分享

Bab 6

作者: Fana
Saat kembali tersadar, Anindya mendapati dirinya sudah terbaring di ranjangnya sendiri. Luka di dadanya telah dibalut, tetapi setiap kali bernapas, rasa sakit yang hebat masih menusuk dadanya.

Rahayu berlutut di sisi ranjang. Matanya bengkak karena menangis. “Nona ... akhirnya Nona sadar juga.”

Anindya membuka mulut. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. “Dia di mana?”

Air mata Rahayu mengalir semakin deras.

“Jenderal lagi menemani Nona Kirana. Nona Kirana sangat ketakutan. Sejak tadi malam, Jenderal terus menjaganya. Jenderal bahkan memasak sup penenang sendiri untuknya dan menyuapinya sedikit demi ....”

“Sudah cukup.” Anindya memotong ucapannya.

Rahayu menutup mulut dengan tangannya, air matanya pun terus mengalir tanpa suara.

“Nona, kenapa malang sekali nasib Nona ....”

Anindya menatap langit-langit di atas ranjang. Air matanya bahkan sudah tak bisa lagi mengalir.

Selama beberapa hari berikutnya, Sakha sama sekali tidak datang menjenguknya.

Anindya merawat lukanya seorang diri. Saat dadanya terasa sangat sakit, dia hanya berbaring diam. Begitu kondisinya sedikit membaik, dia kembali membereskan barang-barangnya.

Pada malam ketujuh, Sakha tiba-tiba datang.

Anindya sedang bersandar di kepala ranjang sambil membaca buku. Begitu mendengar suara langkah kaki, dia mengangkat kepalanya dan melihat Sakha mendorong pintu lalu masuk.

Sakha baru minum arak. Aroma alkohol samar tercium dari tubuhnya, matanya tampak sedikit sayu di bawah cahaya lilin yang remang-remang.

Dia tidak bertanya apakah luka Anindya sudah membaik. Dia juga tidak menjelaskan mengapa hari itu dirinya menjadikan Anindya sebagai tameng untuk melindungi Kirana dari injakan kuda. Bahkan, dia tidak bertanya bagaimana Anindya bertahan melewati hari-hari terakhir ini.

Sakha hanya berdiri di depan ranjang, menatap Anindya dari atas, lalu mulai membuka ikat pinggangnya.

Jari-jari Anindya seketika menegang. Halaman buku yang dipegangnya sampai lecek karena diremas begitu erat.

“Jenderal,” ucapnya, “selama beberapa hari ini, Anda bahkan tidak pernah datang menjenguk hamba. Sekarang Anda datang kemari, apa cuma untuk melakukan hal ini?”

Gerakan Sakha terhenti sejenak, lalu dia terkekeh sinis.

“Kalau bukan itu, buat apa lagi?” Dia melemparkan ikat pinggangnya ke samping, lalu membungkuk dan menopang tubuh dengan satu tangan di sisi Anindya, membuat wanita itu terkurung dalam bayang-bayangnya. “Kenapa? Sudah berhari-hari aku tidak menyentuhmu, apa kau jadi tidak menginginkannya lagi? Kalau tidak salah ingat, dulu kau ‘kan sangat liar.”

Hati Anindya seperti baru saja ditikam dengan kejam.

“Apa Jenderal harus pakai kata-kata sekasar ini untuk menghina hamba?” Anindya menatapnya. Matanya terasa perih dan kering, tetapi tak setetes air mata pun bisa keluar. “Hamba itu istrimu. Seorang istri seharusnya disayangi dan dihargai.”

Sakha tidak menjawab. Dia hanya tertawa dingin.

Tawa itu tidak mengandung ejekan, penghinaan, atau bahkan emosi sedikit pun.

Namun, Anindya memahami maksudnya. Sakha sedang memberitahunya bahwa dia bukanlah istri yang diinginkannya. Sejak awal, dia memang tidak pernah menginginkan Anindya sebagai istrinya.

