Beranda / Urban / Sang Peramu Hasrat / Surat Peringatan & Sepatu Hak Tinggi

Share

Surat Peringatan & Sepatu Hak Tinggi

Penulis: D-Cap
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-13 07:00:34

Cahaya matahari pukul satu siang adalah musuh alami bagi The Velvet Room.

Tanpa keremangan lampu kuning dan ilusi malam, bar itu terlihat telanjang. Debu-debu halus terlihat menari di bekas sorotan cahaya yang menembus celah ventilasi. Lantai kayu yang semalam terlihat eksotis kini menampakkan goresan-goresan tua. Dan Julian, yang duduk di salah satu kursi bar dengan kemeja flanel kusut dan rambut berantakan, terlihat bukan seperti pangeran malam, melainkan seorang pria yang sedang di ujung tanduk.

Di hadapannya, tergeletak sebuah amplop cokelat dengan kop surat resmi: PT. ARADHANA PROPERTI.

Isinya singkat, padat, dan mematikan. Gedung tua ini—rumah bagi satu-satunya warisan yang Julian banggakan—telah dijual kepada pihak ketiga. Pemilik baru berencana merenovasi total area Senayan Lama menjadi kompleks perkantoran modern.

Artinya satu hal: The Velvet Room harus angkat kaki dalam waktu 30 hari, atau membayar denda pembatalan kontrak yang nominalnya membuat kepala Julian berdenyut nyeri.

"Sial," umpat Julian pelan. Dia memijat pelipisnya. Semalam dia hampir kehilangan kendali dengan Giselle, lalu diselamatkan atau malah dijebak oleh Sarah, dan digoda oleh gadis ingusan bernama Lily. Sekarang, realitas finansial datang menamparnya.

Dia menyesap kopi hitam dinginnya yang sudah terasa asam. Dia butuh investor. Tapi siapa yang mau menanam modal di bar jazz niche yang pemasukannya tidak stabil?

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan di pintu kaca depan memecah keheningan. Julian mengerutkan kening. Tanda “CLOSED” masih terpampang jelas. Dia tidak mengharapkan kiriman barang hari ini.

Julian turun dari kursi, berjalan gontai menuju pintu. Saat dia membuka kunci dan mendorong pintu kaca itu, dia tidak menemukan kurir paket.

Sebuah mobil sedan coupe hitam mengkilap—jenis mobil Eropa yang harganya setara dengan sewa gedung ini selama sepuluh tahun—terparkir arogan tepat di depan pintu masuk, memblokir trotoar. Mesinnya masih menyala halus.

Pintu mobil terbuka. Sepasang kaki jenjang yang dibalut stocking hitam tipis turun lebih dulu, disusul oleh sepatu stilettomerah darah dengan hak setinggi sepuluh sentimeter yang menusuk aspal panas Jakarta.

Seorang wanita keluar. Dia mengenakan setelan blazer putih ivory yang memeluk tubuhnya dengan presisi jahitan butik mahal. Rambut hitam lurusnya dipotong bob tajam, membingkai wajah yang cantik namun sedingin es. Dia memakai kacamata hitam besar yang menyembunyikan matanya, tapi Julian bisa merasakan tatapan wanita itu sedang menilainya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Ini bukan tamu nyasar. Ini adalah bencana alam.

"Julian Baskara?" tanya wanita itu. Suaranya jernih, tegas, dan tidak mengandung nada basa-basi.

"Ya. Maaf, kami belum buka," jawab Julian defensif, menyilangkan tangan di dada. Dia sadar penampilannya sedang kacau, tapi dia menolak untuk terlihat terintimidasi.

Wanita itu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan sepasang mata tajam berbentuk almond yang menatap Julian seolah dia adalah noda di karpet mahal.

"Saya tidak datang untuk minum, Tuan Baskara. Saya datang untuk melihat aset saya," katanya sambil melangkah maju, memaksa Julian untuk mundur memberinya jalan.

"Aset?" Julian menahan pintu, bingung.

