Se connecterDi tengah wilayah pepohonan yang lebat, sinar matahari menembus sela-sela dedaunan dan jatuh membentuk bayangan indah di atas tanah.Angin berhembus pelan.Namun sejak tadi, Lun Ya dan Li Jia masih terus mencari sesuatu di antara pepohonan.Lun Ya mengusap keringat di dahinya.Ia menatap Li Jia yang masih sibuk membuka semak-semak satu per satu.“Wakil Li Jia.”Li Jia tidak menoleh.“Hmm?”“Kurasa kelinci bulan itu nanti akan kembali sendiri.”Lun Ya menghela napas.“Ayo kita kembali ke camp.”Li Jia akhirnya menoleh.Tangannya perlahan terangkat.Kemudian mengepalkan tinjunya dengan erat.“Hm?”“Apa kau bilang?”Lun Ya menatap tinju Li Jia.Jantungnya seakan berhenti sesaat.Li Jia menunjuk ke arah semak-semak.“Pokoknya aku harus menemukan kelinci itu.”“Paham?”Lun Ya menelan ludah.“Paham...”Li Jia kembali mencari.Lun Ya berjalan beberapa langkah, lalu akhirnya bersandar pada sebuah pohon besar.Ia menghela napas panjang.“Hm... perempuan memang susah dimengerti.”Tanpa sadar ka
Suara derap kaki kuda terdengar semakin keras.Duk! Duk! Duk! Duk!Dua ekor kuda berlari dengan kecepatan tinggi melewati jalur pegunungan. Debu beterbangan di belakang mereka.Beberapa saat kemudian, kedua kuda itu memasuki sebuah area perkemahan yang luas.Di sepanjang perkemahan berkibar sebuah bendera dengan lambang Phoenix Emas.Tempat itu merupakan barak militer milik Lia Yu.Ayahnya, Hong Yu, telah mengirim sekitar dua ratus prajurit ahli untuk membantunya menjalankan misi.Sebagian besar berada di Ranah Guru, sedangkan pasukan inti dipimpin oleh empat orang praktisi Ranah Kaisar tahap Level 8.Seluruh pasukan tersebut berada di bawah komando Lia Yu.Di dalam sebuah tenda besar, suasananya jauh lebih serius.Sebuah meja bundar berdiri di tengah tenda.Lima kursi mengelilinginya.Empat pemimpin pasukan duduk di masing-masing kursi, sementara Lia Yu duduk di posisi utama.Di atas meja terbentang sebuah peta besar wilayah pegunungan.Beberapa tanda merah telah dibuat pada peta.Ti
Keesokan harinya, matahari bersinar sangat terang di atas pegunungan.Cahaya keemasan menyinari lembah yang sebelumnya sunyi.Namun pagi itu suasananya telah berubah total.Puluhan tenda berdiri rapi di atas tanah lapang. Beberapa bendera berkibar tertiup angin, sementara para prajurit bergerak ke sana kemari membawa perlengkapan.Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti sebuah kamp militer kecil.Suara teriakan para prajurit terdengar tanpa henti.“Lebih cepat!”“Jaga posisi!”“Jangan kehilangan keseimbangan!”“Serang!”BAM!Suara benturan senjata terdengar dari tempat latihan.Sementara itu, di dalam salah satu tenda, Lun Ya masih tertidur.“Satu! Dua! Tiga!”Teriakan para prajurit terdengar semakin jelas.Lun Ya mengerutkan kening dalam tidurnya."Kenapa berisik sekali..."Ia perlahan membuka mata.Beberapa saat ia hanya menatap langit-langit tenda dengan wajah mengantuk.Kemudian ia duduk dari ranjang.“Apa yang terjadi?”Lun Ya berjalan menuju pintu tenda dan membuka tirai.Begit
Setelah memperkenalkan beberapa orang di hadapannya, Mo Yuan melambaikan tangan kepada Lun Ya.Pria itu tersenyum tipis sebelum perlahan berbalik.Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Namun, hanya dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan, Lun Ya sudah memahami maksudnya.Mereka akan bertemu lagi.Mo Yuan kemudian berjalan menjauh bersama beberapa orang lainnya.Lun Ya masih berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung Mo Yuan yang semakin jauh.Di sampingnya, Li Jia juga terdiam.Sementara itu, Lu Han kembali melangkah maju.Ia berhenti di hadapan seorang pria yang sejak tadi berdiri tenang.Pria tersebut memiliki wajah yang tampak dewasa, sorot matanya dalam, tetapi saat tatapannya bertemu dengan Lun Ya, sebuah senyuman ramah muncul di wajahnya.Lu Han mengangkat tangannya dan menunjuk kepadanya."Tuan muda, yang ini namanya Zhou Wang."Lu Han berhenti sejenak.Kemudian ia melanjutkan dengan nada sedikit lebih serius."Dia juga sama seperti kami. Kultivasinya telah menurun.
Kapal perang itu perlahan menurunkan ketinggiannya.Angin yang dihasilkan oleh energi kapal membuat rerumputan dan pepohonan di sekitar lembah bergoyang. Setelah beberapa saat, kapal akhirnya mendarat dengan perlahan di tanah.Wussshhh...Pintu kapal terbuka.Sepuluh tahanan elit yang berada di atas dek kemudian turun dan berkumpul di hadapan Lun Ya.Mereka berdiri dalam satu barisan.Tatapan mereka tertuju kepada Lun Ya.Lun Ya sendiri hanya berdiri diam.Ia masih belum sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya terjadi.Salah satu dari sepuluh orang tersebut kemudian maju.Pria itu memiliki tubuh yang tinggi dan kekar. Tingginya bahkan melebihi Lun Ya. Janggut hitam menghiasi wajahnya, sementara ia mengenakan pakaian berwarna kuning yang memperlihatkan sebagian tubuh berototnya.Ia berhenti beberapa langkah di hadapan Lun Ya.Kemudian menundukkan kepala.“Tuan, perkenalkan. Nama saya She Gao.”Suaranya terdengar berat dan tegas.“Maaf sebelumnya karena kami belum sempat memperkenalka
Pagi itu, udara di lembah terasa cukup tenang.Kabut tipis masih terlihat di antara pepohonan ketika Li Jia berjalan mendekati Lun Ya yang sedang memeriksa keadaan rombongan.“Lun Ya.”Mendengar panggilan itu, Lun Ya menoleh.Li Jia mengeluarkan sebuah gulungan dari balik pakaiannya. Ia membukanya perlahan hingga terlihat peta wilayah yang cukup luas.“Lihat ini.”Lun Ya mendekat.Jari Li Jia menunjuk sebuah garis merah yang membentang melewati pegunungan.“Perjalanan kita akan melewati Perbatasan Tiga Menara.”Tatapan Lun Ya berubah sedikit serius.Li Jia melanjutkan.“Untuk saat ini, aku ingin para pengikutmu berlatih bersamaku. Kita tidak boleh membawa mereka menuju wilayah itu dalam keadaan seperti sekarang.”Ia kemudian menunjuk sebuah tanda berbentuk tiga menara pada peta.“Kau tahu, kan? Perbatasan Tiga Menara bukan sekadar wilayah biasa.”“Itu adalah benteng militer milik Kekaisaran Zhen.”Lun Ya mengangguk.“Aku mengerti.”Li Jia menggulung kembali petanya.“Kalau begitu, kit







