LOGINPada hari ketiga setelah suamiku jatuh dari tebing, pelayan istana membawa jasad putraku kembali. Tampak sebuah tangan kecil dari balik kain putih. Di pergelangan tangannya masih terikat gelang panjang umur yang kurajut sendiri. Aku memeluknya sepanjang malam. Sejak saat itu, aku menjadi gila. Ayah takut aku menyeret Keluarga Saraja ke dalam masalah, sehingga dia menghapus namaku dari silsilah keluarga di hadapan semua orang. Dari balik tirai kereta, ibu menangis sembari berkata, "Keluarga Saraja tidak memiliki anak perempuan sepertimu." Aku dikurung di istana pengasingan selama enam tahun. Setiap harinya, aku membawa lampion ke Gunung Barat untuk mencari suami dan anakku. Pada musim semi tahun ketujuh, akhirnya Pangeran Pemangku Raja yang berkuasa itu dijatuhi hukuman mati. Randika Cuandra yang selama ini kukira telah meninggal, membuka pintu istana. Di belakangnya berdiri kedua orang tuaku serta seorang anak laki-laki. Mereka berkata bahwa suamiku belum meninggal, begitu pula anakku. Jasad mungil yang dibawa pulang bertahun-tahun lalu hanyalah jasad palsu. Pemutusan hubungan keluarga itu juga palsu. Bahkan, tatapan dingin dari semua orang selama ini juga hanya sandiwara belaka. Hanya kegilaanku yang benar-benar nyata. Karena Pangeran Pemangku Raja sangat curiga, hanya kegilaan seorang Putri Mahkota yang benar-benar kehilangan suami dan anaknya yang bisa meyakinkannya bahwa keturunan di Istana Timur telah benar-benar musnah. Kini, negara telah kembali damai dan Randika akan segera naik takhta. Kedua orang tuaku ingin membawaku pulang, sementara anak itu memanggilku "Ibunda" dengan mata memerah. Mereka mengira setelah kebenaran terungkap, aku akan merasa bahagia. Namun, saat aku menyentuh wajah hangat bocah itu, yang terlintas di benakku hanyalah tangan kecil yang kaku dan membeku di balik kain putih. Selama enam tahun, mereka menantikan kedamaian di seluruh negeri. Sementara itu, aku menjaga dua makam kosong dan perlahan-lahan menangisi diriku yang dulu. Pada hari penobatan, Randika memerintahkan seseorang mengantarkan pakaian kebesaran permaisuri untukku. Aku mengenakannya dengan tenang, lalu menenggak habis racun yang telah kusimpan selama enam tahun. Mereka telah menggunakan kegilaanku untuk mempertahankan kedamaian negeri ini. Kali ini, aku akan menggunakan kematianku sendiri untuk mengembalikan semuanya kepada rakyat.
