LOGIN
“KEYRA!”
Nama itu meledak dari tenggorokan Rayhan... bukan sekadar panggilan, melainkan jeritan naluriah seseorang yang baru saja melihat dunianya hancur di depan mata.
Pintu kamar hotel terbuka penuh.
Cahaya lampu putih menyergap matanya dengan kejam, menusuk tajam yang tanpa ampun membelah kenyataan. Udara kamar itu berbau campuran parfum mahal dan sisa keringat... bau intim yang tidak seharusnya ia hirup.
Dan di sanalah semuanya berakhir.
Di atas ranjang besar dengan seprai putih yang kusut tak beraturan, Keyra Geraldine terbaring setengah duduk. Rambut panjangnya tergerai acak, kulit lehernya masih hangat dan memerah, dadanya naik turun di balik selimut hotel yang hanya menutupinya setengah hati.
Bukan itu yang paling menghancurkan.
Di sampingnya, sahabat dekatnya... Daniel Wongso duduk santai, telanjang tanpa rasa malu, tubuhnya hanya diselimuti kain tipis yang bahkan tidak ia rapikan. Wajahnya tenang. Terlalu tenang dengan situasi seperti ini. Tidak ada rasa kaget. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penyesalan sedikit pun.
Rayhan merasa seperti baru saja didorong dari tebing yang tinggi tanpa peringatan.
“A-apa…” Suaranya keluar patah-patah. Tenggorokannya kering. “Apa yang kalian lakukan?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, rapuh dan bodoh... karena jawabannya sudah terhampar dengan jelas di depan matanya.
Keyra mendengus pelan. Tatapannya beralih ke Rayhan, dingin dan menusuk, dipenuhi kesombongan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan yang membuat perut Rayhan bergejolak.
“Bukan urusanmu, Ray,” ucapnya datar. “Kau nggak punya hak mengatur hidupku.”
Kalimat itu seperti pisau yang ditarik perlahan di dada Rayhan.
“Aku?” Rayhan melangkah satu langkah, dadanya sesak. “Aku mengatur hidupmu? Aku cuma nanya... kenapa kamu ada di sini. Sama dia!”
Keyra menggulung rambutnya dengan malas, seolah Rayhan hanyalah gangguan kecil yang merusak suasana pagi.
“Sudah jelas, kan?” katanya dengan senyum tipis yang menyakitkan. “Apa matamu buta sampai nggak bisa lihat apa yang kami lakukan?”
Setiap kata menusuk. Setiap suku kata memaku harga diri Rayhan ke lantai kamar hotel itu.
“Kau selingkuh, Keyra!” Rayhan berteriak. Amarah dan luka bercampur menjadi satu racun yang membakar dadanya. “Kau hancurin hubungan kita!”
Keyra justru tertawa kecil.
Tawa itu... tajam, ringan, dan kejam—terdengar seperti kaca yang dipecahkan tepat di telinga Rayhan.
“Selingkuh?” Keyra mengulang sambil memutar mata. “Coba sadar deh, Ray. Tiap kita jalan, aku yang bayar. Kamu itu apa? Cowok kere yang numpang hidup! Masih berani teriak-teriak segala.”
Rayhan membeku.
Kata-kata itu lebih sakit daripada pukulan mana pun. Lebih menyakitkan daripada ditampar di depan umum.
Daniel akhirnya angkat bicara.
“Bro,” katanya santai, terlalu santai, “mending kamu keluar dari kamar ini.”
Nada suaranya membuat Rayhan ingin muntah. Seolah-olah Daniel adalah pemilik ruangan, dan Rayhan hanyalah noda kotor yang tak sengaja masuk.
Rayhan menatap wajah itu lama.
Wajah sahabatnya.
Orang yang dulu makan mi instan bersamanya di kamar sempit. Orang yang begadang mengerjakan tugas kuliah. Orang yang memeluknya saat ia hancur karena kegagalan pertama dalam hidup.
Semua itu… ternyata palsu.
“Kenapa kamu tega, Dan?” Suara Rayhan parau. “Aku sudah anggap kamu kayak saudara.”
Daniel menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, senyum tipis terukir di wajahnya... senyum orang yang merasa berada di puncak.
“Keyra nggak pernah cinta sama kamu,” katanya dingin. “Sadarlah. Kamu bisa kasih apa ke dia? Aku deket sama kamu cuma buat satu hal... biar dia ngelirik aku. Kamu itu… beda level.”
Kata-kata itu menghantam seperti paku panas yang ditancapkan ke tulang.
Rayhan mengepalkan tangan. Tangannya gemetar. Dadanya terasa ingin meledak.
Dan sebelum ia sempat bernapas...
“Biar kamu cepet nyadar, Ray,” Keyra menambahkan dengan suara manis yang beracun. “Kamu itu miskin. Kamu bukan levelku.”
Ia tersenyum sinis.
“Daniel jelas lebih bisa memuaskanku dibandingkan kamu.”
Dunia Rayhan langsung hancur saat itu juga.
