LOGINSiang itu, udara di sepanjang koridor Hotel Angin Samudera seolah menegang hanya karena satu nama.
Hadi Atmaja.
Nama itu tak perlu diucapkan keras-keras. Ia merambat dari mulut ke mulut seperti bisikan kutukan—lirih, takut, dan penuh kehati-hatian. Para karyawan yang berpapasan refleks menunduk, langkah mereka melambat, napas tertahan. Pria paruh baya di puncak kariernya itu dikenal tanpa ampun: dingin, kejam, dan sama sekali tak memberi ruang untuk kesalahan, sekecil debu di lantai marmer. Senyumnya adalah pertanda buruk—jika ia tersenyum, biasanya ada seseorang yang kariernya akan berakhir hari itu juga.
Bunyi langkah sepatunya berhenti.
Tepat di depan pintu sebuah kamar hotel lantai atas—kamar yang beberapa menit lalu menjadi saksi bisu runtuhnya hidup seseorang.
Pintu terbuka.
Gelombang aroma parfum mahal langsung menyergap, bercampur asap cerutu yang menggantung tebal di udara. Hadi melangkah masuk dengan rahang mengeras. Tatapannya menyapu ruangan tanpa emosi: seprai putih yang kusut seperti habis direnggut paksa, gelas kristal dengan sisa minuman berwarna keemasan, dan pakaian yang tergeletak sembarangan.
Di dekat pintu, Rayhan berdiri kaku. Wajahnya pucat, matanya merah dan basah, napasnya masih tersengal seolah baru ditarik dari dasar laut. Tubuhnya tegang, bahunya turun-naik menahan emosi yang hampir meledak.
Di sisi lain ruangan, perbedaan mencolok yang menyakitkan tersaji. Daniel bersandar santai di tepi ranjang, setelan mahalnya rapi, ekspresinya penuh kepercayaan diri. Di sampingnya, Keyra berdiri dengan dagu terangkat, kedua lengannya terlipat, sorot matanya tajam... dingin dan penuh kebencian.
“Tuan Daniel,” suara Hadi akhirnya terdengar. Rendah dan datar. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Rayhan refleks melangkah setengah langkah ke depan. “Begini, Bos...”
“Diam kau!”
Bentakan itu menghantam ruangan seperti geledek. Udara seolah bergetar. Rayhan langsung membeku, kata-katanya mati di tenggorokan, lidahnya terasa kelu.
“Apa aku sedang bertanya kepadamu?” lanjut Hadi tajam, bahkan tanpa menoleh ke arahnya.
Daniel tersenyum tipis. Ia meraih cerutu Cohiba dari atas meja, memutarnya pelan di antara jari, lalu menyalakannya dengan gerakan santai. Api kecil menyala, dan ia mengisap dalam-dalam. Asap kelabu mengepul, naik perlahan, melayang malas... seolah ikut meremehkan semua yang ada di ruangan itu.
Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang menekan dada.
Setelah menghembuskan asap panjang, Daniel akhirnya bicara. Nadanya sinis, sarat rasa superior.
“Anak buahmu,” katanya sambil melirik Rayhan sekilas, seperti melihat noda di sepatu, “telah mengganggu kenyamanan kami berdua.” Bibirnya melengkung tipis. “Aku minta dia dipecat. Tanpa pesangon.”
Hadi mengerutkan kening. Pandangannya beralih ke Rayhan... karyawan yang selama ini bekerja tanpa cela, datang paling pagi, pulang paling akhir, tak pernah banyak menuntut. Bahkan gajinya lebih rendah dibanding karyawan lain dengan posisi serupa.
“Dipecat?” ulang Hadi pelan.
Namun keraguan itu hanya bertahan sepersekian detik. Sebuah fakta pahit menghantam benaknya: Daniel adalah anak tunggal salah satu pemegang saham terbesar Hotel Angin Samudera. Satu keputusan keliru saja, dan seluruh karier yang ia bangun bertahun-tahun bisa lenyap dalam semalam.
Daniel menyeringai, lalu mencondongkan tubuh. Tatapannya menyipit, dingin dan mengancam.
Ancaman itu menancap tanpa ampun.
“Mampus kau!” teriak Keyra tiba-tiba. Suaranya tajam, penuh kebencian yang tak lagi disembunyikan.
Rayhan menoleh. Dadanya seperti diremas kuat, napasnya tertahan.
Ia menatap Keyra... wanita yang dulu ia lindungi dari dunia, ia perjuangkan dengan keringat dan harga diri, ia cintai sepenuh jiwa. Wanita yang kini memandangnya seolah ia hanyalah sampah yang ingin segera disingkirkan oleh kekasih barunya.
“K-Keyra…” suaranya bergetar, rapuh. “Tega sekali kau…”
Namun Keyra sama sekali tak tersentuh. Wajahnya justru semakin keras. Bibirnya melontarkan hinaan tanpa sisa empati.
