Beranda / Fantasi / Sang Penjaga Pajajaran / Bab 98. Ketika Dunia Bicara

Share

Bab 98. Ketika Dunia Bicara

last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-09 05:59:39

Hujan turun lembut di Bandung pagi itu.

Tidak deras, tapi cukup untuk membuat udara beraroma tanah segar dan bunga kenanga liar yang tumbuh di tepi jalan.

Langit memantulkan warna abu muda bercampur keemasan, seolah matahari enggan bersinar terlalu terang.

Arjuna berdiri di tepi jendela rumah panggung tua yang menghadap ke lembah. Di tangannya, Kujang Layung berpendar lembut. Cahayanya tidak terang, tapi hangat seperti napas yang tenang.

Sementara itu Larisa teihat duduk di meja kayu, dikelilingi oleh layar holografik dari perangkat portabelnya.

“Juna,” katanya, “ini sudah tidak bisa disebut fenomena alam lagi.”

Ia kemudian memperbesar layar utama, menampilkan peta dunia. Garis-garis cahaya keemasan tampak bergerak melingkari bumi, seperti nadi hidup yang mengalir dari satu benua ke benua lain.

“Getaran rasa menyebar ke seluruh dunia.

Orang-orang mulai mengalami sinkronisasi emosi. Mereka bisa merasakan perasaan orang lain, bahkan dari jarak ribuan kilometer. Yang bahagia menular, tap
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 125. Arus Rasa

    Langit di atas Bandung pagi itu terlihat berwarna biru muda, kendati demikian ada sesuatu yang berbeda, yakni warna itu seolah hidup, tampak berdenyut lembut seperti napas.Udara pun berubah, terdengar lebih hening, tapi juga lebih penuh. Seolah setiap hembusan angin mengandung cerita.Larisa berdiri di balkon laboratoriumnya,menatap kota yang perlahan bersinar dalam kabut jingga.Sejak Getar Waktu terjadi, semua jam masih berhenti. Namun kehidupan tidak berhenti, ia justru bergerak dengan ritme yang lebih dalam, seperti sebuah lagu yang tidak lagi diputar, tetapi dapat dirasakan di dalam dada.“Juna,” panggilnya pelan, “kau bisa merasakannya?”Arjuna yang sedang duduk di bawah jendela menatapnya tenang. “Ya, Larisa. Dunia kini bernafas dengan rasa.”Larisa menatap ujung cakrawala, “Rasanya seperti semuanya terhubung.Ketika aku menatap langit, aku bisa merasakan detak jantung bumi.”Arjuna berdiri perlahan, mendekatinya.“Itulah Arus Rasa. Dunia kini hidup dalam satu napas bersama.

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 124. Getar Waktu

    Keheningan malam itu turun seperti kabut lembayung yang lembut. Langit di atas Bandung tidak lagi gelap, tapi berkilau oleh ribuan cahaya kecil yang menari perlahan, seperti partikel bintang yang jatuh tanpa gravitasi.Saat itu Arjuna berdiri di depan Pohon Layung, tangannya tampak menyentuh batang bercahaya itu dengan hati-hati.“Larisa,” katanya pelan, “kau dengar?”Larisa mendekat, menajamkan pendengarannya. Suara lembut terdengar dari dalam batang pohon, bukan suara nyanyian, bukan angin, melainkan sesuatu yang lebih halus, seperti gema dari masa yang belum pernah ada.“Itu…” bisik Larisa, “seperti suara detak jantung… tapi bukan dari bumi.”Arjuna mengangguk perlahan. “Itu suara waktu.”Larisa menatapnya kaget. “Waktu… berdenyut?”“Ya.” Arjuna menatap langit yang kini berlapis warna ungu, biru, dan keemasan.“Bumi sudah hidup, rasa sudah bangun.Sekarang giliran waktu yang mulai mengingat dirinya sendiri.”Bersamaan dengan itu di seluruh kota, jam-jam berhenti berdetak. Namun an

