MasukMeskipun di kehidupan sebelumnya Abimanyu telah mengembangkan keterampilan bela diri yang luar biasa setelah menjadi orang kaya, hingga membuat petarung profesional pun kesulitan mendekatinya, tubuhnya saat ini sangat berbeda. Tubuhnya di fase ini sudah telanjur rusak oleh gaya hidup yang hancur-hancuran. Biarpun ia menguasai ratusan teknik pertarungan di kepalanya, fisik lemahnya tidak mampu mengeksekusi satu pun dari teknik tersebut.
“Jangan pukul Ayah! Huwaaa! Kalian orang jahat! Kalian orang jahat, kalian tidak boleh memukul Ayah!” Melihat Abimanyu dipukuli dengan brutal oleh sekelompok orang, gadis kecil itu menangis tersedu-sedu. Jika Nisa tidak memeganginya erat-erat, Lala pasti sudah nekat berlari menerobos pengeroyokan tersebut. Di sisi lain, Nisa hanya menatap dengan senyum dingin di wajahnya. Alih-alih merasa kasihan pada Abimanyu yang sedang dihajar habis-habisan, ia justru merasa sangat puas. Bajingan itu pantas mendapatkannya. Pantas. Sangat pantas. Prang! Buk! Tiba-tiba, di tengah kepungan pengeroyokan itu, Abimanyu memecahkan botol kaca yang sedari tadi digenggamnya erat-erat. Dengan wajah memar dan bengkak, ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menerjang pemimpin rentenir tersebut. Satu lengannya mengunci leher pria itu, sementara tangan yang lain menekan ujung tajam pecahan botol tepat ke pembuluh nadi di leher sang pemimpin. “Berhenti! Kalian semua, berhenti sekarang juga!” Dalam sekejap, pemimpin kelompok yang kini disandera oleh Abimanyu itu berteriak ketakutan. “Bim... Abimanyu, kita bisa membicarakan ini baik-baik, kan? Jangan gegabah. Tolong jangan gegabah. Kita ini hidup di negara hukum. Kalau kamu membunuh saya, kamu juga akan dihukum mati. Tolong tenang, Bim. Tenang!” Pepatah yang mengatakan bahwa anjing yang terpojok akan melompati tembok adalah hal yang paling dipahami oleh mereka yang hidup di dunia bawah. Pemimpin rentenir itu benar-benar ketakutan. Dalam situasi putus asa seperti ini, Abimanyu sangat mungkin nekat menusuk lehernya. Persetan dengan supremasi hukum. Dalam dunia mereka, prinsip nyawa dibayar nyawa adalah yang paling berlaku. Abimanyu tidak peduli dengan darah yang mengalir dari kepalanya hingga merembes masuk ke matanya. Dengan suara berat, ia menggeram, “Beri saya waktu seminggu lagi. Setelah itu, saya akan melunasi utang saya sampai rupiah terakhir, pokok berikut bunganya.” “Turunkan dulu botolnya, baru kita bicara baik-baik, ya?” bujuk pria yang sedang ditodong itu dengan suara gemetar. “Saya bilang, beri saya waktu seminggu lagi!” Abimanyu mengerahkan sedikit tenaga tambahan. Pecahan kaca itu langsung menembus jaringan kulit leher si pemimpin, membuat darah segar mulai menetes keluar. “Baik! Baik! Seminggu! Saya beri kamu waktu seminggu lagi! Saya berjanji!” teriak sang pemimpin rentenir panik. Mendengar janji tersebut, Abimanyu perlahan mengendurkan kunciannya dan melepaskan pria itu. Meskipun itu mungkin sekadar janji lisan belaka, berdasarkan pemahamannya tentang karakter preman jalanan seperti mereka, Abimanyu memilih untuk memercayainya. “Bang Baron!” “Bang Baron!” “Bang Baron!” Sesaat setelah dilepaskan, para preman anak buahnya langsung mengerumuni sang bos. “Minggir!” Bang Baron menutupi luka di lehernya dengan satu tangan. Untungnya, luka itu tidak terlalu dalam dan pendarahannya tidak serius. Ia menepis anak buahnya yang bersiap menyerang balik Abimanyu. Sambil menunjuk ke arah Abimanyu, Bang Baron mengumpat, “Kamu benar-benar punya nyali. Saya salah menilaimu. Baik, seminggu! Saya beri kamu waktu seminggu lagi. Namun ingat, kalau minggu depan kamu masih belum membayar sepeser pun, malaikat pencabut nyawa sekalipun tidak akan bisa menyelamatkanmu!” “Pergi!” Dengan