Share

19. Nyanyian

Author: guis_dad
last update publish date: 2026-08-20 13:12:44

Ashton menuju pintu rumah dan mendorongnya. Pintu itu terasa berat seperti sudah bertahun-tahun tidak ditinggali.

Di dalam, Ashton merasakan hawa dingin yang menusuk. Ashton memegang belakang lehernya dan merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Siang bolong dan ada aktivitas spiritual. Ini jelas bukan hantu biasa kan?”

Pada kelas Miriam sebelumnya, Ashton diajari tentang spiritualisme dan pengetahuan mistis. Ashton tidak heran kalau ada hantu di dunia ini, karena adanya Relic dan Vessel.

Tapi hantu b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Penguasa Relic   80. Memori

    Saat membuka matanya, Ashton berada di dalam kegelapan yang pekat.Dia tidak bisa melihat apa pun di sekitarnya. Ashton juga tidak bisa bergerak dan berbicara.Setelah berusaha keras untuk bergerak beberapa menit, akhirnya tampaklah cahaya remang-remang seperti penerangan lampu gas di hadapannya.…apa itu?Cahaya itu perlahan membesar dan menerangi kegelapan di sekitar Ashton.Ashton hanya bisa melihat dalam diam saat cahaya itu menyelimutinya. Ada sesuatu pada cahaya itu yang tidak asing bagi Ashton.Tampak di dalam cahaya itu ada seorang perempuan muda yang rambutnya dikuncir ke samping dan seorang laki-laki berambut hitam pendek yang sedang memperhatikan dengan seksama.…ini! Ini adalah kejadian beberapa minggu lalu, ketika aku belajar dengan Miriam! Berarti sosok laki-laki ini—Setelah memperhatikan dengan serius, Ashton yakin kalau sosok laki-laki yang ada di situ adalah benar dirinya sendiri.Apa ini ingatan yang mengalir ketika kita di ambang kematian?Ashton hanya bisa melihat

  • Sang Penguasa Relic   79. Efek Samping

    Ashton berjalan tertatih-tatih keluar dari lorong rahasia milik grup Dane. Di tangan kanannya, ada kantong kulit berisi Relic yang diberikan Dane.Di tangan kirinya, topeng besi yang dia pakai sebelumnya.Ashton seperti memancarkan aura yang berbahaya, yang membuat orang-orang yang dia lewati tidak berani mendekatinya. Dia terus berjalan hingga sampai di gang tempat Tobias dan Florence berada.“…Ashton!”Tobias dan Florence bergegas menghampiri Ashton yang berjalan terhuyung mendekati mereka.Melihat kedua rekannya, Ashton menghembuskan napas lega dan duduk bersandar di dinding terdekat.“…yo,” ujar Ashton lemah sambil melambaikan tangannya.Florence segera menempatkan dirinya di samping Ashton dan menempelkan tangannya pada dada Ashton.Setelah mengalirkan aether ke tangannya, Florence mengernyitkan dahinya dan menatap Tobias.“Kondisinya tidak parah, tapi tubuhnya mengalami luka dalam. Kekuatan mentalnya terkuras habis. Bagian sekitar mata juga mengalami pendarahan hebat.”Tobias me

  • Sang Penguasa Relic   78. Tawaran

    Dane mengisyaratkan Ashton untuk mengikutinya. Jack sempat ragu-ragu, tapi dia akhirnya juga mengikuti mereka.Di ruangan yang lebih dalam, terdapat kotak-kotak dan kantong kulit yang bertuliskan simbol bahasa Tharos, serta dua pintu dengan desain yang berbeda.Ashton menghitung ada sekitar tujuh barang berupa kotak dan lima yang berupa kantong kulit.“Kita coba Relic Rank 1 dulu?”Dane menengok dan melirik ke arah barang-barang itu sebelum mengambil salah satu kantong kulit yang dekat dengan pintu berwarna merah.Ashton bisa merasakan aura yang opresif dari pintu itu, menunjukkan adanya Relic dengan Rank yang lebih tinggi dari Ashton pada ruangan di balik pintu itu.Masuk akal. Mereka tentu punya juga Relic di atas Rank 1.Ashton melihat ke arah Dane yang sepertinya sedang berusaha membuka kantong kulit itu. Dane beberapa kali mengeluarkan suara seperti “aduh”, “ow”, “akh” dan sejenisnya.Bibir Ashton berkedut melihat tingkah Dane.…apa dia tidak bisa membuka segel kantong itu? Kenapa

