Beranda / Urban / Sang Peramu Hasrat / Klorin dan Keputusan Fatal

Share

Klorin dan Keputusan Fatal

Penulis: D-Cap
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-13 18:00:52

Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Jakarta sedang mendung, langitnya berwarna abu-abu memar yang menggantung rendah di atas gedung-gedung pencakar langit, seolah menahan beban yang siap tumpah kapan saja.

​Julian mengunci pintu kaca The Velvet Room dengan tangan yang sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang ditahan. Kartu nama hitam milik Clara Valenia terasa panas di saku kemejanya, seolah benda kecil itu terbuat dari bara api yang membakar kulit dadanya.

​Dia tidak membuka bar hari ini. Dia meliburkan Bimo dengan alasan renovasi mendadak. Alasan yang ironis, mengingat renovasi yang dimaksud Clara mungkin berarti menghancurkan harga dirinya sampai ke pondasi.

​Julian menyalakan mesin mobilnya, membiarkan AC menyembur maksimal untuk mendinginkan kepalanya yang berdenyut. Dia punya waktu dua jam. Dua jam sebelum tenggat waktu pukul enam sore yang diberikan sang Ratu Properti.

​"Melayani," gumam Julian sinis pada bayangannya sendiri di spion tengah. "Dia pikir aku apa? Gigolo berkedok bartender?"

​Julian menginjak gas, membelah kemacetan sore Jalan Senopati. Dia butuh berpikir. Dan tempat terbaik untuk berpikir bukan di dalam mobil yang terjebak macet, melainkan di dalam air.

​Tiga puluh menit kemudian, Julian sudah berada di area kolam renang infinity di lantai lima Apartemen The Obsidian.

​Kolam itu sepi. Mayoritas penghuni apartemen ini adalah eksekutif sibuk yang masih berkutat di kantor jam segini. Air kolam yang berwarna biru jernih memantulkan langit kelabu, menciptakan permukaan yang tenang seperti kaca.

​Julian telah berganti pakaian menjadi celana renang hitam. Dia berdiri di tepi kolam, menatap air, lalu terjun.

​Byur.

​Dinginnya air menusuk kulit, mengejutkan sistem sarafnya, membungkam suara-suara bising di kepalanya. Julian berenang sekuat tenaga. Gaya bebas. Tangannya membelah air dengan kasar, kakinya menendang kuat. Satu lap. Dua lap. Sepuluh lap.

​Dia mencoba menenggelamkan wajah sombong Clara di dasar kolam. Dia mencoba membilas jejak sentuhan tangan wanita itu di dadanya. Tapi semakin dia berenang, semakin jelas tawaran itu terngiang.

​The Velvet Room adalah segalanya. Itu adalah monumen untuk mendiang ayahnya yang mengajarkan seni meracik minuman. Jika tempat itu hilang, Julian hanyalah seonggok daging tanpa tujuan di kota yang kejam ini.

​Saat Julian mencapai ujung kolam pada lap ke-lima belas, paru-parunya terbakar meminta oksigen. Dia muncul ke permukaan, menyibakkan rambut basahnya ke belakang, dan menarik napas rakus.

​"Kau berenang seperti sedang dikejar hiu, Ian."

​Suara itu lembut, tenang, dan familiar.

​Julian menoleh, menyeka air dari matanya. Di kursi santai (lounger) di tepi kolam, duduk Dr. Sarah Wijaya.

​Wanita itu tidak sedang memakai jas dokter atau pakaian kerjanya yang kaku. Dia mengenakan one-piece swimsuit berwarna navy yang elegan, dengan potongan leher rendah yang sopan namun tetap memperlihatkan kurva payudaranya yang penuh. Kakinya yang jenjang menyilang santai, sebuah buku tebal tergeletak di pangkuannya.

​"Sarah," sapa Julian, napasnya masih terengah. "Aku nggak lihat kamu tadi."

​"Aku baru sampai," Sarah tersenyum tipis. Dia menurunkan kacamata hitamnya, menatap Julian dengan tatapan analitis yang khas. "Kau terlihat... kacau. Lebih kacau dari semalam di lift."

​Julian mendengus, lalu menarik tubuhnya naik dari kolam. Air menetes dari tubuh atletisnya, mengalir melewati otot perut dan dada bidangnya. Dia sadar Sarah sedang memperhatikannya—bukan dengan tatapan lapar seperti wanita di bar, tapi dengan tatapan apresiasi yang tenang.

​Julian mengambil handuk yang disediakan, mengeringkan wajahnya kasar. "Hari yang berat."

​"Mau cerita?" tawar Sarah. Dia menepuk bagian kosong di kursi santai sebelahnya.

​Julian ragu sejenak. Dia seharusnya menelepon Clara. Tapi jam tangannya yang tergeletak di meja sisi menunjukkan pukul 17.15. Masih ada 45 menit.

​Julian duduk di kursi sebelah Sarah, menyandarkan punggungnya yang lelah. Aroma klorin kolam bercampur dengan wangi sunblock kelapa yang dipakai Sarah.