View MoreSetelah aku meninggal, Randika tidak menganugerahiku gelar Permaisuri.Ayah mengundurkan diri dari jabatannya, lalu membawa Ibu meninggalkan ibu kota.Konon, setiap tahun Ibu selalu membuat sekotak kue bunga prem. Namun, di tengah perjalanan, dia kembali teringat bahwa aku sudah lama tidak menyukainya. Dia pun duduk di tepi jalan dan menangis. Setelah tangisnya reda, Ibu mengubur kue-kue itu satu per satu ke dalam tanah.Misha pergi ke perbatasan utara. Dia tidak pernah menikah lagi.Askara mengantarnya sendiri ke luar kota. Dia hanya memanggil Misha dengan panggilan "Bibi Misha". Sebutan "Ibu" tidak pernah lagi dia ucapkan kepada siapa pun.Randika menyelidiki semua orang yang mengetahui rahasia saat itu, tetapi tidak membunuh seorang pun.Sebab, akhirnya Randika memahami bahwa jika semua kesalahan dilimpahkan kepada para tabib istana, pelayan istana, dan keluarga Saraja, dialah yang akan kembali tampak paling bersih. Padahal, dialah yang merancang semua ini.Pintu istana pengasingan
Aku tidak kembali ke Istana Feniks. Pada malam terakhirku, aku memilih tinggal di istana pengasingan.Bibi Santi telah dibebaskan. Dia membawakan semangkuk bubur gurih sambil mengomel dan menyeka air matanya. "Mereka semua memang sakit! Permaisuri tidak suka makanan manis. Sudah berapa kali hamba mengatakannya, tetapi tidak seorang pun percaya."Aku menghabiskan setengah mangkuk bubur itu. Selama enam tahun ini, inilah satu-satunya makanan yang sesuai dengan seleraku.Ibu berlutut di sisi ranjang sambil terus menggosok kedua tanganku agar tetap hangat. "Tessa, Ibu akan membawamu pulang. Halaman tempatmu bermain saat kecil dulu masih dipertahankan. Ibu akan menyisir rambutmu dan membuatkan kue kering bunga prem untukmu."Aku memotong ucapannya dengan suara lirih, "Aku sudah tidak suka kue bunga prem lagi."Tangannya terhenti.Ayah berdiri di ambang pintu. Hanya dalam semalam, dia seolah-olah menua sepuluh tahun."Buku silsilah keluarga sudah dibakar. Mulai sekarang, bukan Keluarga Saraj
Dua makam di Gunung Barat telah diratakan. Pecahan batu nisan menumpuk di tepi jalan, seolah-olah menjadi dua kerangka yang tidak diakui siapa pun.Randika memerintahkan orang-orang untuk mendirikan kembali batu nisan itu.Namun, aku menggeleng. "Tidak perlu. Orangnya masih hidup. Untuk apa mendirikan batu nisan?"Randika berkata dengan suara serak, "Kalau begitu, kita bangun sebuah paviliun. Bukankah kamu menyukai bunga magnolia? Aku akan memerintahkan orang menanami seluruh gunung ini dengan bunga magnolia."Aku menatapnya. "Aku menyukai rusa."Randika tertegun. "Apa?""Aku tidak suka bunga magnolia. Itu kesukaan Misha."Wajah Randika perlahan memucat. Enam tahun lalu, dia memberiku tusuk konde berbentuk bunga magnolia. Aku memakainya selama setahun penuh. Bukan karena aku menyukainya, hanya karena tusuk konde itu pemberiannya.Sejak saat itu, Randika pun yakin bahwa aku menyukai bunga magnolia. Sama seperti Askara yang yakin bahwa aku menyukai kelinci.Mereka mencintai Tessa yang hi
Askara pergi ke istana pengasingan.Saat kembali, dia membawa 73 lembar surat dalam pelukannya. Semuanya adalah surat yang kutulis untuknya.Saat kegilaanku semakin parah, aku bahkan tidak mampu lagi menulis kalimat yang utuh. Di setiap surat, hanya beberapa kalimat yang terus kuulang.[ Askara, jangan takut. Ibunda akan segera datang. ][ Cuaca di Gunung Barat dingin. Selimuti dirimu dengan baik. ]Surat terakhir ditulis tiga hari yang lalu.[ Askara, Ibunda sudah tidak sanggup mencari lagi. ]Askara berlutut di sisi ranjang dan membaca surat-surat itu satu per satu. Saat sampai pada surat ke-12, dia sudah menangis hingga tidak mampu mengeluarkan suara."Ibunda ...."Aku tidak menjawab.Askara mengusap wajahnya, lalu memanggilku sekali lagi. "Ibunda, ini aku Askara."Aku menatap bekas luka tipis di atas alisnya. "Apa karena terjatuh saat menunggang kuda?"Dia tertegun, lalu buru-buru mengangguk. "Aku jatuh saat berusia delapan tahun.""Sakit?""Waktu itu sakit. Sekarang sudah tidak sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.