“Bagaimana aku bisa memuaskanmu sedangkan menyentuhmu saja aku belum pernah!” seru Rayhan dengan wajah kesal.
“Cih! Tak tahu malu! Pergi saja kau dari sini... dasar sampah!” kata Keyra dengan ketus dan penuh penghinaan.
“Aku… aku nggak terima, Key.” Suaranya pecah, nyaris menangis, nyaris runtuh sepenuhnya.
Daniel bangkit berdiri. Wajahnya penuh rasa tidak senang dengan kehadiran Rayhan.
“Bro... aku saranin kamu keluar sekarang,” katanya mengancam. “Atau aku laporin kamu ke atasanmu karena telah membuat tamu hotel tidak nyaman.”
Nama itu langsung terngiang di kepala Rayhan seperti sirene kematian.
Hadi Atmaja.
Bos kejam yang bisa memecat karyawan tanpa berkedip.
Pikiran Rayhan langsung berlari liar—hutang PayLater, biaya kuliah, kosan yang nunggak tiga bulan, gaji yang habis demi hadiah-hadiah Keyra.
Jika ia dipecat… selesai sudah.
“Brengsek kamu, Dan!” Rayhan akhirnya meledak.
Ia melayangkan pukulan...
BUK!
Tinju Daniel lebih cepat.
Hantaman keras mendarat tepat di bibir Rayhan. Rasa panas menjalar, disusul rasa asin darah yang mengalir ke dagunya.
“KELUAR!” teriak Daniel.
Rayhan belum sempat bangkit ketika Daniel sudah mengambil ponselnya.
“Pak Hadi, tolong datang sekarang. Usir anak buah Bapak dari kamar saya.”
Rayhan terkejut dan terdiam..
Napasnya tercekat. Dadanya sesak seperti diikat tali yang makin lama makin kencang.
“Dan… tolong…” Rayhan berlutut hampir jatuh. “Jangan panggil Pak Hadi… aku mohon…”
“Terlambat,” Daniel mendengus. “Tadi sudah aku sudah suruh kau pergi, tapi kau malahan mau memukulku.”
Keyra menyilangkan tangan di dada, wajahnya penuh kemenangan.
“Biar mampus kau, Ray,” katanya mengejek. “Dasar miskin banyak gaya. Pantas cuma bisa beliin aku hadiah dari gaji pas-pasan.”
Rayhan tak lagi merasa hatinya retak.
Hatinya hancur berkeping-keping.
Di kamar putih itu... di bawah cahaya lampu yang kejam, Rayhan menyadari satu hal...
Tidak ada yang peduli dengan orang miskin yang tak penting seperti dirinya.
Tidak ada satu pun.
“AARGH! Apa yang kau lakukan?!”Rayhan terpaku. Ia tidak menyangka serangannya akan sekuat itu.Pria kedua mundur dengan wajah pucat. Tatapannya berpindah dari tangan Rayhan menuju cincin safir yang berkilau di jari manisnya.“Cincin itu…” gumamnya.Rayhan langsung menangkap perubahan ekspresinya. “Kau mengenali benda ini?”Pria itu tidak menjawab. Ia justru menarik rekannya yang kesakitan. “Kita harus pergi!”“Tidak sebelum dia mati!” bentak si kekar.“Kau mau melawan orang yang bisa membekukan tulangmu? Silakan! Aku tidak dibayar cukup mahal untuk menjadi patung es!”Pria kedua menyeret rekannya menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh dan menunjuk Rayhan. “Ini belum berakhir!”Rayhan menyandarkan tangan ke meja, berusaha menstabilkan napas.“Ucapan itu mulai membosankan,” gumamnya.Kedua pria itu menghilang ke dalam kegelapan malam. Rumah kembali sunyi, hanya menyisakan suara angin yang masuk melalui pintu rusak.“Mas Rayhan!” Nabila berlari dari belakang rumah. Ia berhenti begitu m
BRAK! BRAK! BRAK!Pintu kayu rumah Nabila bergetar keras. Debu berjatuhan dari kusen, sementara suara seorang pria kembali terdengar dari luar.“Buka pintunya! Kami tahu orang yang kami cari ada di dalam!”Nabila berdiri kaku di samping meja. Wajahnya pucat, dan kedua tangannya mencengkeram ujung bajunya.Rayhan segera bangkit dari kursi.“Tenang,” bisiknya. “Jangan buka pintu sebelum aku menyuruhmu.”“Tapi mereka membawa senjata.” Nabila melirik celah jendela. “Aku melihat salah seorang memegang pisau.”“Kalau begitu, jangan berdiri dekat jendela.”Rayhan menarik Nabila menjauh dari dinding depan. Gerakannya membuat bahu yang terluka kembali terasa nyeri, tetapi ia menggertakkan gigi dan menahannya.Di jari manisnya, cincin safir mengeluarkan hawa dingin yang semakin kuat.Anehnya, kali ini Rayhan tidak hanya merasakan dingin. Ada aliran energi samar yang bergerak dari batu safir, menyusuri jari, lalu memasuki telapak tangannya. Sensasinya seperti air mengalir di dalam pembuluh darah,
