เข้าสู่ระบบAshton, Bastian, dan Florence kembali menelusuri tangga menuju ke atas rumah itu.Mereka masih berhati-hati, tapi tidak sangat waspada seperti tadi. Pintu kamar Cellia masih terbuka.“Oh, kenapa tadi kau melompat?”Ashton bertanya dengan heran pada Bastian. Bastian hanya mengangkat bahunya.“Ilusi. Nyanyian banshee menyebabkan halusinasi.”“Oh.”Ketika mereka bertiga masuk, Cellia sedang duduk sambil memegangi lututnya. Tanpa penglihatan spiritual pun, kali ini ada sosok yang terlihat jelas di punggung Cellia.“…Nona Cellia, kita harus bicara.”Florence membuka pembicaraan. Dengan penglihatan spiritual, Ashton dapat melihat aliran aether pada Florence perlahan mendekati Cellia.Celiia perlahan mendongak ke arah Florence.Wajah Cellia terlihat pucat dan sedih. Terlihat bekas air mata di kedua pipinya.“…belum puas kalian mengganggu kami? Mama tidak ingin menyakiti kalian. Pergilah!”Aliran aether dari Florence perlahan sampai pada Cellia dan mengelilinginya. Cellia menangis sesenggukan
Sosok-sosok itu melihat ketiga anggota Wolf Brigade dengan beringas. Tanpa menunggu lagi, mereka semua menyerang Ashton!“Eh, lho, lho?!”Ashton terkejut, tapi latihannya dari beberapa minggu lalu membuahkan hasil. Dia langsung berlari ke arah pintu keluar kamar.”Earghhh!”Salah satu sosok yang paling dekat dengan Ashton berteriak. Dari tubuhnya, rantai yang melilitnya bergerak menuju pintu itu.Ashton menyadari apa yang mau dilakukan sosok hantu itu. Tapi Ashton tetap berlari ke arah pintu. Dia mengarahkan revolvernya ke arah pintu sambil mengaktifkan penglihatan Gagak Putih.Ketika Ashton melihat ada rantai yang sudah menempel di pintu, Ashton menarik pelatuk revolvernya.DOR! DOR!Ashton tidak yakin dengan akurasinya, jadi dia menembak beberapa kali. Beruntung dia menggunakan peluru perak, dan ada yang mengenai rantai itu. Pintu tidak berhasil tertutup total.“Bastian, Florence!”Ashton berteriak untuk memberi tahu rekannya. Dia berhasil keluar kamar!Sementara itu, sosok yang men
Ashton menuju pintu rumah dan mendorongnya. Pintu itu terasa berat seperti sudah bertahun-tahun tidak ditinggali.Di dalam, Ashton merasakan hawa dingin yang menusuk. Ashton memegang belakang lehernya dan merasakan bulu kuduknya berdiri.“Siang bolong dan ada aktivitas spiritual. Ini jelas bukan hantu biasa kan?”Pada kelas Miriam sebelumnya, Ashton diajari tentang spiritualisme dan pengetahuan mistis. Ashton tidak heran kalau ada hantu di dunia ini, karena adanya Relic dan Vessel.Tapi hantu biasa hanya bisa muncul di malam hari, di mana kekuatan spiritual mereka berada pada puncaknya.“Kau melewatkan sesuatu. Tadi lihat hantu di ruang atas kan?”Bastian memegang revolvernya dengan hati-hati dan masuk perlahan ke rumah besar itu.Setelah memeriksa aula besar di situ dan tidak menemukan apa-apa, Bastian memberi isyarat pada Ashton dan Florence untuk ikut masuk, menuju tangga besar di ruangan itu.“…oh benar juga.”Saat mulai menaiki tangga, Ashton menyadari sesuatu. Hantu yang dia lih
Ashton mengernyitkan dahinya. Dia sepertinya ingin menarik cambang dari si kepala pelayan.“…apa kau yakin itu bukan Nona Cellia yang bernyanyi?”Bastian dan Florence nyaris tidak bisa menahan tawa.“Uh, tidak. Suara Nona Cellia tidak merdu—ahem, tidak mengerikan seperti itu.”Ashton menganggukkan kepalanya. Dia bertanya lagi pada Robert.“Kapan biasanya hal itu terjadi?”Robert memegang dagunya dan berpikir keras. Jalannya jadi sedikit melambat.“Hm, kalau tidak salah selalu setelah tengah malam, tepatnya sendiri—aduh!”Tiba-tiba saja rambut Robert seperti ditarik ke belakang. Kepalanya ikut tertarik dan dia hampir terjungkal ke belakang.Robert kebingungan dan menengok ke belakang. Dia melihat Ashton memegangi sesuatu yang seperti kumpulan daun dan bunga.“…maaf. Ada gangguan padamu tadi.”“…oh, begitu.”Robert merinding mendengarnya. Dia sekarang benar-benar berharap kalau para pengusir hantu ini mampu menghilangkan suara-suara aneh itu!Sementara itu, Ashton merasa aneh.Dia seben
Hari Kamis, 22 Septen Tahun Agung 1832.“Bangun, Ash, sudah pagi.”Suara William terdengar dari dekat. Ashton mulai membuka matanya.William sedang bersiap-siap dengan baju yang mirip seragam polisi. Dia bolak-balik melihat penampilannya di cermin besar.“Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat keren?”“Tidak setampan Bastian, tapi cukup oke.”William merengut. Bintik di mukanya seperti membentuk formasi serangan laut.“Jangan bandingkan dengan Bastian, mukanya memang disukai wanita. Kau harus—”William melihat Ashton dalam-dalam, dari atas ke bawah. Dia merengut lagi.“Semua orang tampan adalah musuhku!”“…”Ashton tidak mengerti maksud William. Dia menggelengkan kepalanya dan beranjak dari tempat tidur.Di kamar ini, Ashton dan William menggunakan kasur bertingkat. William tidur di kasur atas.Asrama gereja Dewi Kematian biasanya ditempati oleh akolit dan pendeta muda. Asrama ini gratis digunakan anggota Wolf Brigade.“Aku mau cuci muka. Kunci kamarnya.”Ashton mengambil baskom dan ha
10 Septen, tahun agung ke 1832.Ashton, Kapten Arthur, dan Deckard sekarang ada di area pelabuhan kota Erworne, pada Distrik Camellia.“Jangan menyerah Ash—Nathan!”Ashton sekarang menggunakan identitas atas nama Nathan Blackwood. Dia adalah keponakan jauh dari Arthur Blackwood yang berasal dari kota kecil bernama Donnol, perbatasan Kerajaan Riomes.Selama beraktivitas di luar, Ashton akan menggunakan nama itu dan juga mengenakan jimat kalung perak Wolf Brigade agar tidak terlihat orang lain.“Hoakkh!”Terdengar suara yang seperti berasal dari dunia lain. Tapi tidak ada orang di situ yang mendengarnya selain Kapten dan Deckard.Deckard sendiri sedang berlari mengejar seseorang dengan kecepatan penuh, sambil mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke orang itu.SHING!“Oagghhh!”Suara berdesing pelan membuat orang yang dikejar itu mengetahui arah datangnya serangan. Susah payah dia menghindar, lalu berusaha bangkit dan berlari lagi.Hal ini terulang beberapa kali hingga orang yang dikejar