"Gedung Aradhana," jawab wanita itu santai, melangkah masuk ke dalam The Velvet Room tanpa permisi. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang berbau sisa alkohol semalam, hidungnya sedikit berkerut jijik, atau mungkin tertarik. "Saya pemilik baru gedung ini. Clara Valenia."

Nama itu menghantam Julian seperti pukulan fisik. Clara Valenia. CEO muda dari Valenia Tech, salah satu start-up unicorn yang sering masuk majalah bisnis. Julian pernah melihat wajahnya di sampul majalah yang tertinggal di lobi apartemen Sarah.

"Jadi... Anda yang mau menggusur bar ini?" tanya Julian, suaranya memberat. Dia menutup pintu, mengurung mereka berdua di dalam keremangan bar.

Clara berbalik. Dia berjalan menuju meja bar, jari telunjuknya yang lentik menyapu permukaan kayu mahoni, memeriksa debu.

"Menggusur adalah kata yang kasar. Saya lebih suka istilah... restrukturisasi," koreksi Clara. Dia duduk di kursi bar—kursi yang sama yang diduduki Giselle semalam—dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja menduduki takhta jarahan. "Saya melihat laporan keuanganmu, Julian. Bar ini hidup segan mati tak mau. Kenapa kau bertahan?"

"Ini bukan soal uang," desis Julian, mendekat. "Ini soal jiwa. Tempat ini punya nyawa."

Clara tertawa kecil. Tawa yang kering, tanpa humor. "Jiwa tidak bisa membayar tagihan listrik, Sayang."

Panggilan "Sayang" itu terdengar merendahkan, namun anehnya, membuat darah Julian mendesir.

"Dengar, Nona Clara," Julian menumpukan kedua tangannya di meja bar, menatap tajam wanita itu. "Saya punya kontrak sewa yang sah. Anda tidak bisa begitu saja—"

"Kontrakmu punya klausul pembatalan sepihak jika gedung berpindah tangan," potong Clara cepat. Dia mengeluarkan tablet tipis dari tas kerjanya, meletakkannya di meja. Layarnya menyala, menampilkan grafik keuangan bar Julian yang menyedihkan. "Secara hukum, saya bisa melemparmu keluar besok pagi. Dan kau tidak punya uang untuk menuntut saya."

Julian terdiam. Rahangnya mengeras. Dia kalah. Dia tahu dia kalah.

Clara mengamati perubahan ekspresi Julian. Dari marah, menjadi putus asa, lalu menjadi dingin kembali. Dia menyukai apa yang dia lihat. Pria ini tidak memohon. Pria ini menelan kekalahannya dengan harga diri.

"Tapi..." lanjut Clara, memecah keheningan. Dia menyilangkan kakinya, gaun pendek di balik blazer-nya tersingkap sedikit, memperlihatkan paha yang jenjang. "Saya suka tempat ini. Ada... potensi."

Julian mengangkat alis. "Potensi?"

"Saya butuh tempat hiburan privat. Tempat untuk menjamu klien-klien VIP saya yang bosan dengan kemewahan hotel bintang lima. Mereka butuh sesuatu yang authentic. Sesuatu yang... gelap dan menggairahkan," mata Clara menatap lurus ke mata Julian, penuh arti. "Dan saya butuh seseorang yang bisa menjaga rahasia mereka."

"Anda menawari saya kemitraan?" tanya Julian skeptis.

"Saya menawarimu keselamatan," koreksi Clara. "Saya tidak akan menggusur The Velvet Room. Saya bahkan akan menyuntikkan dana renovasi. Hutang-hutangmu? Saya yang urus."

Tawaran itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Julian tahu tidak ada makan siang gratis di dunia bisnis, apalagi dengan wanita sekelas Clara Valenia.

"Apa imbalannya?" tanya Julian waspada. "Anda mau saham? Berapa persen? 51?"

Clara tersenyum miring. Dia berdiri, berjalan memutari meja bar hingga dia berdiri di samping Julian. Aroma parfumnya—jasmine dan uang kertas baru—menguar kuat. Dia jauh lebih pendek dari Julian, tapi auranya membuat dia terasa lebih besar.

