Compartilhar

Bab 7

Autor: Fana
“Jenderal! Jangan!”

Anindya menjerit ketakutan sambil meronta sekuat tenaga. Namun, dua pengawal bertubuh kekar segera maju dan tanpa ampun merenggut pakaian yang dikenakannya.

Dalam sekejap, pakaiannya telah dilucuti hingga hanya tersisa pakaian dalam tipis. Tubuhnya terekspos di tengah angin malam yang dingin dan tatapan penuh nafsu dari orang-orang di sekelilingnya.

“Jangan! Lepaskan aku!” jeritnya sambil menangis. Dia berusaha melindungi diri, tetapi para pengawal justru melemparkannya begitu saja ke tempat berkumpulnya para pengemis di tepi sungai yang dipenuhi bau busuk, seolah-olah dia hanyalah sampah.

Tangan-tangan kasar dan kotor segera menyerbunya seperti gelombang pasang, meraba dan meremas tubuhnya dengan sembarangan.

“Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!” Anindya berteriak putus asa. Namun, yang diterimanya justru pelecehan yang kian menjadi-jadi.

Saat melihat Sakha hendak pergi sambil melindungi Kirana yang terbungkus jubah tebal hingga hanya sepasang mata berkaca-kaca yang terlihat, entah dari mana Anindya mendapatkan kekuatan. Dia mendadak menerjang ke arah Sakha dan mencengkeram erat ujung celananya.

“Sakha! Kumohon! Jangan perlakukan aku seperti ini!” Tangisnya pecah, wajahnya basah oleh air mata. “Aku benar-benar tidak mencelakai Kirana! Kalau kamu meninggalkanku di sini, para pengemis ini tidak akan melepaskanku ....”

Langkah Sakha terhenti. Dia menunduk menatap Anindya dengan tatapan sedingin es, seperti memandang makhluk hina yang tak berharga.

“Kau wanitaku. Mereka tidak berani menyentuhmu.” Dia melepaskan jari-jari Anindya satu per satu. Suaranya datar tanpa sedikit pun emosi. “Tapi aku harus memberimu pelajaran agar kau jera. Dengan begitu, kelak kau tidak akan berani menyentuh sehelai rambut Kirana pun.”

Setelah berkata demikian, Sakha menepis tangan Anindya tanpa sedikit pun keraguan, lalu pergi sambil melindungi Kirana.

“Jangan ...! Jenderal! Jenderal!”

Anindya terus berteriak seraya menangis, tetapi para pengemis justru semakin beringas menerjangnya.

Seseorang menindih tubuhnya sambil terengah-engah. Tangannya sudah menyusup ke balik kerah bajunya. Sambil menyeringai, pria itu berkata kepada teman-temannya, “Perempuan jalang ini ... gimana kalau kita sekalian saja tiduri dia?”

Orang di sebelahnya langsung menyahut, “Benar! Kudengar perempuan dalam lukisan-lukisan yang dijual di kios akhir-akhir ini dia. Dasar perempuan genit! Jenderal saja tidak mencintainya. Jadi, tidak masalah kalau kita tiduri dia!”

“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kawan-kawan, sikat!”

Tangan-tangan yang tak terhitung jumlahnya menekannya hingga tak berdaya di tanah. Suara kain terkoyak, tawa cabul, dan embusan napas berbau busuk bercampur menjadi satu, menelan dirinya dalam penderitaan.

Anindya meringkuk di tanah, menangis hingga suaranya berubah parau.

“Jangan sentuh aku ... kumohon. Jangan sentuh aku ....”

Namun, yang menyambutnya hanyalah ikat pinggang yang dilepaskan dan sekelompok pengemis yang terus mengerumuninya.

Penderitaan itu seolah tak berujung.

Berulang kali, lagi dan lagi.

Tepat ketika langit di ufuk timur mulai memutih, para pengemis itu akhirnya merasa puas. Ada yang mengencangkan ikat pinggang celananya, ada pula yang menyeka mulut. Setelah itu, mereka pergi dengan wajah puas.

Anindya terbaring di tanah. Seluruh tubuhnya dipenuhi lebam kebiruan, bekas cubitan, dan gigitan. Di bawah tubuhnya, darah yang telah mengering bercampur dengan cairan yang tak diketahui asalnya.

