INICIAR SESIÓNSuara langkah kaki terdengar menggema di sepanjang lorong batu yang dingin.......Lia Yu berjalan perlahan bersama beberapa prajurit yang ditugaskan ayahnya.Semakin dalam ia berjalan, semakin sunyi suasana di sekelilingnya.Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan besar yang dipenuhi sel-sel penjara.Lia Yu berhenti.Tatapannya langsung tertuju pada sebuah sel di ujung lorong.Di balik jeruji besi itu...Seorang wanita duduk bersandar pada dinding.Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali Lia Yu melihatnya.Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, dan tubuhnya tampak lemah akibat terlalu lama berada di dalam penjara.Lia Yu terdiam.“Ibu...”Suaranya hampir tidak terdengar.Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya.Matanya yang terlihat lelah tiba-tiba membesar.“Lia... Yu?”Lia Yu tidak mampu menahan perasaannya.Ia segera berlari kecil mendekati sel.“Ibu!”Lia Yu berlutut di depan jeruji.Tangannya meraih tangan ibunya yang kurus.Untuk beberapa saat, kedu
Jauh dari tempat Lun Ya dan Li Jia berada, di wilayah yang bahkan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mencapainya, berdiri sebuah wilayah kekuasaan yang dikenal sebagai Tiga Menara Perbatasan.Tiga menara raksasa menjulang tinggi menembus awan.Di balik tembok-tembok hitamnya, pasukan bersenjata berjaga tanpa henti. Wilayah itu menjadi salah satu benteng penting di bawah kendali para penguasa yang tunduk kepada Yun Za.Di salah satu menara tersebut, terdapat sebuah kamar mewah.Di dalamnya, seorang gadis berdiri di depan sebuah cermin.Wajahnya sangat cantik.Rambut panjangnya terurai dengan rapi, sementara pakaian berwarna keemasan pudar membalut tubuhnya. Berbagai aksesori indah menghiasi rambut dan pakaiannya, membuat penampilannya terlihat anggun seperti seorang putri dari keluarga bangsawan.Namun di balik kecantikannya, tersimpan kesedihan yang sangat dalam.Gadis itu bernama Lia Yu.Ia adalah putri Hong Yu, salah satu penguasa Tiga Menara Perbatasan sekaligus bawahan Yun Za.L
Li Jia berjalan mendekati Lun Ya sambil membawa sebuah gulungan peta. Wajahnya terlihat serius ketika ia membentangkan peta itu di hadapan Lun Ya.“Lihat ini. Misi kita masih jauh dari selesai,” ujar Li Jia sambil menunjuk beberapa titik yang tertera di peta. “Tapi bagaimana kita bisa melanjutkan misi kalau kita harus membawa begitu banyak tahanan bersama kita?”Lun Ya terdiam.Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan beralih kepada ratusan orang yang baru saja mereka selamatkan.Para tahanan berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Sebagian masih terlihat lemah karena bertahun-tahun dipaksa bekerja di pertambangan benteng. Pakaian mereka compang-camping, wajah mereka dipenuhi kelelahan, dan beberapa di antara mereka masih memiliki luka di tubuh.Namun kali ini, tidak ada lagi rantai yang mengikat mereka.Mereka telah bebas.Lun Ya menarik napas panjang.Saat itulah beberapa tahanan mulai berjalan mendekat.Salah seorang pemuda terlihat ragu-ragu. Ia berkali-kali membuka mulut,
Di wilayah yang sangat jauh dari benteng tempat Lun Ya dan para tahanan sebelumnya, terbentang sebuah wilayah pegunungan yang sunyi dan penuh kabut.Di antara hamparan gunung yang sangat tinggi, berdiri tiga menara raksasa yang menembus awan.Ketiga menara itu merupakan benteng perbatasan penting milik Kekaisaran Zhen.Di pusat wilayah tersebut berdiri sebuah aula megah. Di bagian belakang aula, terpampang lambang besar Kerajaan Zhen.sebuah simbol yang membuat siapa pun yang melihatnya merasakan tekanan kekuasaan.Di dalam aula terdapat tiga singgasana.Di atas ketiga singgasana itu duduk tiga sosok yang memiliki aura mengerikan.Di sebelah kanan, seorang pria bertubuh besar duduk dengan wajah penuh amarah.Namanya Yao Fu.Seorang praktisi Tingkat Dewa Level 4 yang mendapat julukan Si Tapak Besi.Julukan itu bukan sekadar nama.Yao Fu dikenal sebagai salah satu penguasa paling kejam di wilayah perbatasan Zhen.Saat ini, tangannya sedang mencengkeram leher seorang tahanan.“sial”Suar
Pertarungan itu masih berlanjut.Suara ledakan terus mengguncang seluruh kawasan benteng. Cahaya api terbang tinggi ke langit, sementara gelombang energi dari pertempuran membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar.Lun Ya berdiri di tengah kekacauan itu sambil memastikan para tahanan yang berhasil dibebaskan tetap berada di belakangnya.Namun, beberapa saat kemudian—BOOM!Sebuah ledakan terakhir terdengar dari kejauhan.Setelah itu...Semuanya mendadak hening.Tidak ada lagi suara pedang beradu.Tidak ada lagi suara teriakan.Hanya asap hitam yang perlahan naik ke langit.Lun Ya menoleh ke belakang.Tatapannya tertuju pada benteng dan menara pengawas yang sebelumnya menjadi pusat pertempuran.Bangunan itu telah berubah menjadi reruntuhan. Beberapa bagian bahkan masih terbakar.Lun Ya kemudian melihat para tahanan yang berdiri di belakangnya."Semua sudah berkumpul?" tanyanya.Beberapa tahanan mengangguk.Lun Ya kemudian membawa mereka menuju tempat para tahanan lainnya berada.Tida
Akhirnya, Lun Ya dan para tahanan yang diselamatkannya berhasil keluar dari lorong goa.Udara malam langsung menyambut mereka.Namun belum sempat mereka menarik napas lega...BOOOOOM!!!Ledakan dahsyat terdengar dari kejauhan.Lun Ya langsung menoleh.Di balik pegunungan batu, sebuah menara pengawas yang menjulang tinggi tampak dipenuhi kobaran api.DUARRR!Ledakan kedua menghantam bagian tengah menara.Batu-batu besar berjatuhan dari ketinggian.Kemudian...BRAAAK!Salah satu sisi menara runtuh.Para tahanan yang berada di belakang Lun Ya terdiam ketakutan.«"Apa yang terjadi di sana?"»Lun Ya tidak menjawab.Tatapannya tertuju pada menara tersebut.Ia bisa merasakan gelombang energi yang sangat kuat.Pertempuran...Dan bukan pertempuran biasa.Tiba-tiba.Langit di atas mereka berubah gelap.Sebuah lingkaran hitam muncul di udara.Lingkaran itu berputar perlahan seperti pusaran ruang.Lun Ya langsung mengangkat kepalanya.«"Apa itu?"»Beberapa detik kemudian.WHOOOOOM!Sebuah kapal p