“Mas! Mas, bisa dengar suara saya?”Suara seorang perempuan terdengar samar di tengah kesadaran Rayhan yang hampir padam. Hujan rintik-rintik mulai membasahi wajahnya, bercampur dengan darah yang mengalir dari pelipis. Tubuhnya terbaring miring di antara semak berduri, sementara air sungai dangkal mengalir beberapa sentimeter dari ujung sepatunya.Rayhan berusaha membuka mata.Sosok perempuan muda berjongkok di hadapannya. Rambut hitamnya diikat sederhana, beberapa helai jatuh menutupi pipi. Ia mengenakan jaket lusuh berwarna cokelat dan celana panjang yang ujungnya basah oleh lumpur. Sebuah keranjang rotan tergeletak di sampingnya, berisi sayuran liar dan beberapa tanaman obat.“Syukurlah! Masih sadar!” Perempuan itu mengembuskan napas lega.Rayhan mencoba bangkit, tetapi rasa sakit langsung menjalar dari bahu hingga pinggang. “Aduh!”“Jangan bergerak dulu!” Perempuan itu segera menahan bahunya. “Kau jatuh dari atas sana?”Rayhan mengangguk lemah.“Bagaimana bisa jatuh dari jalan seti
Saat ujung pisau hampir menyentuh kemejanya, aliran dingin menyembur dari tangannya. Serangan itu menyimpang beberapa sentimeter, meleset dari dada dan menggores lengan kirinya.Rayhan terhuyung. Rasa perih menjalar dari luka tipis di lengannya. Darah merah membasahi kain kemeja, tetapi ia masih berdiri.Penyerangnya membelalak. “Apa-apaan tadi?”Rayhan sendiri tidak tahu. Ia hanya menatap cincin safir yang kini berkilau samar. Ujung jari-jarinya terasa mati rasa, sementara hawa dingin berputar di telapak tangan.Pria bertopeng itu menggeram dan kembali menyerang.Kali ini Rayhan berusaha menghindar. Kakinya terpeleset di atas aspal lembap, membuat tubuhnya jatuh ke satu lutut. Pisau melintas tepat di atas kepalanya.Pria bertubuh kekar segera menerjang dari samping. Pukulan keras menghantam bahu Rayhan.Rasa sakit meledak hingga ke leher. Ia terlempar beberapa langkah dan membentur sisi SUV.“Berhenti melawan!” bentak pria itu.Rayhan terbatuk, berusaha menarik napas. “Kalian berdua…
SUV hitam itu berhenti mendadak.Tubuh Rayhan Halim terhentak ke depan. Sabuk pengaman menekan dadanya, sementara ban mobil mengeluarkan decitan panjang di atas aspal basah.“Apa-apaan ini?” seru Rayhan.Darto mencengkeram kemudi dengan kedua tangan. Wajahnya pucat, keringat membasahi pelipisnya meskipun udara pegunungan terasa dingin.“Mobil di depan menghalangi jalan, Tuan Muda.”Rayhan menatap mobil pikap tua yang melintang beberapa meter di hadapan mereka. Kap mesinnya terbuka, tetapi tidak ada asap ataupun tanda kerusakan. Kaca jendelanya gelap. Tidak seorang pun terlihat di dalam.“Kalau rusak, kenapa parkirnya melintang seperti itu?” Rayhan bertanya.Darto tidak menjawab.Di sampingnya, Rendra justru tampak tenang. Pria itu merapikan manset kemejanya, lalu mengembuskan napas seolah mereka hanya mengalami gangguan kecil dalam perjalanan.“Turun dan periksa mobil itu,” perintahnya.Darto menelan ludah. “Tuan, mungkin lebih baik kita...”“Apa kau tuli?”“Baik, Tuan.”Darto membuka
Papan bertuliskan FORBIDDEN VILLAGE — 5 KM perlahan menghilang di belakang SUV hitam yang melaju menembus kabut pegunungan.Rayhan Halim menyandarkan punggungnya pada jok kulit. Dari balik kaca jendela, pepohonan tinggi tampak seperti bayangan raksasa yang mengawasi jalan sempit itu. Kabut menggantung rendah, membatasi jarak pandang hingga beberapa meter. Sesekali, ranting kering menggores bodi mobil, menimbulkan suara mencicit yang membuat suasana semakin tidak nyaman.Di jari manisnya, cincin safir berdenyut dingin. Rayhan mengusap permukaannya dengan ibu jari. Apa sebenarnya yang ingin kau peringatkan kepadaku?Sejak melewati pos pemeriksaan terbengkalai tadi, suhu cincin itu terus menurun. Dingin yang awalnya hanya terasa seperti menyentuh es kini merambat hingga ke pergelangan tangannya.Di kursi depan, Rendra melirik melalui kaca spion. “Kenapa diam saja? Biasanya kau punya banyak pertanyaan.”Rayhan mengangkat kepala. “Aku sedang menikmati pemandangan.”Rendra tertawa pendek. “P