lambaian tangannya, rombongan preman rentenir itu pergi secepat saat mereka datang. Di dalam kontrakan sempit itu, kini hanya tersisa Abimanyu yang kepalanya berlumuran darah, Nisa yang menatap dengan ekspresi dingin, dan Lala yang masih menangis tanpa henti. “Ibu, Ayah berdarah! Ayah berdarah!” Sambil memeluk erat Nisa, Lala menunjuk ke arah Abimanyu dan berteriak dengan suara kekanak-kanakan, “Ayah! Lala mau ke tempat Ayah!” Namun, Nisa tetap tidak bergeming dan menolak membiarkan putrinya melangkah maju. “Jangan menangis, Sayang. Ayah baik-baik saja!” Abimanyu menutupi luka di kepalanya, menatap putrinya dari kejauhan, dan berkata dengan nada getir. Namun, ia tidak melangkah maju. “Bim, saya tahu kamu memang pantas mati, tetapi saya tidak pernah menyangka kamu akan sebajingan ini sampai berani berutang kepada rentenir! Kamu menjual cincin kawin saya, kamu menjual laptop yang saya pakai untuk bekerja, bahkan jepit rambut warisan nenek saya juga kamu jual murah! Lihat. Kamu lihat sendiri, apa lagi di kontrakan ini yang masih bisa dijual? Silakan, ambil semuanya sekalian!” Melihat Abimanyu yang wajahnya berlumuran darah dan tampak mengerikan, Nisa mencibir sinis. “Nis...” “Jangan panggil nama saya. Saya jijik mendengarnya! Saya tidak tahu dosa apa yang saya lakukan di masa lalu sampai bisa-bisanya saya percaya dan menikah denganmu!”Abimanyu menempelkan dahinya ke dahi gadis kecil itu dan menjawab dengan nada penuh kepuasan.Wah, tiga juta Rupiah? Ayah hebat banget!Lala mungkin belum sepenuhnya paham sebesar apa nilai tiga juta Rupiah di dunia nyata. Namun, karena sejak bayi ia sering mendengar orang tuanya ribut masalah uang, kata 'juta' jelas terdengar seperti nominal yang sangat fantastis baginya!Namun, mereka berdua tak menyadari bahwa Nisa yang berdiri tak jauh dari sana sudah muak hingga ubun-ubun!"Bim, kamu belum puas pakai trik murahan kamu itu buat nipu saya, hah? Sekarang kamu mau pakai trik itu buat nipu Lala juga?! kamu mau anak kamu gede jadi pembohong nggak tau malu kaya kamu, iya?!"Setelah melontarkan teguran dingin itu, Nisa langsung memanggil putrinya."Lala, turun! Ayo balik ke kamar, tidur bareng Ibu!"Dalam pandangan Nisa, berjualan bunga adalah sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh Abimanyu, sebuah pekerjaan yang pasti dianggapnya sangat 'memakamukan'. Terlebih lagi klaim bahwa ha
Lala mengangkat wajah mungilnya dan menatap Nisa dengan bingung.Seandainya bukan karena perabotan usang yang sudah sangat familiar di mata mereka, Nisa pun pasti akan mengira ia telah memasuki kontrakan orang lain."Kita nggak salah rumah kok, Sayang. Sudah larut malam, ayo Ibu anter ke kamar buat tidur, ya!"Sambil berbicara, Nisa menuntun Lala masuk lebih dalam ke ruangan tersebut.Tentu saja, mereka tidak akan masuk ke kamar tempat Abimanyu tidur.Di kontrakan petak yang sempit namun memiliki dua kamar ini, ia dan Abimanyu sudah lama pisah ranjang. Bahkan sejak dukamu, Nisa harus selakamu mengunci rapat-rapat pintu kamarnya setiap malam sebelum tidur. Abimanyu yang kerap pulang dalam keadaan mabuk larut malam adalah sosok yang sangat menakutkan,bahkan saking takutnya, Nisa sering merasa ingin menyeret pria itu kekamuar dan membuangnya!Namun, sebekamum Nisa sempat melangkah ke kamarnya...Pintu utama kontrakan itu tiba-tiba didorong terbuka.Abimanyu masuk."Ayah!"Melihat sosok A
