Home / Pendekar / Sang Penguasa Mutlak / Bab 15 Bunga Perangsang

Share

Bab 15 Bunga Perangsang

Author: Yan_
last update publish date: 2026-07-18 20:20:35

Lun Ya menahan napas, menajamkan indra pendengarannya demi menangkap untaian kata dari dua orang di kejauhan itu.

Jarak yang terlalu jauh membuatnya frustrasi.

ia sama sekali tidak bisa mendengar apa pun.

"Aku makin penasaran, apa sebenarnya yang mereka bicarakan?" bisik Lun Ya penuh dengan penasaran, matanya tak lepas dari interaksi yang mencurigakan di depan sana.

Detik berikutnya, jantung Lun Ya berhenti sejenak.

Ia melihat pria itu menyerahkan sebuah kertas kecil yang dilipat dengan sanga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 31 rune pembuka segel

    Lorong bawah tanah kembali dipenuhi keheningan.Lun Ya berjalan paling depan, sementara sepuluh tahanan elit mengikutinya dari belakang. Tidak seorang pun berbicara. Mereka hanya saling bertukar pandang, diam-diam memperhatikan pemuda yang telah mempertaruhkan nyawanya demi membebaskan mereka.Sesekali tatapan mereka jatuh pada punggung Lun Ya.Mereka masih belum mengetahui siapa sebenarnya pemuda itu.---Sesampainya di ujung tangga, Lun Ya mengangkat tangan memberi isyarat agar semua berhenti."Tunggu di sini."Tanpa menunggu jawaban, ia perlahan menaiki beberapa anak tangga dan mengintip keadaan di atas.Ledakan yang masih terjadi membuat para prajurit berlarian ke berbagai arah. Sebagian besar telah meninggalkan area penjara dan menuju gudang penyimpanan untuk menyelamatkan hasil tambang.Melihat kesempatan itu, Lun Ya segera kembali."Ikuti aku."Kesepuluh tahanan itu langsung bergerak tanpa suara.Dengan hati-hati mereka menyusuri lorong demi lorong hingga tiba di sebuah goa rah

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 30 Para tahanan yang terlupakan

    Ledakan demi ledakan terus mengguncang benteng.Api mulai menjalar ke berbagai bangunan, sementara teriakan para prajurit dan tahanan bercampur dengan suara reruntuhan yang runtuh silih berganti. Seluruh benteng berubah menjadi lautan kekacauan.Di balik kepulan asap, Lun Ya menyipitkan matanya."Inilah saatnya."Memanfaatkan seluruh perhatian musuh yang teralihkan, ia bergerak cepat menuju area penjara.---Di ruang komando benteng, empat pemimpin berdiri dengan wajah muram."Sial! Seluruh pasukan, amankan persediaan hasil tambang!" bentak salah seorang pemimpin."Untuk para tahanan, biarkan saja! Mau mati atau hidup, itu bukan urusan kita!""Baik!"Ratusan prajurit segera berlari menuju gudang-gudang penyimpanan material tambang.Dalam kepanikan itu, para tahanan sama sekali tidak dipedulikan.Sebagian didorong hingga terjatuh.Sebagian lagi bahkan ditabrak oleh prajurit yang berlari tergesa-gesa.Bagi mereka, nyawa para budak dan tahanan tidak lebih berharga daripada batu-batu has

  • Sang Penguasa Mutlak    bab 29 Ledakan di benteng

    Setelah memastikan Li Jia telah menjauh dari benteng bersama ketujuh belas gadis itu, Lun Ya akhirnya mengembuskan napas lega. Untuk pertama kalinya sejak penyelamatan dimulai, ia merasa sedikit tenang. Namun, tugasnya belum benar-benar selesai.Tatapannya perlahan beralih ke tongkat kuno yang berada di genggamannya."Aku tidak tahu... kenapa tongkat ini bisa kucabut."Ia menggenggamnya semakin erat. Tongkat itu terasa hangat, seolah memiliki kehidupannya sendiri. Banyak pertanyaan memenuhi pikirannya, tetapi saat ini bukan waktunya mencari jawaban.Lun Ya segera berbalik dan kembali menyelinap memasuki benteng.---Beberapa saat kemudian, ia tiba di sebuah ruangan tua yang hampir terlupakan. Di sudut ruangan berdiri sebuah batu hitam besar dengan permukaan kasar.Saat melihatnya, kenangan masa kecilnya bersama sang paman muncul kembali."Ingat baik-baik, Lun Ya. Batu hitam ini sangat berharga. Jika seseorang mengetahui cara mengolahnya, batu ini dapat menjadi bahan peledak yang sang