Entah berapa lama berlalu sebelum akhirnya dia perlahan bangkit. Pakaiannya telah tercabik-cabik, hanya menyisakan beberapa potong kain yang nyaris tak mampu menutupi tubuhnya.

Orang-orang mulai membuka lapak di sepanjang jalan. Para penjual sarapan, sayuran, dan berbagai barang kebutuhan sehari-hari meliriknya dengan tatapan aneh saat melihat keadaannya.

Seseorang mengenalinya, lalu berbisik kepada orang di sebelahnya, “Itu istri Jenderal, ‘kan? Kenapa dia bisa sampai seperti itu?”

“Kamu belum dengar? Tadi malam Jenderal murka besar dan melemparkannya ke tengah kerumunan pengemis. Lalu, gerombolan pengemis itu ....”

“Masa sih? Padahal dia itu istri Jenderal ‘kan ....”

“Memangnya kenapa kalau dia istri Jenderal? Jenderal sendiri tidak menginginkannya. Kamu belum pernah lihat lukisan-lukisan itu, ya? Jenderal sudah lama menganggapnya seperti ....”

Bisik-bisik itu berdengung di sekeliling telinganya bagai kawanan lalat.

Anindya terus berjalan tanpa berhenti ataupun menoleh ke belakang.

Dia hanya melangkah dengan gerakan kaku, seolah-olah tubuhnya bergerak sendiri. Tanpa alas kaki, dia menginjak kerikil, daun-daun sayuran busuk, dan genangan air kotor yang entah siapa tumpahkan. Selangkah demi selangkah, dia terus berjalan ke satu arah.

Di tengah langkahnya, dia tiba-tiba berhenti.

Dia mengangkat kepala dan melihat sebuah menara tinggi di kejauhan.

Menara Sembilan Tingkat.

Ternyata, hari ini sudah tanggal lima belas.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 18

    Sakha berdiri di luar pintu, mendengarkan tangisan Anindya dari dalam. Suaranya terdengar begitu lirih, seperti tidak ingin Sakha mendengarnya.Sakha menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tubuh berlumuran darah. Lalu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Darah terus mengalir dari luka-lukanya, membasahi pakaiannya, tetapi dia tidak merasakan sakit sedikit pun.Dia teringat perkataan Galuh, “Kalau orangnya sudah pergi, menyesal pun sudah terlambat.”Saat itu, dia tidak memercayainya. Sekarang, dia percaya. Namun, semuanya sudah terlambat. Segalanya sudah terlambat.Dia duduk di luar pintu sepanjang malam.Saat fajar menyingsing, pintu akhirnya terbuka.Anindya berdiri di ambang pintu dengan sebuah buntalan di tangan.“Aku akan pergi,” katanya tenang. Matanya sembap, tetapi dia tidak lagi menangis.“Ke mana?” Sakha langsung bangkit berdiri. Kedua kakinya mati rasa hingga dia terhuyung. Luka di bahu dan dadanya kembali terbuka, membuat darah mengalir deras. Namun, dia sama sekali

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 17

    Anindya menatap Sakha dan terdiam lama sekali.“Pergilah.” Dia menutup pintu. “Aku tidak akan memaafkanmu.”Sakha kembali berdiri di luar pintu selama sehari penuh.Hari ketiga, hari keempat, hingga hari kelima.Setiap hari, dia berdiri di luar pintu tanpa berbicara ataupun mengetuknya. Dia hanya berdiri di sana, begitu saja.Saat Anindya keluar untuk membeli bahan makanan, Sakha mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Dia tidak berani mendekat, hanya diam-diam menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan Anindya.Setiap kali Anindya menoleh ke arahnya, Sakha akan langsung berhenti dan berdiri diam di tempat, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Pada hari keenam, Anindya akhirnya tidak tahan lagi.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Dia berdiri di ambang pintu dengan mata memerah. “Apa gunanya kau melakukan semua ini?”“Tidak ada gunanya.” Sakha menatapnya dengan suara serak. “Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau kau tidak memaafkanku, hidup