​"Ada seseorang yang mau membeli hidupku," kata Julian tiba-tiba. Dia menatap langit yang mulai gelap. "Harganya mahal. Cukup untuk melunasi semua hutang dan menyelamatkan warisan ayahku. Tapi syaratnya... aku harus kehilangan kendali atas diriku sendiri."

​Sarah menutup bukunya perlahan. Dia memiringkan tubuhnya menghadap Julian. "Kehilangan kendali adalah ketakutan terbesarmu, kan?"

​"Siapa yang suka jadi boneka, Sar?"

​"Tergantung siapa dalangnya," jawab Sarah tenang. Jari telunjuknya mengetuk pelan sampul bukunya. "Kadang, menyerahkan kendali itu membebaskan, Ian. Kau tidak perlu lagi memikirkan semuanya sendirian. Kau hanya perlu... mengikuti arus."

​Julian menoleh menatap Sarah. Kata-kata itu terdengar berbahaya. "Itu saran psikolog atau saran tetangga?"

​Sarah tertawa kecil, suara yang renyah dan hangat. Dia mengulurkan tangan, menyentuh lengan Julian yang dingin karena air kolam. Tangannya hangat. Kontras suhu itu membuat kulit Julian meremang.

​"Itu saran dari wanita yang melihat seorang pria yang terlalu keras pada dirinya sendiri," bisik Sarah. Tatapannya turun ke bibir Julian, lalu kembali ke mata. "Kalau 'seseorang' itu membelimu, pastikan kau yang menentukan harganya. Jangan jual murah."

​Julian terdiam. Pastikan kau yang menentukan harganya.

​Ucapan Sarah seperti kunci yang membuka pintu di kepalanya. Clara memang memegang kartu As (Gedung Aradhana), tapi Clara juga menginginkan Julian. Clara butuh Julian untuk egonya, untuk koleksinya. Itu artinya Julian punya nilai tawar.

​"Terima kasih, Dok," gumam Julian.

​"Kapan-kapan bayar konsultasinya dengan makan malam," goda Sarah. Dia menarik tangannya kembali, lalu berdiri. "Aku mau berenang sebentar. Airnya terlihat enak."

​Sarah berjalan menuju bibir kolam. Julian mau tak mau memperhatikan punggung wanita itu, pinggulnya yang bergoyang anggun, dan betisnya yang kencang. Sarah terjun ke air dengan gaya yang sempurna, nyaris tanpa percikan.

​Julian mengalihkan pandangan ke jam tangannya.

​17.45.

​Waktu bermain-main sudah habis.

​Julian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tumpukan bajunya. Layarnya gelap. Dia menyalakannya, mencari nomor yang tertera di kartu nama hitam itu.

​Tangannya tidak lagi gemetar. Saran Sarah benar. Jika dia harus masuk ke dalam neraka, dia akan masuk sebagai tamu kehormatan, bukan sebagai budak.

​Julian menekan tombol panggil.

​Satu nada sambung.

Dua nada sambung.

​"Aku tahu kau akan menelepon tepat waktu, Julian."

​Suara Clara di ujung sana terdengar jernih, tajam, dan penuh kemenangan. Tidak ada sapaan 'Halo'. Wanita itu tahu dia menang.

​"Saya terima tawaran Anda, Nona Clara," kata Julian, suaranya berat dan datar.

​"Bagus," jawab Clara singkat. "Gedung itu aman. Pengacara saya sedang menyusun draf kontrak baru saat kita bicara."

​"Tapi saya punya syarat," potong Julian cepat.

​Hening sejenak di ujung telepon. Julian bisa membayangkan alis Clara terangkat.

​"Syarat?" Clara tertawa kecil, nada geli terdengar di suaranya. "Kau ada di posisi menawar?"

​"Anda bilang Anda butuh aset. Aset yang berharga harus dirawat, bukan diperas," kata Julian, mengutip filosofi yang baru saja dia bentuk. "Saya akan menjadi mixologist pribadi Anda. Saya akan melayani Anda. Tapi The Velvet Room tetap berjalan dengan aturan saya. Anda tidak boleh campur tangan dalam operasional harian atau menu. Di bar, saya rajanya. Di luar bar... terserah Anda."

​Hening lagi. Kali ini lebih lama. Jantung Julian berdetak kencang, menanti vonis.

​"Menarik," gumam Clara akhirnya. Suaranya terdengar lebih rendah, lebih... bergairah? "Saya suka pria yang berani menggigit balik. Setuju. Bar itu mainanmu. Tapi kau... mainanku."

​Julian memejamkan mata, menelan harga dirinya bulat-bulat. "Sepakat."

​"Kalau begitu, mulailah bekerja," perintah Clara. Nada suaranya berubah menjadi otoritas murni. "Datang ke penthouse saya di SCBD malam ini. Jam delapan tepat. Jangan terlambat."

​"Untuk apa?"

​"Saya sedang mood minum sesuatu yang keras, Julian. Dan saya ingin melihat apakah 'aset' baru saya ini benar-benar sebagus reputasinya."

​Klik.

​Sambungan terputus.

