Share

Pecat

Author: Bebby
last update Last Updated: 2026-02-01 18:38:47

Siang itu, udara di sepanjang koridor Hotel Angin Samudera seolah menegang hanya karena satu nama.

Hadi Atmaja.

Nama itu tak perlu diucapkan keras-keras. Ia merambat dari mulut ke mulut seperti bisikan kutukan—lirih, takut, dan penuh kehati-hatian. Para karyawan yang berpapasan refleks menunduk, langkah mereka melambat, napas tertahan. Pria paruh baya di puncak kariernya itu dikenal tanpa ampun: dingin, kejam, dan sama sekali tak memberi ruang untuk kesalahan, sekecil debu di lantai marmer. Senyumnya adalah pertanda buruk—jika ia tersenyum, biasanya ada seseorang yang kariernya akan berakhir hari itu juga.

Bunyi langkah sepatunya berhenti.

Tepat di depan pintu sebuah kamar hotel lantai atas—kamar yang beberapa menit lalu menjadi saksi bisu runtuhnya hidup seseorang.

Pintu terbuka.

Gelombang aroma parfum mahal langsung menyergap, bercampur asap cerutu yang menggantung tebal di udara. Hadi melangkah masuk dengan rahang mengeras. Tatapannya menyapu ruangan tanpa emosi: seprai putih yang kusut seperti habis direnggut paksa, gelas kristal dengan sisa minuman berwarna keemasan, dan pakaian yang tergeletak sembarangan.

Di dekat pintu, Rayhan berdiri kaku. Wajahnya pucat, matanya merah dan basah, napasnya masih tersengal seolah baru ditarik dari dasar laut. Tubuhnya tegang, bahunya turun-naik menahan emosi yang hampir meledak.

Di sisi lain ruangan, perbedaan mencolok yang menyakitkan tersaji. Daniel bersandar santai di tepi ranjang, setelan mahalnya rapi, ekspresinya penuh kepercayaan diri. Di sampingnya, Keyra berdiri dengan dagu terangkat, kedua lengannya terlipat, sorot matanya tajam... dingin dan penuh kebencian.

“Tuan Daniel,” suara Hadi akhirnya terdengar. Rendah dan datar. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

Rayhan refleks melangkah setengah langkah ke depan. “Begini, Bos...”

“Diam kau!”

Bentakan itu menghantam ruangan seperti geledek. Udara seolah bergetar. Rayhan langsung membeku, kata-katanya mati di tenggorokan, lidahnya terasa kelu.

“Apa aku sedang bertanya kepadamu?” lanjut Hadi tajam, bahkan tanpa menoleh ke arahnya.

Daniel tersenyum tipis. Ia meraih cerutu Cohiba dari atas meja, memutarnya pelan di antara jari, lalu menyalakannya dengan gerakan santai. Api kecil menyala, dan ia mengisap dalam-dalam. Asap kelabu mengepul, naik perlahan, melayang malas... seolah ikut meremehkan semua yang ada di ruangan itu.

Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang menekan dada.

Setelah menghembuskan asap panjang, Daniel akhirnya bicara. Nadanya sinis, sarat rasa superior.

“Anak buahmu,” katanya sambil melirik Rayhan sekilas, seperti melihat noda di sepatu, “telah mengganggu kenyamanan kami berdua.” Bibirnya melengkung tipis. “Aku minta dia dipecat. Tanpa pesangon.”

Hadi mengerutkan kening. Pandangannya beralih ke Rayhan... karyawan yang selama ini bekerja tanpa cela, datang paling pagi, pulang paling akhir, tak pernah banyak menuntut. Bahkan gajinya lebih rendah dibanding karyawan lain dengan posisi serupa.

“Dipecat?” ulang Hadi pelan.

Namun keraguan itu hanya bertahan sepersekian detik. Sebuah fakta pahit menghantam benaknya: Daniel adalah anak tunggal salah satu pemegang saham terbesar Hotel Angin Samudera. Satu keputusan keliru saja, dan seluruh karier yang ia bangun bertahun-tahun bisa lenyap dalam semalam.

Daniel menyeringai, lalu mencondongkan tubuh. Tatapannya menyipit, dingin dan mengancam.

“Benar. Kau harus memecat Rayhan.”

Nada suaranya mengeras. “Pilih dia… atau kau sendiri yang dipecat.”

Ancaman itu menancap tanpa ampun.

“Mampus kau!” teriak Keyra tiba-tiba. Suaranya tajam, penuh kebencian yang tak lagi disembunyikan.

Rayhan menoleh. Dadanya seperti diremas kuat, napasnya tertahan.

Ia menatap Keyra... wanita yang dulu ia lindungi dari dunia, ia perjuangkan dengan keringat dan harga diri, ia cintai sepenuh jiwa. Wanita yang kini memandangnya seolah ia hanyalah sampah yang ingin segera disingkirkan oleh kekasih barunya.

