INICIAR SESIÓNKeesokan harinya, matahari bersinar sangat terang di atas pegunungan.Cahaya keemasan menyinari lembah yang sebelumnya sunyi.Namun pagi itu suasananya telah berubah total.Puluhan tenda berdiri rapi di atas tanah lapang. Beberapa bendera berkibar tertiup angin, sementara para prajurit bergerak ke sana kemari membawa perlengkapan.Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti sebuah kamp militer kecil.Suara teriakan para prajurit terdengar tanpa henti.“Lebih cepat!”“Jaga posisi!”“Jangan kehilangan keseimbangan!”“Serang!”BAM!Suara benturan senjata terdengar dari tempat latihan.Sementara itu, di dalam salah satu tenda, Lun Ya masih tertidur.“Satu! Dua! Tiga!”Teriakan para prajurit terdengar semakin jelas.Lun Ya mengerutkan kening dalam tidurnya."Kenapa berisik sekali..."Ia perlahan membuka mata.Beberapa saat ia hanya menatap langit-langit tenda dengan wajah mengantuk.Kemudian ia duduk dari ranjang.“Apa yang terjadi?”Lun Ya berjalan menuju pintu tenda dan membuka tirai.Begit
Setelah memperkenalkan beberapa orang di hadapannya, Mo Yuan melambaikan tangan kepada Lun Ya.Pria itu tersenyum tipis sebelum perlahan berbalik.Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Namun, hanya dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan, Lun Ya sudah memahami maksudnya.Mereka akan bertemu lagi.Mo Yuan kemudian berjalan menjauh bersama beberapa orang lainnya.Lun Ya masih berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung Mo Yuan yang semakin jauh.Di sampingnya, Li Jia juga terdiam.Sementara itu, Lu Han kembali melangkah maju.Ia berhenti di hadapan seorang pria yang sejak tadi berdiri tenang.Pria tersebut memiliki wajah yang tampak dewasa, sorot matanya dalam, tetapi saat tatapannya bertemu dengan Lun Ya, sebuah senyuman ramah muncul di wajahnya.Lu Han mengangkat tangannya dan menunjuk kepadanya."Tuan muda, yang ini namanya Zhou Wang."Lu Han berhenti sejenak.Kemudian ia melanjutkan dengan nada sedikit lebih serius."Dia juga sama seperti kami. Kultivasinya telah menurun.
Kapal perang itu perlahan menurunkan ketinggiannya.Angin yang dihasilkan oleh energi kapal membuat rerumputan dan pepohonan di sekitar lembah bergoyang. Setelah beberapa saat, kapal akhirnya mendarat dengan perlahan di tanah.Wussshhh...Pintu kapal terbuka.Sepuluh tahanan elit yang berada di atas dek kemudian turun dan berkumpul di hadapan Lun Ya.Mereka berdiri dalam satu barisan.Tatapan mereka tertuju kepada Lun Ya.Lun Ya sendiri hanya berdiri diam.Ia masih belum sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya terjadi.Salah satu dari sepuluh orang tersebut kemudian maju.Pria itu memiliki tubuh yang tinggi dan kekar. Tingginya bahkan melebihi Lun Ya. Janggut hitam menghiasi wajahnya, sementara ia mengenakan pakaian berwarna kuning yang memperlihatkan sebagian tubuh berototnya.Ia berhenti beberapa langkah di hadapan Lun Ya.Kemudian menundukkan kepala.“Tuan, perkenalkan. Nama saya She Gao.”Suaranya terdengar berat dan tegas.“Maaf sebelumnya karena kami belum sempat memperkenalka
Pagi itu, udara di lembah terasa cukup tenang.Kabut tipis masih terlihat di antara pepohonan ketika Li Jia berjalan mendekati Lun Ya yang sedang memeriksa keadaan rombongan.“Lun Ya.”Mendengar panggilan itu, Lun Ya menoleh.Li Jia mengeluarkan sebuah gulungan dari balik pakaiannya. Ia membukanya perlahan hingga terlihat peta wilayah yang cukup luas.“Lihat ini.”Lun Ya mendekat.Jari Li Jia menunjuk sebuah garis merah yang membentang melewati pegunungan.“Perjalanan kita akan melewati Perbatasan Tiga Menara.”Tatapan Lun Ya berubah sedikit serius.Li Jia melanjutkan.“Untuk saat ini, aku ingin para pengikutmu berlatih bersamaku. Kita tidak boleh membawa mereka menuju wilayah itu dalam keadaan seperti sekarang.”Ia kemudian menunjuk sebuah tanda berbentuk tiga menara pada peta.“Kau tahu, kan? Perbatasan Tiga Menara bukan sekadar wilayah biasa.”“Itu adalah benteng militer milik Kekaisaran Zhen.”Lun Ya mengangguk.“Aku mengerti.”Li Jia menggulung kembali petanya.“Kalau begitu, kit
Suara langkah kaki terdengar menggema di sepanjang lorong batu yang dingin.......Lia Yu berjalan perlahan bersama beberapa prajurit yang ditugaskan ayahnya.Semakin dalam ia berjalan, semakin sunyi suasana di sekelilingnya.Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan besar yang dipenuhi sel-sel penjara.Lia Yu berhenti.Tatapannya langsung tertuju pada sebuah sel di ujung lorong.Di balik jeruji besi itu...Seorang wanita duduk bersandar pada dinding.Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali Lia Yu melihatnya.Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, dan tubuhnya tampak lemah akibat terlalu lama berada di dalam penjara.Lia Yu terdiam.“Ibu...”Suaranya hampir tidak terdengar.Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya.Matanya yang terlihat lelah tiba-tiba membesar.“Lia... Yu?”Lia Yu tidak mampu menahan perasaannya.Ia segera berlari kecil mendekati sel.“Ibu!”Lia Yu berlutut di depan jeruji.Tangannya meraih tangan ibunya yang kurus.Untuk beberapa saat, kedu
Jauh dari tempat Lun Ya dan Li Jia berada, di wilayah yang bahkan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mencapainya, berdiri sebuah wilayah kekuasaan yang dikenal sebagai Tiga Menara Perbatasan.Tiga menara raksasa menjulang tinggi menembus awan.Di balik tembok-tembok hitamnya, pasukan bersenjata berjaga tanpa henti. Wilayah itu menjadi salah satu benteng penting di bawah kendali para penguasa yang tunduk kepada Yun Za.Di salah satu menara tersebut, terdapat sebuah kamar mewah.Di dalamnya, seorang gadis berdiri di depan sebuah cermin.Wajahnya sangat cantik.Rambut panjangnya terurai dengan rapi, sementara pakaian berwarna keemasan pudar membalut tubuhnya. Berbagai aksesori indah menghiasi rambut dan pakaiannya, membuat penampilannya terlihat anggun seperti seorang putri dari keluarga bangsawan.Namun di balik kecantikannya, tersimpan kesedihan yang sangat dalam.Gadis itu bernama Lia Yu.Ia adalah putri Hong Yu, salah satu penguasa Tiga Menara Perbatasan sekaligus bawahan Yun Za.L







