya masih menyala bara yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama."Di tempat seperti ini, orang mati setiap hari. Kemarin giliran orang lain, hari ini adikku, dan besok mungkin aku atau bahkan kamu."Pandangannya kemudian beralih ke para anggota Keluarga Mahesa yang masih tersisa di dalam aula utama. Jumlah mereka bahkan tidak mencapai lima belas orang. Sebagian besar dipenuhi luka, sementara sorot mata mereka memuat campuran kesedihan, ketakutan, kelelahan, dan kebingungan karena berhasil lolos dari bencana yang hampir memusnahkan mereka.Namun beberapa detik kemudian, suara Adhyaksa tiba-tiba mengeras. "Tapi kita masih hidup."Kalimat itu tidak diucapkan keras, tetapi seluruh aula seketika terdiam."Selama kita masih hidup, kita harus terus bergerak maju. Kita harus menyelesaikan apa yang belum sel

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 53

    Di luar pabrik.Bram menyeringai lebar saat melihat sinyal “siap” dari anak buahnya. Preman-preman biasa sudah ditarik mundur.Matanya menatap ke dalam pabrik, tempat bayangan Arka bergerak samar di antara reruntuhan.Permainan kucing dan tikus… akhirnya mencapai puncaknya.“Ravian…” gumamnya lirih

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 49

    Di dalam ruangan itu, kontras yang menjijikkan terjadi.Riko, sosok pria bertubuh besar dengan wajah merah karena alkohol, terbaring di ranjang besar. Dua wanita muda melingkar di sekitarnya dengan tawa rendah. Ditambah aroma alkohol dan napas yang berat.Kasur berderit pelan.Ia tenggelam dalam ke

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 48

    Keesokan malam.Di sebuah rumah aman yang disiapkan Garuda Hitam di pinggiran Kota Mahatara.Arka dan Garuda Hitam menunggu dengan tenang.Beberapa saat kemudian—Duk! Duk! Duk!Langkah kaki berat terdengar dari luar.Pintu terbuka.Sesosok tubuh besar berdiri di ambang pintu. Pria itu hampir menut

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 44

    Arka menstabilkan mobilnya kembali, suaranya tetap tenang saat berkata. “Sepertinya sayembara itu sudah membuat banyak orang gelisah.”Mireya menepuk dadanya perlahan, rasa takut sempat muncul di matanya. Namun segera digantikan kilatan dingin. “Pengaruh Keluarga Wijaya benar-benar besar.”Ia mende

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status