Inicio / Fantasi / Sang Penjaga Pajajaran / Bab 121. Ingatan yang Hidup

Compartir

Bab 121. Ingatan yang Hidup

last update Última actualización: 2025-12-31 07:07:18

Fajar menembus jendela dengan warna lembayung yang lebih pekat dari biasanya.

Udara terasa hangat seperti tubuh bumi baru saja bernapas lebih dalam.

Larisa terbangun dari tidurnya di apartemen kecilnya di Dago bersamaan dengan suara samar terdengar dari luar. Bukan suara kendaraan, bukan burung,

melainkan sesuatu yang mirip nyanyian lembut dalam bahasa yang tak ia kenal.

Ia berdiri di balkon, memandangi kota yang masih diselimuti kabut pagi.Namun kali ini, kabut itu bergerak seperti hidup,

menggambarkan pola spiral di udara, menari di antara gedung-gedung seperti roh yang bermain.

“Juna,” bisiknya, “kau merasakannya?”

Dari dalam ruangan, terdengar suara Arjuna menjawab pelan. “Ya.

Bandung sedang bangun, bukan dari tidur, tapi dari ingatan.”

Larisa menoleh dan melihat Arjuna berdiri di dekat meja, tangan kirinya menyentuh batu kecil berwarna biru, potongan dari Layung Rasa yang dulu ia bawa dari Gunung Rakata. Cahaya lembutnya tampak memancar dari batu itu setiap kali Arjuna berbicara.
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 126. Mereka yang Menutup Hati

    Ketika itu fajar datang dengan cahaya lembut yang anehnya terasa jauh. Udara di atas Bandung tidak lagi sehangat seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang menekan, halus tapi nyata.Disaat yang sama, Larisa terbangun lebih awal. Dari jendela laboratorium, ia melihat kabut berwarna abu menutupi sebagian kota. Namun Ia yakin bahwa ini bukan kabut biasa, tampak tidak berpendar jingga seperti biasnya cahaya bumi,melainkan kusam, seperti bayangan yang kehilangan gema.“Juna…” panggilnya.Arjuna yang berdiri di ujung ruangan, tampak memandangi langit pagi itu. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya dalam.“Arus rasa melemah di sini,” katanya pelan.Larisa menatap layar hologram di depannya. Beberapa area di dunia kini berwarna gelap, bahkan zona di mana resonansi rasa menghilang sepenuhnya.“Itu... pusat kota-kota besar,” katanya khawatir. “Jakarta, Tokyo, Berlin, Chicago... semua menurun drastis dalam 24 jam terakhir.”Arjuna menunduk, berbisik lirih,“Manusia mulai menutup hatinya lagi.

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 125. Arus Rasa

    Langit di atas Bandung pagi itu terlihat berwarna biru muda, kendati demikian ada sesuatu yang berbeda, yakni warna itu seolah hidup, tampak berdenyut lembut seperti napas.Udara pun berubah, terdengar lebih hening, tapi juga lebih penuh. Seolah setiap hembusan angin mengandung cerita.Larisa berdiri di balkon laboratoriumnya,menatap kota yang perlahan bersinar dalam kabut jingga.Sejak Getar Waktu terjadi, semua jam masih berhenti. Namun kehidupan tidak berhenti, ia justru bergerak dengan ritme yang lebih dalam, seperti sebuah lagu yang tidak lagi diputar, tetapi dapat dirasakan di dalam dada.“Juna,” panggilnya pelan, “kau bisa merasakannya?”Arjuna yang sedang duduk di bawah jendela menatapnya tenang. “Ya, Larisa. Dunia kini bernafas dengan rasa.”Larisa menatap ujung cakrawala, “Rasanya seperti semuanya terhubung.Ketika aku menatap langit, aku bisa merasakan detak jantung bumi.”Arjuna berdiri perlahan, mendekatinya.“Itulah Arus Rasa. Dunia kini hidup dalam satu napas bersama.