​Julian menurunkan ponselnya. Dia menatap layar hitam itu sejenak, lalu menatap kolam renang. Sarah masih berenang di sana, bergerak bolak-balik dengan tenang.

​Julian menghela napas panjang. Dia baru saja menjual jiwanya pada iblis ber-blazer putih.

​Dia berdiri, menyampirkan handuk di bahunya. Dia harus bersiap. Malam ini dia bukan Julian si pemilik bar. Malam ini dia adalah milik Clara Valenia.

​Dan dia harus memastikan racikannya malam ini cukup memabukkan untuk membuat sang Ratu lupa bahwa dia sedang berhadapan dengan bom waktu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 33: Koktail Beracun dan Emas yang Meleleh

    The Velvet Room, Malam Grand Re-Opening. Pukul 21.00 WIB.Bar itu berdenyut. Musik Deep House yang berat menggetarkan lantai marmer, seirama dengan detak jantung Julian yang tidak beraturan.The Velvet Room penuh sesak. Bukan oleh mahasiswa seni atau pekerja kantoran yang mencari ketenangan seperti dulu, melainkan oleh crème de la crème (kaum elit) Jakarta. Politisi korup, istri pejabat yang memakai berlian seberat dosa suami mereka, influencer Instagram yang sibuk live streaming, dan kritikus seni yang datang karena diundang Bastian Leo.

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 32: Daging Segar dan Ilusi Optik

    Kantor Bastian Leo, The Velvet Room. Pukul 14.00 WIB.Ruangan itu bau uang baru. Sofa kulit Italia, meja kaca tempered, dan karpet bulu hewan asli. Bastian Leo duduk di balik mejanya, membolak-balik sketsa "aman" yang dibawa Julian.Sketsa-sketsa itu adalah gambar lanskap surealis dan potret abstrak yang indah—karya Lily yang dimanipulasi Julian agar terlihat "artistik" namun tidak menyinggung."Bagus," komentar Bastian, melempar sketsa itu ke meja. "Tekniknya matang. Tapi... kurang nendang."Julian berdiri kaku di depan meja. "Kurang bagaimana, Bas? Itu sudah sesuai tema 'Rebirth' yang lo minta."

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 31: Neon Ungu dan Pameran Ego

    The Velvet Room, Seminggu Setelah Renovasi. Pukul 20.00 WIB.Bar itu sudah tidak seperti dulu.Lantai kayu rustic yang hangat telah diganti dengan marmer hitam yang dingin. Lampu-lampu gantung antik warisan ayah Julian sudah masuk gudang, digantikan oleh lampu strip LED neon berwarna ungu dan merah muda yang mencolok. Musik Jazz yang biasa diputar Julian kini berganti menjadi Deep House yang berdentum monoton.The Velvet Room telah kehilangan jiwanya. Sekarang, tempat ini hanyalah sebuah kelab malam mahal lainnya di Jakar

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 30: Kipas Angin Berdebu dan Undangan Sang Rival

    Kosan Petak, Gang Kelinci, Jakarta Selatan. Dua Minggu Pasca Penyitaan.Suara kipas angin dinding yang berderit (krek... krek...) menjadi satu-satunya musik pengantar tidur bagi Julian.Tidak ada lagi AC sentral yang dingin. Tidak ada seprai sutra. Tidak ada Château Margaux.Hanya ada kasur busa tipis di lantai, dinding cat hijau yang mengelupas, dan aroma selokan yang menguar dari ventilasi jendela setiap kali hujan turun.Julian berbaring menatap langit-langit yang bernoda jamur. Di sampingnya, Lily tertidur pulas sambil memeluk guling lepek. Gadis itu kelelahan setelah seharian bekerja di

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 29: Label Harga di Jidat dan Pelukan Canggung

    Halaman Gedung KPK, Kuningan. 24 Jam Pasca Penangkapan.Lampu blitz kamera membutakan mata.Begitu Julian melangkah keluar dari lobi gedung KPK setelah menjalani pemeriksaan maraton sebagai saksi kunci, dia disambut oleh lautan manusia. Wartawan, kamera TV, dan mikrofon yang disodorkan paksa ke wajahnya seperti tombak.Berita penangkapan Clara Valenia adalah Headline Nasional. CEO muda, cantik, sukses, ternyata terlibat suap lahan dan pencucian uang.Tapi bagi media gosip, sisi "bumbu" ceritanya jauh lebih menarik: Sang Pelapor adalah Kekasihnya Sendiri."Mas Julian! Mas Julian! Benar Anda yang membocorkan dokumen itu?"

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 28: Denting Gelas dan Sirene

    Penthouse Clara Valenia, Pukul 09.45 WIB.Empat puluh lima menit berlalu sejak Julian menutup telepon dari layanan pengaduan KPK.Clara sudah kembali dari gudang wine di lantai bawah. Dia membawa botol Château Margaux 2015 yang diminta Julian—botol yang sama yang menjadi awal obsesinya di foto tahun 2022. Ironis. Botol itu menandai awal dan akhir segalanya.Julian duduk di sofa kulit hitam, kakinya disilangkan santai. Dia sudah tidak lagi gemeta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status