ログインNisa berteriak tanpa memberi Abimanyu kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya.
“Utang rentenir dua ratus tujuh puluh juta... dua ratus tujuh puluh juta, haha! Teruskan saja perilakumu ini. Kalau kamu merasa masih menjadi manusia, sebaiknya kamu tanda tangani surat cerai ini. Saya mohon kepadamu. Kalau kamu membiarkan ini berlarut-larut, kamu bukan hanya akan mencelakai saya, tetapi juga mencelakai Lala!” Sambil berbicara, Nisa mengeluarkan draf surat cerai dari dalam tasnya, yang sepertinya baru ia beli dari sebuah tempat fotokopi di pinggir jalan. Di kehidupannya yang sebelumnya, Abimanyu terpaksa memilih untuk menandatangani surat cerai tersebut karena ia merasa terlalu pengecut untuk mengucapkan sepatah kata pun saat Nisa dilecehkan dan dipermalukan. Namun dalam hidup ini, Tuhan telah memberinya kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Yang perlu ia lakukan hanyalah memperbaiki semua kesalahannya. Bagaimana mungkin ia mau menandatangani surat cerai ini lagi? “Nis, tolong beri saya satu kesempatan lagi. Kesempatan terakhir, saya mohon!” ucap Abimanyu memelas. “Kesempatan? Kesempatan terakhir? Sudah berapa kali kamu mengatakan itu? Kamu pikir saya akan percaya lagi kepadamu? Cih, kalau kamu tidak mau menandatanganinya, itu berarti kamu memang sengaja ingin menyeret saya dan Lala untuk mati bersamamu!” cibir Nisa. “Nis, saya akan melunasi dua ratus tujuh puluh juta itu dalam seminggu, lengkap dengan bunganya. Mulai sekarang, saya berjanji tidak akan berjudi lagi, dan saya tidak akan melakukan hal yang merugikan kalian. Percayalah kepada saya. Ini benar-benar yang terakhir kali. Saya mohon...” Abimanyu terus memohon. “Kamu masih berani berbohong? Dua ratus tujuh puluh juta dalam seminggu, bagaimana caranya kamu akan membayar? Kamu mau lanjut berjudi? Mau pergi ke tempat judi lalu bermimpi menjadi orang kaya dalam semalam? Dengan kondisimu sekarang yang hidup segan mati tak mau, mencari dua puluh tujuh ribu saja kamu tidak akan mampu, apalagi dua ratus tujuh puluh juta! Sudahlah, percuma bicara denganmu. Cepat tanda tangani suratnya!” bentak Nisa. Wanita itu sama sekali tidak lagi merasa kasihan pada Abimanyu. Hatinya sudah hancur, remuk, dan sepenuhnya mati. Di masa lalu, ia berulang kali memilih untuk memaafkan dan menipu dirinya sendiri demi pria ini. Namun sebagai balasannya, makhluk berengsek itu justru berevolusi menjadi pembohong yang lebih ulung. Kata “kecewa” saja tidak lagi cukup untuk mendeskripsikan perasaan Nisa saat ini. Ia sadar betul bahwa jika terus bertahan dalam kondisi ini, ia akan menjadi gila. Ya, ia benar-benar akan gila, atau bahkan lebih buruk, ia bisa mati konyol bersama pria ini. “Beri saya waktu sebulan. Kalau setelah sebulan kamu masih tidak melihat ada perubahan dalam diri saya, kalau setelah sebulan kamu masih menganggap saya sampah, dan kalau kamu masih bersikeras ingin bercerai, saya akan langsung menandatangani surat cerai itu!” Abimanyu menggelengkan kepala perlahan. Matanya memancarkan tekad yang bulat. Sebulan? Nisa tersenyum sinis. Bukan karena ia sekadar meremehkan Abimanyu, tetapi pria itu memang mustahil berubah. Paling lama dalam waktu tiga hari, tabiat aslinya pasti akan kembali muncul. “Kamu benar-benar yakin?” tanya Nisa dingin. “Iya! Tolong, demi Lala, beri saya waktu sebulan!” jawab Abimanyu mantap. Nisa mencibir. “Jadi, kamu akan sukarela menandatangani surat cerai itu sebulan lagi?” Abimanyu menjawab tegas, “Itu kalau kamu masih bersikeras ingin bercerai!” “Hhh...” Nisa menghela napas panjang dengan nada merendahkan. “Terserah! Waktu sebulan juga tidak akan mengubah apa pun. Namun ada satu syarat, pastikan kamu masih hidup dan tidak mati di tangan para rentenir itu!” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Nisa berbalik dan menarik lengan Lala untuk keluar. “Lala tidak mau pergi ke rumah Nenek... Lala mau bersama Ayah! Huwaaa, Lala mau bersama Ayah! Lala tidak mau ke rumah Nenek!” Lala kecil mendadak menangis histeris. Namun, Nisa tetap tidak bergeming dan dengan paksa menyeretnya pergi dari tempat itu. Mendengar isak tangis putrinya yang memilukan, serta menatap punggung Nisa yang semakin menjauh, Abimanyu merasa seolah-olah jantungnya sedang tercabik-cabik. Kendati demikian, ia tidak berusaha menghentikan langkah mereka, apalagi menahan Lala agar tetap tinggal bersamanya. Terlebih lagi, ia sama sekali tidak tahu apakah ia akan memiliki waktu dan kemampuan untuk merawat Lala di masa depan. Dengan kondisinya yang sehancur ini, ia memang merasa tidak pantas untuk menahan mereka.Namun, mengapa tidak ada yang mempercayainya?Mengapa semua orang memperlakukannya seperti orang gila?Mengapa semua orang berkata ia sudah kehilangan akal?Apakah hanya karena perusahaan luar negeri belum mampu mengembangkannya?Keputusasaan menyelimuti orang yang dahulu gemilang dan eksentrik itu.Dari utara, timur, hingga selatan Indonesia, ia telah melakukan perjalanan panjang.Ia sudah mengunjungi hampir semua kantor pusat merek papan atas, papan kedua, bahkan papan ketiga di Indonesia.Namun, ia bukan hanya gagal menemukan perusahaan yang bersedia mempercayainya atau berinvestasi kepadanya. Ia bahkan gagal menemukan perusahaan yang mau menerimanya bekerja.Sekarang, ia bahkan tidak bisa masuk ke beberapa merek kelas tiga.Panji Junaedi tahu bahwa seluruh industri sudah memasukkannya ke daftar hitam.Karena ide-idenya yang dianggap gila, perusahaan-perusahaan itu tidak mau lagi membuang waktu berurusan dengannya.Ia semakin menyadari bahwa dirinya telah menjadi bahan tertawaan di
“Saya diam-diam menyuruh orang memeriksa ulang semua proyek yang pernah dikerjakan PT Konstruksi Sentosa. Hasilnya, seluruh dua puluh tiga proyek memiliki masalah kualitas serius. Termasuk tujuh proyek pemerintah dan fasilitas umum yang diambil dari pemerintah kota,” kata Bagas Kusuma dengan keringat dingin mengalir deras dan wajah pucat.“Semuanya proyek bermasalah?” Tangan Kusuma Wijaya gemetar.“Nilainya bahkan kurang dari setengah standar normal,” jawab Bagas Kusuma dengan suara gemetar.“Sial, ini bisa membunuh orang!” seru Gilang yang berdiri di dekatnya.Ia semula mengira bahwa meskipun Kuncoro ingin menjebak Bagas Kusuma, setidaknya orang itu masih tahu batas.Namun, kualitasnya bahkan kurang dari setengah standar normal.Ini jelas upaya menyeret Bagas Kusuma dan seluruh Keluarga Kusuma ke neraka.Mudah dibayangkan, jika masalah kualitas ini muncul dan sampai merenggut nyawa orang, Bagas Kusuma beserta keluarganya akan menghadapi kehancuran total.“Saya tidak pernah menyangka
Kawasan pusat bisnis Batavia.Di sebuah gedung yang tidak terlalu jauh dari kantor pusat Grup Garuda Properti.Kantor pusat sebuah merek kosmetik ternama dalam negeri.Di ruang resepsi.Seorang pria berusia akhir tiga puluhan, mengenakan setelan jas, tetapi wajahnya tampak lelah dan dihiasi janggut tipis, menatap pria paruh baya di hadapannya dengan ekspresi bimbang.“Pak Harlan, apakah Anda benar-benar tidak ingin mempertimbangkan krim penghilang bekas luka yang saya sebutkan? Percayalah, berikan saya laboratorium dan pendanaan, maka saya pasti bisa menciptakan produk yang populer di seluruh dunia untuk Anda.”Pria paruh baya di hadapannya justru menggeleng sambil mengejek.Ia menghela napas.“Panji, Panji, kamu sudah gila atau bagaimana? Kalau tidak salah, ini sudah perusahaan ketujuh belas yang kamu datangi, bukan? Dari wilayah utara, timur, sampai sekarang ke selatan Indonesia. Tahukah kamu bahwa kamu sudah menjadi momok di industri ini? Apakah kamu tidak tahu mengapa kamu dipecat