  • Sang Penguasa Relic   77. Penipu Ulung

    Ashton menata pikirannya dan mengingat-ingat fakta serta informasi yang sudah dia dapatkan.Pertama, Jack menyebut Dane Coot adalah bagian dari kelompok mereka. Kalau Dane adalah teroris atau bawahan Jack, dia akan menyebut Dane sebagai anak buah atau rekan.Ini berarti kelompok Jack dan Dane Coot berbeda. Yang satu memang teroris, dan yang satu hanya penyelundup Relic serta Artifact. Kemungkinan besar mereka bergabung karena kepentingannya ada titik temu.Ashton berjalan lebih pelan dari sebelumnya sambil mengamati Jack, yang berdoa dengan khidmat sambil berjalan.“Oh Dewi, Sang Penggembala Jiwa yang Pergi…”Ashton menyipitkan matanya ketika mendengar doa dari Jack.Kedua, ada yang aneh di sini. Dia tidak terlihat seperti berpura-pura ketika berdoa pada Dewi Kematian. Jack adalah penyembah Dewi Kematian? Lalu kenapa dia memanggil orang yang ditolong Wolf Brigade—aku, sebagai penghujat?Kenapa kelompok teroris ini menganggap aku sebagai musuh Dewi Kematian?Karena Ashton tidak punya pe

  • Sang Penguasa Relic   76. Penyusup

    Pria berambut pirang itu mengamati Ashton dengan seksama dari atas ke bawah.“Aneh,” gumam si pria berambut pirang itu. Ashton sendiri hanya diam, dia bahkan belum berani mengambil napas.“Aku merasa seperti pernah melihatmu. Tapi—hm, penampilan dan auramu sangat berbeda.”Si pria berambut pirang itu, yang Ashton kenali sebagai pemimpin teroris yang menyerangnya sebelumnya, memiringkan kepalanya.Dia mengamati Ashton lagi. Wajahnya sedikit mengerut. Setelah cukup lama, mata pria itu terbelalak.“Ah! Kau…!”…sial!Keringat dingin semakin deras mengalir di pipi Ashton. Ashton seperti tidak bergerak, tapi dia sudah mengarahkan telapak tangannya ke arah saku dalam mantelnya.Dengan Pull, Ashton bisa serta merta menarik revolver di sakunya.Dengan pandangan tajam yang tertutupi oleh topeng besi yang dia pakai, Ashton bersiap untuk bertarung.“…apa kau adalah Goggins dari luar kota?”Mendengar kata-kata absurd dari pria berambut pirang itu, Ashton kembali rileks. Dia mengambil napas panjang

  • Sang Penguasa Relic   75. Tautan

    Di ruangan milik Kapten Arthur, Ashton sedang duduk santai sambil memeriksa perlengkapannya.Sementara itu Kapten Arthur masih melihat koran kemarin dengan seksama.“Luar biasa. Jadi ini cara para penyelundup menyembunyikan kode pertemuan mereka.”Kapten Arthur mengangguk-angguk puas. Dia kembali melihat Ashton yang masih sibuk melakukan inspeksi pada perlengkapannya sendiri.“Tidak kusangka kalau toko bahan baku Cutler adalah milik penyelundup.”“Sebenarnya,” sahut Ashton sambil membersihkan kacamatanya, Blur Glasses, “mereka memiliki beberapa toko yang digunakan untuk membuat kode di koran.”Ashton melihat kacamata yang sudah dilap berulang kali. Merasa kurang bersih, dia melanjutkan untuk mengelapnya lagi.“Kali ini adalah Cutler. Masih banyak nama toko lain milik kelompok Dane Coot.”Kapten Arthur melihat kembali koran kemarin di depannya itu.“…menggunakan deret bilangan prima sebagai penanda koordinat? Setidaknya para penyelundup ini pernah bersekolah, atau bahkan kuliah.”Ashton

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status