"Saya tidak butuh uang receh dari bisnis kecilmu, Julian," bisik Clara. Dia mengulurkan tangan, merapikan kerah kemeja flanel Julian yang berantakan. Sentuhannya ringan, tapi posesif. "Saya butuh... aset."

"Aset apa?"

"Kamu," jawab Clara singkat.

Jantung Julian berhenti berdetak sesaat.

"Saya ingin kamu menjadi personal mixologist saya," lanjut Clara, jarinya kini turun ke kancing dada Julian. "Eksklusif. Kapan pun saya butuh, di mana pun saya butuh. Di bar ini... di kantor saya... atau di rumah saya."

"Itu terdengar seperti perbudakan," kata Julian kaku.

"Itu terdengar seperti penyelamatan," balas Clara. Dia menarik kerah kemeja Julian, memaksanya menunduk sedikit. Wajah mereka kini sangat dekat. Julian bisa melihat pori-pori kulit Clara yang sempurna. "Pikirkan, Julian. Bar ini tetap milikmu. Mimpimu tetap hidup. Kau hanya perlu... melayaniku."

Kata "melayani" itu menggantung berat di udara. Julian bukan orang bodoh. Dia tahu persis apa yang dimaksud Clara. Ini bukan hanya soal meracik minuman. Ini adalah soal kepemilikan. Clara tidak sedang membeli gedung; dia sedang membeli Julian.

Harga diri Julian berteriak untuk menolak. Dia ingin mengusir wanita sombong ini keluar.

Tapi kemudian dia melihat sekeliling barnya. Kursi-kursi beludru tua, botol-botol antik, panggung tempat Giselle biasa bernyanyi. Jika dia menolak, semua ini akan rata dengan tanah besok pagi.

Julian menatap mata Clara. Di balik dinginnya tatapan CEO itu, Julian melihat kilatan hasrat yang sama seperti yang dia lihat pada wanita-wanita lain. Hasrat untuk menaklukkan. Hasrat untuk memiliki sesuatu yang tidak bisa dimiliki orang lain.

"Apa yang terjadi kalau saya menolak?" tanya Julian pelan.

Clara melepaskan kerah Julian, merapikan blazer-nya sendiri. "Maka besok pagi bulldozer akan parkir di depan pintu. Dan kau akan kembali jadi gelandangan tampan di Jakarta."

Wanita itu mengambil kartu nama hitam elegan dari saku blazer-nya, meletakkannya di saku dada kemeja Julian, menepuknya pelan tepat di atas jantung.

"Hubungi saya sebelum jam enam sore. Saya tidak suka menunggu," kata Clara.

Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan berjalan keluar, bunyi hak sepatunya kembali mengetuk lantai kayu dengan irama kemenangan.

Julian berdiri mematung di tengah barnya yang sunyi. Dia mengambil kartu nama itu.

Clara Valenia. CEO. Dan sekarang, pemilik nasib Julian Baskara.

Julian tertawa getir. Dia baru saja lepas dari mulut harimau, hanya untuk masuk ke dalam kandang singa betina. Dia meremas kartu itu di tangannya.

Empat dosa. Satu sudah datang dengan surat pengusiran. Satu dengan KTP palsu. Satu dengan kenangan masa lalu. Dan satu dengan jarum suntik penenang.

Permainan baru saja dimulai, dan Julian sadar, dia bukan pemainnya. Dia adalah hadiah utamanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 33: Koktail Beracun dan Emas yang Meleleh

    The Velvet Room, Malam Grand Re-Opening. Pukul 21.00 WIB.Bar itu berdenyut. Musik Deep House yang berat menggetarkan lantai marmer, seirama dengan detak jantung Julian yang tidak beraturan.The Velvet Room penuh sesak. Bukan oleh mahasiswa seni atau pekerja kantoran yang mencari ketenangan seperti dulu, melainkan oleh crème de la crème (kaum elit) Jakarta. Politisi korup, istri pejabat yang memakai berlian seberat dosa suami mereka, influencer Instagram yang sibuk live streaming, dan kritikus seni yang datang karena diundang Bastian Leo.