“Dasar kere!” bentaknya. “Sudah kere, nggak tahu diri pula! Numpang hidup! Lebih baik mati saja kau sekalian, Rayhan!”
Setiap kata menghantam seperti pisau, lebih tajam dari apa pun yang pernah ia rasakan.
Daniel mendecak pelan, jelas bosan dengan drama di depannya. “Aku tidak punya banyak waktu,” ujarnya santai. “Tampar wajahmu sendiri seratus kali sambil bilang kau pria tak berguna.” Senyum kejam terlihat jelas di wajahnya. “Mungkin… mungkin saja aku pertimbangkan kau bisa bekerja lagi.”
Di titik itu, sesuatu dalam diri Rayhan runtuh.
Dadanya terasa panas, napasnya berat, telinganya berdenging. Dunia seolah menyempit, hanya menyisakan tiga wajah di hadapannya—dua yang penuh penghinaan, satu yang dingin tanpa belas kasihan. Kekasihnya dan atasannya… ternyata hanya topeng kosong yang dipenuhi kebusukan.
Rayhan mengepalkan tangan erat-erat. Kukunya menekan telapak, menahan gemetar. Matanya memerah, menatap Daniel tanpa rasa takut.
“Bangsat kau, Dan!” teriaknya. Suaranya menggema, pecah oleh amarah. “Aku akan membalas semua perbuatanmu!”
PLAAAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya.
Kepala Rayhan terhempas ke samping. Rasa perih menjalar, panas, menyengat. Darah terasa asin di sudut bibirnya.
Hadi berdiri tepat di hadapannya. Tangan masih terangkat. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi, seolah baru saja memukul benda mati.
“Diam kau!” bentaknya. “Dasar sampah tak berguna! Beraninya kau mengancam Tuan Daniel!”
“Bos…” Rayhan terengah, berusaha bicara, berusaha bertahan di sisa-sisa martabatnya.
Namun Hadi memotongnya tanpa ragu.
“Tidak usah banyak bicara lagi.” Suaranya final, berat, seperti palu hakim yang menghantam meja.
Kata-kata itu menutup segalanya.
Di dalam kamar mewah yang dingin dan berkilau itu, Rayhan merasa berdiri sendirian—harga diri hancur berkeping, cinta mati tanpa sisa, dan masa depan runtuh dalam satu siang yang kejam.
Rayhan berhenti tepat di anak tangga pertama.Sepatu hitamnya berderit pelan di permukaan marmer yang dingin. Tangannya masih menyentuh pegangan tangga, tapi langkahnya tertahan—seolah ada sesuatu yang belum selesai.Ia menoleh.Gerakannya lambat. Tenang. Tidak terburu-buru.“Oh ya.”Suaranya ringan. Hampir seperti seseorang yang baru teringat hal sepele.Jessica yang berdiri di bawah langsung menyipitkan mata. Alisnya terangkat, ekspresinya penuh curiga.“Apa?”Rayhan menatap mereka bertiga. Satu per satu. Seolah sedang menilai… atau mungkin meremehkan.Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.“Kalian ini hanya sekumpulan pecundang tak berguna.”Hening.Kalimat itu jatuh begitu saja—dingin, tajam, tanpa emosi. Seperti pisau yang tidak perlu diayunkan keras untuk melukai.Rendra mengernyit, wajahnya langsung menegang.“Apa katamu?”Rayhan hanya mengangkat bahu, seolah ucapan barusan tidak ada artinya sama sekali.“Tidak apa-apa.”Dan tanpa memberi kesempatan balasan, ia berbalik.Langkahn
Lampu-lampu kota mulai menipis ketika Rayhan akhirnya membelokkan coupe merah itu keluar dari jalan utama.Mesin mobil Alicia masih mendengkur halus—suara mahal yang terlalu elegan untuk lingkungan yang akan ia tuju.Beberapa menit kemudian, gedung-gedung tinggi Bellavista mulai tergantikan oleh rumah-rumah lama.Jalan menjadi lebih sempit.Lampu jalan lebih jarang.Cat pagar banyak yang sudah pudar.Rayhan memperlambat mobil.Ia melihat deretan rumah dua lantai yang sangat ia kenal.Kompleks lama tempat ia tumbuh.Ia menghela napas pendek.“Aku coba tinggal beberapa hari lagi sambil mencari cuan…”Mobil coupe merah itu jelas terlalu mencolok untuk lingkungan seperti ini.Anak-anak yang masih nongkrong di warung ujung jalan bahkan langsung berhenti mengobrol.Salah satu dari mereka bersiul.“Woi… Ferrari mini!”Rayhan tersenyum kecil.“Kalau mereka tahu ini bukan mobilku,” gumamnya.Ia tidak langsung berhenti di depan rumah.Sebaliknya, ia memarkir mobil itu sekitar lima puluh meter d
