INICIAR SESIÓNHari Jumat tiba lebih cepat daripada yang dibayangkan Arka. Sejak pagi, suasana sekolah dipenuhi siswa yang sibuk membawa tas ransel dan koper kecil. Beberapa orang mengobrol dengan penuh semangat membahas perjalanan ke Yogyakarta, sementara guru-guru memastikan seluruh peserta telah menyerahkan surat izin dan perlengkapan yang diperlukan.Arka berdiri di dekat bus sambil memeriksa isi tasnya untuk terakhir kali. Selain pakaian dan perlengkapan sekolah, ia menyimpan senter kecil, botol minum, serta beberapa makanan ringan. Tidak ada benda yang mencurigakan. Mutiara Pasang tetap tergantung di balik seragamnya, tersembunyi dari pandangan siapa pun.Dimas datang menghampiri sambil tersenyum lebar. "Rak, katanya kita bakal mampir ke Pantai Parangtritis juga sebelum pulang."Arka mengangkat alis. "Serius?""Iya. Guru sejarah bilang sekalian mengenalkan budaya pesisir selatan. Lumayan, kan? Bisa foto-foto."Arka mengangguk pelan. Takdir seolah sedang membantunya. Rencana perjalanan sekolah
Matahari baru saja terbit ketika Arka sudah bersiap berangkat ke sekolah. Ia mengenakan seragam seperti biasa, menyampirkan tas di bahu, lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya. Dari luar, tidak ada yang berbeda dengan kehidupan seorang siswa SMA pada umumnya. Namun di balik senyumnya, pikirannya terus memutar rencana untuk menjalankan misi berikutnya tanpa menimbulkan kecurigaan.Ayahnya yang sedang membaca koran melirik sekilas. "Kamu kelihatan lebih semangat beberapa hari ini."Arka tersenyum tipis sambil mengambil segelas susu. "Mungkin karena sudah mulai terbiasa masuk sekolah lagi.""Bagus," sahut ayahnya. "Tapi jangan cuma semangat belajar. Tetap jaga kesehatan.""Aku akan ingat itu, Yah."Percakapan sederhana itu membuat hati Arka terasa hangat. Di kehidupan sebelumnya, kesempatan seperti ini telah lama hilang. Kini ia bertekad mempertahankan keseharian keluarganya selama mungkin, sembari diam-diam mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang hanya ia seorang yang mengetahu
Fajar mulai menyingsing ketika Arka berdiri di balkon tertinggi Istana Laut Selatan. Cahaya matahari menembus permukaan laut, memantulkan kilau kebiruan yang memenuhi seluruh kerajaan bawah laut. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat para prajurit kembali menjalankan tugas masing-masing, sementara beberapa penjaga sibuk memulihkan bangunan yang rusak akibat benturan aura dengan Rangga sehari sebelumnya.Arka menarik napas panjang. Latihan di Ruang Refleksi Samudra memberinya lebih dari sekadar peningkatan kekuatan. Ia mulai memahami bahwa perubahan masa depan tidak cukup dilakukan dengan mengetahui kejadian yang akan datang. Cara berpikirnya pun harus berubah agar tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama seperti pada kehidupan sebelumnya."Masih memikirkan pertarungan kemarin?" suara Asteria terdengar dari belakang.Arka menoleh dan mengangguk pelan. "Aku sadar sekarang. Rangga bahkan belum mengeluarkan seluruh kemampuannya, sementara aku sudah menggunakan hampir semua yang kum
Suasana Kerajaan Laut Selatan kembali tenang setelah Rangga Adityawarman meninggalkan wilayah istana. Meski retakan emas di langit telah menghilang, bekas benturan dua aura kerajaan kuno masih terasa memenuhi udara. Para prajurit perlahan kembali ke posisi masing-masing, tetapi tidak seorang pun benar-benar merasa lega. Mereka menyadari bahwa kedatangan Pewaris Garuda Langit hanyalah awal dari konflik yang jauh lebih besar.Arka berdiri di tengah arena sambil memandangi Keris Garuda di tangannya. Pertemuan singkat dengan Rangga membuatnya memahami kenyataan yang selama ini belum ingin ia akui. Pengalaman bertarung dari kehidupan sebelumnya memang masih ada, tetapi tubuhnya saat ini belum mampu mengimbangi kemampuan seorang pewaris yang telah lebih dahulu membangkitkan garis darahnya."Aku bahkan tidak bisa memaksanya bertarung dengan serius," ucap Arka sambil menghela napas.Asteria berjalan mendekat dengan langkah tenang. "Kesadaran itu justru menjadi kekuatanmu. Banyak pewaris yang
Gelombang laut yang semula tenang berubah menjadi liar sesaat setelah Rangga Adityawarman menginjakkan kaki di arena latihan Kerajaan Laut Selatan. Air yang mengelilingi arena membentuk pusaran besar, seolah merespons benturan dua aura kuno yang saling berhadapan. Para prajurit kerajaan segera mundur beberapa langkah, bukan karena takut kepada musuh, melainkan agar tidak mengganggu benturan energi yang mulai memenuhi seluruh ruangan.Arka berdiri dengan tenang sambil menggenggam Keris Garuda di pinggangnya. Meski baru saja membangkitkan sebagian kecil garis darah Raja Samudra, ia dapat merasakan tekanan yang dipancarkan pemuda berzirah emas di hadapannya. Aura itu berbeda dari monster mana pun yang pernah ia lawan. Bukan aura buas, melainkan aura seorang penguasa yang terbiasa memerintah dari atas langit.Rangga menatap sekeliling istana sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya ketika melihat para prajurit kerajaan yang masih berlutut di belakan
Cahaya biru keemasan masih memenuhi aula utama Kerajaan Laut Selatan setelah sistem memberikan warisan pertama kepada Arka. Layar transparan melayang di hadapannya, menampilkan kemampuan baru yang baru saja terbuka. Dibandingkan dengan kemampuan manusia modern yang menggunakan energi dimensi, kekuatan ini terasa jauh lebih kuno dan memiliki hubungan langsung dengan lautan.[Kemampuan Baru Terbuka][Domain Samudra Lv.1]Pengguna dapat menciptakan wilayah kendali dengan radius lima meter.Seluruh elemen air dalam wilayah tersebut akan mengikuti kehendak pengguna.Regenerasi meningkat 300%.Kekuatan teknik berbasis air meningkat 200%.[Catatan: Domain akan berkembang seiring peningkatan garis darah Raja Samudra.]Arka membaca informasi itu dengan saksama. Dalam kehidupan sebelumnya, manusia terkuat hanya mampu menggunakan Zona Resonansi untuk memperkuat energi tempur dalam area tertentu. Namun, Domain Samudra bukan sekadar penguatan energi, melainkan kemampuan untuk mengendalikan lingkun







