Início / Pendekar / Sang Penguasa Mutlak / Bab 37 Para pengikut baru

Compartilhar

Bab 37 Para pengikut baru

Autor: Yan_
last update Data de publicação: 2026-08-25 17:04:37

Li Jia berjalan mendekati Lun Ya sambil membawa sebuah gulungan peta. Wajahnya terlihat serius ketika ia membentangkan peta itu di hadapan Lun Ya.

“Lihat ini. Misi kita masih jauh dari selesai,” ujar Li Jia sambil menunjuk beberapa titik yang tertera di peta. “Tapi bagaimana kita bisa melanjutkan misi kalau kita harus membawa begitu banyak tahanan bersama kita?”

Lun Ya terdiam.

Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan beralih kepada ratusan orang yang baru saja mereka selamatkan.

Para ta
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 50 Jejak Klan Yang Hilang

    Di tempat yang sangat jauh dari medan perang.sebuah rumah sederhana berdiri di tengah pegunungan.Kabut tipis menyelimuti pepohonan.Suasana di tempat itu sangat tenang.Di dalam rumah, seorang nenek sedang menyiapkan teh hangat.Rambutnya telah memutih, tetapi wajahnya masih terlihat tenang.Di sampingnya duduk seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun.Gadis itu sangat cantik.Rambut panjangnya terurai hingga melewati pinggang.Sambil menunggu teh selesai disiapkan, ia bernyanyi dengan suara lembut."Nenek, tehnya sudah siap?""Sebentar lagi."Nenek itu tersenyum.Ia kemudian mengangkat teko dan menuangkan teh ke dalam cangkir.Namun...saat ia hendak membawa cangkir tersebut...Tangannya tiba-tiba berhenti.Matanya membesar.CLINK!Cangkir yang dipegangnya terlepas."Ah..."BRUK!Teh panas tumpah ke lantai.Gadis itu langsung berdiri."Nenek!"Namun sebelum gadis itu sempat mendekat.air teh yang tumpah di lantai tiba-tiba bergerak.Cairan tersebut tidak menyebar secara acak.

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 49 Naga Turun dari Langit

    Langit di atas camp militer tiba-tiba berubah.Awan hitam pekat memenuhi seluruh cakrawala.Di tengah pusaran awan tersebut, lingkaran formasi berwarna merah menyala berputar perlahan.Kemudian...ROOOOOAAAAARRRR!Auman naga mengguncang bumi.Semua orang yang berada di medan perang menghentikan gerakannya.Prajurit Zhen.Prajurit Lun Ya.Li Jia.Gu Wen.Mo Yuan.Bahkan mayat-mayat hidup yang sebelumnya menyerang tanpa rasa takut ikut berhenti selama beberapa detik.Semua mata tertuju ke atas.Dari dalam awan hitam, tubuh seekor naga merah kuno perlahan keluar.Sisiknya memancarkan cahaya merah.Matanya seperti dua matahari yang terbakar.Setiap kali naga itu bergerak, awan di sekitarnya bergulung dengan hebat.Mo Yuan menatap makhluk tersebut dengan wajah serius."Tekanan yang sangat kuat..."Gu Wen juga terdiam.Sementara pria pengguna ilmu mayat menatap naga itu dengan wajah yang mulai berubah."Apa sebenarnya benda itu?"Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai,ia merasa te

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 48 Naga Darah dari formasi kuno

    BOOOOM!Serangan hijau kehitaman kembali menghantam Lonceng Emas milik Mo Yuan.Namun kali ini.WUUUUSSHHH!Serangan tersebut justru terpental.Energi hijau kehitaman berbalik arah dan menghantam tanah beberapa puluh meter dari posisi Gu Wen.DUARRR!Tanah langsung meledak.Gu Wen terdiam sesaat.Ia menatap Lonceng Emas yang masih berdiri kokoh di hadapannya.Kemudian ia menoleh kepada Mo Yuan."Mo Yuan..."Mo Yuan masih mempertahankan kedua tangannya.Gu Wen segera mengepalkan tangan."Terima kasih!"Mo Yuan hanya mengangguk."Jangan berterima kasih dulu. Pertempuran belum selesai."Di kejauhan.Pria pengguna ilmu mayat melihat kejadian itu.Wajahnya langsung berubah muram.Ia mengerutkan dahinya.Giginya bergemeletuk karena marah."Berani sekali..."Tangannya perlahan terangkat.Aura hijau kehitaman mulai berkumpul di atas kepalanya.WUUUUMMM!Sebuah formasi raksasa muncul di udara.Formasi itu berputar dengan cepat.Simbol-simbol kuno memenuhi permukaannya.Kemudian...KRAAAAK!Dar

