"Catherine, besok ganti Audi mu dengan maserati. Lalu apa kau dengar, ada yang mengatakan hubungan kita itu hanya pura-pura? Catherine, apa kah cintamu untukku hanya kepura-pura-an? Jika begitu ma..." Saat itu Catherine maju dan melumat bibir Axel dengan ganas di depan semua orang. Semua orang tercengang, Vania dan Dean bahkan lebih tercengang. Sementara Rex, saat ini mentalnya sangat terguncang, hatinya panas serasa hampir meledak, wanita yang ia kejar sejak SMA, yang selalu bersikap dingin dan acuh padanya, bahkan juga hampir pada setiap orang yang di temuinya, kini berciuman begitu intens dan penuh nafsu dengan seorang pria di depan matanya. Rex benar-benar tak tahan lagi sekarang. "Catherine, lepaskan ciuman kalian sekarang, atau aku akan bunuh bocah sialan itu." Teriak Rex marah. Namun Catherine dan Axel justru makin tenggelam dalam ciuman mesra mereka. Semua orang yang menyaksikannya, menelan ludah mereka, karena merasa tenggorokan mereka kering. Setelah 10 menit d
Rex juga terpana melihat mobil mewah itu, dia yang sudah memulai usahanya sendiri saja bahkan tidak berani membeli mobil semahal itu, lalu siapa anak ini? Sepertinya dia sangat kaya hingga bisa mengendarai mobil semewah itu ke sekolah. Mata Vania hampir copot saat melihat pria yang keluar dari mobil mewah itu adalah Axel, mantan pacar yang di campakannya beberapa hari lalu. Dean kini sudah gemetaran, lututnya sudah lemas, kejadian ini benar-benar mengonfirmasi perkataan Olivia jika mobil mewahnya adalah pemberian Axel. Saat semua masih terbengong menyaksikan adegan spektakuler itu, Axel berjalan ke kursi penumpang dan membuka pintu. Lalu sesosok wanita cantik dengan senyum menyejukkan hati turun dari mobil Axel. "I... itu, itu bu Catherine, dan dia tersenyum." Ujar salah seorang siswa. "Benar sekali, sejak bu Catherine mengajar, ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum, bu Catherine cantik sekali." "Iya, bu Catherine benar-benar cantik." Saat mendengar suara-suara
"Aku khawatir mereka dalam bahaya." Kata Pangeran Ice Three. "Kami juga memikirkan hal yang sama pangeran." Jawab Ice Nine. "Kalau begitu, tingkatkan kecepatan terbang kita, kita harus segera sampai." Perintah pangeran Ice Three. "Baik pangeran." Jawab empat jendral itu serempak. ... Dari arah berlawanan. "Bagaimana perkembangannya Lahm?" Tanya Jendral Brazuka pada bawahannya. "Kita sudah memasuki perbatasan galaksi Bima Sakti jendral. Dalam empat jam kita mungkin sudah memasuki atmosfer planet bernama bumi itu, tuan." "Bagus, lanjutkan, tingkatkan kecepatan kita. Dodoria, kau harus waspada terhadap serangan dari bangsa planet lain, pastikan detektor selalu aktif, jangan sampai ada yang menyerang pesawat kita tampa sepengetahuan kita." "Baik jendral." "Jarbon, sekaranglah saatnya kau menunjukkan kekuatan mu pada yang lainnya, apapun yang ada di planet itu, kita akan jarah semuanya, hingga habis tak bersisa." "Anda tenang saja jendral, kita akan beritahu penduduk
Benar saja, emosi Axel langsung meledak saat itu juga. "Dimana dua bersaudara sialan itu? Akan ku hajar mereka." Kata Axel marah. "Tenanglah sayang ku, yang harus kau lakukan bukan menghajar mereka." Lilian yang sejak tadi terdiam kini mulai berbicara dengan menampakkan senyum liciknya. "Tapi Lilian..." "Aku tau sayang, tapi tenaga dan kekuatanmu terlalu berharga untuk menghajar orang-orang kecil seperti mereka, kenapa kau tidak serang mereka dengan hal yang paling mereka takuti." Saran Lilian. "Maksudnya?" "Karena Dean dan mantan pacarmu itu begitu takut melihat kau bahagia, kenapa tidak kau tunjukkan saja kami para pacarmu dan semua mobil pemberianmu, beserta mobil barumu juga, di depan mereka secara langsung? Satu lagi, karena si Rex itu menyukai kak Catherine, kenapa tidak kau bermesraan saja dengan kak Catherine di depan matanya? Toh juga, kata bibi setelah ini kau sudah harus mengakui hubungan kalian pada ayah kak Catherine, jadi apa masalahnya?" Kata Lilian dengan s
Dengan cepat Catherine menarik Olivia ke toilet wanita di sekolah itu. "Kakak, tunggu dulu, sebenarnya ada apa kak?" Tanya Olivia bingung. "Olivia, apa kamu tidak merasakan sesuatu?" Kata Catherine balik bertanya. "Sesuatu?" Olivia bingung. Olivia tiba-tiba teringat kembali dengan ciuman mereka dini hari tadi, pipinya langsung bersemu merah. "Kakak, kita ini sama-sama wanita, lagipula kita kan pacar Axel. Jadi ti..." "Sesttt..., dasar kau ini, pasti kau berpikir yang tidak-tidak lagi." Kata Catherine cepat sambil tangannya menutup mulut mungil Olivia. Lalu ia melanjutkan, "Kau pikir, kakak ini jeruk makan jeruk?! Yang kakak maksud adalah ini." "Klik." Catherine menjentikkan jarinya dan seketika tubuh Olivia menjadi ringan, dia merasa tubuhnya mulai mengambang, terangkat dari tanah secara perlahan. "Kakak, ini..." Kata Olivia dengan nada penuh tanya. "Kekuatan manipulasi masa, kakak bisa membuat benda yang kakak sentuh menjadi berat dan ringan semau kakak." Kata Ca
"Ayahmu, paman Will dan juga paman Dani adalah teman sekampus. Hampir tiap hari mereka ada di rumah ibu. Mereka bertiga memperhatikan dan menyayangi ibu seperti adiknya sendiri, ibu yang saat itu masih SMA, selalu meminta bantuan mereka untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah ibu. Paman Dani selalu saja malas. Paman Will, kadang mau, kadang tidak. Tapi Ayah mu..." Perkataan Julia terhenti lalu ia tersenyum. "Sampai paman Dani menikah dengan bibi susan, dan Paman Will juga hampir menikah dengan bibi Sabrina, ayahmu masih tidak mengutarakan perasaannya pada ibu, yang ia berikan hanya perhatian yang tidak terbatas. Jika bukan paman Dani dan paman Will yang memaksanya, mungkin sampai sekarang dia tidak akan punya keberanian untuk melakukan itu." Lanjut Julia sambil senyum-senyum sendiri. "Tapi ibu tau dia sangat mencintai ibu, dan ibu juga sama." Tambah Julia. Ia kembali menarik napas dan melanjutkan "Berbeda dengan paman Will dan paman Dani yang merupakan pengusaha, ayahmu adalah seo