Sakha kembali membungkuk, lalu menempelkan bibirnya ke leher Anindya dengan sikap yang sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menolak.

Tepat pada saat itu, pintu tiba-tiba terbuka.

Kirana berdiri di ambang pintu. Tatapannya beralih dari pakaian Sakha yang terbuka di bagian depan hingga ikat pinggang yang tergeletak di lantai. Perlahan, matanya pun memerah.

“Ma, maaf ... aku sudah ganggu kalian.” Dia menundukkan kepala. Suaranya tercekat oleh tangis sebelum berbalik dan hendak pergi.

Sakha segera menegakkan tubuh, lalu menyusulnya dengan langkah cepat. Dia meraih pergelangan tangan Kirana, dan nada suaranya seketika melembut.

“Kamu tidak ganggu.”

“Kirana, ada apa?”

Kirana menunduk, suaranya terdengar lirih. “Malam ini ada pesta rakyat di kota. Aku pikir ... kalau kalian tidak sibuk, bisakah kalian menemaniku kesana?”

“Tidak sibuk.” Sakha menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Aku akan menemanimu.”

Dia menoleh ke arah Anindya. Nadanya kembali berubah menjadi perintah yang tak bisa dibantah. “Kau juga ikut.”

Sakha membawa Anindya ke pesta rakyat.

Sepanjang jalan, banyak lentera-lentera menerangi jalanan, sementara suara riuh orang-orang memenuhi sekitar. Sakha terus berada di sisi Kirana, melindunginya dari desakan kerumunan, membelikannya gulali, bahkan memegangi lentera untuknya agar dia bisa memanjatkan harapan.

Sementara itu, Anindya seolah tak kasatmata. Dia berjalan mengikuti mereka dari belakang, menyaksikan keduanya melangkah berdampingan di tengah gemerlap cahaya lentera.

“Jenderal, aku mau lentera bentuk kelinci itu!” Kirana menunjuk sebuah lentera yang tergantung tinggi. Matanya melengkung karena senyum lebarnya.

“Tunggu di sini.”

Sakha menyelinap menembus kerumunan. Hanya dalam beberapa gerakan, dia sudah memanjat rangka tempat lentera-lentera itu dipasang.

Anindya dan Kirana menunggu di luar kerumunan.

Tiba-tiba, Kirana memiringkan kepala dan menatap Anindya. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. “Kakak, kamu tahu kenapa dia begitu menuruti semua perkataanku?”

“Karena aku pernah bilang bahwa aku suka melihatnya melakukan apa pun demi diriku tanpa memedulikan apa pun. Makanya, dia benar-benar rela melakukan segalanya untukku. Bahkan kalau harus mengorbankan nyawanya.”

“Ya, aku tahu.” Suara Anindya terdengar sangat tenang.

“Baguslah kalau kamu tahu,” Kirana tersenyum tipis. “Karena itu, kamu seharusnya tidak berada di sini. Kamu sudah merebut sesuatu yang bukan milikmu. Jadi, kamu harus menanggung akibatnya.”

Anindya menatapnya, baru hendak menjawab ketika tiba-tiba terdengar jeritan terkejut dari belakangnya.

Dia segera menoleh dan melihat Kirana terjungkal ke belakang, melewati pagar jembatan, lalu jatuh ke dalam air danau yang dingin.

“Kirana!”

Sakha melompat turun dari rangka lentera, lalu bergegas ke tepi danau. Dalam beberapa langkah saja, dia sudah meraih Kirana dan mengangkatnya keluar dari air.

Tubuh Kirana basah kuyup. Dia bertumpu di tepi danau sambil terbatuk-batuk. Tak lama kemudian, tangisnya pecah. Dia meringkuk dalam pelukan Sakha, menggigil hebat.

“Sakha ... maafkan aku. Tadi Kakak kesal karena aku ganggu kalian saat sedang bermesraan, makanya dia mendorongku. Aku, aku tidak bermaksud membuatnya marah.”