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 28 Tekad membuahkan hasil

    Lun Ya menggertakkan giginya. Kedua tangannya mencengkeram tongkat dewa hujan itu sekuat tenaga. Urat-urat di lengannya menonjol, sementara telapak tangannya mulai robek akibat tekanan yang begitu besar. Darah segar menetes perlahan, membasahi permukaan tongkat yang telah tertancap selama ratusan tahun.Ketujuh belas gadis yang berdiri di belakangnya hanya bisa menahan napas. Wajah mereka dipenuhi kecemasan melihat pemuda itu terus memaksa dirinya."Tuan, hentikan... tangan Anda sudah terluka!" seru salah seorang gadis dengan suara gemetar.Namun Lun Ya sama sekali tidak mengendurkan kekuatannya. Tatapannya tetap tajam menatap tongkat itu."Aku harus bisa mencabut benda ini," ucapnya penuh tekad.Di antara para gadis itu, seorang gadis yang sejak tadi diam memperhatikan Lun Ya tiba-tiba teringat sebuah kisah yang didengarnya saat masih kecil.Konon, pada saat negeri ini berada di ambang kehancuran, akan muncul seseorang yang mampu membangkitkan harapan dan menyelamatkan negeri dari

  • Sang Penguasa Mutlak    bab 27 tongkat dewa hujan mulai bangkit

    Lun Ya kembali memasuki ruangan tempat Tongkat Dewa Hujan masih tertancap kokoh di tengah lantai batu. Udara di dalam ruangan terasa jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Rantai-rantai hitam yang membelit tongkat itu memancarkan aura kuno yang membuat siapa pun enggan mendekat.Tatapan Lun Ya tertuju lurus pada senjata tersebut.Ia menarik napas panjang sebelum melangkah maju. Meski mengetahui risikonya, tekadnya sudah bulat.***"Tuan... saya rasa tongkat itu tidak bisa dicabut," ucap salah seorang gadis dengan nada cemas.Gadis-gadis lainnya ikut menatap Lun Ya dengan wajah penuh kekhawatiran. Mereka dapat merasakan aura mengerikan yang dipancarkan senjata itu.Namun Lun Ya tidak menghiraukan peringatan tersebut.Ia berdiri tepat di depan Tongkat Dewa Hujan.Perlahan kedua tangannya menggenggam erat batang tongkat yang terasa dingin seperti es.Saat genggamannya semakin kuat...Klang!Suara rantai besi bergema memenuhi seluruh ruangan.Rantai-rantai yang melilit tongkat mulai

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 26 Siksaan Tuan Luo

    Ruangan batu itu kembali diselimuti keheningan.Lun Ya masih menatap Tongkat Dewa Hujan yang tertancap di bawah patung tiga pedang. Berbagai kenangan dari kehidupan sebelumnya terus bermunculan di dalam benaknya.Namun...WUUUUUOOOONNGGG!Suara terompet perang tiba-tiba mengguncang seluruh benteng bawah tanah.Dentumannya bergema begitu keras hingga dinding-dinding batu bergetar.Ketujuh belas gadis muda itu terkejut. Beberapa di antaranya refleks menutup telinga, sementara yang lain saling berpelukan karena ketakutan.Di saat yang sama...Benda kecil yang diberikan Li Jia kepada Lun Ya tiba-tiba memancarkan cahaya merah.Kedip.Kedip.Kedip.Lun Ya segera mengeluarkannya.Ekspresinya berubah serius."Isyarat darurat..."Jantungnya berdegup semakin cepat.Perasaan buruk memenuhi dadanya."Ikuti aku!"Tanpa membuang waktu, ia berlari keluar dari ruangan itu.Ketujuh belas gadis tersebut segera mengikutinya.---Sesaat setelah mereka tiba di pintu keluar benteng tambang, Lun Ya mendadak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status