“Hari itu, di perusahaanmu, saya bertemu Lukman, direktur utama Pabrik Minuman Lestari. Saya melihat kariernya tampak suram, dan wajahnya menunjukkan tanda akan berurusan dengan penjara. Dengan sedikit penalaran, saya menyimpulkan bahwa penyebab ia dipenjara kemungkinan berkaitan dengan pekerjaannya. Selain itu, ia tidak tampak seperti orang yang melakukan kejahatan demi keuntungan pribadi. Jadi, menurut saya, ia tidak akan dipenjara karena penggelapan uang.”Abimanyu melanjutkan dengan tenang, “Karena masalahnya berakar dari pekerjaannya dan menyebabkan ia terancam penjara, setelah mengesampingkan kemungkinan ia dipenjara karena keserakahan pribadi, kemungkinan besar masalahnya berkaitan dengan posisinya sebagai perwakilan hukum dan direktur utama. Setelah disimpulkan lebih jauh, masalah itu sangat mungkin terletak pada perusahaan tempat ia bekerja, yaitu Pabrik Minuman Lestari. Dalam keadaan seperti itu, menurutmu apakah kerja sama dengan mereka akan berakhir baik?”Tiba-tiba, Abima
Di halaman rumah Keluarga Kusuma.Setelah mendengar penjelasan Gilang tentang pemutusan kontrak dan skandal minuman palsu yang sedang ramai dibicarakan, wajah tua Kusuma Wijaya menunjukkan keseriusan yang belum pernah terlihat sebelumnya.Sebelumnya, ia menganggap klaim Abimanyu tentang kemampuan membaca peruntungan dan wajah terdengar agak berlebihan.Mungkin akurat, tetapi tidak sampai sepenuhnya tepat.Semalam, setelah mengikuti saran dan peringatan Abimanyu, ia meminta Bagas Kusuma kembali dan melakukan penyelidikan menyeluruh. Alasan utamanya adalah untuk menenangkan pikirannya. Lebih baik percaya dan berhati-hati daripada mengabaikan kemungkinan bahaya.Namun sekarang, setelah mendengar penjelasan Gilang melalui telepon, Kusuma Wijaya tidak bisa lagi tetap tenang.“Mungkinkah ini kebetulan? Atau mungkinkah ia sudah lama mengetahui praktik curang Pabrik Minuman Lestari?” gumam Kusuma Wijaya.“Kakek, jika Kak Bim tahu tentang kejahatan Pabrik Minuman Lestari, dengan karakternya, b
#Pabrik Minuman Lestari##Siaran langsung Lia menjual minuman palsu##Minuman Embun Sari bisa membunuh orang#Saat Abimanyu meninggalkan Grup Garuda Properti dengan SUV kotak premiumnya, tiga topik itu menjadi tren di media sosial.Terutama topik kedua.Jumlah pembaca dan diskusinya masing-masing menembus angka yang sangat besar.PT Jaringan Nusantara.Kantor Gilang.Juwita, penanggung jawab kerja sama bisnis, bergegas masuk dengan panik. Ia bahkan lupa mengetuk pintu.“Manajer Juwita, ada apa?” tanya Gilang.Melihat Juwita yang begitu gegabah, ia tidak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening.“Presiden Gilang, apakah Anda sudah melihat topik yang sedang tren di media sosial?” tanya Juwita dengan suara gemetar. Wajahnya masih dipenuhi rasa takut.“Topik tren di media sosial? Saya belum sempat memeriksanya. Ada apa? Apakah terjadi insiden besar?” tanya Gilang.Menyadari bahwa Juwita tidak mungkin kehilangan ketenangan tanpa alasan, wajah Gilang segera berubah serius.“Kalau begitu,
Setelah menyaksikan sosok Nisa dan Lala menghilang dari pandangannya, Abimanyu yang masih menutupi kepalanya yang berdarah segera meninggalkan kontrakan petak tersebut.Alih-alih pergi ke rumah sakit besar, ia memilih mendatangi sebuah klinik kesehatan kecil terdekat.Setelah mendapatkan jahitan un
Meskipun di kehidupan sebelumnya Abimanyu telah mengembangkan keterampilan bela diri yang luar biasa setelah menjadi orang kaya, hingga membuat petarung profesional pun kesulitan mendekatinya, tubuhnya saat ini sangat berbeda. Tubuhnya di fase ini sudah telanjur rusak oleh gaya hidup yang hancur-ha
Di bawah tatapan mengintimidasi kerumunan pria itu, Nisa tanpa sadar mundur selangkah.Pria di depan itu tidak memedulikannya lagi. Ia beralih menatap Abimanyu dan mencibir.“Hei, kamu pikir kamu pintar? Kamu pikir kami tidak akan bisa menemukanmu hanya karena kamu tidak mengangkat telepon? Kamu su
“Bim, sampai kapan kamu mau menyiksa saya dan anak saya? Kapan kamu mau berhenti?!”Melihat kondisi kontrakan yang sudah ia bersihkan dengan sangat teliti lima hari lalu kini kembali menjadi seperti mimpi buruk, Nisa berteriak putus asa.Sambil berbicara, wanita itu melangkah mendekat dan menarik l