“K-Keyra…” suaranya bergetar, rapuh. “Tega sekali kau…”

Namun Keyra sama sekali tak tersentuh. Wajahnya justru semakin keras. Bibirnya melontarkan hinaan tanpa sisa empati.

“Dasar kere!” bentaknya. “Sudah kere, nggak tahu diri pula! Numpang hidup! Lebih baik mati saja kau sekalian, Rayhan!”

Setiap kata menghantam seperti pisau, lebih tajam dari apa pun yang pernah ia rasakan.

Daniel mendecak pelan, jelas bosan dengan drama di depannya. “Aku tidak punya banyak waktu,” ujarnya santai. “Tampar wajahmu sendiri seratus kali sambil bilang kau pria tak berguna.” Senyum kejam terlihat jelas di wajahnya. “Mungkin… mungkin saja aku pertimbangkan kau bisa bekerja lagi.”

Di titik itu, sesuatu dalam diri Rayhan runtuh.

Dadanya terasa panas, napasnya berat, telinganya berdenging. Dunia seolah menyempit, hanya menyisakan tiga wajah di hadapannya—dua yang penuh penghinaan, satu yang dingin tanpa belas kasihan. Kekasihnya dan atasannya… ternyata hanya topeng kosong yang dipenuhi kebusukan.

Rayhan mengepalkan tangan erat-erat. Kukunya menekan telapak, menahan gemetar. Matanya memerah, menatap Daniel tanpa rasa takut.

“Bangsat kau, Dan!” teriaknya. Suaranya menggema, pecah oleh amarah. “Aku akan membalas semua perbuatanmu!”

PLAAAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya.

Kepala Rayhan terhempas ke samping. Rasa perih menjalar, panas, menyengat. Darah terasa asin di sudut bibirnya.

Hadi berdiri tepat di hadapannya. Tangan masih terangkat. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi, seolah baru saja memukul benda mati.

“Diam kau!” bentaknya. “Dasar sampah tak berguna! Beraninya kau mengancam Tuan Daniel!”

“Bos…” Rayhan terengah, berusaha bicara, berusaha bertahan di sisa-sisa martabatnya.

Namun Hadi memotongnya tanpa ragu.

“Tidak usah banyak bicara lagi.” Suaranya final, berat, seperti palu hakim yang menghantam meja.

“Mulai detik ini, kau dipecat. Tanpa gaji. Tanpa pesangon.”

Kata-kata itu menutup segalanya.

Di dalam kamar mewah yang dingin dan berkilau itu, Rayhan merasa berdiri sendirian—harga diri hancur berkeping, cinta mati tanpa sisa, dan masa depan runtuh dalam satu siang yang kejam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Beli Mobil

    Rayhan tertawa kecil.Bukan tawa keras. Bukan tawa marah. Hanya lengkungan tipis di sudut bibirnya—tawa yang terdengar menggelikan di tengah kerumunan orang yang masih gempar.“Aku yang ditabrak,” katanya ringan. “Kamu malah minta ganti rugi?”Wajah Anastasia Wibowo menegang. Hidungnya sedikit terangkat, dagunya terangkat lebih tinggi lagi.“Jangan pura-pura miskin nggak tahu diri!” bentaknya tajam. “Kalau nggak mau ganti, kamu bakal nyesel!”Ancaman itu meluncur begitu saja dari bibirnya—ringan dan sudah terbiasa, seperti kalimat yang sudah terlalu sering ia gunakan dan selalu berhasil.Orang-orang menahan napas.Rayhan menatapnya beberapa detik. Tatapannya yang tadi datar perlahan berubah dingin. Bukan marah. Lebih seperti… penilaian.“Lain kali belajar nyetir.”Kalimat itu tidak kasar, tapi terasa seperti tamparan.Ia berbalik.Langkahnya tenang, meninggalkan suara protes dan bisik-bisik di belakangnya.Untuk pertama kalinya, Anastasia terpaku. Sepersekian detik saja—cukup untuk me

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Cewek Kaya dan Sombong

    Rayhan masih berdiri di depan jendela ketika Cindy bangkit perlahan dari ranjang. Selimut tipis meluncur dari bahunya sebelum ia cepat-cepat membungkus tubuhnya kembali, seolah udara pagi mendadak lebih dingin dari biasanya.Di bawah sana, Bellavistam City tak pernah benar-benar tidur. Lampu kendaraan bergerak tanpa henti, merah dan putih, seperti aliran darah yang memompa kehidupan ke tubuh raksasa beton dan kaca. Bunyi klakson terdengar samar dari ketinggian suite mereka—jauh, tapi konstan. Kota itu berdenyut, tak peduli pada apa pun yang terjadi di lantai puluhan.Pagi datang terlalu cepat.Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, mengiris ruangan dengan garis emas pucat. Partikel debu melayang di udara, terlihat jelas dalam sorot tipis itu. Cindy sudah mengenakan kembali gaunnya—rapi, elegan, tanpa satu lipatan pun yang mengkhianati malam sebelumnya. Rambutnya disisir halus, jatuh lembut di punggungnya.Namun sorot matanya berbeda.Lebih lembut dan dalam. Seolah ada sesuatu y