  • Sang Penguasa Mutlak    BAB 46 serangan klan phoenix

    Angin masih berembus pelan di antara pepohonan.Nada seruling hijau giok yang dimainkan Lun Ya perlahan menghilang terbawa angin. Di sampingnya, Li Jia masih memperhatikan Lun Ya dengan tatapan penuh curiga.Namun sebelum keduanya sempat berbicara lebih jauh.Sesosok pria berjalan keluar dari balik pepohonan.Lun Ya dan Li Jia langsung menoleh.Pria itu adalah Mo Yuan.Mo Yuan menghentikan langkahnya.Wajahnya tampak santai, seolah-olah dirinya tidak sedang mengejar sesuatu.Padahal beberapa saat sebelumnya, ia baru saja mengikuti Kelinci Bulan yang berlari menuju sumber suara seruling.Jadi benar... dia ada di sini.Mo Yuan memandang Lun Ya beberapa saat.Namun ia segera menyembunyikan keterkejutannya.Li Jia langsung mengenalinya."Tuan Yuan?"Nada suara Li Jia terdengar sopan.Mo Yuan mengangguk kecil."Mm."Lun Ya yang mendengar suara Li Jia segera membalikkan tubuhnya.Begitu melihat Mo Yuan, ia tersenyum sedikit."Tuan senior."Mo Yuan menatapnya."Sedang apa Tuan Senior di sini

  • Sang Penguasa Mutlak    BAB 46 serangan klan phoenix

    Angin masih berembus pelan di antara pepohonan.Nada seruling hijau giok yang dimainkan Lun Ya perlahan menghilang terbawa angin. Di sampingnya, Li Jia masih memperhatikan Lun Ya dengan tatapan penuh curiga.Namun sebelum keduanya sempat berbicara lebih jauh.Sesosok pria berjalan keluar dari balik pepohonan.Lun Ya dan Li Jia langsung menoleh.Pria itu adalah Mo Yuan.Mo Yuan menghentikan langkahnya.Wajahnya tampak santai, seolah-olah dirinya tidak sedang mengejar sesuatu.Padahal beberapa saat sebelumnya, ia baru saja mengikuti Kelinci Bulan yang berlari menuju sumber suara seruling.Jadi benar... dia ada di sini.Mo Yuan memandang Lun Ya beberapa saat.Namun ia segera menyembunyikan keterkejutannya.Li Jia langsung mengenalinya."Tuan Yuan?"Nada suara Li Jia terdengar sopan.Mo Yuan mengangguk kecil."Mm."Lun Ya yang mendengar suara Li Jia segera membalikkan tubuhnya.Begitu melihat Mo Yuan, ia tersenyum sedikit."Tuan senior."Mo Yuan menatapnya."Sedang apa Tuan Senior di sini

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 45 Melody yang memanggil kelinci bulan

    Di tengah wilayah pepohonan yang lebat, sinar matahari menembus sela-sela dedaunan dan jatuh membentuk bayangan indah di atas tanah.Angin berhembus pelan.Namun sejak tadi, Lun Ya dan Li Jia masih terus mencari sesuatu di antara pepohonan.Lun Ya mengusap keringat di dahinya.Ia menatap Li Jia yang masih sibuk membuka semak-semak satu per satu.“Wakil Li Jia.”Li Jia tidak menoleh.“Hmm?”“Kurasa kelinci bulan itu nanti akan kembali sendiri.”Lun Ya menghela napas.“Ayo kita kembali ke camp.”Li Jia akhirnya menoleh.Tangannya perlahan terangkat.Kemudian mengepalkan tinjunya dengan erat.“Hm?”“Apa kau bilang?”Lun Ya menatap tinju Li Jia.Jantungnya seakan berhenti sesaat.Li Jia menunjuk ke arah semak-semak.“Pokoknya aku harus menemukan kelinci itu.”“Paham?”Lun Ya menelan ludah.“Paham...”Li Jia kembali mencari.Lun Ya berjalan beberapa langkah, lalu akhirnya bersandar pada sebuah pohon besar.Ia menghela napas panjang.“Hm... perempuan memang susah dimengerti.”Tanpa sadar ka

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status