“Anindya!”

Sakha mendongak tajam. Matanya yang biasanya dipenuhi amarah kini memerah dengan urat-urat yang mengerikan. Tatapannya tertuju pada Anindya yang berdiri di tepi danau.

“Dasar perempuan berhati keji!” bentaknya. Suaranya sedingin pisau berlapis es. “Apa salah Kirana terhadapmu? Sekalipun dia mengganggu kita berdua, kau tetap tidak boleh mencelakainya dengan cara sekeji ini!”

“Aku tidak melakukannya!” Tubuh Anindya terasa dingin. Dia berusaha menjelaskan, “Dia sendiri yang lompat ke sana. Aku sama sekali tidak ....”

“Masih berani bantah?!” Sakha tertawa sinis karena amarahnya yang meluap. Rasa jijik di matanya sama sekali tidak disembunyikan. “Kalau kau memang perempuan murahan seperti itu, akan kubuat keinginanmu terkabul!”

Dia mengibaskan tangan dengan keras, lalu membentak, “Pengawal! Tanggalkan pakaian perempuan ini, lalu lempar dia ke sarang pengemis di depan sana! Biar dia rasakan sendiri bagaimana rasanya dikerumuni dan dipandangi orang-orang seperti binatang!”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 18

    Sakha berdiri di luar pintu, mendengarkan tangisan Anindya dari dalam. Suaranya terdengar begitu lirih, seperti tidak ingin Sakha mendengarnya.Sakha menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tubuh berlumuran darah. Lalu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Darah terus mengalir dari luka-lukanya, membasahi pakaiannya, tetapi dia tidak merasakan sakit sedikit pun.Dia teringat perkataan Galuh, “Kalau orangnya sudah pergi, menyesal pun sudah terlambat.”Saat itu, dia tidak memercayainya. Sekarang, dia percaya. Namun, semuanya sudah terlambat. Segalanya sudah terlambat.Dia duduk di luar pintu sepanjang malam.Saat fajar menyingsing, pintu akhirnya terbuka.Anindya berdiri di ambang pintu dengan sebuah buntalan di tangan.“Aku akan pergi,” katanya tenang. Matanya sembap, tetapi dia tidak lagi menangis.“Ke mana?” Sakha langsung bangkit berdiri. Kedua kakinya mati rasa hingga dia terhuyung. Luka di bahu dan dadanya kembali terbuka, membuat darah mengalir deras. Namun, dia sama sekali

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 17

    Anindya menatap Sakha dan terdiam lama sekali.“Pergilah.” Dia menutup pintu. “Aku tidak akan memaafkanmu.”Sakha kembali berdiri di luar pintu selama sehari penuh.Hari ketiga, hari keempat, hingga hari kelima.Setiap hari, dia berdiri di luar pintu tanpa berbicara ataupun mengetuknya. Dia hanya berdiri di sana, begitu saja.Saat Anindya keluar untuk membeli bahan makanan, Sakha mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Dia tidak berani mendekat, hanya diam-diam menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan Anindya.Setiap kali Anindya menoleh ke arahnya, Sakha akan langsung berhenti dan berdiri diam di tempat, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Pada hari keenam, Anindya akhirnya tidak tahan lagi.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Dia berdiri di ambang pintu dengan mata memerah. “Apa gunanya kau melakukan semua ini?”“Tidak ada gunanya.” Sakha menatapnya dengan suara serak. “Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau kau tidak memaafkanku, hidup