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Semalam Bersama Cindy

    Lift berhenti nyaris tanpa suara. Denting halus terdengar ketika pintu terbuka, memperlihatkan koridor sunyi berlapis karpet tebal yang meredam langkah. Rayhan berjalan lebih dulu, Cindy di sampingnya, hingga mereka tiba di pintu suite paling ujung. Saat kartu akses disentuhkan, lampu indikator menyala hijau—dan sesaat kemudian, pintu terbuka ke ruangan luas yang terasa hangat sekaligus asing.Cahaya lampu kristal menggantung redup di langit-langit tinggi. Jendela kaca lebar menampilkan kota malam yang berkilauan—deretan lampu seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Aroma kayu mahal dan parfum lembut bercampur di udara.Cindy masuk lebih dulu. Tangannya masih menggenggam kotak iPhone baru, lalu meletakkannya perlahan di atas meja marmer. Napasnya belum stabil, dadanya naik turun cepat, seakan ia masih berusaha memahami semua yang terjadi dalam beberapa jam terakhir.Ia berbalik.Mata hijaunya bertemu dengan tatapan Rayhan yang tenang namun hangat. Jarak di antara mereka terasa tipi

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Miliarder Baru

    Penjaga toko masih gemetar saat menatap lima kartu lotere di atas meja, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya bergetar ketika menghitung uang di laci kasir, lalu ia menggeleng pelan.“Rayhan…” suaranya serak. “Uang tunai saya nggak cukup.”Rayhan mengangguk. Ia sudah menduganya.Toko kecil ini bukan bank. Laci kasirnya bukan brankas.Penjaga toko menarik napas dalam, lalu membuka laci besi kecil di bawah meja. Uang kertas disusun tergesa, dihitung cepat, lalu didorong ke depan.“Aku cuma bisa bayar tiga yang ini secara tunai,” katanya lirih namun jujur.“Sepuluh juta. Lima puluh juta. Seratus juta.”Tiga bundel uang tebal mendarat di atas meja dengan suara duk pelan—namun bagi Rayhan, suara itu terdengar lebih keras dari benturan truk siang tadi.Seratus enam puluh juta rupiah. Tunai.Tangannya sedikit kaku saat menyentuh uang itu.“Untuk yang ini…” penjaga toko menunjuk dua kartu terakhir—lima ratus juta dan satu miliar—harus lewat penyelenggara. Saya harus telepon mereka

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Mata Tembus Pandang

    Rayhan mengedip beberapa kali.Ada sesuatu yang terasa tidak pas—seperti dunia tiba-tiba diganti dengan versi yang lebih tajam. Cahaya matahari yang menembus sela bangunan memantul lebih keras dari biasanya. Garis-garis gedung tampak tegas seperti baru digambar ulang dengan tinta hitam. Bahkan udara di depannya berpendar samar, berkilau seperti serpihan kaca halus yang melayang.Ia mengernyit pelan.Matanya terasa panas sekaligus dingin, berdenyut lembut seperti luka yang sedang sembuh… atau seperti mesin yang baru dinyalakan setelah lama mati. Ia tidak mengerti apa yang berubah—tapi jelas ada sesuatu yang sedang menyesuaikan diri di dalam dirinya.Rayhan menarik napas panjang. Udara terasa lebih bersih, lebih ringan di paru-parunya. Tubuhnya memang jauh lebih bugar dari sebelumnya… namun hidupnya tetap berada di titik nol.Ia merogoh saku celananya.Jarinya menyentuh kertas tipis yang kusut. Ia mengeluarkannya perlahan.Lima puluh ribu kredit.Hanya itu.Ia menatap lembaran uang lusu

  • Sang Pewaris Pemikat Wanita   Ditabrak Truk

    Rayhan melangkah keluar dari Hotel Angin Samudera dengan perasaan hampa, seolah ada bagian dari dirinya yang tercabut dan tertinggal di balik pintu kaca berkilau itu. Udara siang terasa menyengat kulit. Aspal di bawah kakinya memantulkan panas dan cahaya menyilaukan, namun ia nyaris tak merasakannya. Langkahnya gontai, berat, seperti menyeret tubuh yang sudah kehilangan tujuan.Di belakangnya, bangunan hotel itu tetap berdiri megah... dingin, angkuh, berkilau oleh kemewahan. Tak ada satu pun tanda bahwa di dalamnya, sebuah kehidupan baru saja dihancurkan tanpa ampun.Tak ada amplop gaji.Tak ada pesangon.Hanya ada bayangan rumah kontrakan sempit yang menunggunya: tagihan listrik yang hampir diputus, cicilan motor kredit yang menunggak, dan deretan pesan singkat bernada ancaman dari para penagih utang yang seolah tak pernah tidur.Bahkan ia tidak berani membawa motor kreditannya ke tempat kerjanya karena khawatir ditarik oleh debt collector yang mencegatnya di jalan masuk hotel.Rahan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status