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 32: Daging Segar dan Ilusi Optik

    Kantor Bastian Leo, The Velvet Room. Pukul 14.00 WIB.Ruangan itu bau uang baru. Sofa kulit Italia, meja kaca tempered, dan karpet bulu hewan asli. Bastian Leo duduk di balik mejanya, membolak-balik sketsa "aman" yang dibawa Julian.Sketsa-sketsa itu adalah gambar lanskap surealis dan potret abstrak yang indah—karya Lily yang dimanipulasi Julian agar terlihat "artistik" namun tidak menyinggung."Bagus," komentar Bastian, melempar sketsa itu ke meja. "Tekniknya matang. Tapi... kurang nendang."Julian berdiri kaku di depan meja. "Kurang bagaimana, Bas? Itu sudah sesuai tema 'Rebirth' yang lo minta."

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 31: Neon Ungu dan Pameran Ego

    The Velvet Room, Seminggu Setelah Renovasi. Pukul 20.00 WIB.Bar itu sudah tidak seperti dulu.Lantai kayu rustic yang hangat telah diganti dengan marmer hitam yang dingin. Lampu-lampu gantung antik warisan ayah Julian sudah masuk gudang, digantikan oleh lampu strip LED neon berwarna ungu dan merah muda yang mencolok. Musik Jazz yang biasa diputar Julian kini berganti menjadi Deep House yang berdentum monoton.The Velvet Room telah kehilangan jiwanya. Sekarang, tempat ini hanyalah sebuah kelab malam mahal lainnya di Jakar

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 30: Kipas Angin Berdebu dan Undangan Sang Rival

    Kosan Petak, Gang Kelinci, Jakarta Selatan. Dua Minggu Pasca Penyitaan.Suara kipas angin dinding yang berderit (krek... krek...) menjadi satu-satunya musik pengantar tidur bagi Julian.Tidak ada lagi AC sentral yang dingin. Tidak ada seprai sutra. Tidak ada Château Margaux.Hanya ada kasur busa tipis di lantai, dinding cat hijau yang mengelupas, dan aroma selokan yang menguar dari ventilasi jendela setiap kali hujan turun.Julian berbaring menatap langit-langit yang bernoda jamur. Di sampingnya, Lily tertidur pulas sambil memeluk guling lepek. Gadis itu kelelahan setelah seharian bekerja di

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 29: Label Harga di Jidat dan Pelukan Canggung

    Halaman Gedung KPK, Kuningan. 24 Jam Pasca Penangkapan.Lampu blitz kamera membutakan mata.Begitu Julian melangkah keluar dari lobi gedung KPK setelah menjalani pemeriksaan maraton sebagai saksi kunci, dia disambut oleh lautan manusia. Wartawan, kamera TV, dan mikrofon yang disodorkan paksa ke wajahnya seperti tombak.Berita penangkapan Clara Valenia adalah Headline Nasional. CEO muda, cantik, sukses, ternyata terlibat suap lahan dan pencucian uang.Tapi bagi media gosip, sisi "bumbu" ceritanya jauh lebih menarik: Sang Pelapor adalah Kekasihnya Sendiri."Mas Julian! Mas Julian! Benar Anda yang membocorkan dokumen itu?"

  • Sang Peramu Hasrat   Bab 28: Denting Gelas dan Sirene

    Penthouse Clara Valenia, Pukul 09.45 WIB.Empat puluh lima menit berlalu sejak Julian menutup telepon dari layanan pengaduan KPK.Clara sudah kembali dari gudang wine di lantai bawah. Dia membawa botol Château Margaux 2015 yang diminta Julian—botol yang sama yang menjadi awal obsesinya di foto tahun 2022. Ironis. Botol itu menandai awal dan akhir segalanya.Julian duduk di sofa kulit hitam, kakinya disilangkan santai. Dia sudah tidak lagi gemeta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status