"Mbak, udah, nggak usah didengerin omongan Bapak sama Ibu! Mbak Nisa tetep tinggal aja di sini sama Lala!" Dimas bergegas menggendong Lala menyusul ke kamar sempit itu, berusaha mencegah kakaknya. Nisa tak mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa berpikir panjang, tangannya sibuk mengemasi beberapa helai pakaian ke dalam tas. "Mbak Nisa dengerin saya dong! Kalau Mbak pergi dari sini, Mbak mau tinggal di mana?! Balik ke kontrakan itu?! Balik buat terus diintimidasi dan dipukulin lagi sama binatang buas itu?!" Dimas menurunkan Lala dan langsung merentangkan tangannya, menghalangi langkah Nisa. "Dimas... Mbak tau kamu peduli banget sama Mbak, makasih ya. Tapi omongan Ibu sama Bapak itu ada benernya. saya sama Lala cuma jadi benakamu di sini, cuma bikin repot keluarga! kamu tenang aja, saya sama Lala punya tempat tujuan kok. Kita nggak bakal jadi gelandangan!" kata Nisa sambil memaksakan senyum tegar. Selesai mengucapkan itu, Nisa mendorong tubuh adiknya pelan agar menyingkir. Satu tan
"Dasar bocah nggak tahu diuntung, sana kamu pergi! kamu pada makan dari uang saya, minum air saya, numpang di rumah saya, berani-beraninya kamu ngatain saya jahat?!" teriak Bu Linda penuh amarah. "Bu, kok Ibu ngomongnya gitu sih?! Lala kan baru umur empat tahun, Bu. Pantes apa Ibu bentak-bentak anak kecil kaya gitu?" Dimas, adik laki-laki Nisa yang tak tahan lagi melihat adegan itu, segera menggendong Lala yang menangis dan memprotes ucapan ibunya. "Apa kamu bilang?! kamu mau belain janda sama anaknya ini?! Kalau bukan gara-gara si bego ini buta cinta sama cowok kere itu, emang dia bakal jadi gembel kaya gini, hah?! Semua cowok mapan yang ngejar-ngejar dia dulu tuh seratus, seribu kali lipat lebih bagus dari si benalu itu! Tapi dia malah ngebantah omongan saya sama bapak kamu demi cowok nggak guna itu! Sekarang kamu liat sendiri kan nasibnya?! Ini semua kan salah dia sendiri!" "Coba aja kalau dulu dia milih salah satu dari cowok kaya itu, apa dia bakal menderita kaya sekarang?!
Ia melirik jam dinding di ruangannya; waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Pertunjukan cahaya akan dimulai pukul delapan malam, sementara sesi puncak bertema cinta romantis baru akan diluncurkan pada pukul sepuluh malam. Praktis, tidak banyak waktu yang tersisa baginya untuk bersiap! Karena keterbatasan waktu dan risiko bunga akan layu jika disimpan terlalu lama, Abimanyu bergegas menuju pasar Cempaka Raya. Bunga mawar yang awalnya dihargai seribu Rupiah per tangkai, berhasil ia tawar menjadi lima ratus Rupiah. Ia bahkan terus mendesak si penjual agar memberikan diskon untuk kertas pembungkusnya. Akhirnya, setelah menyisihkan ongkos naik KRL, ia berhasil memborong tiga ratus tangkai mawar beserta kertas pembungkus menggunakan sisa uang seratus lima puluh ribu Rupiah di sakunya. Sesampainya kembali di kontrakan petak, ia langsung sibuk membungkus setiap tangkai mawar satu per satu. Butuh waktu lebih dari empat jam untuk menyelesaikan pengemasan ketiga ratus tangkai mawar terseb
Setelah menyaksikan sosok Nisa dan Lala menghilang dari pandangannya, Abimanyu yang masih menutupi kepalanya yang berdarah segera meninggalkan kontrakan petak tersebut.Alih-alih pergi ke rumah sakit besar, ia memilih mendatangi sebuah klinik kesehatan kecil terdekat.Setelah mendapatkan jahitan untuk luka robek di kepalanya dan mengoleskan salep pada wajahnya yang memar, barulah ia kembali ke kontrakannya yang berantakan seperti kapal pecah itu.“Benar-benar kacau,” rutuknya.Melihat botol-botol minuman keras dan puntung rokok yang berserakan di lantai, bercampur dengan tumpukan kotak makanan sisa dan wadah mi instan kosong yang tersebar sembarangan, di tengah bau busuk menyengat yang memenuhi ruangan itu, Abimanyu sama sekali mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya dan tiba-tiba menampar wajahnya sendiri dengan keras.Setelah membersihkan semua kekacauan itu dan mengepel seluruh sudut kontrakan, baik bagian dalam maupun teras luar, sebanyak tiga kali putaran, tiga jam pun berlalu