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 124. Getar Waktu

    Keheningan malam itu turun seperti kabut lembayung yang lembut. Langit di atas Bandung tidak lagi gelap, tapi berkilau oleh ribuan cahaya kecil yang menari perlahan, seperti partikel bintang yang jatuh tanpa gravitasi.Saat itu Arjuna berdiri di depan Pohon Layung, tangannya tampak menyentuh batang bercahaya itu dengan hati-hati.“Larisa,” katanya pelan, “kau dengar?”Larisa mendekat, menajamkan pendengarannya. Suara lembut terdengar dari dalam batang pohon, bukan suara nyanyian, bukan angin, melainkan sesuatu yang lebih halus, seperti gema dari masa yang belum pernah ada.“Itu…” bisik Larisa, “seperti suara detak jantung… tapi bukan dari bumi.”Arjuna mengangguk perlahan. “Itu suara waktu.”Larisa menatapnya kaget. “Waktu… berdenyut?”“Ya.” Arjuna menatap langit yang kini berlapis warna ungu, biru, dan keemasan.“Bumi sudah hidup, rasa sudah bangun.Sekarang giliran waktu yang mulai mengingat dirinya sendiri.”Bersamaan dengan itu di seluruh kota, jam-jam berhenti berdetak. Namun an

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 123. Pesan dari Tanah

    Ketika itu subuh datang tanpa suara. Langit di atas Bandung tampak seperti lembaran air, tenang dan bercahaya lembut.Pohon Layung yang berdiri tegak di tengah kota daunnya tampak berkilau, seperti ribuan matahari kecil yang memantulkan warna emas pucat ke sekeliling taman.Larisa berdiri di tepi taman, menggenggam sebuah batu kecil, itu adalah pecahan cahaya dari batang pohon. Batu itu terluhat berdenyut halus, dan setiap denyutnya seolah menyatu dengan detak jantungnya sendiri.“Juna,” bisiknya, “rasanya… seperti bumi bernafas di dalamku.”Arjuna berdiri di sampingnya, matanya memandangi ujung langit. Udara pagi terasa berbeda, lebih berat, namun menenangkan.“Larisa,” katanya pelan, “itu karena bumi memang sedang berbicara melalui kita semua.”Larisa menatapnya heran. “Berbicara?”“Ya.” Arjuna mengangguk perlahan. “Pesan dari tanah sudah mulai menyebar.Bukan lewat kata, tapi lewat rasa yang menular ke setiap hati manusia.”Beberapa kilometer dari sana, di kawasan Cimenyan, Raksa

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 122. Rahasia di Pohon Layung

    Malam itu Bandung terasa begitu sunyi.Bukan karena semua tidur, tapi karena seluruh kota sedang mendengarkan sesuatu, sebuah irama lembut yang datang dari arah Taman Layung.Cahaya keemasan menyemburat dari sana, membentuk lengkung halus di langit seperti sayap yang sedang membuka.Larisa yang berdiri di balkon apartemennya tampak menatap arah cahaya itu dengan dada berdebar. Ia bisa merasakan sesuatu memanggilnya,bukan dengan suara, tapi dengan rasa yang menekan lembut di dalam hatinya.“Juna,” panggilnya. “Pohon itu… berubah.”Arjuna muncul dari ruang dalam, mata dan langkahnya tenang, seperti sudah tahu apa yang terjadi.“Ya,” katanya pelan. “Pohon itu mulai membuka dirinya.”Larisa menatapnya, matanya cemas.“Apakah ini akhir, Juna?”Arjuna tersenyum samar. “Tidak, Larisa.Ini awal dari kebenaran yang selama ini bumi sembunyikan.”Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah tiba di Taman Layung. Raksa, Ratih, dan Nagara sudah menunggu di sana. Cahaya dari pohon Layung kini begi

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 121. Ingatan yang Hidup

    Fajar menembus jendela dengan warna lembayung yang lebih pekat dari biasanya.Udara terasa hangat seperti tubuh bumi baru saja bernapas lebih dalam.Larisa terbangun dari tidurnya di apartemen kecilnya di Dago bersamaan dengan suara samar terdengar dari luar. Bukan suara kendaraan, bukan burung,melainkan sesuatu yang mirip nyanyian lembut dalam bahasa yang tak ia kenal.Ia berdiri di balkon, memandangi kota yang masih diselimuti kabut pagi.Namun kali ini, kabut itu bergerak seperti hidup,menggambarkan pola spiral di udara, menari di antara gedung-gedung seperti roh yang bermain.“Juna,” bisiknya, “kau merasakannya?”Dari dalam ruangan, terdengar suara Arjuna menjawab pelan. “Ya.Bandung sedang bangun, bukan dari tidur, tapi dari ingatan.”Larisa menoleh dan melihat Arjuna berdiri di dekat meja, tangan kirinya menyentuh batu kecil berwarna biru, potongan dari Layung Rasa yang dulu ia bawa dari Gunung Rakata. Cahaya lembutnya tampak memancar dari batu itu setiap kali Arjuna berbicara.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status