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 16

    Pintu terbuka. Anindya berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian kain yang warnanya telah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya disanggul menggunakan tusuk konde kayu. Penampilannya begitu sederhana dan bersih, bagaikan sekuntum teratai putih.Saat melihat Sakha, ekspresinya sama sekali tidak berubah.Tidak terkejut, tidak marah, tidak pula takut. Hanya ketenangan.Seperti sedang menatap orang asing.“Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanyanya dengan suara datar.Sakha menatapnya. Tenggorokannya terasa tercekat, seakan ada segumpal kapas yang menyumbatnya hingga dia tidak mampu berkata apa-apa.“Aku ....” Dia akhirnya membuka mulut, tetapi suaranya sangat serak. “Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Anindya menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Senyumnya begitu tipis dan samar, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. “Pulang?”Dia mengulangi pertanyaannya, “Pulang ke mana?”“Kembali ke Kediaman Jenderal. Pulang ke rumah.” Sakha maju selangkah, suaranya t

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 15

    Seluruh tubuh Sakha bergetar hebat, rasanya sebilah pisau baru saja menghunjam dadanya.Dia teringat malam itu, saat Anindya berlutut di tanah sambil mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini.”Dia menjawab, “Kau adalah wanitaku. Mereka tidak berani menyentuhmu.”Lalu, dia melepaskan jari-jari Anindya satu per satu.Setelah itu, dia pergi.Dia telah meninggalkan seorang perempuan tak berdaya di tengah gerombolan pengemis. Dengan tangannya sendiri, dia telah mendorong Anindya ke neraka.Sakha tiba-tiba berbalik dan menghantam dinding dengan tinjunya. Batu bata pecah, buku-buku jarinya remuk dan berlumuran darah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.“Pengawal!” teriaknya hingga suaranya serak dan pecah. “Kurung Kirana di penjara bawah tanah! Sebarkan perintahku! Semua pengemis di seluruh ibu kota, tangkap dan kurung mereka semua, tanpa terkecuali! Biar dia rasakan bagaimana rasanya dilecehkan orang lain! Buat dia tak bisa tenang, mati

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 14

    Kusir tua itu gemetar ketakutan. “Je, jenderal? Perempuan yang mana?”“Perempuan yang keluar melalui gerbang selatan kota, yang tubuhnya penuh luka itu.”Mata kusir tua itu langsung berbinar. “Oh, maksud Jenderal nyonya itu, ya! Saya mengantarnya sampai ke dermaga penyeberangan. Dia pergi naik kapal.”“Naik kapal? Kapal tujuan mana?”“Ke arah selatan. Tepatnya ke mana, saya juga tidak tahu. Nyonya itu bilang, kapal mana pun tidak masalah, asalkan menuju ke daerah selatan.”Sakha melepaskan kusir tua itu, melompat naik ke kudanya, lalu melesat menuju dermaga penyeberangan.Dia memacu kudanya sekencang mungkin. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya dia tiba di dermaga. Orang-orang berlalu-lalang, sederetan kapal berlabuh di sana. Sakha bertanya kepada awak kapal satu per satu. Setelah menanyai lebih dari sepuluh kapal, akhirnya seseorang mengingat Anindya.“Maksudmu gadis yang tubuhnya penuh luka itu, ya? Cantik sekali orangnya, cuma wajahnya pucat sampai bikin orang tak

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 13

    Galuh menatapnya. Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya menyebutkan alamat tempat itu.Sakha langsung berbalik dan pergi. Langkahnya cepat dan tergesa-gesa, menyerupai binatang buas yang sedang mengamuk.Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai di sebelah timur kota, beberapa pengemis tengah minum arak mengelilingi api unggun.Begitu Sakha menerobos masuk, mereka bahkan belum sempat bereaksi ketika kilatan pedang menyambar di hadapan mereka.Saat orang pertama tumbang, yang lainnya langsung berteriak ketakutan dan berusaha melarikan diri.Sakha menebas mereka satu per satu. Setiap tebasannya begitu dalam, sementara darah memercik ke seluruh wajahnya.“Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!” Dia menjambak rambut pengemis terakhir dan membantingnya ke tanah. “Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!”Pengemis itu sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Seraya menangis dan meraung-raung, dia memohon ampun. “Ampuni hamba, Jenderal! Ampuni hamba. Ada seseorang yang beri kami uang ag

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status