Rayhan membuka pintu mobil.Klik.Pintu coupe merah itu terayun pelan, dan ia melangkah keluar dengan gerakan santai seolah baru saja berhenti untuk membeli kopi, bukan karena sebuah SUV hitam memblokir jalan di tengah malam.Angin laut langsung menerpa wajahnya.Udara asin yang dingin mengusap kulitnya, membuat ujung rambutnya bergerak halus. Lampu jalan memercikkan cahaya kuning redup di aspal pesisir yang kosong.Kondisi jalanan sunyi.Hanya suara ombak jauh dan mesin mobil yang masih menyala pelan.Di depan sana, empat pria berdiri di sekitar SUV hitam.Tubuh mereka besar. Bahu lebar. Tangan kasar seperti orang yang lebih sering memukul daripada berjabat tangan.Salah satu dari mereka memutar bahunya sampai berbunyi.Krek.Ia menatap Rayhan dengan mata menyipit.“Rayhan?”Rayhan mengangkat satu tangan kecil, seperti murid yang hendak bertanya di kelas.“Kalau aku bilang bukan…” katanya santai. “kalian percaya dan pulang?”Beberapa detik hening.Kemudian—Preman itu tertawa.Tawa ka
Mesin coupe merah itu masih menyimpan sisa panas ketika Rayhan akhirnya memutar kunci lagi.Suara mesin menyala halus dan rendah. Lampu dashboard memercikkan cahaya biru lembut ke wajah Rayhan, menerangi garis rahangnya dan bayangan samar di matanya.Ia menatap ke depan beberapa detik.Sunyi.Kemudian matanya melirik ke arah kaca spion.Gerbang villa Alicia perlahan menutup dengan suara mekanis yang halus.Pintu besi tinggi itu akhirnya bertemu di tengah, memutus pandangan Rayhan dari halaman rumah besar yang tadi baru saja ditinggalkan Alicia.Wanita itu sudah masuk.Lampu taman villa menyala hangat di balik pagar.Rayhan menghela napas panjang, menyandarkan kepala sebentar ke kursi.“Alicia tidak akan keberatan mobilnya aku pinjam sebentar,” gumamnya pelan, lebih seperti membujuk dirinya sendiri daripada siapa pun.Tangannya mengetuk ringan setir mobil.Keputusan diambil.Ia akan meminjam mobil ini sebentar dan kembali ke rumah barunya untuk beristirahat.Setelah malam panjang sepert
Angin laut malam bertiup lembut ketika Rayhan dan Alicia keluar dari restoran.Lampu-lampu Bellavista City memantul di permukaan jalan yang basah oleh embun malam. Suasana kota masih hidup—mobil-mobil mewah melintas, musik samar terdengar dari rooftop bar, dan lampu gedung tinggi menyala seperti bintang buatan manusia.Alicia berhenti sebentar di trotoar.Ia menatap Rayhan.Lalu tertawa kecil.“Sejujurnya…” katanya sambil mengusap pelipisnya. “Aku sedikit pusing.”Rayhan mengangkat alis.“Sedikit?”Alicia mengangkat tiga jari.“Mungkin… tiga gelas terlalu banyak.”Rayhan meliriknya dari atas ke bawah.Langkah Alicia sedikit goyah.“Empat,” kata Rayhan.Alicia memicingkan mata.“Kamu menghitung?”“Insting bertahan hidup.”Alicia tertawa.Suara tawanya ringan, berbeda dari sikap elegannya tadi di restoran. Angin malam membuat rambutnya sedikit berantakan, memberi kesan santai yang justru membuatnya terlihat lebih menarik.Rayhan melihat ke sekeliling.“Mobilmu parkir di mana?”Alicia me
Mesin mobil Daniel masih menyala.Lampu dashboard memantulkan cahaya biru pucat ke wajahnya yang kaku. Tangannya masih menggenggam ponsel erat.Di seberang telepon, suara itu terdengar berat. Serak dan tenang.“Siapa?”Daniel menelan ludah. Rahangnya mengeras.“Aku,” katanya. “Daniel Wongso.”Hening sebentar.Lalu suara itu tertawa kecil.“Ah… anak konglomerat yang pernah kehilangan tiga proyek properti dalam dua tahun?”Daniel mengepalkan tangan lebih keras.“Kau masih berani mengejekku?”“Tidak,” jawab suara itu santai. “Aku hanya memastikan identitas. Jadi… siapa yang ingin kamu hilangkan?”Daniel menatap ke arah restoran di seberang jalan.Melalui kaca besar, ia masih bisa melihat Rayhan duduk santai bersama Alicia. Mereka tertawa. Minum wine. Seolah dunia memang dibuat untuk mereka.Rasa panas naik lagi ke dadanya.“Namanya Rayhan.”“Rayhan siapa?”Daniel terdiam.Ia baru sadar sesuatu yang membuat darahnya makin mendidih.Ia… bahkan lupa nama lengkap pria yang pura-pura dijadika