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 123. Pesan dari Tanah

    Ketika itu subuh datang tanpa suara. Langit di atas Bandung tampak seperti lembaran air, tenang dan bercahaya lembut.Pohon Layung yang berdiri tegak di tengah kota daunnya tampak berkilau, seperti ribuan matahari kecil yang memantulkan warna emas pucat ke sekeliling taman.Larisa berdiri di tepi taman, menggenggam sebuah batu kecil, itu adalah pecahan cahaya dari batang pohon. Batu itu terluhat berdenyut halus, dan setiap denyutnya seolah menyatu dengan detak jantungnya sendiri.“Juna,” bisiknya, “rasanya… seperti bumi bernafas di dalamku.”Arjuna berdiri di sampingnya, matanya memandangi ujung langit. Udara pagi terasa berbeda, lebih berat, namun menenangkan.“Larisa,” katanya pelan, “itu karena bumi memang sedang berbicara melalui kita semua.”Larisa menatapnya heran. “Berbicara?”“Ya.” Arjuna mengangguk perlahan. “Pesan dari tanah sudah mulai menyebar.Bukan lewat kata, tapi lewat rasa yang menular ke setiap hati manusia.”Beberapa kilometer dari sana, di kawasan Cimenyan, Raksa

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 122. Rahasia di Pohon Layung

    Malam itu Bandung terasa begitu sunyi.Bukan karena semua tidur, tapi karena seluruh kota sedang mendengarkan sesuatu, sebuah irama lembut yang datang dari arah Taman Layung.Cahaya keemasan menyemburat dari sana, membentuk lengkung halus di langit seperti sayap yang sedang membuka.Larisa yang berdiri di balkon apartemennya tampak menatap arah cahaya itu dengan dada berdebar. Ia bisa merasakan sesuatu memanggilnya,bukan dengan suara, tapi dengan rasa yang menekan lembut di dalam hatinya.“Juna,” panggilnya. “Pohon itu… berubah.”Arjuna muncul dari ruang dalam, mata dan langkahnya tenang, seperti sudah tahu apa yang terjadi.“Ya,” katanya pelan. “Pohon itu mulai membuka dirinya.”Larisa menatapnya, matanya cemas.“Apakah ini akhir, Juna?”Arjuna tersenyum samar. “Tidak, Larisa.Ini awal dari kebenaran yang selama ini bumi sembunyikan.”Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah tiba di Taman Layung. Raksa, Ratih, dan Nagara sudah menunggu di sana. Cahaya dari pohon Layung kini begi

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 121. Ingatan yang Hidup

    Fajar menembus jendela dengan warna lembayung yang lebih pekat dari biasanya.Udara terasa hangat seperti tubuh bumi baru saja bernapas lebih dalam.Larisa terbangun dari tidurnya di apartemen kecilnya di Dago bersamaan dengan suara samar terdengar dari luar. Bukan suara kendaraan, bukan burung,melainkan sesuatu yang mirip nyanyian lembut dalam bahasa yang tak ia kenal.Ia berdiri di balkon, memandangi kota yang masih diselimuti kabut pagi.Namun kali ini, kabut itu bergerak seperti hidup,menggambarkan pola spiral di udara, menari di antara gedung-gedung seperti roh yang bermain.“Juna,” bisiknya, “kau merasakannya?”Dari dalam ruangan, terdengar suara Arjuna menjawab pelan. “Ya.Bandung sedang bangun, bukan dari tidur, tapi dari ingatan.”Larisa menoleh dan melihat Arjuna berdiri di dekat meja, tangan kirinya menyentuh batu kecil berwarna biru, potongan dari Layung Rasa yang dulu ia bawa dari Gunung Rakata. Cahaya lembutnya tampak memancar dari batu itu setiap kali Arjuna berbicara.

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 120. Kota yang Mengingat

    Kali ini pagi di Bandung tak lagi sekadar pergantian waktu. Kabut lembayung jingga turun perlahan dari utara, menyelubungi kota dengan cahaya lembut seperti sutra basah.Bangunan-bangunan modern di Dago, Braga, hingga Lembang tampak berpendar samar, seolah cahaya dalam batu, semen dan kaca mencoba berbicara setelah lama diam.Saat itu Larisa berjalan di sepanjang Jalan Braga, langkahnya pelan. Setiap kali ia melewati tembok tua, udara di sekitarnya bergetar lembut, muncul bayangan samar, bukan hantu, tapi potongan kenangan. Bayangan itu berupa seorang pelukis tua sedang menggores kanvas, seorang perempuan membawa bunga melati dan anak-anak Sunda berlarian di jalan batu, tertawa kecil.Ia berhenti di depan sebuah kafe yang kini tutup. Dindingnya memantulkan pantulan samar wajah Ratu Rahayu Pajajaran, ia tampak tersenyum lembut yang seakan mengawasinya dari balik waktu.Larisa menatap refleksi itu dalam diam.“Rasa mulai menulis lagi,” gumamnya.Suara langkah mendekat dari belakang.Arj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status