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 16

    Pintu terbuka. Anindya berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian kain yang warnanya telah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya disanggul menggunakan tusuk konde kayu. Penampilannya begitu sederhana dan bersih, bagaikan sekuntum teratai putih.Saat melihat Sakha, ekspresinya sama sekali tidak berubah.Tidak terkejut, tidak marah, tidak pula takut. Hanya ketenangan.Seperti sedang menatap orang asing.“Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanyanya dengan suara datar.Sakha menatapnya. Tenggorokannya terasa tercekat, seakan ada segumpal kapas yang menyumbatnya hingga dia tidak mampu berkata apa-apa.“Aku ....” Dia akhirnya membuka mulut, tetapi suaranya sangat serak. “Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Anindya menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Senyumnya begitu tipis dan samar, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. “Pulang?”Dia mengulangi pertanyaannya, “Pulang ke mana?”“Kembali ke Kediaman Jenderal. Pulang ke rumah.” Sakha maju selangkah, suaranya t

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 15

    Seluruh tubuh Sakha bergetar hebat, rasanya sebilah pisau baru saja menghunjam dadanya.Dia teringat malam itu, saat Anindya berlutut di tanah sambil mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini.”Dia menjawab, “Kau adalah wanitaku. Mereka tidak berani menyentuhmu.”Lalu, dia melepaskan jari-jari Anindya satu per satu.Setelah itu, dia pergi.Dia telah meninggalkan seorang perempuan tak berdaya di tengah gerombolan pengemis. Dengan tangannya sendiri, dia telah mendorong Anindya ke neraka.Sakha tiba-tiba berbalik dan menghantam dinding dengan tinjunya. Batu bata pecah, buku-buku jarinya remuk dan berlumuran darah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.“Pengawal!” teriaknya hingga suaranya serak dan pecah. “Kurung Kirana di penjara bawah tanah! Sebarkan perintahku! Semua pengemis di seluruh ibu kota, tangkap dan kurung mereka semua, tanpa terkecuali! Biar dia rasakan bagaimana rasanya dilecehkan orang lain! Buat dia tak bisa tenang, mati

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 14

    Kusir tua itu gemetar ketakutan. “Je, jenderal? Perempuan yang mana?”“Perempuan yang keluar melalui gerbang selatan kota, yang tubuhnya penuh luka itu.”Mata kusir tua itu langsung berbinar. “Oh, maksud Jenderal nyonya itu, ya! Saya mengantarnya sampai ke dermaga penyeberangan. Dia pergi naik kapal.”“Naik kapal? Kapal tujuan mana?”“Ke arah selatan. Tepatnya ke mana, saya juga tidak tahu. Nyonya itu bilang, kapal mana pun tidak masalah, asalkan menuju ke daerah selatan.”Sakha melepaskan kusir tua itu, melompat naik ke kudanya, lalu melesat menuju dermaga penyeberangan.Dia memacu kudanya sekencang mungkin. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya dia tiba di dermaga. Orang-orang berlalu-lalang, sederetan kapal berlabuh di sana. Sakha bertanya kepada awak kapal satu per satu. Setelah menanyai lebih dari sepuluh kapal, akhirnya seseorang mengingat Anindya.“Maksudmu gadis yang tubuhnya penuh luka itu, ya? Cantik sekali orangnya, cuma wajahnya pucat sampai bikin orang tak

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 13

    Galuh menatapnya. Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya menyebutkan alamat tempat itu.Sakha langsung berbalik dan pergi. Langkahnya cepat dan tergesa-gesa, menyerupai binatang buas yang sedang mengamuk.Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai di sebelah timur kota, beberapa pengemis tengah minum arak mengelilingi api unggun.Begitu Sakha menerobos masuk, mereka bahkan belum sempat bereaksi ketika kilatan pedang menyambar di hadapan mereka.Saat orang pertama tumbang, yang lainnya langsung berteriak ketakutan dan berusaha melarikan diri.Sakha menebas mereka satu per satu. Setiap tebasannya begitu dalam, sementara darah memercik ke seluruh wajahnya.“Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!” Dia menjambak rambut pengemis terakhir dan membantingnya ke tanah. “Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!”Pengemis itu sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Seraya menangis dan meraung-raung, dia memohon ampun. “Ampuni hamba, Jenderal! Ampuni hamba. Ada seseorang yang beri kami uang ag

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status